
Tasya menatap wajahnya di cermin dan memperhatikan lebam di sisi mata kirinya. Dibandingkan kemarin sekarang lebam tersebut sudah terlihat samar.
"Non, sini saya olesi salep lagi." ujar Keke yang masuk ke kamar Tasya.
Tasya langsung merubah posisinya, dan Keke langsung mengoleskan salep ke lebam Tasya dengan lembut.
"Dua hari lagi lebamnya pasti hilang." ucap Keke. "Oh iya non, kemarin itu pacarnya non ya?"
"Hhmm..." jawab Tasya dengan senyum.
"Lalu kalian kemana kemarin itu?" tanya Keke lagi sambil memasukkan salep ke kardusnya karena sudah selesai.
Tasya bangkit berdiri dan duduk di sisi tempat tidurnya.
"Kau tahu Keke? Dia menghajar Dion sampai babak belur." senyum Tasya.
"Benarkah? Seriusan non?" tanya Keke duduk di kursi yang tadi di duduki Tasya.
"Pacarku memang keren, dia pria yang sangat baik dan pintar. Aku beruntung sekali memilikinya."
"Kalau begitu non, apa pertunanganmu dengan Dion tidak bisa dibatalkan? Saya tidak tega melihat Dion kasar pada non."
"Aku yakin, dia tidak akan melakukannya lagi. Pacarku sudah menghajarnya habis-habisan seperti kemarin. Pecundang itu pasti takut menyentuhku lagi." senyum Tasya setelah itu menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. "Aku pasti akan menikah dengan Ato."
...***...
Athos memasuki ruangan Presdir ayah Tasya, Benny menyambutnya dan memintanya duduk sebelum Presdir berasa di sana.
"Minumlah dulu." senyum Benny memberikan segelas minuman. "Jangan terlalu tegang. Sepertinya Presdir tidak terlalu membencimu. Jadi kali ini dengarkan dia."
Athos menatap Benny, mencoba memahami kata-katanya.
"Ini hanya saran dariku saja." ucap Benny tersenyum.
Tidak berapa lama Presdir datang, dan langsung duduk di sofa di hadapan Athos. Presdir menatap Athos penuh makna dan tersenyum. Namun bukan sebuah senyuman dalam arti positif.
"Sepuluh menit sebelumnya CCTV di tempat itu mati. Aku tidak tahu apakah itu hanya kebetulan atau tidak, tapi yang pasti caramu memberi pelajaran pada anak itu di luar dugaanku." ujar Presdir. "Aku pikir pemuda pintar sepertimu tidak akan menggunakan kekerasan."
"Terkadang sesuatu hanya bisa diselesaikan dengan tangan yang terkepal, tidak selalu dengan kepala yang dingin." jawab Athos.
Presdir tertawa mendengarnya.
"Ini memang bukan pertama kalinya anak itu memukul anakku, aku juga sudah sering memperingatkannya, tapi tampaknya dia tidak mau mendengarnya."
Athos menatap Presdir tajam dengan tatapan kesal.
"Dan anda tidak berbuat apa-apa?" tatap Athos.
"Semua hal harus dipikirkan efek dan akibatnya."
"Sepertinya pertanyaanku kemarin sudah terjawab." ucap Athos. "Aku rasa Tasya tidak lebih penting dari pada bisnismu."
"Aku menyayanginya, tapi bisnis tetap bisnis. Aku membuat kerajaanku dengan susah payah, dan tidak ingin kehilangannya. Sebaiknya kau pahami ini. Aku tidak akan melarangmu bersenang-senang dengan anakku, tapi pada akhirnya Natasya tetap akan menikah dengan tunangannya, dan sebaiknya kau tidak ikut campur masalah lainnya."
"Baiklah, aku mengerti." ujar Athos.
"Tapi dalam keadaan marah seperti kemarin, tidak aku duga kau masih sempat berpikir menghapus rekaman saat ada yang merekamnya. Sepertinya, tentang CCTV itu juga bukan suatu kebetulan."
...***...
Pengunjung café sangat ramai hari ini. Waktu menunjukan pukul tujuh malam. Semua pengunjung seperti biasanya adalah mayoritas seorang wanita, dan sebagian besar merupakan penggemar Prothos.
"Oto, aku kira itu nomermu." seru seorang wanita.
"Tidak, sudah aku bilang aku sudah tidak punya handphone." jawab Prothos sambil meletakan pesanan ke meja sekumpulan wanita.
"Lalu apa kau sudah punya pacar lagi?" tanya wanita lainnya.
Prothos menggeleng dengan senyuman.
"Bukannya aku ini pacar kalian semua?" ujar Prothos membuat para wanita semakin gaduh.
Di meja lain, Tasya yang berada di sana hanya memperhatikan saja, dan tidak sabar bertemu dengan Athos yang belum datang.
"Ars, sampai kapan Ato pergi?" bisik Aramis yang datang membawakannya minum. "Pesanku juga tidak dijawab."
