MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Perpisahan



"Oto, jangan begitu... semua hanya salah paham." seru seorang wanita yang duduk dihadapan Prothos.


Saat ini Prothos sedang duduk di sebuah café bersama seorang wanita cantik berambut pirang sebahu. Wanita itu bernama Kiara, adalah kekasih Prothos yang baru dipacarinya dua minggu.


"Pria itu hanya teman sekolah ku, dia mengantarku pulang atas permintaanku." ujar Kiara menjelaskan.


Namun Prothos terlihat tidak tertarik mendengarnya, dan melihat keluar jendela. Sejak pagi perasaannya sudah kurang baik dan tidak bersemangat. Semua itu karena kemarin malam seseorang mengirimnya sebuah foto yang dimana Kiara berboncengan dengan seorang pria.


"Ayolah Oto, sebenarnya aku sengaja melakukannya."


Prothos menoleh menatap Kiara setelah mendengar ucapannya.


"Aku sengaja melakukannya. Orang yang mengirimimu foto tersebut adalah temanku, aku memintanya untuk membuatmu cemburu." terang Kiara membela diri. "Kita jarang sekali bertemu karena sehabis pulang sekolah kau sibuk di café-mu. Dan lagi kau melarangku untuk datang ke café. Maafkan aku, jangan tinggalkan aku." Kiara memegang tangan Prothos yang ada di atas meja. "Kau juga tidak pernah menjemputku di sekolah, padahal aku sangat ingin memperlihatkanmu ke semua temanku di sekolah."


Prothos tersenyum muak mendengarnya.


"Sekarang kau bisa datang ke café-ku. Aku akan memberikanmu setengah harga selama dua minggu sebagai kompensasi karena membuatmu berekspektasi terlalu tinggi tentang hubungan kita."


Setelah bicara demikian Prothos berjalan keluar café tersebut.


"TUNGGU!! KAU PASTI AKAN MENYESAL!! DASAR PLAYBOY!!" teriakan Kiara memenuhi café sehingga semua mata melihat ke arahnya.


Di luar Prothos membuang napasnya dan memperhatikan langit yang mulai menjatuhkan rintikan hujan. Waktu menunjukan dua siang lebih tiga puluh menit.


Tiba-tiba seseorang menabraknya.


"Maaf..." ucap wanita yang menabrak Prothos langsung berjalan pergi.


Prothos memperhatikan wanita yang baru saja menabraknya. Wanita itu memakai jaket dan kupluk menutupi kepalanya. Namun Prothos melihat jelas kalau airmata membasahi semua wajah wanita itu.


Dengan berjalan santai Prothos mengikuti wanita itu, karena mengenalnya.


Rintik hujan jatuh hampir tidak terasa karena terlalu ringan. Prothos mengikuti wanita yang menabraknya sampai di sebuah taman yang sepi karena gerimis hujan.


Setelah membeli minuman hangat, Prothos kembali ke taman tersebut, dan berjalan mendekati wanita yang duduk di kursi taman walau hujan membasahinya.


Prothos menjulurkan tangannya untuk memberikan kopi yang dibawanya pada wanita yang sedang menangis tersebut.


"Kopi hangat untuk hati yang membeku... Bu guru."


Wanita tersebut menengadahkan kepalanya untuk melihat seorang pemuda yang adalah muridnya berdiri di hadapannya.


Dengan ragu wanita tersebut mengambil kopi itu. Dan berusaha menyembunyikan airmatanya.


"Kau pasti mengenalku 'kan bu guru?" Prothos duduk di sampingnya. "Biarku tebak, saat ini pasti kau baru saja putus dengan pacarmu kan?"


"Sepertinya kau salah orang." ujar wanita itu.


"Kau adalah guru biologi kelas sepuluh dan wali kelas X-4 'kan? tidak mungkin aku salah. Kau adalah wali kelas adikku Melody, bu Widia?"


Widia adalah guru baru yang baru saja lulus dari gelar pendidikannya, dan langsung bekerja di sekolah tersebut. Usianya 21 tahun saat ini.


Widia menoleh ke Prothos yang menatapnya lekat, berharap muridnya tersebut merasa sungkan karena tatapan bu gurunya.


"Ternyata matamu berwarna cokelat bu guru, aku baru tahu."


Widia menarik tatapannya karena usahanya sia-sia, bahkan dia merasa sedikit malu mendengarnya. Dia baru ingat kalau Prothos terkenal dengan sebutan playboy, karena itu mungkin menatap seorang wanita sudah biasa.


"Pacarmu selingkuh ya?" ucap Prothos dan tepat sekali.


Widia menoleh kembali pada Prothos. Kali ini Prothos duduk santai dan melihat ke depan.


"Aku juga baru saja putus." ujar Prothos.


"Playboy sepertimu pasti tidak akan sedih." gumam Widia sambil menyeruput kopi pemberian Prothos.


