MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Auman Seekor Singa



Lion meletakkan kepalanya di atas meja sekolahnya. Dia merasa mengantuk mendengar guru bahasa sedang menerangkan beberapa bentuk majas.


Melody sebaliknya, dia terlihat sangat serius menyimak pembahasan demi pembahasan dari guru.


"Melon, kau tahu?" tanya Lion. "Sepertinya aku sudah membunuh seseorang. Aku membunuh orang yang menyakitimu."


Melody menoleh dengan terkejut mendengar ucapan Lion. Dia menatap Lion yang terlihat serius saat mengatakannya. Namun tiba-tiba Lion tersenyum lebar padanya.


"Itu salah satu contoh majas hiperbola atau ironi? Atau keduanya sekaligus?" tanya Lion mengangkat kepalanya. "Argh, kapan bel berbunyi? Aku lapar."


Melody bernapas lega karena Lion hanya asal bicara. Sejenak tadi dia berpikir kalau Lion benar-benar sudah membunuh seseorang karena tatapannya sangat serius mengatakannya.


"Lionel, maju ke depan!!" seru guru yang melihat Lion tidak menyimaknya. "Berikan contoh majas asosiasi!!"


Dengan langkah malas, Lion maju dan mengambil spidol lalu menulis sebesar-besarnya di papan tulis.


KEMARAHANKU BAGAIKAN AUMAN SEEKOR SINGA.


Setelah itu bergaya di depan kelas dengan mengacungkan kedua jari tangan kanannya berbentuk L sedangkan tangan satunya di masukan ke saku celana seperti kebiasaannya.


"L for Lion, Love, Lie and Lapar." senyum Lion.


Semua murid di kelas menyoraki tingkah anehnya itu. Lion memang terkenal dengan tingkah aneh yang natural di sekolahnya. Semua guru juga sudah sangat paham dengannya.


Bel langsung berbunyi, tanda pelajaran telah usai.


Lion langsung berlari ke tempatnya, merapikan buku-bukunya dan memasukannya ke tas.


"Hari ini kami akan merayakan kemenangan kami. Mereka memintaku mengajakmu." ucap Melody.


"Benarkah? Ke mana? Karaoke lagi?" tanya Lion.


Melody mengangguk.


"Baiklah, aku sudah banyak berlatih. Aku juga sudah mengurangi makanan berminyak dan tidak minum minuman dingin. Aku pasti akan bernyanyi lebih bagus dari kemarin."


Melody malas menanggapinya. Dia hanya tertawa dalam hati mendengar Lion yang berlaga seperti seorang penyanyi sungguhan yang akan konser.


...***...


Lion menari bersama teman-teman satu grup paduan suara Melody mengikuti irama saat di tempat karaoke. Lion terlihat semakin menjadi dibanding sebelumnya. Bersorak-sorak, melompat dan melambaikan tangan ketika siapa saja yang bernyanyi.


Melody memperhatikannya dan merasa ada yang berbeda pada Lion saat ini.


Kevin hanya duduk di ujung sofa masih memperhatikan Melody dan Lion.


Tidak beberapa lama, Lion keluar dari ruangan dan ke toilet. Dia membasuh wajah dan kepalanya dengan air di wastafel. Kevin mengikutinya.


"Ada apa?" tanya Lion yang tahu Kevin punya tujuan datang mengikutinya.


Lion menghadap ke Kevin yang berdiri di sampingnya.


"Sebenarnya aku tahu apa yang mau kau tanyakan padaku." ujar Lion. "Aku akan membuat beberapa kalimat pernyataan untukmu. Dan tebak mana kalimat pernyataan yang tidak sesuai."


Kevin mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti maksud dari Lion memintanya begitu.


"Pertama, Lion hanya bertetangga dengan Melody. Kedua, Lion hanya berteman dengan Melody, Ketiga, Lion hanya panggilan daruratnya Melody. Keempat, Lion hanya tukang ojeknya Melody dan yang terakhir. Kelima, Lion adalah pacar Melody." ujar Lion dengan berhitung menggunakan jarinya. "Mana yang menurutmu tidak sesuai?"


Kevin masih menyerap perkataan Lion dengan bingung.


"Astaga, sebenarnya itu sangat mudah. Satu-satunya kalimat yang tidak menggunakan kata 'hanya' adalah yang tidak sesuai." jawab Lion sendiri.


Kevin mendapat jawabannya, dia langsung menatap Lion.


"Kau menyukai Melody 'kan?" senyum Lion. "Katakan secepatnya padanya, aku sangat kagum pada pria yang bisa mengutarakan isi hatinya pada wanita yang disukainya."


Lion menepuk kedua pundak Kevin dengan kedua tangannya, setelah itu keluar.


Waktu karaoke sudah berakhir saat jam menunjukan pukul enam sore. Lion menunggu Melody di luar tempat karaoke karena Melody memintanya. Lion tahu kalau Kevin ingin berbicara dengan Melody mengenai perasaannya.


"Seharusnya dia memintaku pulang duluan dan tidak menunggunya." gumam Lion berdiri bersandar di tembok samping tempat karaoke.


Kevin mengajak Melody berbicara di koridor. Setelah mendengar perkataan Lion dia jadi yakin untuk mengungkapkan perasaannya pada Melody.


"Begini Melody, sejak aku melihatmu sejujurnya aku sudah mengira kalau kau wanita mengagumkan. Karena itu aku menyukaimu. Bagaimana kalau kita berpacaran?"


