MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Aku Akan Menciummu



Athos bersama Tasya duduk di meja makan. Sedangkan Anna duduk di ruang tamu sedang sibuk dengan handphone-nya.


"Baik ayah, semua baik-baik saja di sini." jawab Athos yang mendapat telepon dari ayahnya. "Aku akan bilang ke yang lainnya. Kau tidak perlu khawatir. Jaga kakek saja di sana."


Setelah itu Athos menutup teleponnya.


"Tidak ada yang tahu di mana Oto, aku sudah bertanya pada teman-temannya." ujar Aramis yang menuruni tangga. "Tapi tadi pagi Oto bertanya pada temannya mengenai seseorang bernama Bara, kalau tidak salah mantan Oto semalam menyebut nama itu." lanjut Aramis duduk di hadapan Athos di meja makan.


"Dia pasti menemuinya." ucap Athos.


"Apa perlu kita menemuinya juga?" tanya Aramis.


"Tidak perlu. Oto pasti hanya menemuinya sebentar dan setelah itu pergi lagi entah kemana." jawab Athos. "Kita beruntung, Ayah dan yang lainnya berencana menginap dan akan pulang besok."


"Semoga saja si bodoh itu kembali sebelum mereka pulang."


Tiba-tiba Athos bersin, dengan segera Tasya memberikannya tisu.


"Kau baik-baik saja?" tanya Tasya.


"Sepertinya aku flu." jawab Athos.


Handphone milik Athos bergetar di atas meja, ketika dia mengambil untuk menjawab, teleponnya tersebut mati.


"Bu Widia?" tanya Athos membaca nama yang muncul di handphone. "Sepertinya tidak sengaja."


Anna menoleh pada Athos ketika mendengar nama Widia.


"Baiklah, lebih baik aku pulang." ujar Anna setelah itu keluar.


"Ars, aku akan mengantar Tasya pulang... jaga rumah dan Melo. Hubungi aku ketika Oto sudah kembali. Kalau Melo bertanya, bilang saja kalau Oto ada di rumah Sandy. Hari ini café tidak perlu buka."


"Oke."


...***...


Athos sibuk di dapur membuat sesuatu. Tasya hanya duduk memperhatikan kekasihnya tersebut dengan perasaan bersalah karena merasa pertengkaran itu disebabkan olehnya.


"Aku benar-benar minta maaf, karena aku kalian bertengkar dan berkelahi." ucap Tasya.


"Sudah aku bilang, ini salah Ars bukan salahmu." jawab Athos.


"Kalian masih di sini?" tanya Aramis yang datang dari lantai dua. "Kau buat apa Ato?"


Athos mematikan kompor dan membuka apron yang dikenakannya, lalu cuci tangan.


"Bubur?" tanya Aramis yang membuka panci yang dibuat Athos.


"Kau juga sedang flu 'kan? Makanlah buburnya dulu dan minum obat."


"Aku baik-baik saja." jawab Aramis heran.


"Tasya, aku ganti pakaian dulu sebentar." ujar Athos menaiki tangga.


"Anna meminta alamat bu Widia, pasti kau punya kan, Ato?" seru Aramis dengan suara agak keras karena Athos sudah masuk kamarnya.


...***...


Aramis membuka pintu rumah Anna dan segera masuk. Anna yang sedang duduk di sofa ruang tamu langsung meletakan handphone-nya.


"Sudah dapat?" tanya Anna.


"Kenapa kau ingin ke rumah bu Widia?"


Aramis balik bertanya sambil duduk di samping Anna.


"Kemarin aku lupa mengembalikan buku biologi yang aku pinjam dari bu Widia." jawab Anna.


"Mau aku antar?"


Anna menggeleng.


Tiba-tiba Aramis bersin-bersin, dan Anna memberikan tisu padanya.


"Sepertinya kau juga flu." seru Anna. "Kalian memang benar-benar saudara kembar."


Aramis tertawa karena mengingat Athos yang membuat bubur, dan menyuruhnya makan serta minum obat.


"Pasti si bodoh Oto yang menularkan pada kami." gumam Aramis. "Hah, Ato memang sangat menyayanginya, lebih dari menyayangi aku. Ini pertama kalinya mereka bertengkar sehebat ini dan Ato juga memukulnya dua kali tadi."


"Tidak, Ato juga sama menyayangimu bodoh. Kalian bertiga kan saudara kembar."


"Apanya yang menyayangiku? Bahkan dia melempar kekesalannya padaku. Dia bilang ini semua karena kesalahan aku yang tidak menanyakannya dulu padanya dan malah memberitahu pada Oto. Arrrggghhh... Ato bahkan hanya memukulku saat berkelahi tadi."


"Kau ini memang bodoh, kenapa kau malah ikut berkelahi? Bukannya memisahkan mereka." kata Anna tidak habis pikir. "Padahal kau masih babak belur karena kemarin, dan sekarang lukamu bertambah lagi. Ckckckck... kau memang selalu bertindak tanpa dipikir dulu."


