MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Aku Akan Menjagamu



Lion dan Melody duduk di sebuah tempat makan. Waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang, waktunya makan siang.


"Aku rasa kali ini kau tidak perlu membayar hutangmu. Kali ini aku yang teraktir saja, kebetulan aku baru dapat kiriman dari orangtuaku." ujar Lion sambil bangkit berdiri dan meninggalkan Melody untuk membayar ke kasir sehabis makan.


"Bukannya semalam dia bilang mengajakku agar aku bisa membayar hutang?" gumam Melody merasa aneh melihat Lion yang menjauh.


Sehabis makan Lion dan Melody kembali mencari-cari permainan yang hendak mereka naiki. Hampir semua wahana di penuhi antrian karena itu mereka menjadi bingung.


"Sekarang kita naik apa lagi? Semua antriannya sangat panjang." ujar Lion yang berdiri di depan Melody melihat ke sekitar.


"Kita naik itu saja." ucap Melody menunjuk sebuah wahana.


"Ko...komidi putar?" tanya Lion melihat arah yang ditunjuk Melody. "Permainan seperti itu hanya anak-anak yang naik. Itu terlihat tidak keren." gumam Lion melihat pada Melody. "Tapi karena antriannya pendek, baiklah."


Lion dan Melody pun naik wahana tidak menantang tersebut setelah mengantri. Selain mereka hanya anak-anak yang menaikinya. Itu membuat Lion merasa malu.


"Ini benar-benar memalukan." bisik Lion pada Melody yang duduk di patung kuda yang ada di sebelahnya. "Kau pasti senang kan membuat aku tampak seperti orang bodoh? Kau jahat sekali Melon!!"


Melody menyembunyikan senyumnya dari Lion.


Sedangkan ketiga Musketeers sedang sibuk mencari dimana Lion dan Melody berada karena mereka bertiga kehilangan mereka setelah turun dari wahana Halilintar.


"Kemana mereka?" tanya Prothos sambil berputar memperhatikan sekelilingnya.


"Kita harus menemukan mereka sebelum si bodoh itu macam-macam pada Melo." seru Aramis juga sibuk mencari keberadaan mereka.


"Apa Lion pernah macam-macam pada Melo?" lirik Prothos pada Aramis.


"Selama ini memang tidak pernah tapi semua selalu ada yang pertama kan?!"


"Mustahil, Lion tidak akan berani karena dia tahu apa jadinya jika melakukan itu pada adik kita." ujar Prothos pada Aramis.


Athos mengambil handphone-nya dan menelepon Melody.


"Kau ada di mana Melo?" tanya Athos saat teleponnya di jawab oleh Melody.


"Aku? Aku... aku saat ini ada di toko buku kak, ada buku yang ingin aku beli." jawab Melody berbohonga karena dia tidak bilang pada kakaknya kalau akan pergi ke taman hiburan. "Ada apa kak Ato mencariku? Apa ada sesuatu?" tanya Melody.


Prothos merebut telepon Athos dan segera mematikannya.


"Apa yang kau lakukan bodoh?!" seru Prothos sebelum Athos sempat protes padanya karena merebut handphone-nya. "Dia tidak akan mengaku ada dimana, dan jika Lion tahu pasti dia akan curiga!!"


"Aku hanya cemas karena tidak menemukannya." jawab Athos.


Melody terkejut ketika telepon dari Athos tiba-tiba mati.


"Kenapa mati?" tanya Melody bingung sambil memperhatikan layar handphone-nya.


"Ada apa?" tanya Lion.


"Teleponnya tiba-tiba mati." jawab Melody. "Kenapa kak Ato tiba-tiba mematikan teleponnya?"


"Dia bertanya kau ada dimana ya?" tanya Lion lagi dan Melody hanya mengangguk kecil. "Lion melihat ke sekeliling memperhatikan sesuatu. "Dugaanku benar!"


"Kenapa?" tatap Melody.


"Ayo kita naik Kincir Angin!!" seru Lion sambil menunjuk wahana tersebut.


Mereka berdua segera berjalan menuju tempat antrian wahana Kincir Angin. Tanpa Melody sadari mereka berdua melewati ketiga kakak laki-lakinya yang sedang mencari keberadaannya dan Lion.


"Itu... itu mereka!!" seru Aramis saat Lion dan Melody melintas di depan mereka.


Kincir Angin berputar beberapa kali dengan kecepatan yang tidak lambat ataupun cepat, kecepatannya hanya seperti jantung ketika berdetak dengan normal.


"Pemandangan dari atas sangat bagus." ucap Lion memperhatikan keluar jendela saat berada di atas. "Aku benar-benar suka berada di tempat yang tinggi. Bagaimana denganmu, Melon? Kau suka tidak??"


"Apa?" tanya Melody duduk di hadapan Lion dan mengangkat kepalanya.


"Kau takut ketinggian?"


"Tidak! Aku tidak takut!!" jawab Melody berbohong padahal sebenarnya itu benar, dia takut pada ketinggian.


Athos, Prothos, dan Aramis mengikuti mereka berdua dan naik juga ke Kincir Angin, mereka berada di gondola sebelah memperhatikan Lion dan Melody sambil berusaha menghilangkan keberadaan mereka agar tidak disadari.


"Berisik!!" ujar Aramis yang duduk membelakangi gondola yang di naiki Lion dan Melody.


