MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Liburan Telah Tiba



Prothos menyetir di belakang mobil yang dikendarai Aramis. Athos duduk di sampingnya dan Melody bersama Tasya duduk di kursi belakang.


Sejak berangkat Melody diminta Prothos mendengarkan musik dengan earphones di telinganya, sebagai bentuk jaga-jaga kalau saja Tasya tidak bisa mengontrol kata-katanya ataupun pembicaraan yang sebaiknya tidak didengarkan oleh adik tersayangnya tersebut.


"Kenapa kau tidak menyuruh Anna di mobil ini?" tanya Athos setelah memastikan Melody menutup matanya tanda dia sedang tertidur.


"Kau sengaja memanas-manasinya ya, Oto?" tambah Tasya.


"Untuk apa?" Oto balik bertanya. "Aku hanya ingin lihat hal yang sebenarnya." jawab Prothos ambigu.


"Maksudmu siapa yang disukai Ars?" tanya Tasya lagi.


"Tidak." jawab Prothos.


"Lalu apa?" tanya Tasya penasaran. "Katakan yang jelas."


Prothos hanya menggeleng dengan sebuah senyuman.


"Aahh, tapi aku iri dengan Jessica... tubuhnya sangat bagus, dadanya besar dan bokongnya pun sama besarnya. Pasti semua pria akan meliriknya. Ditambah dia selalu berpakaian terbuka begitu. Aku pun akan memakai pakaian seperti itu kalau punya tubuh sebagus itu." ucap Tasya yang duduk di samping kiri Melody dan di belakang Athos.


"Melo, apa kau tidur?" tanya Prothos memastikan dengan melihat Melody dari spion juga.


Melody tidak bergeming.


"Dia sudah terlelap." ujar Tasya melihat Melody. "Ato, kau pasti juga memandanginya terus 'kan?" tiba-tiba Tasya bernada kesal.


"Tasya, jangan menuduhku macam-macam." jawab Athos dengan sabar.


"Aku tidak percaya, kau pasti meliriknya saat aku tidak melihatmu!"


Prothos tertawa mendengarnya.


"Jangan tertawa!!" seru Tasya kesal. "Kenapa kau diam saja? Kenapa tidak menjawabku lagi?"


Athos membuka sabuk pengamannya dan menoleh pada Tasya, namun tidak berkata apapun dan hanya memandangi kekasihnya saja.


"Ke... kenapa diam saja?"


Athos tetap tak menjawab.


"Kenapa hanya melihatku saja?"


"Ya, itu benar! Aku hanya melihatmu saja." ucap Athos. "Sekarang kau sudah mengerti?" Athos kembali membalikan pandangannya.


Tasya yang mendengar jawaban kekasihnya langsung terenyuh dan merasa benar-benar meleleh. Cara kekasihnya menjawab tuduhannya sangat di luar ekspektasinya, padahal Athos adalah orang yang terkenal kaku.


"Atoooooo, aku sangat mencintaimuuuuuu." seru Tasya sambil memeluk kekasihnya dari belakang.


Prothos hanya menggeleng-geleng dengan senyum melihat kembarannya bersama kekasihnya tersebut.


Melody merubah posisi wajahnya jadi ke arah jendela, lalu tersenyum. Sejak awal dia menyimak semuanya karena dia tidak menghidupkan musik di handphone-nya dan tidak tertidur.


Di mobil satunya, keadaan cukup dingin karena hampir tak ada suara yang berarti kecuali Lion yang sedang asyik bermain game menembak (Author : PUBG ya bukan bocil epep). Lion duduk di kursi samping Aramis yang menyetir. Sedangkan Anna duduk di belakang Lion dan Jessica duduk bersama Anna, di belakang Aramis.


Anna hanya duduk diam dan menatap keluar jendela. Efek tidak sarapan sekarang dia merasa lemas.


Karena semalam Aramis bermain game sampai pagi dan baru tidur sebentar, dia merasa sangat mengantuk.


"Lion, gantikan aku menyetir." pinta Aramis.


Lion tidak mendengar karena headphone terpasang di telinganya.


"Lion, kau dengar tidak?" tanya Aramis.


"Apa kau bicara padaku?" tatap Lion bingung.


"Aku saja yang gantikan." seru Anna menatap Aramis dari belakang.


"Baiklah." jawab Aramis setelah itu memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, dan keluar.


Anna juga keluar mobil untuk bertukar tempat dengan Aramis. Ketika melewati Aramis, dia sama sekali tidak menoleh padanya.


"Menyetir dengan hati-hati, di depan banyak tanjakan." ujar Aramis saat mereka berdua sudah masuk kembali ke dalam mobil.


"Tenang saja, di tempatku dulu juga banyak tanjakan." jawab Anna walau malas menanggapi.


Prothos membunyikan klakson saat melewati mereka.


"Bangunkan aku kalau ada apa-apa." ucap Aramis.


