
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh selama hampir tiga jam, Prothos dan Widia sampai di tujuan mereka. Sebuah kebun yang sangat luas. Terdapat banyak pepohonan besar yang menjulang tinggi, dan di daerah yang suhunya lebih rendah dari kota mereka tinggal.
"Tidak ku sangka jalanannya akan macet." keluh Prothos.
"Pasti kau lelah ya?" tanya Widia menoleh pada Widia yang tersenyum.
Prothos menggeleng.
"Aku hanya tidak suka karena waktu kita terbuang di jalan." jawab Prothos. "Baiklah, ayo kita turun."
"Tunggu dulu!!" seru Widia.
Widia mengambil sesuatu di tas ransel yang dibawanya.
"Masker?" tanya Prothos.
Widia memakaikan masker berwarna abu-abu pada Prothos. Prothos menatapnya bingung.
"Ada tiga hal kenapa aku harus memakaikanmu masker." tatap Widia. "Pertama, karena aku tidak mau ada yang mengenali kita. Kedua, karena aku tidak suka kau jadi pusat perhatian para wanita. Dan ketiga, aku tidak ingin mereka melihatmu tersenyum pada mereka."
Prothos memahami perkataan gurunya tersebut. Karena dia sendiri pun selalu tanpa sadar tersenyum pada tiap wanita yang melihat padanya. Itu sudah kebiasaannya. Entah karena memang sifat ramahnya atau karena ingin menebar pesonanya.
"Baiklah." jawab Prothos diiringi sebuah senyum tipis.
...***...
Aramis dan Anna masih terjebak dalam situasi karena ulah mereka sendiri. Anna masih berbaring telungkup di atas tubuh Aramis yang berbaring di sofa untuk merebut handphone Aramis demi bisa menghapus rekaman saat dirinya mengecup kening Aramis.
"Aku mencintaimu, Anna." ulang Aramis menatap Anna.
Anna terpaku mendengar ucapan Aramis. Untuk pertama kalinya Aramis mengatakan kalimat itu padanya. Anna langsung segera bangun dan duduk di sisi sofa.
"Jangan bilang begitu bodoh, kau mengacaukan segalanya sekarang." keluh Anna bingung. "Itu jadi tidak seperti dirimu. Aku tidak suka mendengarnya."
Aramis yang masih pada posisinya berbaring, menatap Anna yang membelakanginya. Dia mencoba memahami maksud ucapan Anna. Entah kenapa Anna jadi terlihat merasa terbebani dengan pengakuannya barusan.
Aramis tertawa mencoba mencairkan suasana.
"Aku tarik ucapanku barusan." ujar Aramis. "Aku hanya berusaha agar kau segera bangun, bodoh."
Anna menoleh pada Aramis dengan kesal.
"Baiklah, ini." ucap Aramis memberikan handphone-nya pada Anna agar dia bisa menghapus video tersebut.
Anna langsung mengambilnya, setelah itu memberikannya kembali pada Aramis setelah selesai melakukan hal yang diinginkannya.
"Gadis berdada dan bokong yang besar memang yang terbaik." racau Aramis sambil beranjak duduk di samping Anna.
"Cepat keluar! Aku ingin istirahat. Sejam lagi aku harus ke sekolah. Ada rapat OSIS." seru Anna membuka handphone-nya sendiri.
"Mau aku antar?" tanya Aramis.
Anna menoleh pada Aramis dengan dingin.
"Kau bukan pacarku, jangan bersikap seolah-olah kita berpacaran." jawab Anna.
Aramis bangkit berdiri mendengar ucapan Anna barusan.
"Pacaran hanya fiktif belaka." ucap Aramis sambil berjalan ke pintu. "Hubungan macam apa itu?!" Aramis langsung keluar dari rumah Anna.
Anna yang tinggal sendiri membuka kembali handphone-nya. Dia membuka sebuah video yang baru dia dapatkan. Ternyata, Anna tidak menghapus video tersebut dan malah mengirimkan ke handphone-nya.
Dia menonton video tersebut dari sejak Aramis mulai merekamnya. Durasi video tersebut hampir sepuluh menit. Awal video Aramis hanya kembali tidur di pangkuan Anna setelah dia mulai merekam. Setelah berjalan lima menit Aramis bangun kembali karena Anna tak kunjung bangun.
Tanpa Anna duga, dirinya terbangun ketika Aramis mencium bibirnya dan itu terekam di video tersebut.
"Si bodoh itu!!" gumam Anna dengan air mata yang terjatuh di pipinya namun langsung dihapus olehnya.
Sesampainya di kamarnya, Aramis mengingat reaksi Anna saat dia mengatakan kalau dirinya mencintainya. Aramis membuka handphone-nya untuk mengirim pesan maaf pada Anna, namun fokusnya berubah ketika dia melihat video yang terkirim di ruang pesannya pada Anna.
"Kenapa dia mengirimnya?" tanya Aramis terkejut.
Dia memutar videonya dan melihat dirinya yang mencium Anna terekam di video.
"Sial, dia pasti tahu kalau begini." gerutu Aramis pada dirinya sendiri. "Padahal aku ingin memotongnya sebelum mengirim padanya."
...***...
Prothos dan Widia berjalan bergandengan tangan di kebun yang mereka datangi. Melihat-lihat sekitar sambil mengobrol hal-hal yang tidak terlalu penting. Kebun tersebut sangat sepi dan tidak ramai pengunjung sehingga mereka sangat menikmati kebersamaan mereka.
Widia mengajak Prothos duduk di sebuah bangku besi yang tersedia di sana untuk meregangkan kaki mereka yang sudah berkeliling jauh.
