MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Tidak! Aku Mencintaimu



Prothos menghentikan mobilnya di depan gedung apartemen Widia tinggal. Hari ini mereka akan pergi berjalan-jalan bersama ke suatu kebun yang letaknya berada di kota sebelah.


Widia keluar gedung apartemen dengan pakaian kasual seperti biasanya. Gadis itu memakai hoodie putih dengan kupluk yang menutupi kepalanya sedangkan rambut panjangnya dikeluarkan ke sisi kiri lehernya.


Dia melihat Prothos yang melambaikan tangannya dengan senyum merona padanya. Kekasihnya itu menggunakan topi Bucket berwarna hitam hadiah ulang tahun darinya dengan bertuliskan nama Widia, namun hanya huruf W yang jelas karena nama itu tertulis dengan huruf sambung. Prothos menggunakan kaos putih polos dengan memakai jaket putih dan celana pendek hitam. Jaketnya terdapat kupluk yang juga digunakan menutupi kepalanya.


Widia senang melihat penampilan Prothos saat ini. Dia terlihat tidak terlalu mencolok seperti biasanya, dan itu juga mengimbangi cara berpakaian dirinya yang sangat biasa.


"Bagaimana penampilanku bu guru?" tanya Prothos Saat mereka berdua di dalam mobil. "Topi ini semakin membuatku tampan kan?"


Widia hanya diam saja karena malu mengingat kejadian semalam, di mana Prothos menciumnya dengan napsu membara dan hampir melakukan lebih jauh lagi kalau dia tidak menampar kekasihnya itu dengan sangat kuat.


"Tanganmu masih sakit ya?" tanya Prothos menggenggam tangan kanan Widia.


"Bagaimana pipimu?" tatap Widia yang langsung disambar Prothos dengan sebuah kecupan di bibirnya.


Prothos tersenyum menatap Widia dengan lekat.


"Tidak masalah." jawab Prothos. "Aku berjanji tidak akan melakukannya seperti semalam itu lagi."


Widia mengalihkan wajahnya ke jendela mobil karena malu.


"Tapi kalau bu guru yang memulai pasti aku tidak menolak." tambah Prothos sambil melajukan mobilnya.


...***...


Anna berada di rumahnya bersama dengan paman Ronald. Paman Ronald memberikan obat-obatan pada Anna lagi karena ternyata ada beberapa obat yang sudah habis sehingga Anna tidak meminumnya. Hal itu yang membuat Anna kehilangan keseimbangannya tadi.


"Paman, jangan menyebut apapun mengenai obat-obatan dan sebagainya." pinta Anna yang duduk di sofa ruang tamu. "Kau sudah berjanji untuk merahasiakan ini dari siapapun."


"Aku minta maaf, karena khawatir aku kelepasan bicara tadi." jawab Paman Ronald yang berdiri.


Tiba-tiba Aramis masuk ke rumah Anna. Anna langsung menyembunyikan obat-obatan yang baru diberikan paman dengan bangkit berdiri berjalan ke dapur dan menaruhnya di sana.


"Dia baik-baik saja kan, paman?" tanya Aramis.


"Dia hanya terkilir karena melompat-lompat." jawab paman Ronald. "Ars, kau jangan macam-macam dengannya, mengerti?!" seru paman Ronald setelah itu keluar dari rumah Anna.


Aramis tertawa tidak percaya dengan himbauan pamannya yang memperingatinya barusan.


"Kakimu sakit? Apa perlu dipijat atau diolesi sesuatu?" tanya Aramis pada Anna yang berjalan duduk di sofa kembali.


Anna tertawa mendengar Aramis, itu membuat pemuda itu bingung.


"Semua karenamu bodoh!! Tadi kau mendorong dengan kakimu kan? Sekarang berpura-pura khawatir." gumam Anna.


"Benarkah?" tanya Aramis duduk di samping Anna. "Aku minta maaf, tidak aku kira tendanganku tadi sekeras itu hingga membuat kakimu sakit."


"Sudah lupakan." ujar Anna. "Pulang sana, aku mau sendiri."


Aramis menggeleng.


"Tak ada yang aku kerjakan sekarang. Biarkan aku disini." pinta Aramis.


Anna tertawa menanggapi permintaan Aramis. Namun tiba-tiba Aramis membaringkan tubuhnya, dan meletakkan kepalanya ke pangkuan Anna.


"Kalau mau tidur, kau bisa tidur di kamarmu. Kenapa malah disini?" ujar Anna menatap Aramis yang menatapnya dekat.


Aramis tidak menjawab dan malah menutup matanya. Anna menjadi kesal namun tak ada yang bisa dia lakukan. Dia pun memperhatikan wajah Aramis yang sangat dekat dari tatapannya dan tersenyum.


"Jangan mencoret-coret wajahku lagi ya." ucap Aramis masih menutup matanya.


"Kalau begitu bangunlah, nanti aku akan mencoret-coretnya lagi saat kau tidur." seru Anna. "Saat tidur kau tidak menyadari apapun, itu kesempatan buatku melakukannya."


Aramis tak bergeming dan masih menutup matanya. Anna menyandarkan kepalanya ke sofa dan menutup matanya juga karena sebenarnya saat ini kepalanya sangat berat.


...***...


Lion masuk kembali ke rumah Melody untuk mencari Aramis yang tidak bisa dihubungi. Hanya ada Athos yang sedang memasak di dapur.


