
Athos masih tertidur lelap. Dia merasakan sesuatu di bibirnya, sesuatu yang lembut seperti marshmello yang manis. Dia membuka matanya dan melihat Tasya menatapnya dengan senyum.
Athos tahu kalau itu sebuah mimpi, mimpi yang indah. Dia tersenyum dan kembali menutup mata.
"Cepat keluar sebelum paman bangun!!"
Athos kembali membuka matanya setelah mendengar suara Prothos. Dia terperanjat saat melihat Tasya ada di kamarnya, dan Prothos berdiri bersandar di ambang pintu.
Ternyata dia tidak bermimpi, dan Tasya benar mengecupnya tadi.
"Akhirnya aku bisa melihatmu saat tidur dan membangunkanmu." senyum Tasya.
...***...
Ketika pukul enam pagi, Athos dengan dibantu Tasya membuat nasi goreng untuk sarapan semuanya. Prothos duduk di meja makan memantau pasangan itu sambil meminum kopi dan membaca buku pelajaran.
"Sekarang sedang libur kenapa kau masih membaca buku pelajaran, Oto?" tanya Tasya sambil memotong wortel.
"Aku tidak sepintar pacarmu, tapi aku punya target yang harus aku capai." jawab Prothos menyeruput kopinya, kacamata pemberian Widia bertengger di hidung mancungnya.
"Berhentilah minum kopi, ini minum susu saja." ujar Athos mengambil gelas kopi dari tangan Prothos, lalu menaruh segelas susu di hadapan Prothos.
"Terapkan juga padamu!!" seru Prothos melirik Athos yang di sampingnya.
Tasya tersenyum melihat keakraban saudara kembar tersebut.
"Aahh..." ringis Tasya, tangannya teriris pisau.
Athos segera menghampirinya dan mencuci jari Tasya yang teriris ke wastafel.
"Padahal aku berharap kau menghisap darahnya." ucap Tasya tersenyum.
"Apa?" tanya Athos. "Air liur bisa membuatnya infeksi karena banyak bakteri yang terkandung di air liur."
Tasya tersenyum mendengar jawaban Athos.
Athos menarik Tasya duduk di kursi hadapan Prothos. Dia langsung mengambil plester di kotak obat yang ada di lemari dapur, lalu memplester jari Tasya.
"Sudahku bilang kau tidak usah membantu. Duduk saja di sini."
"Aaaarrggg... aku muak sekali berada di sini." ujar Prothos menatap pasangan itu. "Aku jadi tidak fokus membaca buku."
"Maaf maaf..." senyum Tasya semakin meledek. "Oto, kenapa kau tidak ajak pacarmu berlibur juga? Saat disana kau akan semakin muak melihat kami." bisik Tasya. "Kalau kau ajak pacarmu, pasti kau..."
Prothos tertawa skeptis mendengar Tasya.
"Astaga Ato, bagaimana kau bisa menyukai wanita mesum sepertinya?" ujar Prothos melihat Athos yang melanjutkan masaknya. "Biar aku tidak bisa memantau kalian 'kan?"
Tasya tersenyum menjawabnya.
"Aku tidak punya pacar." jawab Prothos kembali mencoba membaca bukunya.
Tasya menggeleng dengan senyum.
"Tidak akan ada yang percaya seorang Prothos yang selalu bilang tidak ingin menyia-nyiakan ketampanannya, tidak punya pacar. Kau adalah Casanova masa kini, itu mustahil." senyum Tasya.
"Pacarmu benar-benar menyeramkan Ato, sindirannya dengan senyum seperti itu padaku." gumam Prothos.
"Ini kunci mobilnya... besok kalian harus pulang sebelum malam." ujar paman Ronald turun tangga lalu meletakan kunci mobil miliknya ke meja makan. "Sepertinya aku harus beli mobil, kalian jadi sering pakai mobilku."
"Tidak paman." jawab Athos sambil meletakan piring besar berisi nasi goreng ke tengah meja. "Aku yang akan beli untuk operasional. Sepertinya aku juga akan menyewa sebuah gedung setelah lulus nanti. Tapi aku butuh dukunganmu."
Athos melepas apronnya dan duduk di samping Tasya.
"Apa? Kau serius?" tanya paman Ronald. "Kau akan kuliah setelah lulus buat apa semua itu?"
"Ya, aku akan kuliah tapi aku juga akan memulai bisnis dan memperbesar café, maksudku, aku akan membuka cabang setiap bulan sampai selama aku memulai bisnis baru nanti."
"Bisnis apa?" tanya paman Ronald.
Athos tersenyum simpul, tanda tak ingin menjawab.
"Selamat pagi semuanya..." seru Lion yang masuk bersama Anna di belakangnya.
"Kami siap untuk berlibur... Hhuuhh." tambah Anna.
"Masuklah, kalian sarapan dulu." ucap Athos.
