MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Payung yang Hangat



Lion berlari menerobos rintik hujan menuju rumah Melody setelah Melody menghubunginya. Kebetulan Anna baru juga keluar dari rumahnya, dan merasa aneh melihat Lion berlari.


"Ada apa, Lion?" tanya Anna namun tak dijawab Lion.


Anna segera mengikuti Lion masuk ke rumah Melody.


"Kalian ini, hentikan!!" seru Lion mencoba melerai ketiga saudara kembar yang berkelahi.


"Ada apa ini?" tanya Anna yang ikut membantu menghentikan perkelahian tersebut.


Namun mereka tidak memedulikannya dan masih mencoba menyerang.


"Kalian ini seperti anak kecil!! HENTIKAN!!" teriak Lion.


Mereka bertiga akhirnya berhenti. Melody turun ke bawah menghampiri kekacauan yang dibuat ketiga kakak kembarnya. Rumah menjadi berantakan sekarang.


"Apa yang terjadi?" Tiba-tiba Tasya datang.


"Baguslah, dia datang." ucap Prothos tersenyum skeptis. "Ato, katakan padanya kalau kau ingin berpisah!!"


"Sudahku bilang, jangan ikut campur masalah ini!!" jawab Athos dingin.


Prothos memukul Athos lagi, dan Tasya berlari menghampiri kekasihnya itu.


"Kenapa kau memukulnya?" tanya Tasya marah pada Prothos. "Kau tidak apa-apa?" Tasya memegang wajah Athos yang membiru.


"MENJAUH DARINYA!!" teriak Prothos menarik kasar Tasya hingga gadis itu jatuh.


"PROTHOS!!" geram Athos memukul wajah Prothos hingga sisi bibirnya berdarah. "Jangan kasar pada pacarku!!"


Sekali lagi Athos meninju wajah Prothos sebelum Lion menahannya.


Prothos mengambil handphone Aramis yang terjatuh di lantai, dan menunjukan foto yang menjadi sumber masalah ke Tasya.


"Bisa kau jelaskan ini?" tanya Prothos menatap Tasya muak. "Kapan ini terjadi?"


"Tadi malam." jawab Tasya menatap Athos.


"Siapa dia?" tanya Prothos lagi.


"Dion, tunanganku." jawab Tasya menundukan kepalanya.


Semua yang mendengar terkejut kecuali Athos.


"Apa kau tahu dia sudah punya tunangan?" lirik Prothos pada Athos.


Athos hanya sedikit mengangguk karena dia yakin kalau Prothos akan semakin marah mendengar jawabannya.


Prothos tertawa mendengarnya, dia merasa tidak habis pikir pada kembarannya yang masih melanjutkan hubungannya bersama gadis yang sudah bertunangan.


"Kau tahu Ato, siapa orang yang paling menyedihkan di dunia ini?" tatap Prothos pada Athos. "Orang yang bertahan pada hubungan yang mustahil hanya karena merasa dia bisa mengubahnya menjadi mungkin. Dan itu kau!!"


Setelah menatap kembarannya dengan penuh kemuakan Prothos pergi dari rumah, dengan kekecewaannya pada Athos.


...***...


Athos, Aramis, Lion, Anna, dan Tasya duduk di meja makan membahas apa yang terjadi. Sedangkan Melody masuk ke kamarnya saat Athos memintanya.


"Kenapa kau tidak tanya aku dulu dan memberitahu Oto?" tanya Athos pada Aramis yang duduk di hadapannya.


"Aku kira kalau kau melihat foto itu kau pun akan berpisah dari Tasya." jawab Aramis. "Aku tidak tahu kalau kau lebih membela dia."


"Ato, percayalah padaku kalau bukan aku yang mencium Dion. Dia yang tiba-tiba datang dan langsung menciumku." ujar Tasya memegang lengan Athos yang duduk di kanannya.


"Ars, dari mana kau dapat foto itu?" tanya Athos.


"Temanku Ivan yang kirim." jawab Aramis. "Dia bilang ada nomer asing yang mengirimkan itu padanya. Karena dia tau Tasya adalah pacarmu makanya dia mengirimnya padaku."


"Ini pasti perbuatan si pecundang itu." gumam Athos.


"Heh, tunggu dulu!!" seru Anna yang duduk di hadapan Tasya dan di sebelah kiri Aramis. "Yang jadi masalah bukan itu!! Benar apa kata Oto. Tasya sudah bertunangan, tapi kenapa kalian masih melanjutkan hubungan kalian?"


Aramis menatap Anna agar Anna menutup mulutnya, tapi Anna mengabaikannya.


"Ato, Tasya sudah bertunangan... apa kau serius masih mau melanjutkan hubungan kalian?" tatap Anna.


"Pertunangan itu bukan keinginanku, aku juga tidak mau." ucap Tasya.


"Tapi ke depannya akan sangat sulit jika kalian benar-benar serius." ujar Anna pada Athos. "Lion, bagaimana menurutmu?"


"Jangan tanya aku, aku tidak ingin ikut campur masalah siapapun. Aku ke sini karena Melon menangis meminta bantuanku memisahkan mereka." jawab Lion.


"Ya, sebaiknya seperti itu. Jangan ikut campur masalah kami." seru Athos. "Lebih baik cari anak itu, aku takut dia akan berbuat hal yang tidak-tidak!! Ars, cari Oto!!"


