
Melody sampai di kelasnya sepuluh menit sebelum bel sekolah berbunyi. Dia duduk di kursinya memainkan handphone menunggu jam masuk.
Dia membuka sosial media yang baru saja mendapatkan sebuah notifikasi dari seseorang. Sebuah pesan dari akun yang belum berteman dengannya.
YA idu za toboy.
Dia melihat akun bernama X. Nikolayevich M. mengiriminya kalimat yang menurut Melody aneh, dia tidak mengerti apa artinya. Melody juga tidak ingin tahu apa artinya. Dengan segera dia menutupnya dan meletakan handphone-nya ke meja.
"Mel, kau tau?" tanya Rinka teman yang duduk di depannya. "Aku dengar ada anak baru."
Melody hanya menggeleng meresponnya.
Tidak berapa lama Lion masuk dengan merapatkan jaketnya, terlihat kedinginan. Melody menjadi sedikit salah tingkah melihat kehadiran Lion.
"Astaga dingin sekali." keluh Lion sambil duduk di kursinya, samping Melody. "Hujan masih rintik-rintik dan aku harus menempuh jarak 25 km dengan Megan untuk ke sekolah. Tahu begini aku tidak menginap di rumah Ivan."
Melody diam saja walau sebenarnya dia ingin sekali menjawabnya. Dia sangat ingin bilang Jaga Kesehatanmu namun jantungnya yang frekuensinya semakin cepat mengurungkan keinginannya.
Bel sekolah berbunyi, tanda jam pelajaran dimulai.
"Melon, aku akan tidur sebentar, beritahu aku kalau sudah ada guru." ujar Lion meletakan kepalanya ke atas meja di tumpukan tas sekolahnya.
Melody diam saja tak menjawab.
"Nanti kau kursus?" tanya Lion yang masih melihat Melody dengan posisi kepala di atas meja. "Aku akan menjemputmu saat pulang kursus, temani aku makan ramen ya."
Melody melihat pada Lion karena untuk pertama kalinya Lion berniat menjemputnya selain atas permintaan keluarganya.
Dalam waktu yang bersamaan Widia masuk kelas.
"Kenapa harus ramen? Tidak sehat kalau terlalu banyak makan itu." jawab Melody mencoba bersikap biasa pada Lion.
"Hari ini kita kedatangan murid baru. Dia sangat tampan." ujar Widia di sambut gemuruh sorakan dari para murid perempuan. "Masuklah, dan perkenalkan dirimu."
"Hujan-hujan begini paling enak makan ramen." jawab Lion tersenyum pada Melody yang menatapnya.
"Dobroye utro, menya zovut X. Nikolayevich Mordashov."
Seketika Lion menoleh ke depan kelas dan menegakan duduknya, begitupun dengan Melody yang terkejut melihat seseorang berdiri di depan kelas di samping wali kelasnya. Seorang pemuda dengan kulit pucat yang melapisi seragam sekolahnya dengan mantel hitam panjang dan tangan kiri yang dimasukkan ke dalam saku mantelnya.
"Dia seperti vampir." ucap Rinka yang duduk di depan Melody.
"Ah, maksudku, selamat pagi, namaku X. Nikolayevich Mordashov." senyum Niko serta merta melambaikan tangan kanannya pada Melody.
Lion langsung menoleh pada Melody yang menatap Niko dengan tegang.
Keadaan kelas langsung ramai. Kehadiran Niko yang langsung melambaikan tangan pada Melody membuat semua bersorak. Hampir semua murid perempuan di kelas itu merasa iri pada Melody karena mereka merasa Niko sangat tampan dengan wajah campurannya.
Widia menenangkan kondisi kelas dengan mengetuk-ngetuk papan tulis.
"Silakan lanjutkan perkenalannya." ujar Widia.
"Panggil saja aku Niko." lanjut Niko. "Bu guru, aku punya anemia jadi aku ingin duduk di dekat jendela. Karena tinggi badanku, lebih baik aku duduk di belakang." ujar Niko tanpa basa-basi.
