
Melody memainkan piano di ruang TV. Saat ini pukul sebelas siang dan hanya ada Melody serta Athos di rumah. Athos baru saja masuk ke kamar untuk memejamkan matanya setelah semalam suntuk tidak tidur.
"Kenapa mengikutiku, bodoh?" seru Aramis yang masuk dan di belakangnya Lion mengekor.
Aramis langsung naik ke atas dan masuk ke kamarnya. Sedangkan Lion berdiri di depan tangga.
"Ato kemana?" tanya Lion pada Melody yang masih mengalunkan piano.
Melody berhenti dan mengisyaratkan Lion agar tidak berisik.
"Padahal aku mau makan siang disini." gumam Lion. "Melon, ajari aku main piano." ujar Lion duduk di samping Melody.
Melody menoleh padanya.
"Bukannya kau juga bisa? Di rumahmu ada piano juga kan?" ujar Melody.
"Aku hanya bisa memainkan cicak cicak di dinding." senyum Lion.
"Di mana si bodoh itu?" tanya Anna yang barusan masuk dan menatap Lion serta Melody.
Lion menunjuk arah lantai dua pada Anna karena tahu yang dimaksud Anna adalah Aramis.
"Dia sudah janji padaku untuk menemaniku tapi teleponku tidak dijawab." ucap Anna menaiki tangga.
Anna membuka pintu kamar Aramis dengan kesal dan melihat sahabatnya itu sedang berbaring di tempat tidur dengan lelap.
"Ars, cepat bangun!! Kau bilang akan menemaniku hari ini." seru Anna menarik tangan Ars yang tertidur.
Aramis terbangun dengan wajah kesal lalu bangkit berdiri, mendorong Anna keluar kamarnya. Namun Anna kembali masuk dengan makin kesal.
"Dasar bodoh!!" ucap Anna setelah itu hendak keluar.
Tiba-tiba Aramis mendorong bokongnya dengan kaki hingga gadis itu terdorong keluar kamar, lalu Aramis menutup pintu dan menguncinya.
"Awas saja kau ya, akan ku patahkan kakimu nanti!!!" seru Anna kesal.
Athos yang sedang mencoba tidur menutup kepalanya dengan bantal karena mendengar pertengkaran Aramis dan Anna.
"Mereka berdua seperti anjing dan kucing." ujar Lion mendengarkan dari bawah bersama Melody.
Melody hanya tersenyum.
Tiba-tiba masuk lah Prothos, melihatnya Melody sangat senang.
"Kak Oto?" Panggil Melody menghampiri Prothos.
Prothos berhenti di bawah tangga dan tersenyum pada adik kesayangannya tersebut.
Athos langsung keluar kamarnya dan menuju tangga, begitu pula dengan Aramis. Dia membuka pintu dan bersama Anna berjalan ke tangga.
"Kak Oto, baik-baik saja?" tanya Melody.
"Ya. Kak Oto baik-baik saja." jawab Prothos mengusap kepala Melody.
Lion masih duduk di kursi piano yang jaraknya tidak jauh dari tangga.
Prothos menaiki tangga, namun langkahnya berhenti ketika melihat Athos menuruni tangga. Kedua saudara kembar tersebut bertemu di tengah anak tangga sedangkan seorang kembarannya lagi yaitu Aramis melihat mereka di atas tangga bersama Anna.
"Oto, kau baik-baik saja?" tanya Athos.
Prothos tidak merespon dan melewatinya ketika berpapasan di anak tangga yang sama. Namun langkahnya terhenti ketika selang dua anak tangga.
Prothos menoleh pada Athos.
"Beritahu aku kenapa kau tidak bercerita padaku mengenai Tasya yang sudah bertunangan dengan orang lain?" tanya Prothos dingin.
"Aku mencari waktu yang tepat untuk memberitahumu." jawab Athos.
"Kapan waktu yang tepat menurutmu?" tanya Prothos lagi namun Athos tak langsung menjawab. "Saat kau sudah terluka?"
Athos menunduk.
"Itu tidak akan terjadi." ucap Athos.
"Seharusnya kau tahu, ada hal yang tidak bisa kau dapatkan walau kau sudah mati-matian untuk mencapainya. Itu yang disebut hal yang mustahil." ucap Prothos menatap tajam kembarannya yang tertunduk. "Aku sudah mencari tahu mengenai keluarga Tasya dan keluarga tunangannya. Itu mustahil untukmu."
"Kau tahu kan kalau aku selalu bersungguh-sungguh dan tidak pernah gagal?"
"Oto, percaya saja pada Ato." ujar Aramis yang ada di ujung anak tangga di lantai dua.
"Ini bukan masalah percaya atau tidak, melainkan seberapa mustahilnya hal tersebut."