"Ato, dimana Ars?" tanya Lion sambil mengambil sosis yang baru digoreng Athos dan memakannya. "Handphone-nya tidak aktif. Padahal aku mau mengajaknya makan siang di luar karena membuatnya kesal dengan memberinya hadiah itu."


"Dia di rumah Anna." jawab Athos.


"Pantas saja dia mematikan handphone-nya." gumam Lion duduk di meja makan. "Kalau begitu, Ato ayo temani aku makan ramen."


"Aku tidak punya waktu menemanimu bersantai." jawab Athos masih sibuk menggoreng.


"Aku sedang ingin makan ramen sekarang tapi kalau makan sendiri sangat membosankan." ujar Lion. "Hah, ya sudah lah." lanjut Lion bangkit berdiri dan hendak berjalan keluar.


"Kak, habis ini temani aku untuk membeli keperluan tugas kesenianku ya." seru Melody yang mengarungi tangga.


"Melon, tugas apa? Tugas kesenian apa?" tanya Lion berbalik saat mendengar perkataan Melody.


"Apa tidak ada yang memberitahumu? Jumat kemarin guru kesenian memberi tugas membuat prakarya. Kau tidak masuk kemarin itu." jawab Melody yang berhenti saat di bawah tangga.


"Kenapa kau baru bilang?"


"Kalau begitu ayo kita pergi membelinya." ujar Lion.


"Tidak, kau pergi sendiri saja. Aku akan mengantar Melo setelah ini." seru Athos melihat Lion dan Melody.


"Hah, ya sudah." jawab Lion kembali berjalan keluar.


"Tunggu!!" panggil Melody. "Kak Ato, aku akan pergi membelinya dengan Lion, kau masih sibuk 'kan?" ujar Melody.


...***...


Setelah hampir satu jam Anna tertidur, dia membuka matanya. Dia melihat Aramis masih memejamkan matanya di pangkuannya. Walau kakinya terasa sangat pegal, tapi dia tidak ingin menggerakannya dan membiarkan Aramis tertidur.


"Pasti tidurnya nyenyak sekali." bisik Anna melihat Aramis.


Anna mulai membelai rambut Aramis yang mulai memanjang. Gadis itu juga menyentuh dahi, mata, hidung, dan bibir Aramis dengan perlahan.


"Astaga, dia benar-benar seperti orang mati saat tidur." senyum Anna masih meraba wajah Aramis yang terlelap. "Kalau tidur kau lebih tampan tahu, saat kau bangun matamu selalu terlihat galak, menatap tajam semuanya. Selalu marah dan mengancam. Arrghh, pantas saja tak ada wanita yang berani mendekatimu."


Anna terdiam kembali dan mendekatkan bibirnya untuk mencium kening Aramis.


"Aku rasa ini kedua kalinya kau menciumku diam-diam." ucap Aramis masih dengan mata tertutup membuat Anna sangat terkejut.


Aramis membuka matanya dengan senyum bangga.


"Sejak kapan kau bangun?" tanya Anna malu dengan wajah yang memerah.


"Mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu." jawab Aramis dengan kepala yang masih ada di pangkuan Anna.


"Matamu tertutup, kau salah. Aku tidak mencium keningmu." jawab Anna.


"Aku tidak bilang kau mencium keningku. Saat di rumah sakit kau juga melakukannya diam-diam 'kan?" tatap Aramis.


"Tidak!" sanggah Anna mengelak. "Cepat bangun, kakiku kesemutan jadinya."


Aramis bangun segera dengan sebuah senyuman di bibirnya.


"Aku memang tidak melihatnya, tapi aku punya bukti." ujar Aramis menggapai handphone-nya yang di letakan di meja dengan kondisi merekam.


Anna terbelalak ketika Aramis mengambil handphone-nya dan memperlihatkan rekaman dirinya barusan.


"Kau tidak bisa bohong lagi." senyum Aramis puas.


Anna mencoba mengambil handphone Aramis dan berniat menghapus videonya. Itu sangat memalukan untuknya. Namun Aramis menghindar. Anna terus berusaha hingga Aramis berbaring terpojok di sofa. Anna langsung menimpanya untuk menggapai handphone-nya, akan tetapi tangannya kalah panjang dari Aramis.


Tanpa mereka sadari posisi mereka begitu sangat dekat. Anna berada yang telungkup berada di atas Aramis yang berbaring, dan wajah mereka sangat dekat.


"Cepat menyingkir!!" tatap Aramis setelah sadar.


Anna menggeleng.


"Hapus dulu videonya!"


"Tidak akan." jawab Aramis tersenyum.


"Aku tidak akan bangun."


"Sepertinya kau lupa kalau aku pria dan kau wanita." ucap Aramis menatap Anna yang sangat dekat wajahnya dengannya.


"Kau lupa paman selalu memperingatimu untuk tidak macam-macam padaku?" tantang Anna. "Hapus videonya dulu, aku akan menyingkir setelah itu."


"Anna, cepat bangun!!"


Anna menggeleng dengan senyum.


"Aku pria normal dengan reaksi alami pria normal pada umumnya. Jadi menyingkirlah." ujar Aramis memperingati Anna lagi.


"Kau pria normal yang suka pada wanita yang memiliki dada dan bokong yang besar." jawab Anna mengingatkan perkataan Aramis dulu.


Aramis terdiam dan sudah bingung meminta Anna bangun.


"Hapus saja videonya, aku akan bangun-."


"Aku menyukaimu." ucap Aramis menatap Anna. "Tidak! Aku mencintaimu."


...----------------...


ARAMIS



Visual Model :


Ahn Hyo-seop