
Prothos hanya mencoba tidur karena malas melihat Tasya yang selalu menempel pada Athos dan mendengar pertengkaran sepele Aramis dengan Anna. Dia memakai earphone di pemutar musiknya dan wajahnya tertempel masker wajah pemberian Tasya.
Tiba-tiba Aramis menendangnya, dengan kesal Prothos membuka matanya sambil melepas earphone di telinganya, dan melotot pada kembarannya. Akan tetapi Aramis menatap Prothos agar melihat ke arah pintu.
Prothos terkejut ketika melihat lima guru di sekolahnya berdiri berjajar di dekat pintu memperhatikannya yang baru tersadar, dan Widia salah satu guru yang datang.
Dengan malu Prothos melepas masker wajah yang menempel di wajahnya. Semua guru tertawa melihat Prothos termasuk Widia yang tetap mencoba menahan tawanya.
Prothos bersandar ke ranjangnya dan mencoba terlihat cool di depan para gurunya walaupun wajahnya memerah karena menahan malu. Dia berpura-pura membaca buku pelajarannya tanpa memedulikan Widia yang melirik ke arahnya terus.
Para guru lebih banyak berbicara dengan Athos, dan tujuan kedatangan mereka menjenguk juga karena Athos murid teladan di sekolahnya.
Aramis terlihat tidak menyimak pembicaraan para gurunya dengan berbaring sambil memainkan handphone-nya, Anna yang tahu langsung mengambil handphone Aramis, walau Aramis protes tanpa suara Anna tidak memedulikannya.
"Ya, kami baik-baik saja. Sebenarnya tidak ada hal serius yang terjadi, semua hanya salah paham. Kami juga tidak akan melapor." jelas Athos yang duduk bersandar di ranjangnya.
"Ato, aku membelikanmu es krim. Ayo aku suapi." seru Tasya yang membuka pintu dan masuk dari luar.
Semua mata memandang kehadiran Tasya. Termasuk Widia jantungnya langsung berdetak cepat saat Tasya muncul.
Dia merasa salah dengar atau memang yang dipanggil oleh gadis yang dianggapnya kekasih baru Prothos itu adalah Athos. Widia menoleh pada Prothos yang masih fokus pada buku bacaannya.
"Maaf, aku tidak tahu kalau ada yang menjenguk." ucap Tasya. "Ato, aku tunggu di luar dulu ya." senyum Tasya pada Athos setelah itu keluar.
Widia akhirnya yakin kalau dia tidak salah dengar. Ternyata gadis itu memang menyebut Athos dan bukan Prothos. Widia jadi semakin penasaran sebenarnya apa yang terjadi? Jika gadis itu adalah kekasih Athos, tapi kenapa saat di pesta pertunangan Rara mereka datang berpasangan? Bahkan mereka berdua juga berada di foto yang di posting oleh Anna saat liburan.
Para guru keluar dari ruangan setelah menjenguk Musketeers. Anna mengantar mereka ke ruangan tempat David di rawat, setelah itu mereka juga berniat menjenguk Melody.
Widia melihat Tasya dengan seksama saat dirinya keluar bersama yang lainnya. Tasya tersenyum pada mereka. Dari kejauhan Anna tahu kalau Widia memperhatikan Tasya.
...***...
Grup paduan suara Melody datang menjenguk. Kevin dan Monik beserta ketujuh orang lainnya masuk ke ruangan Melody dimana Lion juga ada disana.
"Lion kau juga ada disini?" tanya Monik melihat Lion yang langsung bangun dari sofa dan memasukan handphone-nya ke saku celana.
"Kalian datang?" ujar Lion dengan raut senang. "Selamat ya atas kemenangan kalian semua. Kalian memang keren." Lion mengacungkan kedua ibu jarinya.
Kevin memperhatikan Lion yang menjaga Melody, dia semakin yakin kalau Lion adalah kekasih Melody.
"Baiklah, aku ke luar dulu ya Melon." ujar Lion setelah itu berjalan keluar.
Melody memperhatikan Monik yang ikut jalan keluar. Dia yakin sekali kalau temannya itu melihat Lion memegang handphone-nya tadi. Pasti saat ini pun dia mau menanyakan langsung pada Lion.
"Lion." panggil Monik mengikuti Lion berjalan keluar.
"Ada apa?" tanya Lion berhenti.
Monik mendekat pada Lion. "Melody bilang kau tidak punya handphone, tapi tadi aku lihat kau..."
"Ya, aku punya." jawab Lion tersenyum. "Sebenarnya aku yang minta dia bilang begitu padamu."
"Benarkah?"
Lion mengangguk. "Aku rasa kau sudah mengerti." jawab Lion setelah itu berjalan pergi.
...***...
