MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Sudut Pandang yang Berbeda



Aramis berada di kamar Lion. Dia menceritakan apa yang dialami pada sahabatnya tersebut. Aramis duduk di bawah tempat tidur sedangkan Lion sedang bermain video games memunggunginya. Suara game yang dimainkannya terdengar lebih kencang dari pembicaraan mereka.


"Bagaimana dengan Anna?" tanya Lion masih mengutak-atik stick game.


"Aku sudah mengatakan semuanya padanya." jawab Aramis. "Tapi dia bilang, dia muak melihatku."


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Entahlah."


"Si bodoh ini." gumam Lion menoleh pada Aramis. "Kau tahu? Kau menghamili seorang wanita, dan kau tidak tahu harus apa? Bertanggungjawablah."


"Setelah aku menceritakan semuanya padamu, kau pun sama tidak mempercayaiku." ujar Aramis lesu, dia menidurkan kepalanya ke sisi tempat tidur. "Aku tahu aku tidak melakukannya. Wanita itu hanya berbohong."


"Ars, Jessica benar-benar hamil, dia tidak sedang berbohong."


"Tapi tidak denganku!!" seru Aramis kesal.


"Lalu dengan siapa?" Lion menghentikan permainannya dan merubah posisi duduknya menjadi ke arah Aramis yang menyampinginya. "Ada foto itu, itu buktinya!!"


"Aku akan merasakannya jika aku melakukan dengannya!! Tapi aku benar-benar tidak melakukan apapun, Lion!!" seru Aramis menjadi sangat kesal menatap Lion. "Pasti kaupun juga mengerti!!"


"Entahlah, aku tidak pernah melakukannya." jawab Lion.


Aramis tertawa mendengarnya, dia menjadi semakin kesal dengan ucapan sahabatnya itu.


"Dan kau pikir aku pernah melakukannya? Karena itu, jika aku melakukannya aku pasti akan merasakan ada perbedaan, tapi aku tidak melakukannya, kau mengerti!!"


Lion terdiam menatap Aramis.


"Lalu sekarang bagaimana? Apa yang akan kau lakukan? Bagaimana kau membuktikan kata-katamu?"


Aramis hanya menggeleng sambil menundukan kepalanya.


"Pergilah Ars!! Aku tidak ingin punya sahabat bodoh sepertimu!!" ujar Lion bangkit berdiri. "Kau bukan lagi temanku."


Lion langsung menarik Aramis keluar dari kamarnya dan menutup pintunya.


"Dia sangat bodoh, argghh!!" geram Lion kesal di dalam kamar sendirian.


...***...


Melody menjadi sangat sedih saat mengetahui apa yang terjadi pada Aramis. Sebelumnya dia merasa senang karena kakaknya tersebut menjadi sangat dekat dengan Anna. Tapi kesalahan Aramis sangat fatal dan ayah pasti tidak akan memaafkannya walau Aramis meminta maaf sekalipun.


Lion yang berada di samping Melody yang duduk di kelas, menatap gadis itu yang terlihat sangat bersedih dengan yang terjadi pada kakaknya. Matanya bengkak karena menangis semalaman yang memikirkan masalah Aramis dan kemarahan ayahnya. Walau Melody tidak berkata apapun, Lion tahu sebagaimana kesedihan gadis itu.


"Melon, kau tenang saja. Semua akan baik-baik saja." hibur Lion memegang pundak kanan Melody dengan tangan kirinya. "Aku akan melakukan sesuatu."


"Apa yang bisa kau lakukan? Bahkan kau mengusir kakakku dan entah dimana dia berada sekarang." Melody menoleh pada Lion.


Lion melepaskan pundak Melody dan menggigit bibirnya.


"Berdoa. Ya, sepertinya hanya berdoa yang bisa aku lakukan." jawab Lion langsung meletakan kepalanya di meja.


...***...


Aramis masuk ke sebuah coffee shop. Matanya memancarkan sebuah rasa jijik ketika melihat seorang wanita melambaikan tangan padanya. Jessica sudah duduk di salah satu kursi di meja coffee shop tersebut.


Dengan rasa malas Aramis menghampiri mejanya dan duduk di hadapan Jessica yang tersenyum melihatnya.


"Aku senang kau menghubungiku dan mengajak bertemu, Ars." ujar Jessica. "Kita pesan sesuatu dulu-."


"Katakan saja sebenarnya apa maumu?" tanya Aramis tanpa basa-basi.


Jessica tidak mendengarkannya dan memanggil pramusaji untuk memesan makanan kecil dan minuman.


"Aku harus makan banyak, agar anak kita tidak kelaparan, Ars."


Aramis tersenyum sarkas mendengar perkataan Jessica.


"Jangan membuang waktuku untuk menanggapi omong kosongmu!!"


Pramusaji datang dan membawakan pesanan Jessica sehingga perbincangan mereka terhenti sesaat.


"Kenapa kau tidak percaya kalau ini anakmu?" tanya Jessica dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku pikir kau meminta bertemu karena akhirnya menyadari dan mau bertanggungjawab."