"Aroma lezat apa ini?" Lion membuka piring di meja makan. "Baiklah, ayo kita sarapan." Lion langsung duduk di kursi samping paman Ronald dan menyendok nasi goreng.
"Kau tidak sarapan, Anna?" tanya paman Ronald.
"Aku tidak napsu makan, aku tidak sarapan, paman." jawab Anna duduk di kursi tengah antara Tasya dan Prothos.
"Aku wanita perkasa, tidak mungkin sakit." nyengir Anna.
Bel berbunyi, Prothos membuka pintunya.
"Selamat pagi, Oto." ucap Jessica memandang Prothos dengan tatapan lekat.
"Pagi." jawab Prothos tersenyum memperhatikan Jessica dari bawah hingga kepala. "Disana dingin, kau berpakaian seperti ini?"
"Benarkah? Aku tidak tahu kalau kita akan ke tempat dingin." ucap Jessica.
"Masuklah, Ars belum bangun." ujar Prothos.
Jessica segera berjalan masuk, Prothos di belakangnya langsung jalan menuju tangga naik ke atas.
"Melo, kau sudah siap?" tanya Prothos mengetuk pintu kamar Melody.
Prothos langsung membuka pintu kamar Aramis, dan kembarannya tersebut masih tidur pulas.
"Bangun Ars, kau tidak jadi ikut?" seru Prothos di depan pintu. "Jessica sudah datang."
Aramis langsung membuka matanya.
"Benarkah dia sudah datang?" tanya Aramis langsung beranjak turun dari tempat tidur.
...***...
Semua sudah berkumpul di lantai bawah, kecuali Aramis yang masih bersiap-siap.
Semua berada di meja makan kecuali Prothos dan Anna yang berada di ruang TV. Anna berbaring di sofa memainkan handphone-nya, dan Prothos duduk di sofa yang sama di atas kepala Anna mengganti-ganti channel televisi.
Tidak lama kemudian Aramis menuruni tangga.
"Ars..." panggil Prothos melempar kunci mobil ke Aramis dan Aramis langsung menangkapnya. "Kau, Anna, Lion dan Jessica di mobil paman."
"Oke." jawab Aramis sambil duduk di salah satu kursi di meja makan untuk sarapan.
"Biarkan aku satu mobil dengan kalian." ucap Anna menengadah melihat Prothos yang di atasnya.
"Aku harus menjaga Melo." jawab Prothos.
"Aku yang akan jaga Melo." kata Anna bangun menatap Prothos. "Aku muak melihat si bodoh itu bersama si seksi itu." gumam Anna menatap Prothos.
Prothos tersenyum menanggapi ucapan Anna.
"Aku akan membocorkan rahasiamu." ujar Anna hendak bangun namun Prothos menarik Anna dan menutup mulutnya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Aramis yang melihat mereka berdua dari kursinya.
"Tidak ada." senyum Prothos masih menutup mulut Anna yang di sampingnya. "Aku tidak punya rahasia apapun. Jangan berkata yang tidak-tidak." bisik Prothos pada Anna.
Yang lain yang berada di meja makan hanya menggeleng-geleng melihat Prothos dan Anna.
Jessica memperhatikan Anna yang terlihat dekat dengan Prothos, itu membuatnya bertanya-tanya.
"Apa Anna berpacaran dengan Oto?" tanya Jessica.
Semua yang di meja makan menatapnya.
"Tidak, Anna akrab dengan semua orang." jawab Lion. "Tapi dia paling akrab dengan Ars."
"Benarkah? Aku iri sekali dengannya." ucap Jessica.
Perkataannya membuat semua orang yang berada di meja makan saling tatap karena merasa ada yang aneh dengan wanita itu. Namun tidak dengan Aramis yang fokus sarapan.
"Sudahlah kalian cepat berangkat sebelum jalanan macet." seru paman Ronald beranjak dari duduknya.
"Baiklah, ayo kita berangkat." ujar Athos juga beranjak.
"Oto, ingat kata-kataku... pantau mereka, dan jaga adikmu." ucap Paman Ronald yang menghampiri Prothos.
"Aku bosan mendengarnya." jawab Prothos sambil berjalan keluar merangkul Anna.
"Paman, aku pergi dulu... jaga dirimu ya." seru Anna melambaikan tangannya pada paman Ronald.
"Ayo Melo." ajak Athos ketika yang lain sudah keluar rumah.
"Kakak..." ucap Melody mendekati Athos. "Aku tidak suka dengannya." lanjut Melody dan yang dimaksud adalah Jessica.
"Kita baru mengenalnya jadi kita belum tahu sifatnya." jawab Athos mengusap kepala Melody. "Ayo berangkat."
Melody merasa ada yang aneh dengan Jessica sejak kehadirannya, ditambah kata-katanya tadi. Namun dia tidak mau membuat kakaknya Aramis mengetahuinya kalau dia tidak menyukainya.