MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Kehilangan Kesadaran



Tasya menjenguk Anna sepulang sekolah keesokan harinya. Tasya juga berniat memberitahu Anna mengenai Jessica yang sangat misterius.


"Aku benar-benar suka saat sakit, semua orang datang membawa makanan untukku." ujar Anna.


Tasya meletakan bingkisan berisi buah-buahan di meja belajar Anna dan langsung duduk di tempat tidur samping Anna.


"Jangan berkata seperti itu! Aku tetap akan membawa makanan saat kau sehat, jika kau mau." senyum Tasya. "Bagaimana? Kau sudah lebih baik?"


"Ya, aku rasa aku sudah sembuh."


"Kak Anna..." panggil Melody yang langsung masuk karena pintu kamar terbuka. "Halo kak Tasya."


Tasya yang melihat Melody datang langsung merasa malu karena mengingat pesan salah kirim kemarin. Dia hanya tersenyum kaku pada Melody.


"Kak Ars, menitipkan makanan ini untukmu." ujar Melody meletakan plastik putih di meja samping tempat tidur. "Dia bilang, kau harus makan tepat waktu."


"Ars sangat memperhatikanmu, Anna." ucap Tasya. "Bahkan dia terlihat begitu panik saat tahu kau sakit. Dan waktu kau tercebur ke kolam juga sama paniknya."


Anna tidak menanggapi ucapan Tasya karena merasa canggung ada Melody di sana.


"Kak Ars memang begitu, bahkan setiap malam dia menjaga kak Anna disini." tambah Melody.


"Benarkah? Ya ampun, aku iri sekali padamu Anna. Aku mau Ato menjagaku setiap malam be..." ucapan Tasya terhenti karena sadar ada Melody dan itu membuatnya tambah malu.


"Apa Ars ke café?" tanya Anna.


"Tidak, dia pergi dengan Jessica." jawab Melody. "Jujur saja, aku tidak suka padanya. Tapi jangan bilang pada kak Ars ya."


Tasya dan Anna hanya menatap Melody tanpa kata.


"Melon, ayo cepat!!" terdengar suara Lion dari luar.


"Dasar tidak sabaran." gumam Melody mendengar Lion memanggilnya. "Baiklah, aku mau ke tempat kursus. Kak Anna cepat sembuh ya."


"Hati-hati di jalan." ucap Anna.


"Jangan lupa dimakan makanannya, kalau tidak kak Ars pasti mengomel padaku." ujar Melody. "Kak Tasya, sebaiknya kau memberi pin pada nomer kak Ato, maksudku nomernya dijadikan favorit agar tidak salah kirim lagi."


"Apa? Ah benar juga ya." jawab Tasya kaku karena menahan malu.


"Sampai jumpa." pamit Melody langsung pergi.


"Ada apa? Kau salah kirim pesan ke Melo?" tanya Anna menatap Tasya yang menampilkan ekspresi aneh. "Jangan-jangan isi pesannya hal mesum atau vulgar ya?"


Tasya mengangguk lalu menutup wajahnya, malu.


Anna tertawa terbahak-bahak mengetahuinya.


"Aku ingin lihat wajah Ato saat dia tahu Melo tahu kau salah kirim pesan pada adik perempuannya itu."


"Aku sudah memberitahu Ato. Aku benar-benar ceroboh."


Anna kembali terkekeh.


"Sudah, jangan bahas itu lagi." ujar Tasya. "Setidaknya adik kesayangan mereka tidak menyukai wanita itu. Menurutku itu bagus."


"Apa maksudnya?"


"Jessica. Melody bilang dia tidak suka dengan wanita itu kan?" ucap Tasya. "Aku juga tidak suka padanya setelah aku melihat dia menggoda Ato saat di villa."


"Benarkah? Dia menggoda Ato?"


"Aku benar-benar kesal kalau ingat." jawab Tasya. "Bahkan ternyata dulu saat SMP dia mengirimkan banyak surat yang isinya pernyataan cintanya pada Ato, dan Oto bilang padaku dulu dia juga pernah meminta Oto untuk menjadi pacarnya. Haahh, sebenarnya apa mau wanita itu, dia mendekati ketiga saudara kembar itu."


"Benarkah?" tanya Anna.


"Sekarang sepertinya dia mengincar Ars." tambah Tasya. "Berbuat sesuatu Anna, Ars pasti mendengarkan perkataanmu."


"Aku rasa sebaiknya aku tidak ikut campur." jawab Anna. "Sepertinya Ars pun menyukai Jessica. Aku melihat mereka berciuman. Ars terlihat menyukai Jessica."


Tasya menggenggam tangan kiri Anna.


"Aku rasa tidak seperti itu. Bicarakan dulu padanya, dia pasti akan mendengarkan perkataanmu. Selama ini kau diam saja kan dan selalu menghindar saat Ars datang meminta pendapatmu?"


"Baiklah, aku akan coba memberitahunya." jawab Anna tersenyum. "Ngomong-ngomong, kenapa kau meninggalkan ini di kamarku?"


Anna mengambil tas kertas yang isinya adalah dress yang waktu itu mereka lihat saat berbelanja.


"Itu untukmu... cobalah sekali saja memakai pakaian wanita. Kau pasti cantik sekali. Kakimu sangat panjang seperti seorang model." senyum Tasya.


