
Melody duduk di sisi tempat tidur saat pukul delapan pagi. Setelah semalam tidak tidur karena memikirkan yang terjadi. Dia sangat mengkhawatirkan Niko saat ini. Setelah kakaknya memukulinya, gadis itu belum menghubungi Niko, begitupun sebaliknya.
Gadis itu mengambil handphone-nya dan menelepon Niko yang tersimpan dengan nama 911 di handphone-nya.
"Dobroye utro, Melody (Selamat pagi, Melody)." Ucap Niko menjawab telepon Melody.
Niko berbaring di tempat tidur besarnya dengan kondisi kamar yang sangat gelap karena jendela kamarnya tertutup dengan tirai hitam dan cat tembok kamarnya membuat semakin gelap dengan warna cokelat.
"Kau sedang apa?" Tanya Melody. "Apa aku mengganggu?"
"Ya kau menggangguku, tapi aku suka dan berharap kau lebih sering menggangguku. Aku baru akan tidur setelah semalam harus mencari darah seseorang yang ingin ku minum." Jawab Niko bergurau. "Dan akhirnya aku tidak mendapatkan darah siapapun untuk menghilangkan rasa hausku."
"Kau baik-baik saja?" Tanya Melody lagi.
"Anemiaku kambuh karena belum meminum darah." Jawab Niko masih saja bergurau. "Ada apa? Kau merindukanku?"
"Aku rasa begitu."
Niko tersenyum mendengar jawaban tak terduga dari Melody.
"Aku akan menemuimu segera." Ucap Melody. "Tidurlah sebentar sebelum aku sampai ke rumahmu."
Melody berjalan keluar kamarnya, dan menuruni tangga. Ketiga kakaknya berada di meja makan bersama Anna dan Tasya saat ini. Mereka semua langsung melihat pada Melody ketika gadis itu sampai di bawah.
"Kau mau kemana, Melo?" Tanya Prothos ketika Melody turun tangga.
Melody menghentikan langkahnya dan tidak melihat pada mereka semua. Rasa marah masih dirasakan gadis itu pada ketiga kakaknya sehingga untuk melihat pada merekapun membuatnya enggan.
"Menemui Niko." Jawab Melody dingin. "Aku akan mengatakan padanya tentang keputusanku."
"MASUK KE KAMARMU!!" Bentak Aramis langsung berdiri di hadapan Melody.
Melody menatap tajam kakaknya itu dengan kebencian. Bahkan saat ini kakaknya tersebut masih saja bersikap seperti itu. Itu semakin membuat Melody marah.
"Aku bilang masuk ke kamarmu, kau dengar?!" Seru Aramis dengan tatapan sangat marah pada adik perempuannya.
Melody tak bergeming dan hanya menatap dingin Aramis dengan rasa benci.
"Ikut aku!!" Aramis menarik lengan kiri Melody dengan tangan kirinya hendak menyeret adiknya naik ke atas.
"Ars, hentikan!!" Seru Anna menahan Aramis. "Lepaskan tanganmu, Ars!"
Aramis berhenti namun dia tetap memegang lengan adiknya itu dengan tatapan tajam. Melody juga menatap kakaknya dengan dingin.
"Bahkan ayah tidak pernah melarang keputusan siapapun, aku juga tidak ingin siapapun melarang keputusanku." Ucap Melody dingin. "Lepaskan tanganku!"
"Lepaskan, Ars." Ujar Anna menarik tangan kiri Aramis dari lengan Melody.
Aramis pun melepaskan lengan Melody dari genggaman tangannya yang keras.
Melody segera berjalan dan mengambil kunci mobil di tempatnya yang berada di depan tangga.
"Melo, kau belum lancar menyetir." Seru Anna pada Melody.
Melody tak menghiraukannya dan langsung ke garasi, masuk ke mobil ayahnya dan keluar dari rumahnya. Anna yang mengikutinya keluar tidak bisa berbuat apapun.
Prothos yang sejak tadi duduk saja di meja makan langsung beranjak masuk ke kamarnya di lantai dua. Sedangkan Aramis berjalan keluar menghampiri Anna yang masih melihat kepergian Melody.
"Ikut aku, Ars!!" seru Anna.
Anna bersama Aramis masuk ke rumahnya. Anna tidak mengerti apa yang terjadi sehingga Aramis sangat marah pada Melody tadi, dan Melody pun terlihat sangat dingin. Untuk pertama kalinya Melody tidak mendengarkan perkataan kakaknya itu.
"Katakan padaku sebenarnya ada apa?" Tanya Anna pada Aramis yang duduk di sofa.
"Niko ingin menikahi Melo. Dia ingin bertunangan dulu lalu saat lulus mereka akan segera menikah." Jawab Aramis tanpa melihat Anna yang berdiri di jarak tiga meter menatapnya. "Dan Melo menyetujuinya."
"Kenapa Melo menyetujuinya begitu saja?" Tanya Anna merasa ada yang aneh. "Melo tidak akan menyetujuinya dengan mudah kalau tidak ada yang terjadi."
