MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Musuh Dalam Selimut



Lion yang berada di dalam selimut bersama Melody membuat ketiga kakak Melody naik pitam. Mereka bertiga memojokan Lion dengan penuh amarah yang memuncak.


"Memangnya apa yang aku lakukan?" tanya Lion membela diri. "Aku hanya bersembunyi tadi tapi tiba-tiba Melon masuk dan langsung naik tempat tidur. Aku juga terkejut tadi."


Melody mencoba tenang dan melihat ketiga kakaknya yang sudah dipenuhi tanduk merah, terbakar amarah.


"Iya, itu benar." ucap Melody membela Lion karena dia takut ketiga kakaknya akan memukuli Lion. "Aku tidak tahu dia bersembunyi di balik selimut."


"Aku ini anak baik! Kalian dengar kan?" seru Lion.


Anna tertawa melihatnya dan langsung merangkul Lion. Tasya juga ikut tertawa melihat situasi lucu tersebut.


"Kalian bertiga ini... ckckckck..." ujar Anna yang merangkul Lion sambil mengajak Lion berjalan keluar kamar. "Terimakasih ya Lion." bisik Anna.


Lion hanya bingung mendengarnya dan tidak mengerti.


Ketiga kakak laki-laki Melody yang sudah tersulut emosi membuang napas.


"Hampir saja aku berniat membunuhnya." gumam Aramis.


Prothos tertawa lega sambil mengusap-usap wajahnya.


Sedangkan Athos mengelus kepala Melody dengan perasaan berterimakasih karena sudah menyelamatkannya dari serangan Tasya ketika dia pun hampir kehilangan kendali.


Tasya hanya tersenyum melihat Athos.


Namun tidak dengan Jessica yang terlihat cemberut.


...***...


Melody terbangun ketika mendengar Anna meringis dalam tidurnya. Dia menghidupkan lampu di meja dan melihat Anna keringat dingin dengan mengigau.


"Kak Anna, kau baik-baik saja?" tanya Melody.


Melody memegang kening Anna dan suhu tubuhnya terasa sangat panas. Melody bingung harus bagaimana. Yang terpikirkan hanya meminta bantuan Lion.


"Ada apa, Melon? Sekarang sudah jam dua malam. Kau belum tidur?" tanya Lion menjawab telepon dari Melody.


"Lion, kak Anna sakit." jawab Melody.


"Ada apa?" tanya Aramis yang masih bermain game berdua dengan Lion di ruang TV.


"Melon bilang, Anna sakit."


Mendengarnya, Aramis langsung bergegas menaiki tangga dan masuk ke kamar Melody dan Anna.


"Ada apa?" tanya Prothos yang keluar kamar bersama Athos.


"Anna sakit." jawab Lion.


"Anna, kau baik-baik saja?" tanya Aramis yang melihat Anna meringis kesakitan di perutnya.


Anna tidak menjawab dan hanya meringis kesakitan.


"Aku akan membawanya ke rumah sakit." seru Aramis pada semuanya dan langsung menggendong Anna.


"Aku ikut, kak." ujar Melody.


Aramis membawa Anna ke dalam mobil dimana Lion sudah berada di sana. Melody duduk di kursi depan samping Lion yang menyetir.


"Lion, kita ke rumah sakit terdekat saja." ujar Aramis sangat cemas dengan membiarkan Anna tidur bersandar padanya di kursi belakang.


Sesampainya di rumah sakit Aramis langsung membawa Anna ke ruang IGD, dan dokter langsung memeriksanya.


"Bagaimana dok?" tanya Aramis pada dokter yang memeriksa.


"Kemungkinan Maag-nya sudah akut. Seharusnya dia tidak boleh terlambat makan apalagi sampai tidak makan. Tapi untuk lebih pastinya lebih baik kita lakukan USG." jawab dokter.


Mendengarnya Aramis menatap Anna yang sudah lebih baik dan sadar, Anna membuang muka darinya.


Aramis keluar dari ruang IGD menghampiri Lion dan Melody.


"Lion, kau dan Melo pulang saja ke rumah lebih dulu." ujar Aramis. "Aku tetap disini bersama Anna. Aku akan mengabari yang lainnya juga agar mereka juga pulang saja."


"Baiklah." jawab Lion.


Aramis kembali masuk ke tempat Anna berbaring. Anna melihat kehadirannya.


"Lebih baik kau pulang saja." ucap Anna. "Aku sudah menghubungi paman, dia akan ke sini. Kau dengar tidak?"


Aramis menoleh menatap Anna tajam.


"Apa kau tidak memakan makan malammu tadi?" tanya Aramis menatap Anna tajam. "Seharusnya aku memperhatikan makanmu agar tidak begini."


"Astaga, pasti kau mau bilang karena aku anjingmu 'kan?" ujar Anna kesal. "Aku masih kesakitan, jangan memancing emosiku."


"Aku mencemaskanmu, bodoh!!" ucap Aramis. "Kau hanya hidup sendirian tidak ada yang memperhatikanmu."


Aramis menatap kesal Anna namun berjalan mendekati gadis itu.


"Tidurlah dulu, aku akan tetap disini." ucap Aramis sambil mengusap rambut poni Anna.


Anna hanya diam menatap Aramis walau sebenarnya dia enggan menuruti kata-katanya. Akan tetapi dia tidak punya tenaga untuk berdebat.


...***...


