
Selama beberapa hari Melody menghindari Felix setelah peringatan dari kakaknya, Athos. Hari inipun sama. Ketika jam istirahat beberapa kali Felix meneleponnya namun dia tidak menjawab. Dia membiarkan handphone-nya terus bergetar di atas meja sedangkan dia mencoba berkonsentrasi membaca buku biologi, mata pelajaran selanjutnya setelah istirahat.
"Cepat jawab teleponnya!!" seru Lion dengan nada malas. Dia sedang meletakan kepalanya di atas meja sejak waktu istirahat tiba.
Melody tidak memedulikannya dan terus membaca.
"Dengar tidak?!" lanjut Lion tanpa mengangkat kepalanya. "Kau dengar tidak Melon?! Handphone-mu terus saja bergetar, kenapa tidak di jawab?" Lion mengangkat kepalanya karena merasa kesal. Kalau tidak ingin dijawab kau bisa mematikannya kan?!."
"Tidak! Kalau aku matikan dia akan tahu kalau aku menghindar darinya." jawab Melody tanpa peduli maksud Lion yang merasa terganggu karena getaran handphone-nya.
"Tapi getarannya menggangguku!!"
"Itu masalahmu, lagi pula tidak biasanya kau diam di kursimu saat istirahat."
"Tadi malam aku tidak tidur karena menonton El Clasico dan aku kalah taruhan. Jadi aku mohon padamu biarkan aku tidur sekarang." ucap Lion.
"Memangnya aku melarangmu tidur?"
"Tapi getar handphone-mu menggangguku!!" ujar Lion semakin kesal.
Melody tidak menanggapinya lagi dan lanjut membaca. Dengan kesal Lion mematikan handphone Melody yang terus saja bergetar karena Felix menelepon, setelah itu langsung memasang headphone-nya dan kembali tidur.
"Apa yang kau lakukan?!" seru Melody mengambil handphone miliknya.
Tiba-tiba Felix datang dan berjalan menghampiri meja mereka yang ada di urutan paling belakang. Melody melihatnya dan bingung harus berbuat apa.
"Kenapa tidak menjawab teleponku? Bahkan me-reject-nya juga?" tanya Felix menatap Melody.
Lion masih tertidur dengan kepala di atas meja, dia tidak bergeming sedikitpun dari posisinya semula.
"Ada apa? Apa ada yang salah? Apa aku melakukan kesalahan?" tatap Felix pada Melody.
Melody beranjak dari tempatnya dan berjalan hendak menghindari Felix. Namun Felix menarik lengan Melody. Melody semakin bingung harus bagaimana.
"Melody menghindar dariku ya? tanya Felix menatap Melody.
"Tolong, lepaskan tanganku kak." ucap Melody.
"Tidak akan aku lepaskan." ujar Felix. "Kenapa kau menghidar? Apa karena kakak-kakakmu?" Felix menatap tajam Melody. "Pasti karena itu kan?"
"Aku mohon lepaskan tanganku."
"Jawab aku dulu!!"
"Lepaskan tangannya!!" tiba-tiba Lion bangun, melepas headphone dan langsung memegang lengan Felix yang menggenggam tangan Melody. "Dia minta kau melepaskan tangannya, kau tidak tuli kan?" tatap Lion pada Felix.
Lion dan Felix saling tatap dengan dingin. Seluruh perhatian anak di kelas tertuju pada mereka. Tak ada suara yang terdengar dan hanya suara detakan jam dinding saja.
Melody langsung membeku dengan apa yang terjadi sekarang.
"Kalau tidak salah kau ini adalah tetangganya saja kan? Ah tidak, maksudku tukang ojek-nya." ujar Felix pada Lion. "Jadi bisa tidak jangan ikut campur masalah ini?"
Lion terdiam sesaat, lalu melepaskan tangannya yang memegang lengan Felix di iringi senyuman tipis. Namun tanpa siapapun menduga tiba-tiba Lion meninju wajah Felix hingga pria itu jatuh tersungkur. Melody sangat terkejut melihat apa yang di lakukan Lion. Lion menarik Felix bangun dan sekali lagi meninjunya sehingga menimbulkan keributan karena semua siswa menontonnya.
"Memangnya kenapa kalau aku hanya tetangga atau tukang ojeknya?" seru Lion sambil menatap tajam wajah Felix yang terpojok di salah satu meja. "Dia memohon agar kau melepaskan tangannya! Bodoh!! geram Lion.
