MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Perintah Sang Raja Hutan



Keadaan cukup dingin di ruangan Billiard tersebut. Belasan pasang mata melihat kehadiran ketiga Musketeers di tempat itu dengan siaga. Mereka semua tahu kalau saat ini mereka bertiga menatap pada Lion yang berada di paling pojok ruangan. Tatapan ketiganya penuh kemarahan, sehingga mereka sudah siap kalau saja salah satu atau ketiganya mulai menyerang Lion maka mereka harus menghalaunya.


"Ada apa sebenarnya, Lion?" tanya Ivan yang tidak mengerti dengan situasi saat ini.


"LION!!" geram Aramis.


Teman-teman Lion yang lain menahan Aramis yang hendak mendekati Lion. Beberapa dari mereka menahannya sehingga Aramis memukuli mereka agar menyingkir dari jalannya.


"Ivan." ucap Lion menatap temannya tersebut.


Ivan memberikan isyarat agar semua teman-temannya yang berada di tempat itu keluar dari sana. Mereka semua menuruti dan keluar segera. Ivan menutup pintu ruangan tersebut dari dalam dan berdiri membelakanginya untuk melihat apa yang akan terjadi pada temannya Lion.


Aramis tanpa basa-basi langsung memukuli Lion beberapa kali. Lion diam saja tanpa membalas atau membela dirinya. Dia tahu itu akan terjadi padanya maka dari itu dia sudah siap menerima pukulan-pukulannya.


"Kami percaya padamu, tapi kenapa kau membiarkan Niko mendekati Melo?!" seru Aramis sambil melampiaskan amarahnya pada sahabatnya itu.


Lion berdiri berpegangan pada tembok setelah pukulan Aramis membuatnya terjatuh. Wajahnya sudah babak belur saat ini.


Prothos maju menarik Lion dan menatapnya dekat.


"Kenapa kau melakukannya?" tatap Prothos tajam. "Kau bilang, kau akan mengurusnya, tapi kau sendiri yang membiarkan Niko menjemput Melo."


Prothos melepaskan Lion, dan Aramis hendak memukulnya kembali namun Prothos memberi isyarat agar tidak melakukannya lagi. Prothos ingin agar Lion menjawab pertanyaannya.


"Katakan Lion!!" seru Prothos.


Lion menyeka sudut bibirnya yang berdarah dengan lengan kaos panjangnya. Warna merah langsung mengotori lengan kaos putih yang dikenakannya.


"Niko meminta bantuanku untuk mendekatinya." ucap Lion.


"Lalu kau setuju?" tanya Prothos.


"Ketika seorang teman meminta bantuanku, aku harus membantunya." jawab Lion dengan pandangan ke lantai. "Itu sudah kewajibanku."


Prothos tertawa mendengarnya. Dia sama sekali tidak percaya dengan jalan berpikirnya Lion. Aramis menahan emosinya saat ini sedangkan Athos masih diam menatap lekat Lion, mencoba mengendalikan amarahnya.


"Bagaimana dengan kau sendiri?" tanya Prothos lagi menatap Lion yang tak menatap salah satu dari mereka.


"Selama ini aku hanya mengikuti permintaan dan perintah kalian saja." jawab Lion. "Aku hanya melakukan apa yang kalian suruh terhadapnya."


Mereka bertiga berpikir dan memang benar selama ini Lion hanya melakukan apapun yang diminta mereka untuk menjaga Melody, adik mereka. Lion tidak pernah melakukan apapun dengan inisiatif sendiri pada Melody, kecuali di saat Melody meminta bantuannya.


"Lalu bagaimana dengan Melo?" tatap Prothos. "Kau tahu tentang perasaannya?"


"Aku rasa itu masalahnya, bukan masalahku." Lion menatap Prothos dingin.


"Sialan, kau Lion!!" seru Aramis menarik Lion lagi, namun Prothos menghentikannya.


"Jadi sekarang kau ingin mendekatkan Melo dengan temanmu itu?" akhirnya Athos mengeluarkan suaranya.


Lion mengangguk tipis.


"JAWAB AKU!!" teriak Athos penuh emosi.


"Ya, sudah aku bilang aku akan membantu temanku." ucap Lion menatap Athos yang berdiri paling jauh darinya. "Tapi kau tenang saja, selain hal itu tidak akan ada yang berubah. Aku masih akan berada di belakang kalian."


Athos menggelengkan kepalanya dan tersenyum menahan amarahnya. Dia tidak percaya dengan semua yang didengarnya.


"Bukan itu masalahnya saat ini, bodoh!!" seru Athos. "Setelah selama ini kau membuat Melo ketergantungan padamu, kau berniat meninggalkannya?"


"Kalian sendirilah yang membuatnya seperti itu, aku hanya mengikuti kemauan kalian selama ini." jawab Lion. "Aku rasa Niko bisa mengambil alih tugas itu. Bahkan, dia lebih baik dari aku. Dia pasti bisa melindunginya. Makanya aku memutuskan membantunya."


"Berani sekali kau mengambil keputusan itu tanpa berpikir kami akan menentangnya!!" seru Athos berjalan mendekati Lion dan menarik kerah baju Lion dengan kasar.


