
Bersama dengan kedua kakak kembarnya, Athos dan Aramis serta Anna, Melody sampai di sekolahnya sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Hari ini Prothos tidak masuk sekolah karena masih merasa tidak enak badan sejak semalam.
Mereka semua keluar dari mobil yang dikendarai mereka saat ke sekolah. Lalu lalang para murid yang baru saja masuk pintu gerbang dihebohkan oleh sesuatu. Mereka berempat melihat ke arah pagar sekolah yang dijaga oleh satu orang petugas keamanan.
Kehebohan terjadi saat Lion muncul dengan menunggangi kuda putih miliknya masuk ke dalam sekolah, petugas keamanan tidak mampu berbuat apapun untuk menghentikannya masuk karena takut pada kuda yang ditunggangi pemuda aneh itu.
Melody dan yang lainnya sangat terkejut melihat ulah Lion lagi. Dengan santai Lion memacu kudanya ke arah tempat parkir, dan di waktu yang bersamaan Niko datang bersama mobilnya. Dia langsung melihat tingkah aneh Lion dengan tawa.
"Dia benar-benar membawa Toni kemanapun." Gumam Niko saat Lion turun dari kudanya dan melambai padanya di tempat parkir.
"Apa-apaan kau Lion?" Seru Anna menghampiri Lion bersama Aramis.
Athos lebih memilih segera bergegas masuk ke kelasnya karena tidak mau melihat keanehan Lion kali ini. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil berjalan pergi. Sedangkan Melody berdiri di kerumunan bersama murid lain yang heboh.
Para murid sudah berkerumun untuk melihat tingkah aneh Lion lagi hari ini. Lion memang terkenal dengan keanehannya selama ini, tapi kali ini dia lebih aneh dari biasanya. Setelah kemarin bermain skateboard di tembok pembatas atap gedung, hari ini dia datang ke sekolah dengan menunggangi seekor kuda putih miliknya.
"Ada apa, Anna?" Tanya Lion dengan santai. "Ars, kau mau mencoba menaiki kuda ku? Namanya Toni, sekarang aku akan kemanapun dengannya. Walaupun aku masih tidak rela dengan kehilangan Meganku."
Aramis hanya bisa tertawa mendengar Lion berkata seperti itu dengan tidak memikirkan kehebohan yang dirinya ciptakan.
"Lion, kau benar-benar... kemarin kau... terus sekarang... Arrgghh!!" Seru Anna sangat kesal hingga tidak mampu berkata apapun lagi pada pemuda itu. "Ikutlah ke ruang OSIS!!"
"Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" Ujar Lion pada Anna yang sudah berjalan meninggalkannya.
"Semoga kau tidak dikeluarkan dari sekolah, Lion." Ucap Aramis masih terkekeh.
"Tunggu aku ya, Toni." Kata Lion seraya mengelus kudanya yang tampak menurutinya dengan menundukan kepala pada Lion.
Lion berjalan sambil meracau setelah mengikat kudanya ke sebuah tiang. Dia berjalan melewati kerumunan murid lain yang melihat heran pada dirinya. Bahkan Lion melambaikan tangannya pada semua murid yang menontonnya dengan sebuah senyum bodoh ciri khasnya.
Niko melihat pada Melody yang tampak serius memperhatikan Lion. Lalu menghampirinya ketika kerumunan murid lain sudah membubarkan diri.
"Tidak aku sangka Lion benar-benar membawa Toni kemanapun." Ujar Niko berjalan di samping Melody menuju kelas. "Apa kau sudah pernah menunggangi kuda?"
Melody hanya menggeleng untuk menjawab hal yang ditanyakan Niko.
"Akhir minggu ini aku akan mengajakmu menunggang kuda. Kau mau?" Tanya Niko.
Melody berhenti dan menatap Niko.
"Maaf Niko, aku tidak ingin kemanapun di akhir minggu ini." Jawab Melody setelah itu berjalan kembali.
Niko terdiam mendengar jawaban Melody. Dia berpikir sesuatu mengenai gadis yang sudah setuju untuk menikah dengannya itu. Lalu setelah itu berjalan kembali dan menarik lengan Melody hingga gadis itu berhenti dan tubuhnya berbalik menatap Niko.
"Kau bilang kau ingin mencintaiku, tapi kenapa kau tidak membiarkan aku melakukan sesuatu untuk membuatmu mencintaiku?" Tatap Niko dingin.
***
Lagi-lagi Lion berada di ruang OSIS bersana Anna. Anna sudah benar-benar kewalahan dengan keanehan Lion yang dilakukan dua hari ini. Lion masih menatap Anna santai dengan rasa tidak bersalahnya sedikitpun.
