MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Hubungan Yang Kandas



Sekitar pukul enam pagi, Prothos membuka pintu apartemen Widia, tanpa mengetuknya lebih dulu. Dia ingin meminta maaf pada kekasihnya itu, walau harus berlutut padanya. Dia sangat mencintai gurunya sehingga merasa sangat hancur jika membiarkan hubungannya kandas begitu saja.


Widia yang berada di depan meja dapur terkejut saat Prothos masuk ke dalam apartemen-nya. Dia tidak mengira jika Prothos akan menemuinya hari ini dan sepagi ini.


"Kenapa kau di sini? Cepat keluar!!"


"Bu guru, maafkan aku." Ucap Prothos. "Aku tidak ingin berpisah darimu."


"Cepat keluar!!" Widia maju untuk mendorong Prothos agar keluar. "Wis—" Namun Prothos malah menyambar bibir Widia menciumnya.


"Aku mendengar ada seseorang da—" Tiba-tiba Wisnu keluar dari kamar mandi. Ucapannya berhenti ketika melihat kakaknya sedang berciuman dengan seorang Pria.


Prothos terkejut dengan kemunculan Wisnu yang tak diduganya. Dengan segera dia melepaskan Widia dari ciumannya.


"Apa yang kau lakukan pada kakakku?" Seru Wisnu yang langsung menarik Prothos dan mendaratkan pukulan ke wajah Prothos.


"Wisnu, Wisnu, lepaskan dia." Pinta Widia sambil menarik lengan Wisnu yang memegangi Prothos hendak memukulnya sekali lagi.


Prothos tak berdaya, dia tidak ingin membalas pukulannya ataupun menghindar. Keberadaannya di sana adalah salah saat ini.


Namun Wisnu sekali lagi memukul wajah Prothos.


"WISNU HENTIKAN!!" Teriak Widia pada adiknya sehingga Wisnu melepaskan Prothos dari cengkramannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau membiarkan muridmu menciummu?" Tanya Wisnu dengan heran pada Widia. "Dan kau Oto, kenapa kau berada di dalam apartemen gurumu?"


"Widia itu pacarku." Jawab Prothos. Tatapannya pada Wisnu penuh keyakinan.


"Apa kau bilang?!" Wisnu hendak mencengkram Prothos lagi namun Widia langsung menghalanginya dengan berdiri di antara mereka.


"Wisnu, hentikan! Biarkan dia pergi." Ujar Widia. Widia segera berbalik dan menatap Prothos. "Pergilah! Hubungan kita sudah selesai." Tatap Widia pada Prothos.


Prothos tak berkata apapun, hanya dengan melihat tatapan Widia yang dingin padanya membuat hatinya sangat sakit. Keberadaan Wisnu di sini juga membuatnya tidak bisa mengatakan apapun untuk meminta maaf pada Widia. Prothos menahan air matanya sehingga matanya memerah, dan segera pergi dari sana.


"Kau bercanda, Widi?" Tatap Wisnu. "Oto pacarmu? Dia itu muridmu, kau jauh lebih tua darinya!!"


"Kau tenang saja, kami sudah tidak memiliki hubungan apapun sekarang." Jawab Widia berjalan mendekati meja dapur membelakangi Wisnu. "Hubungan kami sudah berakhir."


Wisnu tertegun melihat kakaknya yang memunggunginya. Suara Widia bergetar ketika berbicara dan dia melihat Widia menghapus air mata. Dia tahu kalau saat ini kakaknya itu sedang bersedih sehingga dirinya tidak ingin menambah kesedihan Widia lagi dengan perkataannya.


...***...


Sekitar pukul sembilan pagi Athos berada di kamarnya. Dia mengerjakan pekerjaannya membuat laporan keuangan café miliknya. Setelah total memiliki lima cabang café, saat ini pekerjaannya semakin banyak dan dia lakukan semuanya sendiri. Dia tidak ingin meminta bantuan pada kedua kembarannya, karena mereka berdua sudah fokus pada kesibukannya masing-masing. Prothos yang selalu belajar untuk ujian akhir dan Aramis yang selalu pergi untuk menyelesaikan lukisannya. Sehingga Athos melakukan semuanya sendirian.


Athos meregangkan tubuhnya setelah selesai dengan kesibukannya. Dia masih harus membuat makan siang untuknya dan Melody, hanya mereka berdua yang berada di rumah saat ini. Aramis sedang melukis dan Prothos sejak pergi tadi pagi-pagi sekali belum juga pulang.


"Kau tidak kesini, Tasya?" Tanya Athos menelepon kekasihnya.


"Aku akan kesana sebentar lagi. Apa ada yang kau inginkan? Aku akan mampir membelinya untukmu." Jawab Tasya. "Kau pasti lelah kan? Aku akan membeli isotonik untukmu."


"Tidak perlu, kau kesini saja, lelahku akan hilang." Ucap Athos. "Kau ingin makan siang apa? Aku akan membuatkan untukmu."


"Apa saja, aku suka semua yang kau masak."


"Baiklah, cepatlah kesini." Ujar Athos.