Aramis menyandarkan tubuhnya dengan mata tertutup. Walau dia sering berada di gedung yang tinggi namun berada di kincir angin tersebut adalah hal yang berbeda karena keamanan wahana tersebut diragukan olehnya.


"Kenapa Kincir angin ini terus berputar dan tidak berhenti?"


"Kau takut ketinggian kan?! Dasar penakut!!" ledek Athos. "Kenapa mereka berdua tidak naik permainan ini saja dari tadi. Aku suka permainan ini."


"Seharusnya kau khawatir!" ucap Prothos. ""Karena biasanya para pria akan mengambil kesempatan ketika berada di atas. Mereka pasti langsung beraksi karena tidak akan ada yang melihat!!"


"Apa?" Aramis membuka matanya dan langsung berbalik. "Akan aku bunuh anak itu kalau dia berani menyentuh Melo!!" ucap Aramis menatap Lion yang duduk menghadap pada gondola mereka.


"Bodoh! Kau bisa ketahuan kalau melihat mereka secara jelas seperti itu!!" ujar Prothos. "Bersikap biasa saja!!"


Tiba-tiba Kincir angin tersebut berhenti berputar ketika gondola mereka berada tepat di atas. Mereka semua terkejut dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Kenapa berhenti?" tanya Melody panik.


Lion mencoba mencari tahu sambil melihat ke bawah.


"Sepertinya ada masalah." jawab Lion. "Pasti ada yang macet atau rusak. Maklum saja wahana ini sudah tua."


"Apa yang kau katakan?" Melody semakin panik mendengar Lion. "Bagaimana ini? Kita harus bagaimana? Aku ingin turun!!"


"Pengumuman, kami minta maaf karena terjadi gangguan pada mesin Kincir Angin, kami mohon penumpang menunggu dengan sabar dan tidak panik. Secepat mungkin kami akan menjalankan kembali Kincir Angin. Sekali lagi kami mohon maaf atas gangguan ini." suara pemberitahuan terdengar.


"Tenanglah!! Selama gondola ini tergantung dengan benar kita tidak perlu khawatir. Tunggu saja mungkin setengah hingga satu jam akan kembali berputar." ujar Lion kembali duduk dengan santai. "Aku mengantuk, aku akan tidur selagi menunggu."


Setelah itu Lion menutup mata dan bersandar lalu memasang earphone ketelinganya.


Melody duduk dengan tegang. Dia tidak bisa bersikap santai seperti Lion. Kecemasan benar-benar menyerangnya. Dia memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi jika mereka tidak segera turun, itu membuatnya ingin menangis namun dia tidak ingin jika Lion melihatnya menangis.


Lion membuka mata dan menatap Melody yang menundukan kepala dengan tegang.


"Jangan khawatir, kau tidak sendirian disini." ucapnya, namun Melody tidak merespon. "Kau dengar aku kan?" Lion yang duduk di hadapan Melody memajukan tubuhnya dan memegang lengan kiri Melody untuk mengetahui keadaan gadis itu.


"Apa yang dia lakukan?!" seru Aramis ketika melihat Lion memajukan posisi duduknya. "Dia benar-benar mencari kesempatan dalam keadaan ini! Aku akan keluar untuk memanjat dan menghampirinya. Akan aku bunuh dia!!"


"Diamlah Ars!! ujar Prothos. "Kau jadi semakin membuat aku bingung harus apa."


"Sampai kapan Kincir Angin ini tidak jalan?!" gumam Athos.


Lion merasa kalau tubuh Melody sangat menegang dan bergetar saat ini, wajahnya juga tampak pucat.


"Lihat aku, Melon!!" seru Lion.


Melody mengangkat kepalanya dan menatap Lion.


"Kau baik-baik saja, aku juga ada disini, kau tidak sendiri. Aku akan menjagamu jadi jangan berpikir yang tidak-tidak. Kau mengerti?"


Dengan ragu Melody mengangguk kecil.


"Bagus, sekarang ambil napas panjang dari hidung dan buang perlahan dari mulut!" ujar Lion.


Melody segera melakukan perintah Lion.


"Dan sekarang kau bersandar. Tidak lama lagi aku yakin Kincir Angin ini akan berjalan kembali." lanjut Lion kembali duduk bersandar.


"Kau hanya menakut-nakuti kami Oto!" ujar Athos saat Lion kembali menjauh dari Melody. "Yang kau maksud pria-pria yang biasanya mencari kesempatan itu adalah kau sendiri kan?!"


Prothos tertawa mengelak. "Ternyata Lion benar-benar bodoh!!"


"Apa yang kau katakan?!" tatap Aramis pada Prothos. "Jangan bilang kau malah ingin si bodoh itu mengambil kesempatan yang kau bilang itu!! Aku akan membunuhmu, Oto!!" Aramis menarik Prothos dengan geram.


Kincir angin kembali berputar setelah lima belas menit. Mereka semua turun dari wahana tersebut. Sebagian orang terlihat kesal dan sebagian lagi tampak ketakutan dengan gangguan yang terjadi.


Ketiga kakak Melody melakukan protes pada pihak management untuk meminta ganti rugi karena merasa apa yang terjadi membuat para penumpang merasa dalam bahaya hingga psikologi mereka terganggu.


"Sebaiknya kita pulang sekarang." ujar Lion sambil memberikan jaketnya pada Melody yang semakin terlihat pucat.