MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Penyelamat dari Jendela



Setengah jam kemudian...


"Es Melon yang dingin dan keras kepala!!" panggil Lion dengan tiba-tiba.


Melody yang belum bergeming dari posisinya terkejut dan bertanya-tanya, pergi kemana Lion tadi dan kenapa dia kembali lagi?


"Kalau tidak ingin muncul untuk mengabulkan permintaanku, aku yang akan kesana!!" seru Lion. "Dengar, aku akan kesana dan menagihnya!!"


"Apa yang mau dilakukannya?" tanya Melody pada dirinya sendiri.


Jantung Melody terkejut ketika kaca jendela pecah, dia melihat ke arah jendela yang kacanya sudah pecah dan muncul sebuah papan dari luar jendela.


"Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali." terdengar suara Lion bernyanyi lagu Doraemon.


Apa yang dilakukannya? Tanya Melody dalam pikirannya.


Dia langsung bergegas turun tempat tidur mendekati jendela kamar.


Melody semakin terkejut ketika melihat Lion sedang berjalan di sebuah papan yang terhubung dari pagar beranda kamar Lion dan jendela kamarnya.


Lion menyebrangi jarak sekitar lima meter hanya dengan sebuah papan dengan lebar tiga puluh sentimeter tanpa pengaman. Melody benar-benar tidak percaya dengan apa yang di lakukan Lion.


Athos, Prothos dan Aramis yang semula hanya mendengarkan dari kamar mereka masing-masing langsung bergegas keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi setelah mendengar suara pecahan kaca. Mereka bertiga terkejut melihat aksi nekat yang di lakukan Lion untuk menghentikan adik mereka yang mengurung diri di kamar.


"Apa yang di lakukan si bodoh itu?!" seru Aramis dengan kesal. "Aku akan menghentikannya!!"


"Jangan ikut campur!!" ucap Prothos. "Dia punya cara sendiri agar Melo tidak mengurung diri di kamar lagi. Ato, apa kau meminta bantuannya?"


Athos tidak menjawab pertanyaan Prothos, dia hanya memperhatikan Lion saja.


"Sepertinya si bodoh itu hanya ingin pamer!!" ujar Aramis. "Dia memecahkan kaca jendelanya, kalau begitu aku juga bisa melakukannya."


"Tidak." kata Prothos. "Hanya Lion yang bisa melakukannya."


...***...


"Semua semua semua dapat dikabulkan, dapat dikabulkan dengan kantong ajaib." Lion melanjutkan bernyanyi. "La la la... aku sayang sekali Doraemon."


Lion melompat turun setelah berada di ujung papan yang ada di jendela kamar Melody. Melody menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya dengan aksi nekat tersebut namun Lion tersenyum lebar setelah turun.


"Sekarang berikan aku kantong Doraemon!!" Lion mengulurkan tangannya pada Melody. Dia tidak memedulikan Melody yang menatapnya dengan penuh rasa heran.


"Bagaimana kalau kau jatuh?" tanya Melody dingin.


"Jatuh? Itu tidak mungkin, keseimbangan tubuhku sangat bagus." jawab Lion dengan ringan diiringi tawa kecil.


Melody menampar wajah Lion


"Aku tahu kalau kau bodoh, tapi pikir dulu sebelum melakukan sesuatu!" seru Melody kesal.


"Paling hanya kaki patah atau kepala yang pecah." gumam Lion tidak menatap Melody setelah menerima tamparannya. "Tapi kau sendiri bagaimana?!" ujar Lion mulai kesal. "Kau terus mengurung diri dan tidak makan kan? Kau juga harus memikirkan dulu sebelum melakukannya, kau bisa mati!!" seru Lion semakin memanas.


Melody kembali duduk di atas tempat tidur, memeluk kedua kakinya.


"Keluar!!"


"Berikan aku kantong Doraemon dulu baru aku akan keluar!" ujar Lion.


Melody mengangkat kepalanya, menatap Lion dingin.


"Aku tidak menutup tirai, aku belum kalah!!" ucap Melody kembali kesal. "Dan kantong Doraemon itu juga permintaan yang tidak mungkin!!" lanjutnya.


"Begitu yaa..."


"Cepat keluar!!


Lion berpikir sesuatu agar dia tidak diusir keluar.


"Kalau begitu aku ingin mengambil jaket-jaketku yang kau pinjam! Aku sampai lupa berapa jaket yang kau pinjam."


"Ambil saja di lemari dan cepat keluar!!"


Lion berjalan mendekati lemari yang ada di samping kanan tempat tidur. Dia membuka lemari dengan perlahan sambil berpikir lagi apa yang harus dia lakukan. Dengan cepat Lion menutup lemari tanpa mengambil jaket miliknya dan duduk di atas lantai dekat tempat tidur.


"Cepat keluar!!"


"Aku mengantuk." ucap Lion sambil menidurkan kepalanya disisi tempat tidur. Itu membuat Melody semakin kesal pada Lion. "Beberapa hari ini aku kurang tidur karena bermain game, dan sekarang aku tidak kuat lagi menahan rasa mengantuknya."


"Kau bisa keluar dan pulang ke rumahmu lalu tidur!!" seru Melody.