"Satu jam lagi aku akan datang."


Setelah selesai menelepon Tasya, Athos memikirkan sesuatu mengenai perkataan Tasya semalam. Apa yang dikatakan Tasya memang benar, seharusnya dirinya menjalin hubungan baik dengan Niko saat ini. Dengan segera Athos membuka handphone-nya untuk menghubungi Niko.


"Kau membuatku terkejut. Untuk pertama kalinya kau menelepon aku." Ujar Niko saat menerima telepon dari Athos.


"Prikhodite poobedat' vmeste." Jawab Athos.


...***...


Athos tak menjawabnya dan masih sibuk dengan makanan yang dibuatnya. Dengan sesekali melihat resep di handphone-nya dan mencampurkan bahan-bahan. Beberapa makanan terlihat seperti roti namun terlihat asing untuk Tasya.


"Kau sedang mencoba masakan baru? Masakan apa ini? Aku baru melihatnya."


"Kau bilang akan datang satu jam lagi, tapi ini sudah hampir dua jam. Dari rumahmu kesini hanya memakan waktu dua puluh menit." protes Athos tanpa menatap Tasya.


"Kau tahu kan aku harus berdandan secantik mungkin untuk menemuimu." Jawab Tasya sambil memeluk Athos dari belakang. "Kau sangat menggemaskan saat protes."


Athos membalikkan badannya dan langsung mencium Tasya.


"Harus beberapa kali aku bilang, kau tidak perlu berdandan. Kau sudah sangat cantik tanpa riasan." Jawab Athos sekali lagi mengecup bibir Tasya dan setelah itu melanjutkan kesibukannya.


Tasya memeluk Athos lagi dan tak mau melepaskannya. Gadis itu merasa sangat merindukan Athos yang sangat sibuk belakangan ini. Kemarin saat bertemu di pembukaan cabang café, dia pun tidak memiliki waktu berdua dengannya dan di tambah karena terjadi masalah mengenai Melody dan Niko, mereka sudah lama tidak bermesraan seperti sekarang ini.


"Duduklah Tasya, aku harus menyelesaikannya dulu." Seru Athos pada Tasya yang masih memeluknya dari samping.


"Kau di rumah hanya dengan Melody 'kan? Ayolah Ato, kita bermesraan dulu saja." Ujar Tasya. "Aku sangat merindukanmu, kita tidak pernah bermesraan seperti ini lagi."


"Sebentar lagi selesai, aku selesaikan semuanya dulu." Jawab Athos masih berusaha fokus memasak walau Tasya menggelayutinya. "Bantu aku menyusun yang sudah jadi ke meja, ini sudah waktunya makan siang."


Tasya melepas Athos dengan wajah cemberut, dan melakukan permintaan Athos, membawa makanan yang sudah jadi ke meja makan sambil bergumam kesal.


Suara bel rumah berbunyi.


"Aahh, kenapa ada yang datang? Siapa yang mengganggu kita kali ini?" Keluh Tasya sambil berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu.


Athos hanya tertawa ringan mendengar keluhan Tasya.


...***...


Melody sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya. Saat Niko mengiriminya sebuah pesan. Niko sering mengirimi pesan pada Melody sebelumnya, biasanya selalu memakai bahasa Rusia yang berisi hal-hal yang membuat Melody tersipu malu sekaligus bingung harus menanggapinya bagaimana.


YA skuchayu po tebetebe (Aku merindukanmu).


Melody tak perlu mencari artinya karena dia sudah sangat tahu mengenai arti kalimat itu. Niko terlalu sering mengiriminya pesan dengan kalimat bahasa Rusia itu. Seperti biasa Melody tidak membalasnya. Niko pun mengiriminya pesan sekali lagi.


Ayo kita bertemu. -Niko-


Tidak, aku ingin istirahat. -Melody-


Aku ingin makan siang denganmu. -Niko-


Melody melihat jam di handphone-nya dan sudah menunjukan hampir jam dua belas siang. Sudah waktunya makan siang. Tetapi saat ini dia sedang ingin makan siang di rumah, ditambah sebelumnya Athos memberitahu kalau akan memasak makanan baru untuknya.


Tidak, aku akan makan di rumah bersama kak Ato. -Melody-


Khorosho dorogaya (Baiklah sayang). -Niko-


Wajah Melody memerah saat mencari tahu artinya.


"Melody, ayo kita makan siang." Seru Tasya mengetuk pintu kamar Melody.


"Iya, kak Tasya." Jawab Melody meletakkan handphone-nya. "Sejak kapan kak Tasya datang?" Gumam Melody sambil bangkit berdiri.


Melody keluar dari kamarnya segera dan berjalan hendak ke lantai satu, ke meja makan. Dia menuruni tangga dengan langkah biasa. Ketika sampai di bawah, gadis itu terkejut melihat Niko duduk di salah satu kursi meja makan rumahnya.


Niko menoleh pada Melody dengan tersenyum dan melambaikan tangannya. Sedangkan Athos duduk di hadapan Niko memperhatikan.


Kenapa Niko disini? batin Melody.


...@cacing_al.aska...