"Kau benar, Oto." ucap Athos mulai menatap Prothos. "Semua yang kau ucapkan dan seberapa bersungguh-sungguhnya aku, aku rasa tidak akan diketahui jika aku memutuskan berpisah sekarang. Dan ketika aku sudah berusaha namun semua itu sia-sia mungkin seperti katamu, itu sangat menyakitkan untukku. Tapi aku rasa aku bisa menahan rasa sakitnya jika kau mendukungku."
Prothos kembali mengingat kata-kata Widia kemarin.
Jika akhirnya dia terluka, dia masih mempunyai dirimu yang mendukungnya. Tapi saat dia terluka dan kau tidak ada disisinya, maka dia akan hancur.
"Baiklah, kau bilang kau bersungguh-sungguh kan?" ujar Prothos. "Aku ingin tahu seberapa bersungguh-sungguhnya kau."
"Apa maksudnya, Oto?" ucap Aramis.
"Apa kau ingat tiga tahun yang lalu? Ketika kita bertiga memiliki tujuan masing-masing untuk kemana kita merayakan kelulusan SMP? Kita menentukannya dengan berlomba." ucap Prothos. "Aku ingin kali ini juga seperti itu."
"Jangan begitu, Oto!!" seru Aramis.
"Baiklah, aku setuju." jawab Athos.
"Tapi kali ini akan berbeda." tambah Prothos. "Kita akan berlomba di tiga pertandingan yang ketiganya harus kau menangkan. Jika salah satu saja kau kalah maka aku ingin kau berpisah dengan Tasya saat itu juga!!"
"Apa ketiga pertandingan itu?" tanya Athos.
"Lari, renang, dan... lemparan three points." jawab Prothos.
"Itu tidak mungkin." keluh Aramis. "Lemparan three points katamu? Sudah jelas pasti kau yang akan menang."
"Di lemparan three points, jika saja hasilnya imbang maka itu akan dianggap kau yang menang, apa itu adil sekarang?" ujar Prothos.
"Tidak masalah." ucap Athos.
"Oh iya, aku lupa." lanjut Prothos. "Lusa pertandingannya, dan Ars juga akan ikut bertanding."
"Kenapa aku juga ikut?" tanya Aramis heran.
"Lakukan saja seperti kataku!!" seru Prothos sambil berjalan menaiki tangga. "Jika kau sengaja kalah atau tidak melakukannya dengan maksimal, aku akan membunuhmu." tambah Prothos yang melewati Aramis.
"YOSH..." teriak Anna. "Sepertinya ini akan menarik."
Aramis menyenggol Anna karena kesal dengan reaksi sahabatnya itu, dan menyuruhnya diam dengan memelototinya.
"Baiklah, aku, Lion dan Melo yang akan jadi juri." ujar Anna tidak memedulikan Aramis.
Athos kembali berjalan naik dan memasuki kamarnya.
"Aku akan menyiarkan kabar itu ke seluruh murid di sekolah, pasti mereka akan datang menonton." ujar Anna lagi. "Dan membuat spanduk besar bertuliskan Olimpiade The Three Musketeers."
Dari bawah Lion mengacungkan jempolnya pada Anna.
Dengan kesal Aramis membekap mulut gadis itu dengan tangannya.
...***...
Aramis masuk ke kamar Prothos. Prothos sedang duduk di atas tempat tidur sambil membaca buku pelajarannya.
"Oto, kau benar-benar keterlaluan." ujar Aramis duduk di kursi meja belajar. "Kenapa kau ingin aku ikut juga di pertandingan itu?"
"Aku ingin melihat seberapa bersungguh-sungguhnya Ato." jawab Prothos. "Dengar ya, kau juga harus melakukannya dengan serius."
"Tapi lemparan three points itu mustahil untuk Ato."
"Dia yakin sekali dengan kesungguhannya... aku akan menunjukan padanya kalau dia pun bisa gagal." jawab Prothos. "Dengan begitu dia akan berhenti dengan hal mustahil itu."
"Aku tidak mengerti dengan cara berpikir kalian berdua." gumam Aramis. "Kalian berdua sangat keras kepala."
Aramis bangkit berdiri.
"Bagaimana jika Athos benar-benar menang?" tatap Aramis.
"Itu mustahil. Mungkin dia akan menang di pertandingan renang, tapi kalau kau serius di pertandingan lari, pasti kau yang akan menang." jawab Prothos.
"Kalian berdua suka sekali menjadikan aku kambing hitam." ujar Aramis setelah itu keluar.
"Setidaknya saat dia kalah di pertandingan itu, maka untuk pertama kalinya dia mengalami kegagalan, sehingga dia akan tahu seberapa menyakitkannya ketika mengalami kegagalan selanjutnya." ucap Prothos pada dirinya sendiri.