"Setelah memecahkan kaca jendela kamarmu kakak-kakakmu pasti membunuhku kalau aku keluar begitu saja." jawab Lion menutup matanya dengan masih merebahkan kepala di sisi tempat tidur.


"Kalau begitu kembali ke kamarmu dengan papan itu!!"


"Aku sangat mengantuk sekarang, pasti aku akan jatuh."


Melody menyerah menyuruh Lion untuk keluar dari kamarnya. Dia hanya diam saja setelah itu, dan membiarkan Lion.


Untuk beberapa menit mereka berdua terdiam. Tidak ada yang ingin diucapkannya pada Lion saat ini, bahkan sekarang sebenarnya dia merasa malu pada Lion. Jika mengingat kejadian itu, Melody menjadi merasa malu dan tidak ingin bertemu dengan siapapun terlebih bertemu Lion.


"Kenapa tidak memanggilku?" ucap Lion masih tidak mengubah posisinya yang menutup mata dan menidurkan kepala di sisi tempat tidur. "Seharusnya kau berteriak agar aku lebih cepat datang."


Melody tidak menjawab karena lehernya tercekat mendengar ucapan Lion, dan air mata mengalir keluar.


"Kenapa disaat seperti itu kau tidak memanggilku? Jika saja aku lebih terlambat menyadarinya maka..."


"Hentikan!!" seru Melody menutup telinganya, tidak ingin mendengar ucapan Lion.


"Seharusnya kau berteriak!! Bagaimana jadinya kalau aku terlambat datang!!"


"Aku ingin memanggilmu tapi suara musiknya terlalu keras, kau pasti tidak mendengarku!!" seru Melody dengan nada keras dan menutup telinganya. "Aku mohon jangan bicara tentang itu lagi!!"


Lion membuka mata dan mengangkat kepalanya, menatap pada Melody yang menutup kedua telinganya dengan air mata yang mengalir.


"Dan... aku tidak ingin memanggilmu lagi, kau bilang kau bukan panggilan darurat atau petugas 911, kau melarangku meminta bantuanmu lagi, bahkan kau juga melarangku memanggilmu meski ada hantu." lanjut Melody.


"Tapi kemarin itu... seharusnya kau... keadaannya benar-benar..." Lion berhenti bicara karena menyadari ucapannya kacau karena menahan kekesalan setelah mendengar jawaban Melody.


Lion terdiam menatap Melody yang hanya menundukan kepala dan menangis.


"Aku sangat membencimu yang selalu bersikap dingin dan menyebalkan tapi aku lebih membencimu yang cengeng seperti ini. Jangan menangis!! Semuanya sudah berlalu dan kau baik-baik saja sekarang." ucap Lion menatap Melody dengan rasa cemas.


"Lion..." panggil Melody. "Aku malu dan merasa diriku hancur setelah kejadian itu. Apa yang di lakukannya tidak bisa aku lupakan, dia membuat aku takut hingga aku tidak berani bertemu siapapun. Aku tidak ingin bertemu siapapun karena mereka pasti akan melihatku dengan rasa jijik kalau mereka tahu tentang kejadian itu."


"Tidak, jangan berpikir seperti itu! Si sialan itu belum melakukan apapun padamu, jadi jangan merasa seperti itu."


"Tidak akan ada yang menyukaiku." ucap Melody mengusap air matanya.


"Aku menyukaimu." jawab Lion.


Melody menoleh pada Lion setelah mendengar pernyataannya.


"Ayahmu juga pasti menyukaimu." lanjut Lion menghindar dari tatapan Melody. "Ato, Oto dan Ars juga menyukaimu, paman Ron, kakekmu, nenekku, Tasya, dan Anna, bahkan Mimi sudah pasti menyukaimu." ujar Lion sambil mengusap-usap Mimi yang tampak senang dengan belaiannya. "Kami semua menyukaimu jadi jangan berpikir seperti itu lagi! Tidak akan ada yang merasa jijik padamu karena dia belum menyentuhmu." tambah Lion setelah itu tersenyum pada Melody.


Melody kembali memeluk kedua kakinya dan menundukkan kepalanya di atas lutut.


Lion memandang Melody dengan pandangan sendu. Dia merasa gadis yang ada di hadapannya tampak begitu lemah. Dia melihat jaket yang diberikannya kemarin masih ada di dekat Melody.


"Dengarkan aku," ucap Lion. "Mulai sekarang panggil aku dalam keadaan darurat atau keadaan apapun, aku akan jadi petugas 911 untukmu. Jadi jangan berpikir untuk tidak memanggilku."


Mendengar ucapan Lion, jantung Melody berdegup cepat. Dia menatap Lion yang juga menatapnya. Mata mereka bertemu untuk beberapa saat.


"Sekarang kau tidak perlu mengurung diri lagi." senyum Lion sambil bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu. "Mereka bertiga pasti sudah menunggu lama."


"Tunggu dulu!!" panggil Melody ketika Lion hendak membuka pintu.


"Ada apa lagi?" tanya Lion menoleh.


Melody segera bergegas turun dari tempat tidur dan berdiri di hadapan Lion.


"Aku... aku... sebenarnya aku..." ucapan Melody terpotong ketika pandangannya gelap.


Lion segera menopang Melody saat dia mulai tumbang dan kehilangan kesadaran.