Aramis diam saja tidak menjawab, kepalanya tertunduk dengan menggoyangkan kaki kirinya. Dia bingung harus menjawab apa, bahkan pemuda itu tidak tahu bagaimana mengawali ceritanya.
"Ceritakan padaku, sebenarnya ada apa?"
"Dia mendengar yang seharusnya tidak dia dengar." Jawab Aramis setelah itu menatap Anna. "Mengenai dosa yang aku perbuat pada Niko."
Anna sempat terkejut mendengar perkataan Aramis. Anna segera duduk di samping Aramis untuk mendengarkan ceritanya mengenai sesuatu yang dia sebut dosa pada Niko.
"Semuanya karena kejadian hampir tiga tahun lalu. Ketika Niko hendak pindah lagi ke Rusia untuk mengikuti pelatihan atlet renang di sana. Aku menantangnya berkelahi karena dia terkenal sangat kuat saat itu. Dan benar, aku kalah, dia memang sangat kuat."
"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" Tanya Anna yang duduk menghadap Aramis yang hanya menundukan kepalanya.
"Karena merasa tidak terima dengan kekalahanku, aku menjebak Niko dengan menggunakan nama Lion, aku mengiriminya pesan menggunakan handphone Lion setahun kemudian. Ketika dia sedang berlibur ke negara ini. Aku menyuruhnya datang ke sebuah pabrik tua yang sudah tidak terpakai tepat seminggu sebelum Niko kembali ke Rusia untuk mengikuti seleksi kejuaraan Internasional."
Aramis berhenti bicara, dia terlihat sangat emosional dengan mengusap wajah dan kepalanya.
"Aku membakar tangan kirinya setelah menyergap dan memukulinya." Lanjut Aramis setelah itu menoleh menatap Anna. "Tapi percayalah, aku tidak berniat menghentikannya sebagai seorang atlet renang, aku hanya tidak ingin dia lebih kuat dariku. Saat itu jalan pikiranku hanya sebatas apa yang mengganggu pikiranku. Aku tidak berniat menghancurkan hidupnya."
Anna tidak habis pikir mengenai cerita Aramis. Dua tahun yang lalu mereka memang masih kekanak-kanakan, dan masih mencari jati diri mereka. Mungkin karena itu semua itu terjadi.
"Untung saja Lion datang dan menghentikan api itu sebelum mengenai seluruh tubuhnya. Saat itu aku sadar kalau perbuatanku salah." Lanjut Aramis dengan mata yang memerah. "Aku sangat takut waktu itu, lalu aku meminta Lion untuk meyakinkan Niko untuk tidak melaporkan aku, dan entah bagaimana Niko mendengarkan Lion. Ya, semua orang selalu mendengarkan perkataan Lion walau saat itu Lion masih sangat muda tapi sejak dulu dia tidak pernah kekanak-kanakan seperti aku. Dia selalu berpikir sepuluh langkah ke depan saat melakukan apapun."
"Sampai sekarang pun kau masih kekanak-kanakan." Gumam Anna karena merasa perlakuan Aramis dengan semua yang dilakukannya pada Niko, dia masih saja membencinya.
"Lalu perjanjian itu kami tulis di atas materai agar aku tidak dilaporkan ke polisi dengan Lion saksinya. Niko ingin aku menebusnya suatu saat nanti. Menebusnya dengan sesuatu yang diinginkannya padaku atau dia akan membakar tangan kiriku juga."
"Kau tahu, Ars? Keputusanmu salah karena membuat perjanjian itu, seharusnya biarkan saja dia melaporkanmu ke polisi."
"Itu juga yang dikatakan Ato dan Oto padaku." Jawab Aramis. "Sepertinya Niko pun menyetujui membuat perjanjian itu agar aku terus tertekan dengan kehadirannya atau suatu hari nanti dia akan membakar tanganku untuk menghancurkan hidupku juga. Sepertinya dia tahu kalau aku suka melukis dan bertangan kidal. Alasan itu juga kenapa aku menyembunyikan tentang diriku yang suka melukis pada siapapun. Aku takut suatu saat dia datang dan menuntut balas padaku."
Aramis terlihat sangat frustasi saat menceritakannya.
"Saat itu aku sama sekali tidak bisa berpikir karena ketakutan, semuanya terjadi begitu cepat hingga aku yang sedang ketakutan tidak bisa berpikir ataupun meminta saran kedua kembaranku, makanya aku menyetujuinya saja dengan harapan Niko akan melupakannya."
"Mana mungkin dia melupakannya setelah kau menghancurkan hidupnya?" Protes Anna kesal. "Kau memang bodoh. Seharusnya kau memohon ampun sekarang pada Niko, jangan membencinya seperti itu. Aku mengerti kenapa Melo memutuskan menyetujui menikah dengan Niko."
"Kau tahu, ada tiga alasan seseorang membenci orang lain. Yang pertama adalah karena dia iri pada orang itu. Kedua, karena dia merasa terancam dengan kehadiran orang itu, dan ketiga karena dia membenci dirinya sendiri karena sebuah penyesalan pada orang itu." Terang Aramis dengan tatapan lekat pada Anna. "Dan itu semua yang aku rasakan terhadap Niko."
...@cacing_al.aska...