MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Peringatan Keras



Hujan belum juga berhenti ketika Melody dan Felix pergi bersama. Mereka berdua bingung ingin pergi kemana karena hujan, jadi mereka hanya mengobrol saja di dalam mobil. Mereka berada di sebuah taman yang jaraknya tidak jauh dari rumah Melody, diam di mobil sambil melihat hujan yang terus turun sejak kemarin.


"Melody baik-baik saja 'kan?" tanya Felix matanya menatap Melody.


Melody sempat bingung maksud dari pertanyaannya. Felix bertanya tentang kondisi atau perasaannya saat ini?


"Aku dengar ada beberapa siswi yang mengerjaimu. Apa benar?"


Dari mana dia tahu? Kejadian tadi hanya aku dan Lion saja yang tahu, serta para siswi yang mengerjaiku. Lalu kenapa Felix bisa tahu? Lion tidak mungkin memberitahunya, bahkan mereka kenalpun tidak. Lalu dari mana? Apa para siswi yang mengerjaiku itu? Kata Melody dalam hati


"Kenapa tidak jawab?" tanya Felix lagi menatap Melody yang sedang melamun. "Itu jaket anak tadi kan?" Felix menatap Jaket Lion yang di pakai Melody.


"A...apa?" Melody bertanya dengan bingung.


"Tukang ojek itu 'kan?"


"Tukang ojek?" Melody merasa heran.


Bagaimana dengan mudahnya dia memanggil Lion tukang ojek? Batin Melody.


"Dia tetanggaku, bukan tukang ojek."


"Apa?" Felix terbelalak mendengar pernyataan Melody. "Sekarang lepas jaket itu dan pakai jaketku saja." seru Felix membuka jaket yang di pakainya.


"Tidak usah."


"Tapi dia itu hanya tetangga kan?"


"Sejak aku lahir dia temanku satu-satunya. Jadi tidak bisa di bilang kalau hanya tetangga saja." jawab Melody. "Selain itu ketiga kakakku bahkan ayah dan kakek dekat dengannya, ya bisa di bilang dia sudah seperti keluarga bagiku."


Keadaan tiba-tiba sunyi. Felix tidak berkata apapun ataupun menanggapi ucapan Melody tadi. Dia hanya diam dengan tatapan lurus ke depan. Melody tidak tahu apa yang harus dia katakan lagi. Dia merasa kalau dia salah bicara sehingga Felix tiba-tiba diam.


"Kakak-kakakmu tidak ada yang menyukaiku kan?" ucap Felix tetap tidak menatap Melody. "Bagaimana biar mereka menyukaiku?" dia memalingkan wajahnya pada Melody.


"Aku juga tidak tahu." jawab Melody merasa bersalah.


"Tapi Melody tidak benci aku 'kan?" Felix sedikit memutar posisi duduknya dan menjadi lebih dekat dengan Melody. "Melody suka padaku kan?" sedikit demi sedikit Felix mendekatkan dirinya ke arah Melody.


Gadis itu merasa bingung dan mencoba menghindar.


"Kalau suka, tidak apa-apa kan aku cium?" Felix memegang leher Melody dengan tangan kirinya.


Melody semakin takut sekarang.


"Hu...hujannya makin deras, apa bisa kita pulang saja?" ujar Melody mencoba menghindar dengan alasan tersebut.


Felix berhenti mendekat dan menatapnya. Tangan kirinya yang semula memegang leher Melody, sekarang menyentuh bibir gadis polos itu dengan ibu jarinya


"Aku ingin pulang." ucap Melody dengan nada suara yang takut.


"Oke. Kita pulang sekarang." jawab Felix Setelah itu menjalankan mobilnya dengan sangat cepat.


...***...


Melody berlari turun dari mobil Felix untuk menghindari hujan yang masih deras. Tanpa pikir panjang dia langsung membuka pintu rumah. Jantungnya sangat terkejut hingga rasanya seperti meloncat keluar ketika melihat Athos berdiri di depannya. Melody tidak berpikir kalau kakak tertuanya berada di rumah saat ini. Tamat sudah riwayatku, pikirnya.


"Kakak..."


"Mandi dan ganti baju. Kenapa kamu suka sekali pinjam jaket Lion?" ujar Athos menatap Melody.


Melody tidak menjawab perkataannya dan berlari mengarungi tangga untuk masuk ke kamarnya.


"Jangan lari, sepatumu basah nanti kau bisa jatuh!!" seru Athos.