"Apa?" Aramis tampak bingung menjawab.


Anna memperhatikan mereka dari spion.


"Tidak boleh ya?" tanya Jessica. "Baiklah, tidak usah."


Aramis mengatur posisinya dan mulai menutup matanya. Tidak butuh waktu lama dia langsung terlelap. Jessica yang berada di sampingnya menggeser duduknya dan lebih mendekat pada Aramis. Tangannya pun mulai memegang tangan Aramis yang terlelap.


Anna melihat dari spion.


Anna langsung menancap gasnya kencang dan melewati Prothos dengan klakson panjang dan berkali-kali. Aramis terbangun, dan Jessica kembali ke posisinya semula. Lion juga berhenti bermain game karena harus berpegangan.


"Anna menantangku balapan? Berani sekali dia." geram Prothos tak mau kalah tancap gas.


"Oto, jangan mengebut!!" seru Athos.


Aramis yang terbangun dan harus berpegangan karena Anna sangat mengebut menjadi kesal.


"Anna, jangan mengebut!!" seru Aramis.


Anna tidak memedulikannya. Antara dia dan Prothos saling salip menyalip hingga mereka sampai di villa tujuan mereka.


...***...


"Anna, kau memang sangat keren." seru Lion ketika keluar mobil dan mengacungkan kedua jempolnya pada Anna yang juga keluar mobil.


"Kalau Ato dan Tasya tidak melarangku mengebut, aku tidak akan kalah." ujar Prothos berjalan melewati mobil Anna yang berhenti.


"Jika tahu begini, aku tidak akan membiarkanmu menyetir, bodoh!!" seru Aramis kesal pada Anna ketika keluar mobil. "Badanku jadi sakit dan aku tidak jadi tidur."


"Sudahlah, Ars. Yang penting kita sampai dengan selamat." senyum Jessica yang menghampiri Aramis. "Ayo kita masuk."


Jessica menarik lengan Aramis dan Aramis tidak bisa berbuat apapun untuk menghentikannya. Semua melihat pada mereka.


"Ato, ayo kita masuk juga." gandeng Tasya.


"Kalian ingat, jangan macam-macam!!" seru Prothos agak berteriak.


Karena di villa hanya ada empat kamar, dua di lantai satu dan dua sisanya di lantai dua, mereka membagi kamar dengan masing-masing satu kamar berdua.


"Semua pria di lantai satu, aku dengan Ato, Ars dengan Lion. Para wanita di lantai dua." ujar Prothos yang membagi kamar. "Terserah kalian mau tidur dengan siapa."


'Kenapa aku harus dengan Ars?" gumam Lion. "Kau curang, Oto!!"


"Jessica, bagaimana kalau kau denganku? Aku belum begitu banyak mengenalmu." kata Tasya menghampiri Jessica.


"Tidak masalah." jawab Jessica.


"Karena masih jam setengah sebelas istirahat saja semuanya, jam dua belas kita makan siang dengan makanan yang tadi di beli." ucap Prothos sambil membawa tasnya masuk ke kamar.


...***...


Prothos keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawahnya setelah selesai mandi. Dia terkejut ketika Jessica berdiri di dalam kamarnya. Namun, Prothos bersikap biasa saja.


Jessica memakai pakaian yang benar-benar minim, hanya celana pendek dan tanktop, membuat dada dan bokongnya terlihat jelas.


"Ada apa?" tanya Prothos berdiri menatap Jessica yang tampak tidak canggung dengan posisinya.


"Ahh, maaf aku masuk sembarangan." jawab Jessica tersenyum. "Aku mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban, makanya aku masuk. Saat aku masuk pas sekali kau keluar kamar mandi."


"Lalu ada apa mencariku?" tanya Prothos lebih memperjelas pertanyaannya sambil memakai kaos yang ada di atas kasur yang sudah di siapkannya sebelum mandi.


"Badanmu bagus sekali, Oto. Ah, maksudku... aku kesini ingin meminjam pengisi daya handphone. Punya Tasya tidak cocok dengan handphone-ku. Aku lihat Ato dan Tasya di dapur, makanya lebih baik aku pinjam padamu saja karena yang lainnya pasti sedang istirahat."


"Maaf, aku tidak punya handphone jadi aku tidak punya pengisi daya." jawab Prothos.


"Ah, benarkah?" tatap Jessica. "Baiklah, kalau begitu aku keluar." setelah itu Jessica berjalan ke pintu.


Prothos tersenyum dibuat-buat.


Tiba-tiba Jessica berhenti sebelum membuka pintu.


"Oto, tadi aku bilang badanmu bagus sekali, dan kau juga sangat tampan." kata Jessica tersenyum setelah itu keluar.


Prothos menatap kesal kepergian Jessica.


"Jelas-jelas dia menungguku sampai keluar dari kamar mandi tadi."