MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Sebutir Airmata



Melody bersama ke sembilan temannya ditempat Kursus beserta Lion berada di tempat karaoke. Lion langsung berbaur dengan teman-teman Melody dengan sangat cepat.


Melody dan Kevin hanya duduk diam memperhatikan Lion yang bersorak-sorai memberikan semangat kepada siapapun yang bernyanyi. Bahkan tidak jarang, Lion memperlihatkan gerakan dance-nya sehingga semua bersorak terutama wanita.


Monik menghampiri Melody yang duduk diam hanya memperhatikan mereka yang bernyanyi dan bersorak-sorai.


"Melody, tidak aku sangka Lion akan langsung akrab dengan kita." seru Monik agak keras karena suaranya kalah dengan musik.


Melody diam saja dan tidak menanggapi perkataan Monik. Kevin memperhatikan Melody, dan duduk agak mendekati Melody.


"Melody, apa Lion itu pacarmu?" tanya Kevin.


Namun suaranya tenggelam dengan suara musik yang sangat keras sehingga Melody tidak mendengarnya. Kevin tahu Melody tidak mendengarnya.


"Apa Lion itu pacarmu?" tanya Kevin mengulang pertanyaannya agak kencang.


Lion mendengarnya dan menoleh, sebelum Melody menjawabnya, Lion menghampiri mereka, dan menyodorkan microphone kepada Kevin.


"Ayo bernyanyi bersamaku." ujar Lion yang merupakan sebuah tantangan pada Kevin.


Kevin tersenyum skeptis dan menerima microphone tersebut.


Setelah memilih lagu melow, mereka berdua memulai bernyanyi. Di awal Kevin bernyanyi dan semua sudah tahu kalau suara Kevin tidak diragukan lagi. Semua bertepuk tangan mendengarnya. Melody sempat terkagum mendengar suara Kevin.


Selanjutnya bagian Lion menyanyi. Melody terkejut saat mendengar Lion bernyanyi, tanpa dia duga kalau ternyata Lion bisa bernyanyi dan suaranya tidak kalah bagus dengan Kevin.


"Astaga, Lion bisa bernyanyi juga ternyata. Dia keren sekali." ujar Monik semakin terpesona.


Melody menatap Lion yang bernyanyi dengan suara yang merdu, dan membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangannya.


Bagian refrain Lion dan Kevin bernyanyi bersama. Di awalnya terdengar begitu sangat bagus karena mereka berdua bernyanyi dengan sangat serius hingga tiba-tiba Lion terbatuk-batuk sehingga lagunya kacau, dan membuat Kevin kesal karena ulah Lion yang merusak lagunya.


"Maaf maaf, aku tidak bisa bernyanyi." ucap Lion tersenyum pada Kevin.


Lion langsung duduk menghampiri Melody.


"Suaraku bagus kan, Melon?" senyum Lion. "Pasti kau tidak menduganya."


Melody hanya menatap Lion sinis, malas menanggapi ocehannya. Kevin yang memperhatikan mereka berdua semakin yakin dengan anggapannya mengenai Lion yang adalah pacar Melody.


...***...


Jam sembilan malam Anna membaca buku di kamarnya saat Aramis meneleponnya.


"Kau benar-benar terus meneleponku." gumam Anna menjawab telepon dari Aramis. "Sudah lima kali kau meneleponku hari ini, tahu?"


"Kau benar sudah makan kan? Jangan menipuku! Kau punya maag akut jadi jangan diet, mengerti?" seru Aramis. "Kau terlalu kurus, buat apa diet lagi?"


"Ars, ini sudah jam sembilan malam. Aku sudah makan sejak jam tujuh tadi. Berhentilah meneleponku hanya untuk menanyakan hal itu. Kau cerewet sekali."


"Berisik!! Aku sudah bilang akan terus menghubungimu kemarin." ujar Aramis. "Tidurlah, ini sudah malam. Jangan lupa kunci pintu rumahmu." tambah Aramis setelah itu menutup teleponnya.


"Kenapa dia jadi cerewet seperti itu?" gumam Anna beranjak duduk.


Anna lupa apakah dia sudah atau belum mengunci pintu rumahnya. Entah kenapa dirinya sering lupa melakukannya akhir-akhir ini.


"Sebaiknya aku cek lagi."


Anna memasukan handphone-nya ke saku celananya dan berjalan keluar kamar. Dia berpegangan pada pegangan tangga ketika menuruninya sesuai dengan perintah Aramis. Tiba-tiba handphone-nya bergetar lagi ketika dia berada di tengah tangga.


"Pasti si bodoh itu lagi."


Dia berhenti dan mengambil handphone-nya dari saku celana dan menggeser pilihan menjawab dengan satu tangannya karena tangan kirinya berpegangan pada pegangan tangga. Namun tanpa diduga, tangannya tergelincir sehingga handphone-nya terjatuh.