Aku harus bagaimana sekarang? Kak Ato pasti sudah tahu dan melihat Felix mengantarku tadi. Kenapa kak Ato ada di rumah? Aku bodoh sekali sampai tidak berhati-hati tadi. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Dia pasti melarangku menemui Felix lagi. Kalau sudah kak Ato yang bicara aku sama sekali tidak berani membantah, ucap Melody dalam hati ketika masuk ke dalam kamarnya.


Waktu menunjukan pukul lima sore. Ketika Melody selesai mandi dan masuk ke dalam kamarnya. Dia terkejut melihat Athos ada di dalam kamarnya. Dia membawa baju seragam milik Melody yang kancing bajunya terlepas. Sepertinya dia sudah tahu apa yang menimpa adik perempuannya. Satu lagi masalah yang harus Melody jelaskan padanya.


"Kak, baju itu..."


"Biar kakak pasang lagi kancingnya." seru Athos. "Pantas saja kau pakai jaket Lion lagi. Jaket yang kemarin saja belum di kembalikan." Athos berjalan menuju pintu keluar.


"Kak, maaf." ucap Melody sehingga Athos menghentikan langkahnya tepat sebelum keluar kamar. "Kakak pasti sudah tahu kan?" Athos berjalan mendekati adiknya yang menatapnya dengan tatapan takut.


"Kau ingin membicarakannya sekarang?" tanya Athos. Melody hanya menatapnya dan tidak menjawab. dia pun mendekati Melody, dan duduk di sisi tempat tidur, sedangkan Melody duduk di kursi meja belajar yang berada tepat di depan tempat tidur. "Kau dan Felix sudah sedekat mana?" Athos mulai membuka topik pembicaraan.


"Kami hanya jalan dan menonton film bersama lalu dia mengantarku pulang." jawab Melody dengan sebenarnya. Dia tahu kalau dia tidak pandai berbohong karena itu dia selalu berkata jujur. Matanya akan memerah saat dirinya berbohong dan semua anggota keluarganya sudah tahu tentang hal itu.


"Kalian belum berpacaran kan?" tanya Athos lagi dan membuat Melody malu karena kata pacaran adalah kata tabu baginya.


Melody hanya menggeleng menjawabnya.


"Jangan temui dia lagi." lanjut Athos.


Melody sudah menduga kalau Athos juga akan melarangnya menemui Felix.


"Sebenarnya Felix itu seburuk apa sampai kalian bertiga sangat benci padanya?" seru Melody ingin tahu. "Felix itu orangnya baik kak. Dia baik padaku."


"Kalau di lihat dari wajahnya dia memang baik. Tapi tidak begitu. Dengar saja kata-kata kami, dan jangan dekati dia lagi."


"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" Melody menatap Athos dengan tatapan tajam. "Kalian tidak bisa buktikan padaku kalau Felix orang jahat. Bagaimana aku mau menurut?"


"APA KAU MAU MENGALAMINYA DULU BARU PERCAYA? BEGITU??" Athos mulai terlihat kesal. Nada bicaranya mulai meninggi. Mimi sampai takut dan naik ke pangkuan Melody. "Sudah jangan membantah terus." Athos mencoba untuk bersikap tenang dengan menurunkan nada suaranya.


"Baik kak. Aku tidak akan dekati dia lagi," jawab Melody karena tidak ingin membuat Athos semakin marah. "Aku akan coba."


"Bagus." ujar Athos tersenyum. "Ngomong-ngomong bagaimana sekolahmu? Apa sudah punya teman baru?" tanya Athos tetapi adiknya tersebut tampak malas menjawabnya. "Melo, kakak akan buat klub seni. Kau ikut klub itu ya? Kakak juga akan meminta Lion ikut."


Melody menggelengkan kepala menjawabnya sambil mengelus-elus Mimi.


"Jangan begini terus Melo! Kau harus bergaul dengan yang lainnya. Sebentar lagi kami bertiga lulus, dan akan sibuk dengan urusan kami masing-masing. Karena itu kau harus cari teman." Athos menatap Melody dengan sedikit kesal karena Melody sama sekali tidak menatapnya.


Melody terus mengelus Mimi kucing kesayangannya yang tertidur di pangkuannya, menunjukan kalau dia tidak tertarik dengan topik pembicaraan tersebut.


"Jangan hanya berteman dengan Lion saja! Cari teman yang lain karena suatu saat Lion pasti akan pergi."


Aku tidak peduli sekalipun dia pergi, bahkan mungkin itu lebih baik. lagi pula mau kemana si aneh Lion? Dia tidak akan pergi kemana-mana karena dia tidak akan bisa hidup tanpa neneknya tersayang, kata Melody membatin.