"Kalian akan setuju." ucap Lion yakin. "Mau tidak mau kalian harus setuju dengan keputusanku."


"Apa maksudmu, sialan? Kau memerintah kami?" Aramis menarik Lion dari cengkraman Athos dan menatap Lion sangat tajam.


Ivan yang sejak awal berdiri di depan pintu memperhatikan percakapan tersebut hanya diam saja. Dia pun saat ini merasa keputusan Lion adalah salah. Ditambah kata-kata Lion yang terdengar seperti sebuah perintah pada ketiga Musketeers. Yang dia tahu ketiga Musketeers tidak seperti teman-teman Lion yang lainnya yang selalu mendengarkan kemauan Lion. Bahkan selama ini hanya Lion yang selalu mendengarkan kemauan ketiga saudara kembar itu.


Lion mendorong Aramis agar melepaskannya. Setelah itu Lion merapikan pakaiannya dengan santai. Sedangkan ketiga Musketeers menatapnya terus dengan penuh amarah yang sudah membuncah. Lion mengangkat kepalanya dan menatap ketiga kembar itu dengan tatapan tajam.


"Aku rasa aku bisa membuat kalian menurutiku kali ini." ucap Lion dingin.


"Sekarang kau mengancam kami?" tanya Prothos tidak percaya. "Karena kau tahu rahasia kami, sekarang kau berani mengancam kami?"


"Kalau aku mau bisa saja aku menekan kalian dengan semua rahasia-rahasia kecil kalian itu." Lion menyunggingkan senyuman pada mereka.


"Ternyata dugaanku benar. Ars, dia sahabatmu, bukankah kau yakin dia tidak akan berkhianat?" ujar Prothos menoleh pada Aramis.


Lion menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Sudah aku bilang selain dari masalah ini, tak akan ada yang berubah diantara kita." terang Lion. "Aku tidak berniat mengkhianati kalian, lebih tepatnya aku tidak bisa mengkhianati kalian."


"Lalu kenapa kau sangat yakin kalau kami akan menuruti perkataanmu?" tanya Athos.


Lion tertawa dengan santai.


"Kalian bertiga masih berhutang padaku." seru Lion. "Aku akan memakai hutang kalian itu untuk masalah ini."


"Apa maksudmu?" tanya Aramis.


"Untuk ketiga hal yang aku menangkan tempo hari dari kalian bertiga. Semua akan aku gunakan untuk sebuah perintah." ucap Lion menyunggingkan bibirnya. "Kalian harus membiarkan Niko mendekati adik kalian!! Itu perintahku!!"


Mereka bertiga teringat dengan kejadian saat mereka berlibur di villa, dimana mereka bertiga kalah bertaruh dari Lion. Tidak mereka sangka kalau Lion akan memakainya untuk perintah konyol tersebut.


"Aku yakin kalian tidak akan menarik ucapan kalian sendiri." ujar Lion menatap ketiga kakak Melody. "Dan lagi aku rasa tidak masalah jika kalian membiarkan Niko mendekatinya. Biarkan adik kalian yang ambil keputusan."


Ketiga Musketeers sudah tidak mampu berkata apapun lagi.


...***...


Lion duduk sendirian di dalam ruangan billiard tersebut ketika ketiga Musketeers meninggalkannya. Waktu menunjukan pukul dua belas malam. Wajahnya yang babak belur masih dibiarkannya begitu saja. Dia duduk di atas meja billiard yang ada di tengah-tengah, dengan kaki yang menggantung ke bawah dan digerak-gerakannya berlawanan arah.


Saat ini dia masih berpikir dengan keputusannya mengenai Niko yang ingin mendekati Melody. Masih ada yang mengganjal di dalam dirinya saat ini. Hal itu adalah bagaimana dia menghadapi Melody setelah ini.


"Gadis itu sangat merepotkan." gumam Lion.


Tiba-tiba handphone Lion yang ada di sampingnya bergetar. Dia menoleh dan melihat Anna kali ini meneleponnya. Lion langsung mengangkatnya.


"Lion, ini seharusnya tidak terjadi pada Melo." ujar Anna di ujung telepon. "Saat ini Melo masih terus ketakutan."


"Apa maksudmu?" tanya Lion khawatir.


"Setelah dia pulang bersama Niko, dia terus ketakutan dan menangis." jawab Anna. "Paman Ron bilang, Melo trauma setelah apa yang dilakukan Felix padanya. Perbuatan Felix meninggalkan trauma dalam diri Melo sehingga dia menjadi takut dengan pria lain yang mencoba mendekatinya. Melo juga bercerita padaku kalau Niko terus saja memaksanya tanpa memedulikan ketakutannya."


"Apa?" tanya Lion terkejut.


Padahal sebelumnya dia sudah memperingati Niko agar tidak memaksa Melody untuk hal apapun. Ternyata Niko tidak mendengarkan peringatannya itu.


"Kasihan sekali Melo saat ini. Bahkan saat tertidur dia masih sering terbangun karena terkejut walau tak ada suara apapun yang mengejutkannya. Paman harus memberinya obat tidur agar bisa tidur dengan tenang. Aku juga tidak tega meninggalkannya."


Lion terlihat sangat marah setelah mendengar perkataan Anna tentang Melody.