"Aku lupa bilang kalau besok aku pulang pagi-pagi sekali. Siangnya kau bisa kan temani aku ke galeri lukisan?" terdengar suara Aramis.


Anna melepas pegangannya dari pegangan tangga, dan mencoba mengambil handphone-nya dengan menunduk. Namun sebelum dia bisa menggapai handphone-nya, penglihatannya kabur dan membuatnya tidak fokus sehingga keseimbangan tubuhnya goyah. Dengan cepat Anna mencoba menggapai pegangan tangga akan tetapi tangannya meleset dan membuat Anna terjatuh ke bawah dari sisa lima anak tangga.


"Kau dengar aku?" terdengar suara Aramis. "Anna, kau dengar? suara apa itu barusan?"


Anna mendarat dengan telungkup, namun gadis itu masih sadarkan diri dan mencoba menjawab Aramis, tapi entah bagaimana suaranya tidak bisa keluar.


Aramis mematikan teleponnya dan kembali menghubungi Anna namun tidak diangkat. Berkali-kali Aramis mencoba dengan penuh rasa khawatir.


...***...


Lion sampai di depan rumah Melody setelah pergi karaoke bersama teman-teman Melody di tempat khursus.


"Lion..." panggil Melody saat dia turun.


"Masuk saja, aku tidak perlu ucapan terimakasih." ucap Lion.


"Monik meminta nomermu. Apa boleh aku berikan?" tanya Melody tidak memedulikan perkataan Lion yang salah duga.


Lion menatap Melody mencari jawaban yang bagus.


"Terserah padamu saja." senyum Lion.


Jawaban Lion membuat Melody bingung. Dia menjadi bingung harus memberikannya pada Monik atau tidak. Karena sebenarnya dia tidak ingin memberikannya.


Tiba-tiba handphone Lion berbunyi. Dengan cepat Lion mengangkatnya.


"Lion, kau ada dimana?" tanya Aramis dengan nada gusar.


"Di depan rumahmu. Ada apa?" ujar Lion tahu kalau Aramis sedang gusar.


"Pergilah ke rumah Anna!!" seru Aramis.


Lion turun dari motornya dan mengikuti perkataan Aramis, Melody yang memperhatikan Lion langsung mengikutinya.


"Aku menghubungi Anna berkali-kali tapi dia tidak menjawabnya. Sebelumnya dia menjawab tetapi tidak ada suara dan terdengar suara aneh."


"Pintunya terkunci." ucap Lion mencoba membuka pintu rumah Anna.


"Kodenya, 892315" jawab Aramis.


Lion langsung menekan PIN kunci rumah Anna. Ketika pintu terbuka Lion dan Melody melihat Anna tergeletak di bawah tangga dan tak sadarkan diri.


"Kak Anna, kau baik-baik saja?" seru Melody menghampiri Anna yang terbaring.


"Anna..." panggil Lion.


"Ada apa?" tanya Aramis namun Lion sudah meletakan handphone-nya ke saku jaketnya. "Katakan padaku ada apa dengannya?"


...***...


Anna di bawa ke rumah sakit oleh Lion dan paman Ronald yang berada di rumah saat itu. Anna langsung mendapatkan pertolongan dengan cepat.


Untung saja tak ada luka yang serius pada Anna. Hanya robekan di dahi kanan yang mendapatkan tiga jahitan dan tangan kanannya yang retak. Itu semua sudah ditangani dengan baik.


Anna mulai tersadar dan membuka matanya saat pukul empat pagi. Dia melihat Aramis tertidur di kursi dengan kepala yang berada di sisi tempat tidur, dekat dengannya.


Anna mencoba mengangkat tangan kanannya, namun rasa sakit yang dia rasakan. Tangan kanannya retak dan dia tak bisa menggerakkannya. Saat ini tangannya itu berbalut gips. Suaranya pun tidak keluar untuk memanggil Aramis. Sehingga membuat Anna menjadi takut dan menangis.


Aramis mengangkat kepalanya mendengar isakan Anna.


"Kau sudah bangun?" tanya Aramis menatap Anna yang menangis. "Kau baik-baik saja, tidak perlu menangis. Tidak ada luka serius."


Anna menahan napasnya dan mencoba mengeluarkan suaranya lagi.


"Maaf..." akhirnya Anna berhasil berbicara. "Aku melepas pegangannya."


Aramis tersenyum.


"Ternyata hal ini terjadi lagi." ujar Anna terbata-bata.


"Istirahatlah, jangan pikirkan hal lainnya." jawab Aramis menggenggam telapak tangan kanan Anna yang lengannya terbalut gips.


Anna menggeleng.


"Aku takut, Ars." lanjut Anna. "Aku bermimpi berada di ruangan gelap dan aku tidak bisa bersuara."


"Tenanglah, itu hanya mimpi. Aku akan menjagamu saat kau tidur." senyum Aramis membelai Anna.


Anna menutup matanya dan sebutir airmata mengalir keluar dari pelupuk matanya.