Widia mengerti dengan maksud Niko, dia meminta agar duduk dekat Melody. Tapi dia tahu kalau sebaiknya Lion tidak dipindahkan jauh-jauh dari Melody. Dia ingat pesan kekasihnya yang ingin adiknya selalu di dekatkan dengan Lion.
"Tidak apa-apa bu guru, aku bisa duduk di depan Lion juga." ucap Niko. "Tinggi badan kami tidak jauh berbeda."
"Baiklah, Ferdi, kau bisa pindah ke kursi yang disana." seru Widia pada murid yang duduk di depan Lion.
"Spasibo." jawab Niko langsung berjalan ke kursinya tanpa di suruh Widia.
Melody berusaha bersikap biasa saja dengan tidak melihat pada Niko. Rinka yang duduk di samping Niko tampak senang saat pemuda itu berjalan ke arahnya.
"Maaf ya kawan, aku tidak mengabarimu sebelumnya." ucap Niko agak berbisik pada Lion saat duduk di hadapannya.
Niko menoleh pada Melody dengan senyum.
"Kau sudah membaca pesanku, Melody?" tanya Niko.
Melody diam saja dan bersikap seolah-olah tidak mendengarnya. Dalam hatinya dia merasa sedikit takut dengan pemuda itu, sejak awal dia selalu berusaha mendekatinya. Namun keberadaan Lion membuatnya cukup tenang.
"Niko, bukannya seharusnya kau ada di kelas sebelas?" tanya Lion bingung.
"Tahun kemarin aku tidak naik kelas lagi." bisik Niko menoleh pada Lion.
"Astaga, kalau begitu kau sudah dua tahun tidak naik kelas. Kau lebih bodoh dari Ars ternyata." gumam Lion heran.
"Dengan wajah tampan dan kekayaan yang ku miliki, aku rasa tidak masalah dengan itu." bisik Niko.
Melody yang mencuri dengar menahan tawanya mendengar pengakuan pemuda yang terlihat sangat menyeramkan untuknya itu.
Aku datang untukmu.
...***...
Ketiga Musketeers yang mendengar kepindahan Niko ke sekolah mereka hendak menghampirinya ke kelas Melody untuk memberi peringatan pada pemuda itu agar menjauh dari adik mereka.
Saat jam istirahat, tepat saat mereka ingin menyeberangi lapangan untuk ke kelas Melody, Niko juga melihat ketiga Musketeers berjalan ke arahnya. Karena itu dia ikut berjalan mendekati mereka sebagai bentuk rasa tidak takutnya.
Ketiga Musketeers dan Niko bertemu tepat di tengah lapangan membuat semua mata menuju pada mereka. Mereka berdiri berhadapan, Aramis yang berada di tengah menatap tajam pada Niko yang merupakan musuh bebuyutannya. Athos di sebelah kanan dan Prothos di sebelah kiri Aramis.
Lion yang melihat itu terjadi menghampiri mereka berempat dan mengambil posisi di tengah-tengah untuk menghentikan mereka semua jadi pusat perhatian. Jauh dari sana Melody berada di arah belakang Lion melihat apa yang terjadi.
"Ayolah, jangan seperti ini." ujar Lion yang berada di sebelah tengah-tengah mereka yang saling berhadapan.
Niko tersenyum pada ketiga Musketeers. Senyuman yang diartikan ketiganya adalah sebuah ejekan.
"Vy, rebyata, skuchayete po mne? (Apakah kalian merindukanku?)" tanya Niko. "YA skuchayu po vam, moi brat'ya. (Aku merindukan kalian para kakakku)."
"Zamolchi!! Bez shutok!! (Diamlah!! Jangan bercanda!!)." seru Athos yang menguasai bahasa Rusia.
"Wow, ternyata kakakku yang pintar bisa bahasa Rusia juga. Aku jadi merasa semakin dekat denganmu, kak." ujar Niko tersenyum. "Tapi apa-apaan kalian bertiga ini, kalian membuatku kecewa dengan kabar yang aku dapat. Kau Ato, ternyata pacarmu adalah tunangan orang."
