
Pagi-pagi sekali Anna bersiap ke sekolah, dia sudah berganti pakaian seragam sekolahnya dan mengambil kalung pemberian Aramis yang dia lepas saat mandi.
Dia memperhatikan di liontin tersebut terdapat sebuah tulisan, Anna Milik Aramis No HP: 08xxxxxxxxxx.
Anna tertawa melihatnya.
"Bahkan dia menaruh nomer handphone-nya juga." gumam Anna tersenyum. "Dia benar-benar menganggapku anjingnya."
Dengan perasaan senang, Anna memakai kembali kalungnya.
...***...
Prothos berjalan ke belakang gedung sekolah saat jam istirahat tiba. Setelah tidak menjabat sebagai ketua klub basket, ruangan tersebut tidak lagi jadi tempatnya tidur siang saat istirahat.
"Aku jadi tidak punya tempat untuk tidur siang." gumam Prothos memasang earphones ke telinganya.
Dia sudah mencari tempat yang aman untuknya tidur siang, tetapi hanya belakang gedung sekolah saja yang jarang di datangi siapapun. Dengan segera dia menyandarkan tubuhnya ke tembok sekolah dan duduk di atas tanah. Lalu memejamkan matanya sambil mendengarkan alunan musik klasik favoritnya.
Prothos membuka mata karena merasa seseorang menatapnya. Dan dia terkejut ketika dia melihat beberapa kumpulan wanita yang terbagi dalam beberapa kelompok berdiri ataupun duduk di sana. Memperhatikannya dan bahkan memotretnya.
Malam ini aku pasti jadi topik lagi di forum website sekolah. gumam Prothos dalam hati.
Prothos berdiri dan tersenyum pada gadis-gadis tersebut, menjaga image-nya.
"Arrrgghh..." teriak Prothos setelah mencuci wajahnya di toilet. "Apa berwajah tampan adalah dosa? Kenapa mereka semua jadi berada disana? Aku sangat mengantuk." keluh Prothos.
Setelah mengeringkan wajahnya dia hendak keluar toilet namun lebih dulu Widia melintas. Widia hendak menuju ruang guru yang berada di sebelah kamar mandi.
Prothos melongok keluar pintu diam-diam melihat Widia yang masuk ke ruang guru.
"Hah, aku sama sekali belum memikirkan cara meminta maaf pada bu guru." gumam Prothos.
"Apa yang kau lakukan sampai harus minta maaf?"
Tiba-tiba Anna berada di sebelah Prothos dan melongok ke luar toilet. Prothos terkejut sesaat.
"Kau mengejutkanku!!" seru Prothos. "Sejak kapan kau disini? Tidak, kenapa kau di toilet pria?"
"Kau tahu sendiri, di toilet wanita banyak kumpulan wanita yang pada bergosip, karena itu aku buang air besar disini." senyum Anna.
Prothos menghindar dari tangan Anna yang berpegangan dengannya saat dia mendengar Anna baru saja buang air besar.
"Tenang saja, aku sudah cuci tangan. Sepertinya perutku masih bermasalah." nyengir Anna sambil mengelap tangannya ke Prothos. "Kalian bertengkar kenapa? Hah, setelah kemarin dia melihatmu bertelanjang dada aku pikir bu guru akan goyah pendiriannya."
"Apa maksudmu?" tanya Prothos yang langsung menangkap yang dimaksud Anna. "Kau ini ya!!"
"Ini, ambil ini..." ucap Anna mengambil amplop map cokelat dari dalam kemeja di punggungnya.
"Apa ini?" tanya Prothos bingung. "Kenapa kau menaruhnya di belakangmu? Astaga kau jorok sekali."
"Ini formulir pendaftaran calon kandidat ketua OSIS, di dalamnya ada visi dan misi ku juga. Cepat ambil aku harus buang air besar lagi."
"Kenapa kau memberikannya padaku?"
"Sebelum diserahkan ke ketua OSIS, guru yang bertanggungjawab akan memeriksanya lebih dulu." jawab Anna. "Berikan pada bu Widia, dia yang bertanggungjawab dalam pemilihan ketua OSIS baru."
...***...
Prothos mengikuti ucapan Anna. Dengan senang hati dia masuk ke ruang guru. Ternyata di dalam ruangan tersebut hanya ada Widia yang duduk di kursinya dan seorang guru pria yang tertidur di tempatnya, jauh dari meja Widia.
Widia melihat kedatangan Prothos dan pura-pura tidak melihatnya, namun Prothos berjalan menuju arahnya. Dengan bingung Widia tetap berusaha menjaga wibawanya sebagai seorang guru.
Prothos tersenyum sebelum menyodorkan amplop pada Widia, namun Widia malah mengalihkan pandangannya ke kertas kosong yang di letakannya di atas meja.
"Ini formulir pendaftaran calon kandidat ketua OSIS. Anna memintaku memberikannya pada bu guru karena perutnya masih bermasalah dan harus bolak balik kamar mandi." ujar Prothos panjang lebar.
"Letakan di situ!!" seru Widia tanpa melihat Prothos.
Prothos melihat ke sekeliling ruangan untuk memastikan tak ada siapapun kecuali seorang guru yang pasti sedang tertidur pulas. Lalu dia mengambil salah satu kursi dan segera duduk di hadapan Widia.
Widia jadi semakin bingung dan salah tingkah.
