
Anna memasuki halaman rumahnya namun langkahnya terhenti ketika melihat Aramis sempat terdiam sebelum masuk ke rumahnya.
Hari sudah mulai gelap. Mereka berdua pulang dengan berjalan kaki sehingga menghabiskan waktu yang cukup lama.
Aramis merasa akan ada sesuatu yang terjadi padanya. Suara ayahnya terdengar samar dari tempatnya berdiri. Namun dia mulai melangkah lagi untuk masuk ke dalam rumahnya. Dengan perlahan dia membuka pintu rumah.
Semua mata langsung melihat kehadirannya. Kedua kembarannya berdiri di lantai dua. Sedangkan ayah, paman dan bahkan kakek berada di ruang tamu. Mereka semua menatap kehadiran Aramis tanpa kata.
Dan seorang wanita juga berada disana. Duduk di sofa samping pintu. Wanita itu menoleh padanya. Ya, dia adalah Jessica.
Aramis berjalan mendekat ayahnya. Dia menundukan wajahnya dan sebuah tamparan mendarat di wajahnya, bersamaan dengan pintu terbuka. Anna masuk.
Aramis tidak berkata apapun, dia hanya menoleh pada Jessica yang melihatnya.
Ayah menunjukan beberapa foto yang tercetak pada Aramis. Foto yang sama yang dia terima melalui pesan dari Jessica.
"Kau tahu apa yang kau perbuat?" tanya ayah marah. "Dia datang untuk meminta pertanggungjawabanmu."
Aramis terkejut dan melihat ayahnya, bertanya apa maksud kata-katanya barusan. Dia tidak mengerti maksud dari kalimat meminta pertanggungjawaban dirinya.
"Saat ini Jessica sedang hamil, Ars." ujar paman Ronald, di tangannya membawa beberapa lembar kertas yang adalah hasil pemeriksaan dari rumah sakit. "Dia bilang, anak itu anakmu."
Anna terkejut mendengarnya, bahkan airmatanya sampai mengalir keluar. Dia menutup mulutnya dengan tangannya karena tidak bisa menahan isakannya. Akhirnya Anna memutuskan keluar dari sana.
Aramis yang tahu Anna pergi mengepalkan kedua tangannya dan berniat untuk membela dirinya. Dia tidak bisa membiarkan wanita itu berbuat sesukanya.
"Dia bohong, aku tidak melakukan apapun padanya. Dia menjebakku." ujar Aramis menatap ayah dan pamannya. "Kalian jangan percaya pada wanita-."
Sekali lagi ayahnya menampar wajah Aramis. Sangat keras membuat air matanya keluar dari sudut matanya. Bukan karena rasa sakitnya namun karena ayahnya tak mempercayai perkataannya.
"Leo, jangan memukulnya terus, biarkan dia bicara dulu." seru kakek yang duduk di sofa.
"Ron, antar ayah ke kamar." ucap ayah.
Paman Ronald menuruti dan langsung menggandeng kakek ke kamarnya di lantai dua.
"Ars, kau harus menerima kenyataan, ini anakmu." ujar Jessica memegang lengan Aramis.
Aramis membalikan badannya dan melihat pada Jessica dengan jijik serta kebenciannya.
"Aku tidak berbuat apapun padamu. Bagaimana bisa itu anakku?" ujar Aramis dingin.
"Tapi kita melakukannya, Ars. Kau dan aku-."
"Ayolah, jangan berakting di depanku lagi." seru Aramis kesal. "Aku tidak akan bertanggungjawab untuk sesuatu yang bukan perbuatanku-."
"ARS!!" bentak ayah. "Aku tidak pernah mengajarkanmu seperti itu!!"
"DIA MENIPUMU, AYAH!!" teriak Aramis.
Kali ini ayah meninju wajah Aramis dengan kepalan tangannya.
"Sebaiknya kau putuskan untuk bertanggungjawab, Ars." ujar Jessica dengan air mata mengalir. "Aku akan memberitahu orangtuaku agar mereka bisa memaksamu untuk bertanggungjawab, jika kau tetap tidak mau bertanggungjawab maka aku akan memberitahu sekolahmu."
Setelah berkata demikian Jessica keluar dari rumah.
"Sekarang bagaimana? Apa yang akan kau lakukan?" tanya ayah tertawa kesal. "Aku benar-benar malu memiliki anak sepertimu. Tidak aku sangka kau akan mengkhianati kebebasan yang aku percayakan padamu."
Aramis menggeleng mendengar ucapan ayahnya.
"Pergilah dari sini sekarang juga!! Aku tidak ingin melihatmu sebelum kau memutuskan untuk bertanggungjawab!!" seru ayah melempar foto-foto yang dibawanya pada Aramis setelah itu berjalan pergi ke kamarnya.
