
Karena pakaian Prothos basah kuyup terkena hujan, Widia membolehkan Prothos masuk ke apartemen-nya. Pakaian Widia pun ikut basah karena secara tiba-tiba Prothos memeluknya. Namun dia tidak menggantinya karena basahnya tidak banyak.
Prothos keluar kamar mandi setelah berganti pakaian, Widia meminjamkannya sesetel pakaian.
"Baju siapa ini, bu guru?" tanya Prothos berjalan keluar dari kamar mandi masih membenarkan pakaiannya yang terlihat kekecilan.
"Pakaian adikku, sesekali dia menginap disini." jawab Widia sambil membuat teh hangat. "Tinggi badan kalian bertiga terlalu berlebihan untuk pria di negara ini."
"Kami bertiga bisa apa ketika Tuhan memberikan wajah tampan dan tubuh yang bagus." jawab Prothos bangga sambil menghampiri Widia di dapur.
Widia kesal mendengar jawaban Prothos.
"Minumlah teh ini, kau baik-baik saja kan? Apa kau abis berkelahi? Wajahmu ada luka dan terlihat pucat." ucap Widia.
Prothos menghindar dan berjalan duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja bulat, dan menyeruput teh hangat buatan Widia.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau hujan-hujanan seperti tadi? Kau tidak sedang syuting adegan film drama 'kan?"
Widia menatap muridnya tersebut dari meja dapur. Prothos hanya tertawa pelan mendengar ucapan Widia.
"Apa ini ada kaitannya dengan video yang viral?" selidik Widia yang masih di posisinya, lima meter jarak dia berdiri dengan Prothos yang duduk di kursi.
"Kenapa aku harus menceritakan masalahku padamu?"
"Karena aku adalah gurumu." jawab Widia. "Aku rasa tidak masalah kalau kau menceritakan masalahmu padaku, aku tidak akan membiarkan muridku dalam masalah."
"Sepertinya memang sebaiknya aku mengambil jurusan hukum, biar seperti katamu... aku bisa menghukum mereka semua yang berkhianat." ucap Prothos hanya memandang satu arah dengan tatapan kosong. "Aku tidak ingin para pengkhianat bahagia!! Itu tidak pantas mereka dapatkan!!"
Prothos terdiam sejenak, Widia hanya memandangnya tanpa mengatakan apapun. Dia bisa melihat saat ini rasa sedih bercampur dengan kebencian terpancar dari wajah Prothos.
"Wanita itu berteriak padaku seakan-akan aku lah si pengkhianat itu, tapi ternyata selama kami berpacaran dia berhubungan sampai sejauh itu dengan pria lain." lanjut Prothos. "Aku tidak pernah mengatakan hal apapun yang menyakitinya, tapi dia berteriak di depan banyak orang membuat aku terlihat seperti penjahatnya."
Prothos tertawa sarkas mengingatnya.
"Bahkan aku menyiapkan jus jeruk kesukaannya, tapi dia menyiramku dengan jus itu." ucap Prothos. "Beritahu aku, apa aku harus menghukum wanita itu atau lebih baik menghukum diriku sendiri karena terlalu naif?" tanya Prothos menatap Widia dengan mata berkaca-kaca.
Widia berjalan mendekati Prothos dan duduk di salah satu kursi di hadapan Prothos.
"Aku selalu percaya kalau suatu hubungan itu harus saling mempercayai, dan aku selalu melakukannya. Aku memang tipe yang tidak suka selalu saling menghubungi karena menurutku jika ada rasa saling percaya semua akan berjalan dengan seharusnya. Apa aku salah, bu guru?"
"Kau tidak salah, hanya saja kau berhubungan dengan orang yang salah." jawab Widia.
Prothos mengusap wajahnya.
"Aku rasa itu benar." jawab Prothos menatap Widia. "Kau tidak perlu khawatir, aku pasti segera melupakan semuanya. Maksudku, aku sudah melupakan wanita itu tapi rasa sakit sebagai korban pengkhianatan ini akan segera sembuh. Benarkan bu guru?"
"Aku rasa begitu, ketika kau melupakan wanita itu rasa sakit yang dibuatnya pun akan hilang pergi bersamanya." senyum Widia. "Lebih baik mulai sekarang kau fokus dengan pelajaranmu."
"Bu guru, kau ini bukan ayahku... sedikit-sedikit bilang belajar, jangan bermain. Hhuft."
"Tapi aku gurumu!!" tegas Widia. "Sepertinya hujan akan berhenti, kau bisa pulang." ucap Widia beranjak berdiri dan menuju jendela, lalu melihat keluar jendela.
"Tega sekali kau mengusir muridmu yang sedang terluka ini." ujar Prothos berdiri.
Bruukk!!
Widia menoleh dan melihat Prothos terbaring di lantai. Widia mendekatinya segera.