"Bu guru, maafkan aku." ucap Prothos dengan nada perlahan. "Aku bingung bagaimana harus menjelaskan situasi waktu itu. Tapi aku mohon maafkan aku. Aku tidak ingin membuatmu jadi bingung saat melihatku. Anggap saja itu tidak pernah terjadi."
Widia mengepalkan tangannya karena kesal mendengar perkataan Prothos. Bagaimana mungkin dia minta agar dirinya menganggap itu tidak pernah terjadi?
"Aku ingin bu guru bersikap biasa saja padaku."
"Memang aku bersikap seperti apa?" ujar Widia kesal dengan nada suara yang tinggi sehingga guru yang tertidur sempat terbangun dan merubah posisinya.
"Kau malu padaku, sampai-sampai dari tadi hanya menatap kertas kosong di mejamu."
"Baiklah bu guru. Terimakasih karena sudah memaafkan aku." ucap Prothos masih tersenyum setelah itu berjalan keluar.
"Dia itu!! Apa seperti itu caranya meminta maaf?" gumam Widia kesal.
Ketika Prothos keluar dari ruang guru, dia tidak menyadari kalau ada seseorang yang berdiri di sebelah pintu arah berlawanan Prothos keluar.
Lion tersenyum simpul menyiratkan sesuatu.
...***...
Setelah mata pelajaran pertama sehabis istirahat usai, Anna mendapat telepon dari Athos.
"Ars bolos setelah jam istirahat. Kau tahu dimana dia? Apa dia menghubungimu?" tanya Athos. "Handphone-nya juga tidak bisa dihubungi."
Secepatnya Anna berlari keluar sekolah membawa tasnya untuk mencari keberadaan Aramis. Hanya ada satu tempat yang terpikirkan oleh Anna. Gedung tua.
Benar sekali dugaan Anna, Aramis sedang duduk di sana dengan sebuah kanvas di hadapannya, dan beberapa lukisan yang sudah jadi, tertumpuk di bawah.
"Sepertinya tempat persembunyianku sudah diketahui musuh." ucap Aramis masih sibuk menggoreskan cat warna ke kanvas dengan tangan kirinya yang ada di hadapannya ketika Anna muncul.
"Ars, apa-apaan ini? Kau tidak bilang tentang semua ini padaku?" ujar Anna sambil mengambil tumpukan kanvas. "Kenapa kau menumpuknya seperti ini? Seharusnya kau menggantungnya di dinding."
Aramis melihat Anna sambil meminum minuman kalengnya. Tangannya sudah penuh warna, bahkan di wajahnya juga ada cipratan cat warna.
"Ternyata kau benar-benar pelukis." ujar Anna melihat salah satu hasil lukisan Aramis dan memperhatikannya.
Sebuah lukisan seorang wanita yang berdiri membelakangi di atas hamparan bunga matahari yang indah, namun membawa payung berwarna kuning karena hujan, akan tetapi payung tersebut tidak digunakannya untuk melindungi dirinya melainkan di angkatnya seperti dia sedang menari.
"Romantisisme, aliran lukisanmu." ujar Anna tersenyum melihat lukisan itu. "Ini buatku ya." senyum Anna melihat pada Aramis.
Anna mengambil tisu basah di tasnya dan berjalan menghampiri Aramis. Lalu meletakan satu tisu di tangan kanan Aramis.
"Wajahmu penuh cat." ucap Anna dengan gerakan agar Aramis membersihkan wajahnya.
Aramis menuruti dan langsung membersihkannya dengan tangan kanannya karena tangan kirinya masih memegang kuas, namun karena Aramis seorang yang kidal, bukannya bersih, dia malah menggeser cat hitam tersebut dan menjadi makin lebar di pipinya.
"Diamlah!" seru Anna gemas.
Gadis itu langsung mengambil tisu baru dan membersihkan wajah Aramis. Aramis diam saja menuruti.
"Kalung itu sangat cocok di lehermu." ucap Aramis menahan senyumnya.
"Diam dulu!" seru Anna mengelap sisi bibir Aramis. "Kenapa bisa sampai ke bibir juga? Ceroboh sekali."
Anna memperhatikan wajah Aramis setelah membersihkannya untuk memastikan tak ada lagi noda disana. Aramis ikut menatap Anna.
"Ternyata kau tampan juga ya." kata Anna, kedua tangannya memegang pipi Aramis lalu menepuknya pelan.
Aramis tertawa mendengarnya.
Anna berjalan menjauh pada Aramis dan melihat ke luar, pemandangan. Dia meregangkan badannya.
"Kau sudah sehat?"
"Ya, aku rasa begitu. Apa kau ingin bertanding lagi denganku?" tatap Anna dari kejauhan.
Aramis tersenyum meresponnya. Lalu berjalan mendekati Anna.
"Ceritakan padaku, saat ini pasti ada yang kau pikirkan bukan?" tatap Anna.
Aramis duduk di pinggiran gedung dan Anna juga duduk di samping kanannya.
"Apa kau percaya padaku, Anna?" tanya Aramis mulai bersuara. "Maksudku, kalau jika saja sesuatu terjadi padaku, apa kau akan tetap percaya padaku?"
Anna menatap lekat Aramis.
"Ya, aku akan tetap percaya." jawab Anna tersenyum untuk menghibur sahabatnya itu.
Tiba-tiba Aramis meletakan kepalanya di pangkuan Anna dan menutup matanya untuk tidur.
...----------------...
ANNA
Visual Model :
Bae Suzy