Athos dan Prothos menuruni tangga dan menghampiri Aramis.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang, bodoh?" tanya Athos.
"Wanita itu berbohong!! Dia menjebakku dengan obat tidur dan merencanakan semua ini." jawab Aramis.
"Dia memanipulasi kalian hanya dengan foto-foto tersebut."
...***...
Anna menangis di ruang tamu rumahnya mendengar apa yang terjadi. Hatinya benar-benar hancur setelah mendengar Jessica hamil anak Aramis, pemuda yang dicintainya. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Padahal baru beberapa jam yang lalu dirinya merasa sangat bahagia bersama Aramis. Dan sekarang semuanya terasa menyakitkan.
Pintu rumah Anna terbuka. Anna segera menghapus air matanya karena tahu siapa yang akan masuk.
Aramis menatap Anna dengan tatapan pasrah. Dia berdiri di depan pintu hanya menatap Anna, berharap gadis yang sangat dicintainya itu akan mempercayai perkataannya.
"Dalam perjalanan dia memberiku minuman dan tanpa aku ketahui, ternyata dia sudah mencampurnya dengan obat tidur. Keesokannya aku terbangun..."
Aramis berhenti bicara dan mengusap air mata yang hendak keluar dari sudut matanya.
"Di kamar hotel, dan kami tidak memakai apapun." lanjut Aramis.
Anna meneteskan air mata kembali walau dia menahannya sekuat tenaga. Bahkan isakannya terdengar karena tidak bisa dia menahannya. Saat ini yang dia harapkan hanya terbangun dari mimpi ini dan kembali seperti beberapa jam yang lalu bersama Aramis. Bersendagurau dengan senang dan penuh kebahagian.
"Percayalah padaku, itu bukan anakku. Aku tahu kami tidak melakukan apapun."
"Diamlah, Ars!!" seru Anna menahan tangisannya.
"Dia menjebakku... setelah menolaknya, dia menjebakku. Dia tidak bisa menerima kalau aku menolaknya lagi. Karena itu dia menjebakku seperti ini."
"AKU BILANG DIAM, BODOH!!" teriak Anna.
Aramis terjatuh dan berlutut pada Anna dengan penuh kesedihan. Dia berharap agar Anna bisa mempercayainya.
"Kau bisa menghukumku dengan apapun, tapi percayalah padaku. Aku tidak melakukannya dengan dia. Dia berbohong."
Anna tertegun menahan air matanya. Dia melihat Aramis yang tampak putus asa meminta kepercayaannya. Anna menahan napasnya sejenak untuk menghilangkan isakannya dan menghentikan air mata yang terus menerus mengalir keluar.
"Kau tahu? Aku melihatmu bersama dengannya saat di villa." ucap Anna menatap pada Aramis. "Aku melihat kalian berciuman, dan kau... dan kau... kau..."
Anna menghentikan perkataannya karena tak mampu lagi melanjutkannya. Air matanya kembali mengalir, meronta keluar seperti air hujan yang terus turun tanpa bisa siapapun melarangnya.
Aramis hanya bisa diam dan menahan perasaannya yang tidak dipercaya oleh gadis yang sangat dicintainya. Seberapa pun usahanya untuk menjelaskan semuanya. Tampaknya semua sia-sia. Toh, kesalahannya juga karena tidak memberitahu yang sebenarnya pada Anna lebih awal.
"Maafkan aku, seharusnya aku menceritakan hal itu padamu sebelum hari ini terjadi."
"Sudah cukup, Ars." seru Anna menghapus air mata di pipinya. "Lalu bagian mana yang harus aku percaya?" tatap dingin Anna.
Aramis mengeluarkan air matanya melihat Anna menatapnya dingin dan tak mempercayainya sedikit pun. Bahkan satu katapun tidak. Itu sangat menyakiti hatinya.
"Pergilah, aku sudah muak melihatmu!!"
Rasa pasrah dan kesedihan menyeliputi Aramis. Aramis bangkit berdiri dengan gontai, dia tak ingin melihat tatapan dingin Anna lagi, karena itu dia segera keluar dari sana.
Sepeninggalan Aramis, Anna menangis sejadi-jadinya. Dia sangat terisak dan tak bisa menahan suara isakannya. Bahkan kalimat terakhirnya membuatnya sangat sakit mengatakannya. Dia sangat berharap siapapun membangunkannya dari tidurnya saat ini. Dari mimpi buruk yang menimpanya.
Anna menaiki tangga dengan pandangan yang kabur. Dia berusaha mengarunginya dengan berpegangan pada pegangan tangga. Namun kepala yang berat dan rasa sedihnya membuatnya tak memiliki tenaga melakukannya.
Gadis itu jatuh terduduk di tengah tangga dengan memeluk kakinya, dan kembali menangis.
...----------------...
ANNA
Visual Model :
Bae Suzy