Melody mematung mendengar pernyataan cinta dari Kevin. Untuk pertama kalinya seorang pria memintanya menjadi pacarnya. Namun bukan rasa senang yang dirasakannya. Dia hanya merasa terkejut dan bingung harus menjawab apa.


"Bagaimana? Apa ini terlalu terburu-buru?" tanya Kevin menjadi bingung karena Melody tidak bereaksi. "Apa aku harus memberimu waktu?"


"Tidak usah." jawab Melody tanpa ekspresi. "Aku hanya mau bilang kalau ketiga kakakku tidak akan mengijinkan aku berpacaran dengan siapapun."


"Benarkah?"


"Lion?" tanya Kevin.


"Kecuali dia." jawab Melody.


Melody berjalan keluar dan langsung berdiri di samping motor Lion. Lion yang melihat kehadirannya langsung menghampiri.


"Ayo cepat kita pulang!!" seru Melody ketus sambil memakai helm.


Tanpa kata Lion menuruti dan memakai helmnya juga.


Tidak berapa lama mereka sampai di depan rumah Melody. Melody turun dari motor, memberikan helm pada Lion dan menatap Lion kesal.


"Ada apa?" tanya Lion.


"Kau tahu kan kalau Kevin akan memintaku menjadi pacarnya?" ujar Melody.


Lion melepas helmnya dan mengangguk.


"Kenapa kau tidak memberitahuku dulu sebelumnya?" ujar Melody. "Tadi itu benar-benar membuatku bingung harus jawab apa. Kalau tahu aku akan menghindarinya."


"Kau harus tahu itu tidak mudah untuknya. Setiap hari harus menderita karena tidak berdaya dengan perasaannya yang belum diungkapkan. Semuanya terasa tersangkut ditenggorokan tanpa bisa dikeluarkan. Itu sangat menyakitkan. Setidaknya kau menjawab perasaan tulusnya dan tidak menghindar agar dia bisa bernapas." ucap Lion tidak menatap Melody.


"Apa yang kau katakan? Saat bicara tatap lawan bicaramu!!" seru Melody mengulang perkataan Lion dulu padanya.


"Argghh sudahlah, aku lelah." pekik Lion langsung menjalankan motornya.


...***...


Athos dan Tasya makan malam di sebuah restoran yang cukup mewah. Atas permintaan Tasya yang ingin makan malam di tempat itu bersama kekasih tercintanya.


Tasya begitu senang karena Athos selalu saja sibuk mengurusi ini dan itu sehingga mereka tak punya waktu bersama.


"Aku sangat tidak sabar menunggu hari sabtu. Aku akan berdandan secantik mungkin saat hari ulang tahunmu." ucap Tasya dengan senyum merona di wajah cantiknya.


"Bagaimanapun kau tetap cantik." jawab Athos.


"Hah, pasti nanti banyak wanita yang datang 'kan? Awas saja kalau mereka menggodamu." ujar Tasya memanyunkan bibirnya. "Oh iya, kau ingin hadiah apa dariku, Ato?"


Athos tampak berpikir sejenak.


"Aku ingin sesuatu yang paling mahal dan sangat berharga." jawab Athos menatap Tasya.


"Tumben sekali. Biasanya kau paling tidak suka kalau aku mengha..."


"Kau..." sela Athos membuat Tasya langsung beranjak dari duduknya dan memeluk Athos. Tanpa memedulikan pandangan orang-orang disekitarnya.


"Seperti biasanya wanita ini tidak tahu tempat." ujar Dion yang tiba-tiba datang bersama beberapa teman wanita dan pria.


Melihat kehadiran Dion, Athos langsung berdiri dan maju untuk melindungi kekasihnya tersebut. Athos tertawa sarkas melihat Dion yang berlagak berani.


"Jadi yang mana pengawalmu?" tanya Athos dengan senyum mengejek.


Athos menatap teman-teman yang datang bersama Dion, mereka tampak takut karena mereka semua berada di tempat bowling saat Athos mengamuk.


"Pergilah, sebelum aku lepas kendali."


Satu per satu teman-teman Dion pergi, dan tinggalah Dion sendirian. Athos maju satu langkah mendekati Dion namun Dion mundur, takut.


"Kita lihat, sampai kapan kau berani menghinaku!!" seru Dion setelah itu menyusul teman-temannya.


Athos menoleh pada Tasya, dan Tasya tertawa melihat Dion yang sangat pengecut dihadapan kekasihnya.


...***...


Melody melihat Lion duduk dengan kepala tertunduk di beranda kamarnya. Sehelai handuk putih kecil menutupi kepalanya yang masih basah setelah mandi.


"Ada apa dengannya?" tanya Melody. "Seharian ini dia bertingkah aneh." gumam Melody langsung berbaring di tempat tidur.


...***...


Aramis masuk ke kamar Lion dan berjalan ke beranda menemui Lion yang masih pada posisi saat Melody melihatnya. Sejenak Aramis diam melihat sahabatnya itu.


"Itu bukan salahmu." ujar Aramis yang berdiri bersandar ke pagar beranda. "Mereka masih mencari pelaku yang menabraknya."


Lion mengambil handuk yang ada di atas kepalanya walau masih menunduk.


"Seharusnya aku tidak memutuskan pertemanan kami." ucap Lion memegang wajahnya dengan tangan kanannya.


"Sudah kubilang, punya banyak teman itu merepotkan!!"