MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Ajakan Menikah



Setelah membersihkan diri, Melody berdiri di depan jendela. Dia memperhatikan kamar Lion untuk beberapa saat.


"Dia masih tidak membuka tirainya, apa dia tidak akan membukanya lagi?" Tanyanya dalam hati.


Setelah itu dia menjatuhkan diri ke atas tempat tidur bersama Mimi. Membuang napas panjang setelah itu menutup mata.


"Melo, cepat turun!! waktunya makan malam!!" seru Athos dari lantai bawah.


***


Dengan langkah berat Melody mengarungi tangga untuk menuju meja makan dimana semua anggota keluarganya sudah menunggu untuk makan malam bersama.


Saat ini dia merasa lelah dan hanya ingin berbaring di tempat tidur namun makan malam bersama adalah hal yang wajib di ikuti seluruh anggota keluarga. Mau tidak mau dia harus ikut serta.


"Kenapa lama sekali turunnya?" tanya Prothos.


"Ayah aku tidak..." Perkataan Melody terhenti ketika mengangkat kepalanya dan melihat Lion duduk di salah satu kursi di meja makan.


Semua anggota keluarganya sudah duduk di tempatnya masing-masing di kursi meja makan.


"Ada apa Melo? Kau tidak lapar?" tanya ayah.


"Aku... aku... aku tidak mandi lagi tadi karena merasa kedinginan." jawab Melody berbohong. "Jadi jangan ada yang mengejekku!!"


"Tenang saja, tidak akan ada yang berani mengejekmu." ujar ayah. "Ayo duduklah sekarang."


Melody segera berjalan menuju kursi kosong di antara paman Ronald dan Athos. Matanya terus melihat ke arah Lion yang duduk di hadapan Paman Ronald.


Lion sedang sibuk mengetik handphone-nya hingga tidak sadar di perhatikan olehnya.


Apa dia sedang mengirim pesan pada Sandra? Pikir Melody.


"Kenapa tadi matamu memerah?" bisik paman Ronald pada Melody.


Melody tidak menjawab dan hanya menatap pamannya tersebut dengan sinis.


"Baiklah, ayo kita makan." seru kakek dengan senyum.


"Selamat makan..." ucap Lion dengan senang.


"Aku kira kau tidak ingin ikut makan malam disini saat aku ajak tadi, Lion." ujar paman Ronald.


"Tidak mungkin si bodoh ini melewatkan kesempatan makan malam gratis disini." seru Aramis dengan mulut dipenuhi makanan.


"Ya, itu benar! Aku tidak akan melewatkannya karena masakan Ato sangat lezat!!" jawab Lion dengan senyum. "Jika setiap hari bisa makan masakan Ato pasti hidup ini indah." lanjut Lion setelah itu memasukkan makanan ke mulutnya.


"Kau terlalu berlebihan, Lion." kata Athos.


"Lion, kau ingin makan masakan Ato tiap hari?" tanya paman Ronald. "Kalau begitu menikah saja dengan Melody, dengan begitu kau bisa memakan masakan Ato seterusnya." ucap paman Ronald sambil melirik pada Melody yang duduk di sebelah kirinya.


Candaan seperti itu sudah sering terjadi dan ini bukan pertama kalinya. Semua itu karena Lion satu-satunya pria di luar keluarga tersebut yang dekat dengan Melody. Akan tetapi tidak seperti biasanya jantung Melody berdetak lebih cepat mendengar candaan paman Ronald kali ini, padahal biasanya dia sama sekali tidak memikirkannya karena sudah menganggapnya candaan biasa. Tapi kali ini berbeda, jantungnya berdetak cepat dan punggungnya terasa memanas.


"Benar juga ya." ucap Lion menatap paman Ronald. "Baiklah, demi bisa makan masakan Ato, aku rela menikah dengan Melon." lanjut Lion.


Jawaban Lion semakin membuat jantung Melody berdetak cepat.


"Bagaimana Melo, kau mau tidak menikah dengannya?" kali ini paman Ronald bertanya pada Melody.


Melody mengangkat kepalanya dan melihat semua orang sedang melihat padanya, menunggu jawaban darinya, begitu juga dengan Lion. Melody jadi bingung harus menjawab apa. Rasanya saat ini dia ingin segera lari masuk ke dalam kamar untuk menghindar agar tidak menjawab.


"Apa? Tidak mungkin!! Kenapa aku harus memberikan Megan padamu?" ujar Lion pada Prothos. "Tujuanku adalah agar bisa makan masakan Ato setiap hari karena itu aku rela berkorban menikah dengan Melon agar tujuanku tercapai tapi kenapa aku juga harus mengorbankan Megan juga? Kalau begitu tidak jadi! Megan lebih berharga dari apapun di dunia ini!! Aku tidak akan bisa hidup tanpanya!!"