"Bertanggungjawab untuk hal yang tidak aku lakukan?" tatap Aramis dingin. "Astaga, lebih baik aku mati."


Tiba-tiba Jessica beranjak dari duduknya dan berpindah tempat, duduk di sebelah kanan Aramis.


"Jangan bicara seperti itu, Ars." ujar Jessica memegang lengan Aramis. "Kalau mau mati bagaimana dengan anak kita?"


Aramis tertawa jijik mendengarnya.


"Singkirkan tangan kotormu dariku!!"


Jessica melepaskan lengan Aramis, dan duduk menghadap ke depan.


"Dengar Ars, aku akan memberimu waktu hingga hari sabtu. Kalau kau tetap tidak ingin bertanggungjawab aku akan membeberkan semuanya pada pihak sekolah, agar mereka mengeluarkanmu segera." ucap Jessica.


"Terserah kau ingin melakukan apapun!! Aku tidak peduli." jawab Aramis langsung bangkit berdiri.


...***...


Jam pulang sekolah sudah berlalu setengah jam yang lalu. Lion berjalan di koridor sekolah menuju ruangan OSIS dimana saat ini sedang berlangsung rapat OSIS.


Tanpa ragu, Lion membuka pintu ruangan tersebut. Semua mata menatapnya dengan aneh. Anna yang memimpin rapat melihat Lion dengan penuh tanya.


"Kau mau ikut denganku, Anna?" tanya Lion di ambang pintu. "Akan aku perlihatkan padamu bagaimana aku bersenang-senang selama ini."


Anna membuang napas melihat Lion dan duduk bersandar di kursinya.


"Ahh, sepertinya kau pun juga sedang bersenang-senang sekarang." ujar Lion tersenyum skeptis. "Dengarlah, kadang kita harus mengubah sudut pandang kita terhadap sesuatu. Jangan biarkan perspektif yang muncul pertama kali, memanipulasi semuanya."


Setelah berkata demikian, Lion menutup pintu ruangan tersebut dan pergi. Semua yang ikut rapat menjadi gaduh melihat kelakuan Lion yang menurut mereka tidak sopan. Kecuali Anna yang langsung teringat akan sesuatu setelah mendengar perkataan Lion.


Selesai rapat OSIS, Anna masih duduk sendirian di ruangan tersebut memikirkan sesuatu. Setelah mendengar perkataan Lion, pikirannya seperti air sungai yang dilempar air oleh seseorang yang membuat endapan air sungai mengeruak bercampur air ke atas sungai kembali.


Dia teringat akan gambar lukisan yang diperlihatkan Aramis kemarin. Dia segera mengambil handphone-nya dan mencari dengan kata kunci lukisan Cimon dan Pero, sebuah lukisan yang memperlihatkan seorang pria sedang menghisap payudara seorang wanita. Dia membaca fakta dibalik lukisan tersebut.


Ternyata lukisan tersebut bukan menceritakan seorang pria yang sedang menghisap payudara seorang wanita melainkan seorang anak yang sedang menyusui ayahnya yang terancam hukuman mati, dengan cara dibiarkan kelaparan.


Anna jadi berpikir kalau yang dikatakan Lion benar. Terkadang disaat kita sudah mempercayai dengan kesimpulan yang kita lihat pertama kali, kita jadi menutup diri dan tidak ingin mempercayai hal lain dari sudut pandang yang berbeda.


Air mata Anna kembali mengalir mengingat Aramis saat menunjukan gambar tersebut dengan satu kalimat yang seharusnya tidak dirinya abaikan.


Percayalah, ini tidak seperti yang kau lihat.


Anna menutup matanya dengan telapak kanannya dan menyesal mengatakan kalimat terakhir yang diucapkannya pada Aramis kemarin.


Dia pun kembali mengingat pertanyaan Aramis saat di gedung tua tempat persembunyian Aramis.


Maksudku, kalau jika saja sesuatu terjadi padaku, apa kau akan tetap percaya padaku? -Aramis-


Ya, aku akan tetap percaya. -Anna-


Anna menangis kembali, sesungukan. Dia melupakan kata-katanya sendiri yang menjawab akan tetap percaya pada Aramis.


Setelah menenangkan dirinya, Anna hendak pulang. Dia keluar ruangan OSIS dan bersamaan David berjalan di depannya. David berhenti berjalan dan melihat Anna.


"Kau baik-baik saja?" tanya David berdiri di hadapan Anna.


"Ya, aku rasa begitu." jawab Anna mencoba tersenyum walau wajahnya kaku saat ini. "Kau habis latihan?"


"Sebentar lagi pemilihan wakil yang akan berkompetisi di kejuaraan nasional." jawab David. "Baiklah, aku duluan."


David berjalan kembali.


"Anna..." panggil David lagi yang menoleh pada Anna. "Tersenyumlah seperti biasanya, wajah sedih tidak cocok denganmu." ucap David setelah itu berjalan pergi.