Athos tidak merespon dan hanya menatap tajam Niko.
"Dan kau Oto, tampaknya ciumanku membuatmu menjadi seorang gay. Siapa pacarmu sekarang?"
Prothos hanya tersenyum menahan emosinya.
Niko maju selangkah mendekati Aramis, Lion pun ikut maju untuk bersiap dengan kemungkinan terburuk kalau-kalau Aramis tidak bisa menahan emosinya.
"Apa aku tidak salah dengar?" tatap Niko lekat pada Aramis. "Yang tak terkalahkan ini sekarang berlindung di belakang seorang wanita?"
Aramis tertawa mendengar provokasi Niko.
"Apa-apaan kau, Ars? Kau pikir kau dan wanita itu adalah Bonnie and Clyde??" tanya Niko dengan gelak tawa. "Ya, semoga saja akhir dari dirimu dengan wanita itu tidak seperti mereka."
Aramis memang tidak mengerti dengan yang diucapkan Niko, tapi dia tahu kalau itu bukan sesuatu hal yang bagus. Dia mulai terprovokasi hingga berjalan lebih maju. Untungnya Athos menahannya.
Athos lebih mendekati Niko, menatapnya tajam.
"Kakova vasha tsel'? (Apa tujuanmu?)" tanya Athos dengan tenang.
"Sepertinya kalianpun juga sudah tahu." ucap Niko. "Tvoya mladshaya sestra (Adik perempuanmu)."
Lion langsung berdiri mengambil posisi di tengah antara Niko dan Athos yang juga mulai kehilangan kesabarannya setelah terang-terangan Niko menjawab tujuannya datang adalah untuk adik perempuan mereka, Melody.
"Kalian sudahlah!! Jangan seperti anak kecil. Kita ada di sekolah." ucap Lion pada ketiga Musketeers dengan kesal menggaruk kepalanya.
Namun tiba-tiba Lion menghadap ke Niko dan menatapnya.
"Niko, ini hari pertamamu disini, jangan berlebihan!"
Niko menatap Lion, dan tahu peringatan dari Lion tidak main-main. Pemuda itu tersenyum pada ketiga Musketeers setelah itu berbalik pergi. Niko berjalan menuju kelasnya sambil mengeluarkan sebuah pelembab bibir untuk melembabkan bibirnya yang selalu kering.
Lion berbalik dan menghadap Musketeers yang tampak sangat dipenuhi amarah saat ini.
"Aku yang akan mengurusnya." ujar Lion pada Musketeers.
Ketiga Musketeers berjalan pergi diikuti para murid yang menonton dari pinggir lapangan.
Lion memasukan kedua tangannya ke saku celana dan berbalik, namun pandangannya berhenti pada Melody yang masih menatapnya dari jauh.
"Argghh, ini menjadi sangat merepotkan." gumam Lion berjalan tertunduk dengan kedua tangan di saku celana.
...----------------...
Xander Nikolayevich Mordashov.
Pria berdarah campuran ini berkebangsaan Rusia karena sang ayah berasal dari sana. Memiliki kulit putih pucat dan selalu memakai mantel panjang menutupi seluruh tubuhnya, hal itu yang membuatnya nampak seperti seorang vampir. Selain itu Niko selalu memasukan tangan kirinya ke saku mantel dan selalu memakai sarung tangan di tangan tersebut. Selain tampan keluarganya sangat kaya raya karena itu dia sering mengatakan dia tidak membutuhkan otak yang pintar ataupun nilai pelajaran yang bagus. Faktanya, dia sudah tinggal kelas selama 2 tahun. Usianya sama dengan ketiga Musketeers, namun masih berada di tingkat yang sama dengan Lion dan Melody. Dia merasa dengan wajah tampan dan kekayaannya tak ada lagi masalah dalam hidupnya. Namun kenyataannya kalimat tersebut hanya untuk menutupi kesedihan terbesar di dalam dirinya.
(Note : Niko ini karakter favorit author).
Visual Model :
Vernon Seventeen