
Lion terus memperhatikan maps di handphone-nya dan melajukan motornya sangat cepat. Dia benar-benar sangat merasa cemas saat ini. Dia ingin segera menemukan Melody.
Hingga di maps Melody berhenti di sebuah toko donat. Saat sampai di dekat sana, Lion melihat mobil yang dipakai Melody terparkir disana. Dengan segera Lion turun dari motornya sambil mencoba menghubungi Melody dengan meneleponnya. Namun teleponnya tidak diangkat oleh gadis itu.
Dia berlari dengan sangat cemas dan membuka pintu toko donat tersebut.
Tatapannya langsung tertuju pada Melody yang sedang berdiri agak mencondongkan tubuhnya karena saat ini gadis itu sedang memilih donat-donat di etalase.
Melody menatap kehadiran Lion dengan terkejut. Gadis itu merasa bingung dengan kehadiran Lion yang datang tiba-tiba dan tampak cemas.
Lion menoleh ke arah meja pengunjung dan melihat Anna tersenyum sambil melambaikan handphone Melody yang masih memunculkan nomernya di layar karena Lion meneleponnya. Lion menjadi sadar kalau saat ini dia dikerjai oleh Anna.
Lion kembali menoleh pada Melody yang menatapnya. Untuk pertama kalinya mereka berdua saling menatap lagi setelah perpisahan mereka saat di ruang UKS. Melody melihat Lion memakai pakaian yang dihadiahkannya saat ulang tahun, tahun lalu, dan itu membuatnya senang. Untuk beberapa saat mereka terpaku saling menatap.
Lion menyadarkan dirinya segera dan berjalan mundur ke luar dari toko tersebut. Anna mengikutinya. Sedangkan Melody kembali memilih donat-donat yang ingin dibelinya sambil berpikir apa yang terjadi? Kenapa Lion ada disana dan terlihat cemas sebelumnya?
"Kena kau, Lion!!" seru Anna tertawa mengikuti Lion kembali ke motornya.
"Kau sangat keterlaluan, Anna." ujar Lion kesal naik ke atas motornya. "Ini tidak lucu, kau mengerjaiku tanpa memikirkan dampaknya."
"Dampak apa?" tanya Anna masih tersenyum geli. "Kami tahu kau memantau Melo terus setiap waktu. Ayolah, Lion! Kembalilah seperti dulu."
Lion tidak menjawab dan memakai helmnya segera, lalu berjalan meninggalkan tempat itu dengan sangat kesal tidak memedulikan perkataan Anna.
"Sebenarnya ada apa, kak?" tanya Melody yang baru keluar toko setelah melihat Lion pergi. "Kenapa dia disini?"
"Mungkin mau beli donat." jawab Anna asal bicara. "Astaga, kau beli sebanyak itu?"
Anna terkejut ketika melihat Melody membawa sepuluh kotak donat di kedua tangannya.
Melody masih melihat ke arah Lion pergi walau Lion sudah lama menghilang.
...***...
Prothos masuk ke dalam apartemen Widia tanpa memencet bel. Widia terkejut melihat kehadiran kekasihnya tersebut. Dia yang sedang membuat nasi goreng untuk makan siangnya langsung menghampiri Prothos yang datang tiba-tiba.
"Kenapa kau ke sini?" tanya Widia sedikit khawatir takut akan melakukan hal yang macam-macam seperti kemarin-kemarin.
"Ini janjiku yang terakhir bu guru, aku bersumpah atas nama adikku Melody, aku tidak akan macam-macam padamu." ucap Prothos mengangkat satu tangannya.
Widia percaya karena merasa kali ini Prothos berbicara sungguh-sungguh hingga bersumpah atas nama Melody adik tersayangnya. Dia pun kembali ke dapur melanjutkan masak nasi gorengnya.
"Aromanya lezat sekali, aku jadi lapar." ujar Prothos sambil mendekati Widia yang masih memasak.
"Duduklah, sebentar lagi akan matang." seru Widia.
Namun tiba-tiba Prothos malah memeluknya dari belakang dan itu membuat dirinya terkejut karena baru saja dia bersumpah.
"Aku rasa tidak masalah kalau hanya sekedar memelukmu." ucap Prothos berbisik pada Widia. "Aku tidak akan melakukan lebih dari ini mulai sekarang."
Prothos mematikan kompor dan membalik tubuh Widia. Lalu mencium kekasihnya itu.
"Dan tidak lebih dari ciuman." tambah Prothos tersenyum pada Widia.
Tanpa diduga Prothos, Widia menariknya dan menciumnya. Dia sangat terkejut karena ini kali pertamanya Widia yang menciumnya lebih dulu.
"Aku senang bu guru menciumku lebih dulu." senyum Prothos menatap Widia.
"Duduklah sekarang." ucap Widia tersenyum.
Prothos menurut dan langsung duduk. Widia datang membawa dua piring nasi goreng dan meletakannya di meja bulat dimana Prothos duduk.
"Ini sangat enak bu guru." ujar Prothos lahap. "Setiap akhir pekan aku akan selalu kesini untuk makan ini."
Widia tertawa mendengar ocehan Prothos.
"Wali kelasmu cerita kalau nilaimu semakin membaik." ucap Widia.
"Benarkah? Itu semua berkat bu guru yang selalu mendukung dan menemaniku belajar." jawab Prothos setelah itu minum. "Aku akan masuk di Universitas Negeri favorit pasti dan lulus dengan cumlaude lalu melanjutkan S2 di luar negeri. Kau tahu tidak bu guru? Ars, dia berencana menikah setelah Anna lulus sekolah. Astaga, dia itu memang bodoh sekali. Dia bicara dengan entengnya, bahkan dia tidak ingin kuliah."