"Bagaimana mencarinya? Dia tidak punya handphone." jawab Aramis. "Orang sensitif dan keras kepala sepertinya tidak akan kembali hingga kemarahannya hilang atau kau mau menuruti perkataannya?"


...***...


Melody yang berada di kamar sendiri, menerima pesan dari Lion.


Semua sudah tenang sekarang, kau tidak perlu khawatir dan berhentilah menangis.


Melody menghapus air matanya setelah membaca pesan dari Lion.


...***...


Pintu sebuah rumah diketuk dan keluar seorang pria yang adalah Bara, teman Kiara mantan Prothos.


"Siapa kau? Ada perlu apa?"


"Aku ingin bicara." ucap Prothos memperlihatkan wajahnya yang kepalanya tertutup penutup kepala hoodie yang dipakainya.


Prothos mengajak Bara untuk berbicara di luar rumah Bara walau saat ini hujan turun rintik-rintik.


"Katakan padaku apa hubunganmu dengan Kiara?" tanya Prothos.


Semenjak Prothos mendapatkan kiriman foto Kiara yang berboncengan dengan Bara, dia berpikir kalau sesuatu ada diantara mereka.


"Berani sekali kau semalam mempermalukan Kiara." ujar Bara terlihat tidak senang pada kehadiran Prothos. "Setelah kau mempermalukan gadis itu kau datang kesini? Dari mana kau tahu rumahku?"


"Jawab saja pertanyaanku, aku tidak ingin hal lainnya." seru Prothos dingin. "Apa kalian benar hanya berteman?"


"Ya, kami memang berteman." jawab Bara. "Tapi bukan sekedar teman. Walaupun dia berpacaran denganmu, tapi setiap kali aku mengajaknya tidur denganku dia tidak keberatan."


Apa yang diduga Prothos memang benar. Selama dua minggu mereka berpacaran, gadis itu mengkhianatinya.


"Baiklah, aku hanya ingin mendengar itu."


"Sepertinya kau memang seorang pengecut." seru Bara ketika Prothos membalikkan badannya hendak pergi. "Wajah wanita sepertimu pasti tidak punya nyali untuk menyentuh seorang wanita. Hanya berlagak seperti playboy... bahkan Kiara bilang begitu padaku saat kami tidur bersama."


Prothos membalikan tubuhnya dan meninju Bara sekuat tenaga dan rasa kesalnya hingga pria itu tersungkur. Lalu Prothos mencengkram bajunya.


"Hari ini aku sedang kacau, jadi lain kali saja aku akan melayanimu bermain-main, kita lihat siapa yang akan tetap bisa tertawa di akhir, yang kau sebut si wajah wanita ini atau kau, si muka landak." ejek Prothos setelah itu pergi.


...***...


Melody masuk ke kamar Prothos dan dia sadar kalau sarapan yang dia bawakan untuk kakaknya itu belum tersentuh. Melody langsung berlari turun menghampiri kedua kakaknya yang sedang duduk di meja makan.


"Kak, carilah kak Oto, dia tidak sarapan tadi... pasti saat ini dia hujan-hujanan. Dia akan sakit." tatap Melody pada Athos. "Dia juga tidak membawa dompetnya."


...***...


Hujan semakin deras dan Prothos terus berjalan. Setelah mendengar perkataan Bara dia semakin hancur. Selama berhubungan dengan seorang wanita, Prothos sama sekali tidak pernah berkhianat, tapi beberapa kali dia dikhianati oleh kekasih-kekasihnya dulu.


Prothos tertawa, menertawakan dirinya yang menurutnya sangat menyedihkan.


"Playboy? Tampan? Sangat menggelikan mendengarnya." ucap Prothos sarkas pada dirinya sendiri.


Kesedihannya tak bisa dibendung lagi, dia mencoba menarik napas di tengah hujan yang membasahi dirinya. Namun tetap saja rasanya dia ingin menangis.


Langkahnya terhenti, dan rasanya dia harus melakukan sesuatu untuk Athos, kembarannya. Dia tidak ingin kembarannya itu terluka, namun dia tahu kalau Athos adalah orang yang berambisi kuat, dia akan melakukan apapun dengan sungguh-sungguh untuk mencapainya, sepertinya untuk masalah percintaannya pun Athos juga akan mati-matian berjuang, walau akhirnya itu percuma.


"Dasar Ato bodoh." ucap Prothos mengusap-usap wajahnya.


Tiba-tiba hujan terasa berhenti.


Prothos menyingkirkan tangannya dari wajahnya dan melihat Widia memayunginya dengan payung berwarna merah, serasi dengan hoodie yang Widia kenakan yang juga berwarna merah.


"Kenapa kau hujan-hujanan?" tanya Widia yang baru kembali dari laundry.


Sejak tadi Prothos berjalan kaki menuju apartemen gurunya tersebut, dan sekarang dia sudah hampir sampai di depan apartemen-nya. Namun dia tidak berharap atau pun ingin menemui gurunya tersebut.


Siapa sangka Widia melihatnya, dan datang memayunginya yang kehujanan.


Prothos tersenyum melihat gurunya berdiri di dekatnya. Dia merasa kehangatan setelah gurunya memayunginya.


"Bu guru..." ucap Prothos memeluk gurunya.