"Kau jangan mengerjaiku ya!!" seru Widia.
Tak ada tanggapan dari Prothos. Widia memperhatikan wajah muridnya yang semakin pucat, dan sadar kalau Prothos benar-benar sakit.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Widia. "Badanmu panas sekali."
Widia membaringkan Prothos di tempat tidurnya yang menyatu dengan semua ruangan di apartemen-nya. Lalu mengukur suhu muridnya dengan termometer.
Prothos hanya menggeleng kecil.
"Jangan bilang kau juga tidak sarapan tadi? Astaga, sekarang sudah jam satu siang dan kau hujan-hujanan tadi. Bagaimana kau tidak sakit?" ujar Widia kesal.
"Bu guru, aku sedang sakit... jangan marahi aku." ucap Prothos dengan lemas.
Widia hanya menggeleng-geleng heran melihat muridnya, lalu ke meja dapurnya.
"Kau ini hanya manusia biasa, bersikaplah seperti manusia biasa dan makan tepat waktu." oceh Widia. "Kau ingin makan apa? Akan aku pesan."
"Bubur buatan Ato."
Widia tertawa kesal mendengar jawaban Prothos.
Tidak berapa lama kemudian bubur yang dipesan Widia sampai. Widia menaruhnya di meja untuk Prothos makan.
"Makanlah dan minum obat ini setelahnya."
"Bu guru, tolong suapi aku." pinta Prothos menatap gurunya.
"Hah, aku sedang libur kenapa kau menggangguku di hari minggu ini." keluh Widia namun dia tetap mengambil bubur dan mulai menyuapi Prothos.
"Bubur buatan Ato jauh lebih enak." ucap Prothos dengan berkaca-kaca membuat Widia bingung. "Kenapa Ato memukul dan marah padaku? Padahal aku berkata begitu untuk kebaikannya, bu guru?"
"Kau berkelahi dengan Athos?"
Prothos menggeleng.
"Padahal selama ini saat sekesal apapun Ato, dia tidak pernah memukulku... Dia selalu melampiaskannya pada Ars. Tapi tadi dia memukulku sampai dua kali. Dia pasti sangat marah padaku."
"Jadi sebenarnya kalian berkelahi atau tidak?"
"Apa itu penting bu guru? Kenapa bertanya terus?"
"Aku ingin tahu, kenapa kalian berkelahi?" tanya Widia.
"Ato tidak mau mendengarkan kata-kataku. Aku menyuruhnya putus, tapi dia memintaku untuk tidak ikut campur masalahnya. Dia memacari wanita yang sudah bertunangan."
"Athos? Ketua osis sekolah kita?" tanya Widia terkejut.
Prothos mengangguk.
"Aku tidak ingin dia terluka. Hal ini berbeda, memacari tunangan orang lain itu adalah hal yang mustahil karena ini sudah menyangkut keluarga gadis itu dan keluarga tunangannya. Tapi Ato tidak mau mendengarkan ku."
"Kalian masih SMA, kenapa kalian menjerumuskan diri ke masalah seberat itu?" ujar Widia tidak percaya. "Bicarakan saja pada ayahmu."
"Percuma, ayahku tidak akan bisa melarang Ato untuk masalah apapun, dia tahu saat Ato sudah memutuskan sesuatu dia akan melakukannya sampai semuanya tercapai." jawab Prothos. "Ato memiliki ambisi yang kuat."
"Aku rasa itu bagus." ucap Widia. "Percaya saja padanya, dan dukung dia. Athos pasti ingin kau mendukungnya."
"Bu guru, aku tidak mau dia mati-matian untuk hal yang pada akhirnya membuatnya terluka."
"Jika kau tahu itu hal yang mustahil maka dukung saja dia. Jika akhirnya dia terluka, dia masih mempunyai dirimu yang mendukungnya. Tapi saat dia terluka dan kau tidak ada disisinya, maka dia akan hancur."
Prothos terdiam mendengar perkataan gurunya. Walau dihatinya masih tidak ingin mendukung Athos, tetapi ucapan Widia ada benarnya.
"Minumlah obat ini, dan istirahat sebentar." seru Widia memberi obat pada Prothos. "Kau ke sini tidak bawa apa-apa kan?" tanya Widia beranjak mengambil handphone-nya, dan menghubungi seseorang. "Aku akan memanggil Athos untuk menjemputmu, kalian juga bisa bicara dengan tenang. Jangan-jangan kau ke sini juga jalan kaki ya tadi."
Tiba-tiba Prothos merampas handphone Widia sebelum teleponnya diangkat oleh Athos.
"Ijinkan aku menginap semalam disini, bu guru. Aku juga belum mau bertemu dengan Ato." ucap Prothos setelah itu hampir jatuh karena lemas.
Widia menggapai Prothos sebelum dia jatuh.