Widia diam saja mendengarkan perkataan Prothos.
Prothos menyadari sesuatu berubah dari raut wajah Widia.
"Bu guru mau kan menungguku sampai lulus S2?? Aku akan menikah denganmu." ucap Prothos sambil menggenggam tangan kanan Widia.
"Dari pada bicarakan hal itu lebih baik kau lebih fokus belajar lagi saja biar nilaimu semakin meningkat." jawab Widia. "Ngomong-ngomong kau mendengar gosip yang beredar?"
"Gosip apa?" tanya Prothos.
"Kemarin kau mengembalikan buku salah seorang murid di kelasku kan? Buku Wilda, banyak yang bilang itu sangat aneh. Jika kau berniat mengembalikannya kau bisa meminta tolong Melody tapi kemarin kau mengantarnya langsung pada Wilda. Jadi ada gosip kalau kau dekat dengan Wilda."
"Benarkah ada gosip seperti itu? Aku belum dengar." ucap Prothos. "Oh iya bu guru, Wilda itu murid yang waktu itu menyapamu di minimarket saat bersamaku ya?"
Widia mengangguk.
"Pantas saja. Kau tahu Widi, dia mengenaliku. Alasan aku mengembalikan langsung buku miliknya adalah karena itu buku jurnal pribadinya dimana di dalamnya tertulis dia melihat kita beberapa kali bersama."
Widia terkejut mendengar perkataan Prothos. Dia langsung takut kalau saja muridnya itu membocorkan rahasia mereka berdua dan pihak sekolah tahu.
"Lalu bagaimana sekarang?" tatap Widia. "Apa yang akan kita lakukan?"
"Bu guru, apa aku bicarakan saja dengan anak itu dan memperingatinya agar tidak membocorkannya?"
"Jujur saja aku bingung sekarang." jawab Widia. "Bahkan aku pasti tidak bisa bersikap biasa lagi di depannya."
"Widia, tenang dulu, kau bersikaplah tenang, Lion juga tahu tentang hubungan kita ini, tapi kau bisa bersikap biasanya di depannya. Lakukanlah seperti itu juga."
"Tidak, ini berbeda." jawab Widia.
"Baiklah, kalau begitu aku saja yang membicarakannya dengan Wilda." seru Prothos. "Semoga saja dia tidak ikut campur masalah kita. Kalau di lihat dari salah satu catatan di jurnal-nya dia merasa itu bukan urusannya jadi kemungkinan dia tetap akan diam saja."
"Semoga saja dia diam saja. Wilda itu tidak punya teman di kelas. Itu menjadi hal baik sekarang karena dia tidak akan berbicara pada siapapun." ucap Widia. "Tapi sifat manusia bisa berubah dengan sangat cepat."
"Sudahlah, bu guru. Besok aku akan menemuinya dan membicarakan hal ini padanya. Kau tidak perlu khawatir. Yang harus kau lakukan hanya bersikap seperti biasa padanya. Kau mengerti?" tanya Prothos sambil mencondongkan wajahnya menatap dekat Widia dengan senyum.
Widia menatap wajah Prothos dan mencoba untuk mengikuti perkataannya agar tidak khawatir. Dia pun mengangguk.
Prothos mencoba mencium Widia sekali lagi, namun kali ini dia menghentikan tindakan muridnya itu.
"Habiskan makananmu, dan pulang." ujar Widia.
Prothos hanya bisa tersenyum dan mengikuti perkataan Widia.
"Oh iya, apa yang terjadi dengan Lion dan adikmu? Hubungan mereka terlihat tidak seperti dulu. Dulu mereka sangat dekat tapi sekarang mereka tampak dingin satu dengan yang lainnya, apa karena Niko? Lion pindah tempat duduk dan Niko yang duduk di samping Melody sekarang. Tapi aku perhatikan hubungan Lion dan Niko baik-baik saja."
Prothos menghela napas karena dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan itu.
"Aku sering melihat Melody menatap Lion yang duduk jauh darinya, tapi Lion sama sekali tidak pernah melihat ke arah Melody apalagi menatapnya." ujar Widia penasaran. "Sebenarnya hubungan mereka berdua seperti apa?"
"Entahlah, karena Niko hubungan mereka berdua menjadi rumit. Aku juga tidak mengerti dengan pemikiran Lion. Padahal aku yakin sekali kalau Melo dan Lion saling menyukai." jawab Prothos.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
PROMO NOVEL LAIN
Apa jadinya jika seorang gadis iblis kabur dari neraka karena ingin merasakan cinta?
Kisah ini mengenai seorang iblis wanita yang merupakan anak dari mantan malaikat yang dibuang Tuhan, Lucifer. Lucia kabur ke dunia manusia setelah memakan apel kehidupan yang merubahnya dapat terlihat oleh manusia. Hal itu karena gadis iblis itu ingin merasakan sesuatu yang disebut cinta yang selalu dirasakan oleh manusia.
Itu sangat mustahil karena satu-satunya perasaan yang tidak dimiliki seorang iblis adalah "cinta".
Hingga akhirnya dirinya keluar dari neraka dan muncul dari bawah tanah di sebuah rumah sewaan seorang pemuda yang hidupnya biasa-biasa saja.
Apakah akhirnya gadis iblis itu mampu merasakan cinta?
Ataukah cinta memang tidak diciptakan untuk para iblis?
Ikuti tingkah kocak si gadis iblis dengan pemuda biasa-biasa saja ini ya.
Jangan lupa dukungannya.
Cerita hanya fiksi belaka dan tidak ada niat menyinggung Tuhan, Malaikat atau pun Iblis.
Semuanya murni karangan penulis.