"Sepertinya aku akan memberikan suspensi padamu kali ini." Ucap Anna.
"Kenapa? Apa yang aku lakukan salah? Tidak ada di peraturan sekolah kalau dilarang membawa seekor kuda." Ujar Lion membela diri.
"Bawa kudamu pergi, dan masuk kembali hari senin minggu depan." Ucap Anna kesal. "Ini lebih baik dari pada aku melaporkanmu ke kepala sekolah dan kau akan dikeluarkan."
Lion terdiam. Dia merubah duduknya dan tiba-tiba tersenyum pada Anna.
"Terimakasih Anna, ini yang aku tunggu-tunggu." Ucap Lion. "Aku jadi bisa bersantai sekarang."
Sekali lagi Anna membuang napasnya setelah Lion keluar dari ruang OSIS. Dia memegang kepalanya yang sangat sakit dan memejamkan matanya. Sejenak gadis itu beristirahat dan tidak langsung bergegas ke kelasnya padahal tiga puluh menit yang lalu bel masuk sudah berbunyi.
***
Dengan langkah ringan Lion memasuki kelas sekembalinya dari ruang OSIS. Walau dirinya merasa senang mendapatkan suspensi dan harus menjalankan skorsing, tetapi entah kenapa dia merasa kalau tidak benar-benar merasa senang saat ini.
Sorak sorai teman satu kelasnya terdengar ketika Lion muncul masuk ke kelas. Mereka sangat kagum kepada Lion dengan segala ulah anehnya. Tak sedikit dari mereka bilang kalau dirinya sangat keren ketika datang menaiki kuda putih ke sekolah. Semua murid di kelas tidak memedulikan seorang guru pria yang sedang berada di depan kelas.
"Kau memang yang paling keren, Lion." Seru seorang murid laki-laki yang memang temannya Lion.
"Bawa aku naik kuda itu, Lion." Timpal murid perempuan. "Kau seperti seorang ksatria berkuda."
"Tidak, dia seperti pangeran berkuda putih. Tapi sayangnya dia terlalu konyol untuk menjadi seorang pangeran."
"Setelah kemarin atraksi berbahaya kau datang dengan sangat keren pagi ini." Tambah yang lainnya. " Kau yang paling keren di sekolah kita."
Lion hanya berjalan dengan tawa kecil mendengar komentar dari teman-teman satu kelasnya. Lion mendekati guru yang berada di depan kelas untuk menyerahkan surat suspensi-nya.
"Ini surat suspensiku, aku diskors dan boleh masuk kembali senin depan." Ucap Lion.
"Baiklah." Jawab guru mengambil surat tersebut.
Lion berjalan sambil memakai headphone ke telinganya keluar kelas, namun tidak berapa lama melongok ke dalam kelas dengan melambaikan tangan kepada teman-temannya dengan sebuah senyum ceria. Hal itu membuat kelas kembali bersorak-sorai dan tertawa melihat tingkah anehnya.
Niko memperhatikan Melody yang tanpa ekspresi melihat tingkah Lion. Dirinya merasa keanehan pada sikap mereka berdua. Karena seperti yang sebelumnya dia tahu kalau Lion dan Melody seharusnya adalah teman dekat ataupun bersahabat. Tetapi entah kenapa sikap mereka sekarang terlihat tidak seperti itu. Niko tidak pernah melihat Melody dan Lion saling berbicara ataupun sekedar menyapa. Itu sangat aneh buatnya. Dan itu terjadi ketika dirinya meminta bantuan pada Lion untuk membantunya mendekati Melody.
Lion mengelus kudanya yang bernama Toni dengan tatapan kosong. Lagi-lagi dia merasakan sebuah kebosanan dan tidak bersemangat.
"Toni, apa aku harus mendapatkannya kembali?" Tanya Lion pada kudanya. "Semuanya menjadi membosankan tanpa Meganku."
Melody melihat Lion dari jendela kelas di mana dia duduk. Lion memacu kudanya kembali keluar dari sekolah dengan sangat cepat.
Dia semakin aneh.
Melody membatin melihat Lion dengan segala tingkah konyolnya.
"Kalian berdua kenapa?"
Melody menoleh dan melihat Niko menatapnya. Gadis itu tidak terlalu mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan Niko karena nada bicara pemuda itu lebih terdengar seperti sebuah gumaman.
"Ah, tidak." Ucap Niko mengalihkan tatapannya dari Melody dan melihat ke arah guru yang sedang menulis di papan tulis.
...@cacing_al.aska...