"Tega sekali ucapanmu, bu guru." jawab Prothos melirik Widia. "Semua perpisahan selalu menyakitkan bagi siapapun, termasuk aku."


Widia tidak menyangka mendengar kata-kata muridnya tersebut, terdengar sangat di luar pikirannya. Selama ini dia merasa kalau murid SMA adalah anak kecil dan belum mengerti tentang kerasnya dunia ini.


"Jika orang yang kau cintai mengkhianatimu maka perpisahan adalah jalan terbaik, bu guru. Di dunia ini tidak ada seseorang yang berkhianat hanya sekali, tapi percayalah, pasti ada seseorang yang sama sekali tidak akan pernah berkhianat."


"Kau termasuk yang mana? Pasti yang pertama kan?" kata Widia skeptis.


"Itu benar. Banyak yang bilang kalau kau selalu berganti pacar tiap sebulan, dan kau memutuskan pacarmu tanpa alasan yang jelas. Apalagi kalau bukan karena ada yang lain?!" Widia terdengar agak kesal.


"Astaga, kenapa kau jadi marah-marah padaku?" keluh Prothos. "Rumor itu salah, bukan sebulan tetapi dua minggu. Aku baru saja putus dengan pacarku yang baru saja aku pacari dua minggu. Bahkan aku belum sempat menciumnya."


"Ingat kau ini masih SMA, jaga perilakumu dan jangan pacaran terus. Fokuslah belajar!!" seru Widia setelah itu beranjak pergi.


Prothos tersenyum melihat gurunya yang pergi menjauh.


"Bahkan tak ada ucapan terimakasih untuk kopinya."


...***...


Malam yang dingin tiba. Melody memperhatikan jendela kamar Lion yang tirainya masih tertutup.


"Ada apa denganku?" bisiknya pada dirinya sendiri.


Perasaan Melody saat ini sangat kacau. Saat melihat atau bersama dengan Lion, dia merasakan perbedaan dari biasanya.


Jika biasanya dia bersikap dingin pada pria itu karena tidak memedulikannya tapi akhir-akhir ini dia tidak bisa bersikap seperti itu lagi. Pikirannya sangat kacau ketika Melody sadar kalau dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Lion sekeras apapun usahanya.


Akan tetapi dia masih tidak dapat mengerti apa maksud dari semua itu.


Kenapa aku jadi seperti ini? keluh Melody bangun dari posisi tidurnya.


Melody turun dari tempat tidur lalu keluar kamar, dia menuju kamar Prothos yang ada di depan kamarnya. Tanpa ragu dia membuka pintu kamar kakaknya tersebut.


Prothos sudah terlelap di tempat tidurnya dengan lampu yang juga sudah padam. Padahal saat ini baru pukul sepuluh malam. Setelah kembali tadi Prothos merasa kurang sehat karena kehujanan.


"Kak Oto, sudah tidur?" tanya Melody menatap kakak keduanya itu.


Prothos hanya mengeluarkan suara tanpa kata.


"Malam ini aku tidur dengan kak Oto, boleh tidak?" tanya Melody lagi.


Dan sekali lagi Prothos menjawab tanpa kata, hanya dengan suara di tenggorokannya saja.


Setelah itu Melody menaiki tempat tidur Prothos dan berbaring di sampingnya. Untuk beberapa saat Melody terdiam memandang langit-langit kamar yang gelap tanpa cahaya.


"Tidak bisa tidur?" Akhirnya Prothos bicara setelah melihat adik perempuannya yang hanya menatap langit-langit. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Prothos dengan mengantuk.


"Aku bingung..."


"Bingung? Kenapa? Ingin bicara dengan kakak?"


Melody menoleh pada Prothos yang menutup matanya.


"Apa kakak tahu kenapa jantung bisa berdebar-debar ketika melihat seseorang?"


Mendengar pertanyaannya, Prothos membuka mata, melihat Melody yang menatapnya.


"Siapa yang kau lihat?" tanya Prothos ingin tahu.


Melody kembali menatap langit-langit kamar dan tidak menjawab.


"Felix?" tebak Prothos. "Kau sudah berjanji tidak akan menemuinya lagi kan?!"


"Tidak, aku tidak akan menemuinya lagi." ucap Melody. "Saat melihat Felix pun aku tidak merasakan berdebar-debar seperti ini."


"Lalu siapa?" tanya Prothos lagi.


Melody terdiam karena tidak ingin memberitahu siapa orangnya.


"Tidak mungkin Lion kan?"


"A... apa?" Melody terkejut hingga menoleh pada Prothos. "Kakak bicara apa? Ya tidak mungkin si aneh itu! Bahkan aku tidak menganggapnya manusia." seru Melody mengelak dengan salah tingkah.


Prothos memejamkan matanya lagi karena rasa kantuk sudah sangat menyerangnya.


"Tidurlah, jangan dipikirkan lagi! Kau harus bangun pagi besok!!" ujar Prothos.