...***...


Lion menghentikan motornya di depan tempat kursus Melody. Melody segera turun dari motor.


"Hati-hati turunnya." ucap Lion ketus.


Melody mencoba membuka helm namun dia kesulitan, dengan segera Lion membantu membukakannya.


"Kau pulang saja, nanti aku akan minta salah satu kakakku menjemputku." jawab Melody.


"Ato sedang ada urusan di cabang baru café, jadi Oto yang bertanggungjawab menjaga café, dan si bodoh Ars sedang pergi dengan Jessica kan? Siapa yang bisa menjemputmu?"


"Aku akan pulang naik taksi."


"Aku akan menunggumu." ujar Lion. "Aku ada janji bertemu dengan temanku di sekitar sini. Jadi aku akan menjemputmu lagi. Ayahmu juga bilang agar aku menjemputmu."


"Kalau begitu, kau bisa menjemputku jam tujuh nanti." jawab Melody. "Awas ya kalau datang telat!!"


"Ya ampun... kau sangat keterlaluan Melon." keluh Lion menatap Melody kesal sambil kembali memakai helm-nya.


Setelah itu Lion melesat pergi dengan motornya.


"Melody..." panggil seorang temannya di tempat kursus, menghampirinya. "Dia pacarmu? Aku sering melihat kau di antar jemput olehnya. Pacarmu tampan sekali."


"Bukan, kami hanya bertetangga." jawab Melody. "Dia itu pria aneh, kalau kau tahu sifatnya kau tidak akan menyukainya."


"Benarkah? Seberapa aneh?" tanya Monik teman Melody.


"Yang pasti wajah dan sifatnya sangat bertolak belakang." ucap Melody. "Kalau bukan karena dia tetangga dan dekat dengan keluargaku, aku pasti akan menjauhinya."


Melody melirik pada Monik untuk melihat ekspresi temannya itu. Dia berharap kalau Monik tidak menyukai Lion.


...***...


Sehabis pergi menonton bioskop dan makan malam, Aramis hendak mengantar Jessica pulang. Sepanjang mereka pergi berdua Jessica sangat lekat pada Aramis, dan Aramis sudah terbiasa dengan hal itu.


"Rumahmu di daerah mana?" tanya Aramis sambil menyetir mobil paman Ronald yang dipinjamnya.


"Ars..." tatap Jessica. "Aku tidak ingin pulang malam ini, bagaimana kalau kita ke hotel?"


Aramis terkejut mendengar ucapan Jessica, sontak dia menginjak rem dan menghentikan mobilnya ke pinggir jalan.


"Apa aku salah?" tanya Jessica. "Setelah ciuman kemarin, aku pikir kau pun juga menginginkannya."


"Aku minta maaf karena..."


"Kau tidak menyukaiku? Kau tidak ingin berpacaran denganku dan melakukannya bersamaku?" ujar Jessica memotong perkataan Ars.


"Ya, aku rasa tidak secepat itu. Kita baru bertemu kembali kan? Dan aku minta maaf karena terbawa suasana saat kau menciumku."


"Kau pun dulu menolakku, Ars. Aku pikir jika aku berubah dan jadi seperti ini kau akan menyukaiku. Aku tidak bisa melupakanmu walau aku ingin. Makanya aku mencarimu saat kembali dari luar negeri."


Aramis terkejut mendengar ucapan Jessica yang menangis.


"Apa karena Anna?" tanya Jessica. "Pasti karena dia, kau bahkan lebih mengkhawatirkan dia dari pada aku."


"Tidak ada hubungannya dengan Anna." jawab Aramis. "Aku hanya tidak percaya dengan ikatan yang disebut pacaran dan lagi kita juga baru bertemu kembali. Hanya karena itu."


Jessica terdiam dan menghapus air matanya lalu tersenyum pada Aramis.


"Kau mengerti?"


"Baiklah, untuk sekarang kita pelan-pelan saja." jawab Jessica. "Aku sudah mengerti perkataanmu."


"Bagus kau mengerti." ucap Aramis kembali menjalankan mobilnya.


"Di depan ada minimarket, berhentilah dulu. Setelah menangis aku jadi haus." ujar Jessica.


Aramis menuruti kata-katanya dan menghentikan kembali mobilnya di depan minimarket.


"Biar aku yang turun beli."


"Tidak, aku saja. Aku ingin hirup udara segar sekalian." seru Jessica langsung turun.


Aramis cukup lama menunggu Jessica kembali.


"Kenapa dia lama sekali?" gumam Aramis.


Selang beberapa detik Jessica keluar minimarket dan langsung masuk ke mobil dengan sebotol minuman.


"Maaf ya lama, aku memperbaiki riasan wajahku dulu." ucap Jessica tersenyum. "Minumlah, kau pasti haus juga."


Jessica menyodorkan botol minuman yang tutupnya sudah dia bukakan.


"Terimakasih." ucap Aramis setelah itu meminumnya.


"Dengar Ars, aku tidak akan berhenti sampai kau menjadi milikku." ujar Jessica menatap ke depan jalan.


"Apa? Kau bicara apa?"


"Aku pasti mendapatkan salah satu dari kalian."


Jessica menoleh pada Aramis yang mulai kehilangan kesabarannya.