"Tidak! Aku harus melakukannya, kalau tidak, pertengkaran mereka akan lebih dahsyat dari tadi."


Anna mengambil obat yang sudah dia persiapkan di meja. Aramis memajukan posisi duduknya mendekati Anna.


"Aaawww... bisa pelan sedikit tidak?" keluh Aramis kesakitan ketika Anna mengolesi sudut bibirnya yang membiru.


"Kalau tidak ingin sakit jangan berkelahi, bodoh!!" seru Anna kesal. "Lalu bagaimana menurutmu?"


"Apa?"


"Masalah Ato. Aku ingin dengar tanggapanmu." ujar Anna masih mengolesi obat ke bibir Aramis.


"Aku tidak tahu. Aku ingin mendukung Ato, tapi yang diucapkan Oto benar juga. Aku tidak ingin berkomentar apapun tentang masalah ini. Aku akan mendukung keputusan siapapun saat mereka juga saling dukung."


"Kau hanya mencari aman."


"Tidak! Aku hanya tidak mau membuat siapapun bersedih." jawab Aramis.


"Majulah sedikit biar aku obati juga dahimu." pinta Anna.


Aramis memajukan duduknya dan agak membungkuk.


"Aku akan membunuhmu kalau kau menambah lukamu lagi!!" seru Anna kesal sambil memplester luka di dahi Aramis.


"Kau pakai parfum apa? Aku suka wanginya." ucap Aramis sambil mengendus-endus Anna.


"Selesai." ujar Anna sambil memukul luka di dahi Aramis.


Aramis meringis kesakitan.


"Kau ini mau mengobati atau malah membuatnya makin sakit?" geram Aramis. "Tega sekali."


"Kau bukan anjing, jangan mengendusku seperti tadi!!" kata Anna sambil membereskan obat-obatannya.


Aramis menarik Anna yang hendak beranjak, lalu merangkulnya.


"Kau ingat? Kaulah anjingku!!" ucap Aramis menggoda Anna. "Kau anjing penurut dan setia kan? Semalam kau bilang begitu."


Anna melirik kesal pada Aramis yang menggodanya, Tiba-tiba gadis itu membenturkan kepalanya ke kepala Aramis yang luka. Sekali lagi Aramis meringis kesakitan.


"Kau tega sekali ya." keluh Aramis.


Anna beranjak berdiri namun Aramis menariknya sekali lagi. Kali ini dia membuat gadis itu terbaring di sofa, lalu Aramis mendekatinya dengan posisi di atas Anna.


Anna menatap Aramis dengan tatapan santai, namun Aramis menatapnya tajam.


"Kau akan tahu akibatnya, Ars." ucap Anna. "Jangan mengerjaiku seperti ini. Ini tidak akan mempan untukku."


"Aku akan menciummu."


"Sudahku bilang, ini tidak akan mempan." tegas Anna.


Bukannya mendengar ucapan Anna, Aramis malah mendekatkan wajahnya ke wajah Anna. Dengan tangan kanannya Anna mendorong wajah Aramis yang tidak mau berhenti. Aramis masih memaksa mendekatkan wajahnya, walau Anna mendorong wajahnya.


Dengan kesal Anna menendang perut Aramis hingga pria itu kesakitan dan bangkit berdiri.


"Kenapa kau menendangku?" geram Aramis kesakitan.


"Sudah aku bilang, ini tidak mempan untukku!!" seru Anna kesal. "Jangan mengerjaiku seperti tadi lagi, kau mengerti?!"


"Maaf." ucap Aramis menyesal.


"Pulang sana, Melo sendirian di rumah." seru Anna sambil naik tangga.


Anna masuk ke kamar dan mengunci pintunya.


"Hanya orang bodoh yang ingin mencium seseorang bilang dulu." gumam Anna kesal. "Aku bunuh dia kalau mengerjaiku begitu lagi!!"


...***...


Athos menghentikan mobilnya ketika sampai di depan rumah Tasya.


"Kau tidak perlu khawatir tentang Oto, dia pasti pulang." ucap Athos. "Masuklah dan istirahat."


Tasya memegang tangan Athos dengan rasa cintanya tanpa berkata apapun.


"Jangan pikirkan masalah ini lagi." senyum Athos.


"Telepon aku kalau ada apa-apa ya, Ato. Dan jangan berkelahi dengan saudaramu lagi." ujar Tasya. "Aku tidak akan memaafkan diriku kalau sampai hubungan kalian renggang karena aku."


"Saat Oto sudah tidak emosi, aku akan bicara dengannya. kau tidak perlu khawatir." kata Athos sambil membelai rambut Tasya.


Tiba-tiba handphone Tasya berdering, dengan segera Tasya menjawabnya.


"Ada apa?" tanya Athos yang menyadari perubahan di wajah Tasya setelah Tasya menutup telepon.


"Ayahku menyuruhmu masuk. Dia ingin bicara denganmu."