Tidak berapa lama Athos masuk ke dalam café, dia berjalan langsung masuk ke ruang ganti.
"Ars, aku akan menemuinya." ucap Tasya.
"Ato." panggil Tasya pada Athos yang baru saja membuka kaos untuk berganti dengan seragam café.
"Tasya?" ucap Athos terkejut.
"Maaf, maaf..." jawab Tasya. "Tidak apa-apa aku masuk?"
Athos langsung memakai seragam kerjanya dan berjalan mendekati Tasya, lalu memeluk gadis itu.
"Ada apa?" tanya Tasya bingung.
"Aku merindukanmu." jawab Athos.
Tasya diam saja karena sepertinya Athos sedang memikirkan sesuatu. Dia membiarkan kekasihnya itu memeluknya sesaat.
"Kau pasti lama menungguku ya?" tatap Athos. "Lebammu sudah sembuh?" Athos mengusap pipi Tasya dengan jemari tangan kanannya.
"Aku menutupnya dengan riasan, tapi sudah tidak sakit." jawab Tasya. "Ato, kenapa jarimu?" tanya Tasya melihat ibu jari Athos yang berbalut plester dan menggenggam tangan kekasihnya itu. "Kau menggigitnya lagi ya? sudah aku bilang jangan biasakan menggigitnya, padahal yang kemarin sudah sembuh."
"Ini tidak sakit." ucap Athos berjalan dan duduk di kursi.
"Ada apa? Kau selalu menggigit ibu jarimu saat memikirkan sesuatu, apa yang kau pikirkan, Ato?"
"Bukan hal yang penting, sepertinya aku terlalu lelah akhir-akhir ini." senyum Athos.
"Istirahatlah, kau selalu melakukan banyak hal bersamaan. Aku tahu kalau kau pintar dan kuat, tapi itu tidak bagus untuk dirimu." seru Tasya duduk di samping Athos.
Athos menatap Tasya dalam-dalam.
"Besok, ayo kita pergi berlibur. Kau mau kan?"
"Besok? Tapi besok hari senin, dan harus sekolah... Baiklah." jawab Tasya setelah itu tersenyum.
...***...
Jam sembilan pengunjung mulai sepi, dan café persiapan tutup.
"Ato mengantar Tasya pulang?" tanya Prothos pada Aramis yang ada di sebelahnya.
"Ya, sepertinya begitu." jawab Aramis.
Prothos melihat Wisnu keluar dari dapur dan keluar café sambil menjawab telepon. Prothos mengikutinya keluar café.
"Hari ini aku akan ke tempatmu, apa Selly dan Rara menginap? Ya, aku akan menginap karena besok pagi-pagi sekali aku masuk kuliah." ucap Wisnu di telepon.
Prothos berdiri di sampingnya saat Wisnu menutup telepon tersebut. Dia menoleh pada Prothos dan mengeluarkan sebungkus rokok lalu menyodorkan pada Prothos.
"Tidak, aku tidak merokok." jawab Prothos.
Wisnu langsung mengambil satu dan menghisapnya.
"Kakakmu?" tanya Prothos.
Wisnu mengangguk.
"Walau dia kakakku sepertinya aku yang lebih cocok jadi kakaknya. Kami hanya selisih tidak sampai dua tahun." cerita Wisnu. "Akhir-akhir ini aku berusaha lebih memperhatikannya, setelah pacarnya mengkhianatinya, diam-diam dia masih sering menangis. Kaum wanita memang seperti itu, sulit melupakan seseorang yang pernah sangat dicintainya walau orang itu sudah menyakitinya."
"Ya, aku setuju dengan persepsi itu." jawab Prothos.
"Aku memintanya mencari pria lain tapi dia bilang hanya mau fokus pada pekerjaannya dulu." lanjut Wisnu dengan sebatang rokok dimulutnya. "Dia itu gurumu, aku lupa, dia pasti akan membunuhku kalau tahu aku membeberkan tentang dirinya pada salah satu muridnya."
Prothos tertawa mendengarnya.
...***...
Aramis masuk ke dapur dimana yang hanya ada Anna disana, sedang memakan sosis yang baru saja dia goreng.
"Kau mau?" tawar Anna yang melihat Aramis masuk. "Ars, David menantangmu bertanding untuk apa?"
Aramis tertawa karena Anna bersikap pura-pura tidak tahu. Dia hanya menatap Anna saja yang sibuk makan.
"Satu sekolah sudah tahu besok kalian bertanding." tambah Anna dengan sosis memenuhi mulutnya. "Kau tidak perlu meladeninya, aku yang akan bicara dengannya."
"Apa yang akan kau katakan padanya?" tatap Aramis.
"Aku akan bilang kalau aku..." Anna berhenti bicara. "Apa ya? Sebaiknya apa yang harus aku katakan padanya?" tanya Anna pura-pura berpikir dan berjalan keluar dapur, menghindari Aramis.
"Bodoh." ucap Aramis tersenyum.