"Kau benar-benar sudah gila." ucap Aramis menggelengkan kepalanya. "Melo juga tidak akan mau menikah dengan orang aneh sepertimu!!"


Melody hanya diam saja dan tidak sedikitpun mengeluarkan suara. Dia hanya menundukan kepalanya, berharap percakapan ini tidak diteruskan.


"Hari ini hari terakhir kau diskors ya, Lion?" tanya Athos. "Dan senin besok kau mulai masuk sekolah lagi." seru Athos mengingatkan.


"Ya, tapi aku harap kau menambah skorsing-ku, Ato. Aku masih ingin bersantai di rumah lebih lama." jawab Lion.


"Apa kau juga bisa memberiku skorsing, Ato?" tanya Aramis. "Aku juga ingin bersantai dirumah, aku sudah bosan sekolah."


"Ars, seriuslah sekolah, kau sudah kelas tiga. Apa kau mau tidak lulus?" seru ayah.


"Itu benar! Kerjakan juga PR-mu mulai sekarang!!" tambah Athos. "Selama ini aku mengerjakan PR-mu karena merasa malu jika punya kembaran yang tidak bertanggungjawab dengan kewajibannya sebagai pelajar. Mau di taruh dimana mukaku sebagai ketua osis ini?!"


"Tamat riwayatmu, Ars!!" ledek Prothos.


"Ya ampun, kenapa aku jadi merasa terpojok." ucap Aramis.


"Jika kau tidak lulus, Ars, akan aku patahkan lehermu! Jangan panggil aku paman lagi. Kau dengar?!" seru paman Ronald.


"Kenapa rasanya aku ingin sekali melihat hasil ujian akhirmu ya, Ars." ejek Lion. "Pasti akan seru nanti."


"Diam kau!! Cari mati ya!!" ancam Aramis. "Melo, katakan sesuatu dan bela aku!!" seru Aramis menatap Melody.


"Bodoh tetap saja bodoh!!" ucap Melody sambil mengaduk makanannya tidak semangat.


Mendengarnya semua menjadi tertawa kecuali Aramis yang terlihat begitu kesal karena di pojokan.


"Jangan bicara lagi dan makan saja. " kata kakek yang sejak tadi diam.


"Melo, besok paman pulang lebih cepat untuk memindahkan barang-barang." ujar paman Ronald. "Besok kita akan bertukar kamar, jadi kan?"


Melody mengangkat kepala menatap paman Ronald. Setelah itu dia mengalihkan pandangannya pada Lion. Mata mereka bertemu dan saling tatap sejenak.


"Paman, sepertinya aku berubah pikiran. Jika aku pindah kamar maka itu sama saja aku menyerah dan mengaku kalah." ucap Melody dingin. "Aku akan tetap di kamarku sekarang. Aku tidak akan pindah walaupun ada pengganggu yang terus menggangguku karena aku tidak ingin kalah. Aku tidak ingin kalah darinya!!" lanjut Melody.


Lion mengerti maksud Melody karena yang di maksud pengganggu adalah dirinya.


Sedangkan Melody, tujuan dia berkata seperti itu pada Lion karena untuk membuatnya kesal sehingga tidak lagi menutup tirai jendela kamarnya.


...***...


Waktu menunjukan pukul dua belas malam, namun Melody masih tidak bisa menutup matanya. Sekeras apapun dia mencoba untuk terlelap percuma saja.


Melody bangun dari posisi tidurnya dan duduk dengan kesal.


"Kenapa si bodoh itu belum juga membuka tirainya?" gumamnya. "Apa-apaan tadi paman Ron? Hah, membuatku kesal saja!!" Melody mengusap kasar rambutnya dengan kedua tangannya karena kesal.


Dia merasa kalau paman Ronald seperti sedang mencoba membuat Melody terus berdebar-debar dengan apa yang dikatakannya. Untung saja Prothos menyela pembicaraan tadi sehingga Melody tidak perlu menjawabnya. Bahkan saat ini dia masih tidak tahu apa yang harus dijawab olehnya.


Dengan menahan rasa kesalnya, Melody mengambil gitar dan mulai memetiknya dengan perlahan.


Di seberang kamar, Lion yang asyik bermain game mendengarkan petikan gitar Melody dengan senyuman.


"HAH..." teriak Aramis yang tertidur di tempat tidur Lion, terbangun. "Kenapa Melo bermain gitar tengah malam begini?" Aramis menutup kepalanya dengan bantal.