Tasya yang hendak masuk kembali tiba-tiba melihat rombongan gadis pelanggan di café The Three Musketeers. jumlahnya hampir dua puluh orang. Niatnya untuk masuk ke ruangan dimana kekasihnya berada terurungkan.
Tasya langsung pergi untuk menghindari mereka karena takut mereka tahu tentang hubungannya dengan Athos. Dia masuk ke ruangan dimana Melody sedang bersama grup paduan suaranya.
"Maaf, ternyata di sini juga ada yang menjenguk ya." ujar Tasya saat masuk ke ruangan Melody.
"Kak Tasya masuk saja." ucap Melody.
"Mereka sedang dapat kunjungan dari para gadis pelanggan di café." seru Tasya memanyunkan bibirnya.
Melody tertawa kecil melihat Tasya.
"Kau pacarnya kak Oto?" tanya Monik. "Aduh, kenapa dia sudah punya pacar. Kau juga sangat cantik, kalian pasangan yang serasi."
"Bukan! Bukan! Aku pacar Ato kakak Melody yang lain." jawab Tasya menjelaskan. "Melody punya tiga kakak laki-laki kembar. Kalian tidak tahu?"
Monik menggeleng bersama teman-temannya yang lain.
"Aku tidak heran. Melody memang tidak cerewet jadi pasti kalian tidak tahu." ujar Tasya tersenyum ramah. "Melody, sembunyikan Ato dari teman-temanmu, jangan sampai mereka jadi sainganku." bisik Tasya oada Melody.
Melody hanya tersenyum kecil.
Ketika grup paduan suara Melody keluar, para guru dari sekolah masuk untuk menjenguk Melody. Widia terkejut kembali melihat keberadaan Tasya bersama Melody.
"Kau kan anak yang tadi!" seru seorang guru wanita pada Tasya.
Tasya hanya tersenyum ciri khasnya.
Ketika para guru keluar dari ruangan Melody di rawat, Anna mengantar mereka sampai ke lift. Widia memisahkan diri dari guru lainnya dan tidak ikut naik lift.
"Anna, ada yang ingin aku tanyakan." ucap Widia.
...***...
Anna bersama Widia duduk di salah satu kursi panjang yang berada di rumah sakit. Widia hendak bertanya pada Anna mengenai Tasya agar semua pertanyaan di benaknya terjawab.
"Sebenarnya aku bertanya ini bukan karena ada maksud yang lain, aku hanya penasaran saja." Widia memulai pembicaraan. "Kalau boleh tahu wanita cantik itu ada hubungan apa dengan mereka?"
"Maksud bu guru, Tasya?" tatap Anna.
Widia mengangguk dan tidak berani melihat pada Anna.
"Aku pernah melihatnya bersama Prothos di pesta pertunangan sahabatku. Dan dia juga ada di foto yang kau upload bersama Prothos. Dan aku pernah melihat mereka berada di dalam mobil bersama."
Anna memperhatikan mimik wajah gurunya tersebut, dia melihat kalau gurunya itu terlihat sangat malu untuk bertanya hal itu padanya.
"Tasya pacarnya Ato." jawab Anna membuat Widia mengangkat wajahnya menatap pada Anna. "Dia bukan pacar Oto. Oto hanya menemani Tasya ke pesta itu karena Ato tidak bisa pergi bersama dengan Tasya."
"Benarkah?" tatap Widia.
"Ya, itu benar. Bu guru lihat juga kan saat Tasya masuk membawa es krim?" tanya Anna. "Setahuku Oto tidak punya pacar saat ini."
Widia mematung mendengar perkataan Anna.
"Sepertinya dia menyukaimu, bu guru." senyum Anna. "Hah, dia bahkan membajak sosial mediaku hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun padamu."
"Apa?" tanya Widia, "Jadi itu bukan kau?"
"Iya, bu guru. Oto tidak punya handphone makanya dia membajak handphone-ku waktu itu." terang Anna. "Tapi yang melakukan panggilan video waktu itu, itu aku bukan Oto."
Widia teringat saat dia melihat Prothos membuka bajunya di panggilan video. Wajahnya langsung memerah.
Anna memperhatikannya dengan lekat.
"Sepertinya bu guru juga menyukainya." gumam Anna.
"Apa?" Widia terkejut.
"Baiklah bu guru, hubungi aku saja kalau ada yang ingin kau tanyakan lagi mengenai Prothos." seru Anna bangkit berdiri. "Aku akan mendukung kalian."
Setelah berkata seperti itu Anna berjalan pergi.
"Aku harus bagaimana sekarang?" keluh Widia bingung.
Tanpa mereka ketahui, Lion duduk tidak jauh dari mereka, dan dia mendengar semua perbincangan itu.
"Sepertinya aku harus bersih-bersih lagi." gumam Lion sambil beranjak pergi.