"Kau lelah?" tanya Prothos melihat Widia.
"Aku hampir tidak pernah berolahraga, aku jadi mudah lelah." jawab Widia.
"Mau aku gendong saja saat berkeliling? Tubuhmu sangat kecil, pasti tidak akan berat."
"Kau ini mau mengejek atau memujiku?"
"Aku mau menciummu." jawab Prothos membuka maskernya.
Widia spontan memegangi masker yang masih terpasang menutupi wajahnya agar Prothos tidak menciumnya.
Prothos jadi tertawa melihatnya.
"Jangan menggodaku terus!" seru Widia kesal.
"Bu guru, aku masih boleh ke apartemen-mu 'kan?"
...***...
Melody dan Lion yang selesai membeli perlengkapan untuk tugas keseniannya mampir ke restoran ramen atas permintaan Lion. Sejak awal Lion memang ingin makan ramen.
"Padahal aku ingin makan di rumah." gumam Melody melihat Lion yang makan dengan lahap.
"Kau masih punya dua kali hutang mentraktirku, jadi kau tidak bisa menolaknya, Melon." jawab Lion dengan mulut yang penuh dengan makanan. "Kalau kau tidak mau, sini biar aku habiskan."
Melody menatap kesal Lion. Mau tidak mau dia menyeruput ramennya dengan malas. Namun siapa sangka, Lion mengambil mie ramennya dengan sumpitnya dan memindahkan beberapa ke mangkoknya.
"Aku bantu habiskan, ya." ujar Lion tersenyum lebar saat Melody menatapnya kesal.
"Makan saja semua!" seru Melody menggeser mangkok ramennya ke hadapan Lion.
Lion tersenyum senang padanya dan langsung melahapnya. Dia tidak memedulikan rasa kesal Melody padanya.
"Kenapa orang sepertimu bisa punya banyak teman?" gumam Melody ketus.
"Kenapa ya, apa karena aku tampan?"
Melody meletakkan sumpit yang dipegangnya dengan kencang ke meja hingga terdengar suara hentakan yang keras. Dia malas menanggapi ucapan Lion lagi.
...***...
Dalam perjalanan kembali, ketika Prothos dan Widia sudah hampir sampai di dekat apartemen Widia. Gadis itu meminta berhenti di sebuah minimarket.
"Ayo, kita makan mie instan dulu. Ini sudah jam enam sore, aku sudah lapar." ucap Widia setelah Prothos menghentikan mobilnya atas permintaan Widia.
"Baiklah." jawab Prothos tersenyum.
Prothos duduk di meja yang berada di luar minimarket sedangkan Widia masuk ke dalam minimarket untuk membeli dua gelas cup mie instan.
Prothos tersenyum saat Widia memberikan kepadanya.
"Padahal kalau kau mau kita makan dulu tadi." ujar Prothos.
"Aku sedang ingin makan ini." jawab Widia.
Mereka berdua pun segera menyantap mie instan-nya hingga habis sambil bercengkrama.
"Hari ini aku benar-benar sangat senang, bu guru." ucap Prothos tersenyum.
"Kau ini masih memanggilku seperti itu. Pakai maskermu lagi." seru Widia.
Prothos tertawa sambil menuruti seruan kekasihnya tersebut.
"Aku juga senang hari ini." aku Widia dengan nada malu-malu.
Widia mengambil handphone-nya dan dengan diam-diam memotret Prothos yang duduk di samping kirinya saat kekasihnya itu tidak melihatnya.
Dia memang sangat tampan meski wajahnya tertutup masker. ucap Widia dalam hati dan tersenyum di balik maskernya.
Tiba-tiba Widia melihat seorang gadis berkacamata yang tampak tak asing masuk ke dalam minimarket.
"Astaga, ada muridku." ucap Widia setelah memastikan kalau dia tidak salah lihat.
"Benarkah?"
"Kau jangan menoleh ya!! Dia melihatku dan sekarang berjalan ke sini." bisik Widia.
"Bu Widia?" sapa murid Widia berdiri tepat di samping Prothos.
"Wilda, kau sedang apa?" tanya Widia ramah.
"Aku membeli air mineral bu. Bu Widia, aku baru saja pindah ke apartemen di seberang apartemen-mu. Apa boleh kalau ada yang ingin aku tanya kan, aku datang ke tempatmu?"
"Ya, tidak masalah." senyum Widia. "Kau tinggal sendiri?"
Wilda mengangguk. "Baiklah bu, aku pulang dulu ya."
"Hati-hati ya."
Wilda langsung berjalan pergi meninggalkan Widia yang bersama Prothos. Widia bernapas lega karena sepertinya Wilda tidak peduli dengan keberadaan pria yang bersama dirinya.
"Dia gadis terpintar di kelas sepuluh." ucap Widia. "Tapi sayang, dia tidak mudah bergaul dengan teman-temannya."
"Apa dia sudah jauh?" tatap Prothos yang tidak berani menoleh ke arah jam tiga darinya, dimana Wilda berjalan.
"Ya, aku rasa sudah."
"Untunglah." ucap Prothos.
Dari kejauhan tanpa mereka sadari, Wilda menoleh karena penasaran dengan sosok pria yang bersama wali kelasnya tersebut. Dia melihat Prothos yang wajahnya tidak terlalu terlihat karena memakai kupluk jaket dan masker. .
...----------------...
PROTHOS (Hasil Jepretan Widia)
Visual Model :
Cha Eun-woo
(Makasih ya Eunwoo yang menginspirasi tampilan Prothos di bab ini 😄 saranghaeyo)