Lion berhenti dan membiarkan Felix yang sudah babak belur mencoba berdiri.
"Aku belum tidur tadi malam di tambah aku kalah taruhan, jadi emosiku sedang tidak baik, seharusnya kau tidak membuat keributan di dekatku." seru Lion pada Felix yang menyeka sisi bibirnya yang berdarah.
Tiba-tiba Felix balik menyerang Lion ketika dia lengah. Felix meninju Lion namun Lion kembali membalasnya. Pada akhirnya mereka berkelahi. Siswa yang menonton semakin banyak.
Melody tidak tahu harus melakukan apa. Dia berlari keluar kelas untuk menghindar dari kejadian itu. Dia merasa ketakutan dan tidak sanggup melihat perkelahian tersebut. Perkelahian yang disebabkan olehnya.
Tidak lama kemudian Athos selaku ketua osis datang bersama beberapa guru untuk melerai perkelahian itu setelah beberapa siswa datang melapor padanya. Lion dan Felix di bawa ke ruang osis atas keributan yang mereka buat.
...***...
"Si bodoh ini tiba-tiba memukulku tanpa sebab jadi aku membalasnya." seru Felix ketika ada di ruang osis. "Keluarkan saja dia segera! Sekolah ini akan hancur jika semua siswa seperti dia." Felix menahan rasa sakit di wajahnya yang membiru.
"Tidak mungkin dia melakukan itu tanpa sebab." ujar Athos tidak percaya.
"Jadi kau berkata kalau aku bohong?" seru Felix.
"Lion, kau tidak ingin mengatakan sesuatu untuk membela dirimu?" tanya Athos menatap Lion.
Lion hanya melamun dan tidak menjawab. Saat ini dia merasakan kekacauan pada dirinya. Dia memikirkan bagaimana Melody tadi menatapnya. Hal itu mengganggu pikirannya karena terlihat jelas sekali kalau Melody membela Felix bukan dirinya.
"Itu benar, aku yang memukulnya lebih dulu." jawab Lion mengangkat kepalanya menatap Athos.
"Kau dengar sendiri kan?! Dia sudah mengakuinya, jadi keluarkan dia sekarang juga."
"Maaf, aku tidak punya hak mengeluarkan siswa." ucap Athos. "Lion kau akan menerima suspensi, diskors lima hari, kau tidak dapat mengikuti kegiatan sekolah selama itu. Sekarang kau bisa pulang dan masuk kembali setelah lima hari."
Tanpa sepatah katapun Lion keluar dari ruangan.
"Dia hanya diskors karena kalian berteman kan?" protes Felix. "Keluarkan saja dia! Dia sudah melukai wajahku hingga seperti ini."
"Diamlah!! atau kau juga akan menerima suspensi?!" ucap Athos.
...***...
Melody berjalan kembali hendak memasuki ruang kelasnya setelah bel berbunyi. Ketika dia hendak masuk tiba-tiba dia berpapasan dengan Lion yang keluar ruangan kelas dengan headphone terpasang menutupi telinganya dan membawa tas miliknya.
Melody berhenti dan tampak bingung karena Lion tidak melihat ke arahnya. Lion terus saja berjalan seolah-olah tidak melihat Melody yang berhenti tepat di hadapannya. Hal itu membuat Melody merasa aneh.
Bukannya jam istirahat sudah berakhir lalu mau kemana dia? Tanya Melody dalam hati.
"Lion..." panggil Melody berharap Lion berhenti berjalan dan menoleh padanya.
Akan tetapi Lion tetap berjalan dan tidak menanggapi panggilannya. Mungkin karena headphone yang di pakainya sehingga dia tidak mendengar panggilan Melody.
Melody duduk di tempatnya sambil memandang keluar jendela. Melihat Lion yang melesat dengan motornya. Dia tidak mengerti apa yang terjadi dengan Lion. Terlihat sekali kalau Lion pura-pura tidak melihat keberadaan dirinya.
"Dimana Lionel? Kenapa dia belum masuk kelas?" tanya bu Widia guru biologi yang baru saja masuk ke kelas.
"Dia baru saja pulang karena diskors, bu. Dia berkelahi dengan kakak kelas saat istirahat tadi." jawab seorang siswi yang duduk di kursi paling depan.
"Diskors?" Melody terkejut mendengarnya.