Lion bersama Melody dalam perjalanan pulang ke rumah. Melody menutup matanya mencoba untuk tidur.


"Heh, jangan tidur! Temani aku menyetir." pinta Lion. "Kau masih dengar aku kan?"


Melody membuka matanya dan melihat Lion.


"Jalanan masih gelap, aku takut ada hantu." ucap Lion. "Kalau kau tidur aku akan mengantuk juga. Bahaya 'kan?"


"Kau sering bergadang dengan kak Ars, pasti kuat dan tidak akan mengantuk." gumam Melody melihat keluar jendela mobil.


"Apa? Kau bilang apa?" tanya Lion sesekali menoleh ke Melody. "Saat bicara tatap lawan bicaramu!!"


"Mana ada hantu, kau ini bukan anak kecil." ujar Melody menatap Lion.


"Kau lupa ya, kau ketakutan saat melihatku di balik selimut 'kan? Pasti kau pikir kalau aku hantu 'kan?" kata Lion kesal. "Karena kau, mereka bertiga berniat mengeroyokku!! Tidak habis dipikir, padahal aku pun sama terkejutnya tadi. Kenapa kau tidak menghidupkan lampunya dulu?"


"Kenapa jadi menyalahkan aku? Siapa suruh kau bersembunyi di balik selimut, dan itu bukan tempat tidurmu!!" ujar Melody tak mau kalah. "Kalau tahu kau menyalahkan aku seperti ini, seharusnya aku biarkan mereka memukulimu!!"


"Kau ini memang tega sekali, Melon." gumam Lion. "Kalau terus seperti itu tidak akan ada yang menyukaimu. Di tambah ketiga kakakmu seperti itu, hah, tidak akan ada yang berani mendekatimu!!"


Melody terdiam mendengar perkataan Lion. Dia berpikir kalau Lion ada benarnya juga. Selama ini tidak ada pria yang mendekatinya karena ketiga kakaknya. Bahkan Felix yang mendekatinya pun adalah orang yang tidak disukai ketiga kakaknya.


"Kenapa diam?" tanya Lion tersadar perkataannya salah. "Maaf, aku hanya asal bicara."


"Kau benar. Mereka bertiga pasti tidak akan membiarkan siapapun mendekatiku." ucap Melody menoleh pada Lion. "Selama ini tak ada yang benar-benar mendekatiku pasti karena ketiga kakakku."


"Sudah kau tidur saja. Aku paling tidak suka mendengar kau banyak bicara." seru Lion.


Melody terdiam dan mengikuti perkataan Lion untuk tidur. Tidak berapa lama dia pun terlelap.


Lion menoleh menatap Melody yang sudah pulas.


"Lihat saja, dengan sekali pukulan aku akan menghancurkan mereka bertiga."


...***...


Ketika jam tujuh pagi, Aramis kembali ke ruang IGD tempat Anna masih menunggu hasil USG setelah pergi sarapan saat Anna tertidur tadi.


"Aku merindukan ibu, paman." ucap Anna membuat langkah Aramis terhenti sebelum membuka tirai penutup.


Paman sudah datang. batin Aramis.


"Semakin lama ini semakin berat paman, aku sangat merindukan ibu hingga napsu makanku hilang." tambah Anna menangis.


Paman Ronald hanya menepuk pundak Anna untuk menenangkannya.


"Ibu selalu memberiku hadiah setiap kali aku peringkat pertama. Apapun pasti ibu berikan tak peduli apakah aku ingin atau tidak, atau apakah aku sudah punya atau tidak. Dia akan membelikannya, walau hadiah yang diberikan tidak seberapa tapi ibu selalu memberikannya. Dan ini untuk pertama kalinya hadiah itu tidak ada, aku jadi makin merindukannya."


"Jangan menangis lagi, ibumu akan sedih melihatmu seperti ini." ucap paman Ronald. "Dokter bilang kau harus di rawat beberapa hari, tapi aku sudah minta ijin agar merawatmu di rumah. Jadi kita sudah bisa pulang."


"Paman..." panggil Anna. "Aku tidak ingin dirawat di rumah kalian, aku mau dirawat di rumahku saja."


"Baiklah, tidak masalah."


"Paman sudah datang? Kapan paman datang?" ujar Aramis membuka tirai.


Anna menghapus air mata di wajahnya.


"Sekitar setengah jam lalu. Aku langsung jalan saat Lion dan Melo sampai." jawab paman Ronald. "Baiklah, aku akan mengurus administrasi dulu, sebelum pulang. Jaga dia, Ars."


Sepeninggalan paman Ronald, Aramis duduk di kursi samping tempat tidur dan Anna memainkan handphone-nya.


"Kau sudah sarapan?" tanya Aramis.


"Hhmm..." jawab Anna masih memainkan handphone.


"Lebih baik istirahat, jangan bermain handphone!!" seru Aramis langsung mengambil handphone Anna dan mengantonginya. "Ngomong-ngomong, kau peringkat pertama di tingkat sebelas ya? Tidak aku sangka wanita sepertimu ternyata pintar juga."


Anna diam saja dan menatap Aramis.


"Apa yang kau ingin 'kan?" tanya Aramis. "Aku akan memberikan hadiah untukmu."


"Kau mendengarnya ya?" tatap Anna dengan mata kembali berkaca-kaca.


Aramis langsung memeluk Anna yang mulai menangis kembali.


"Jangan seperti ini. Mulai sekarang bilang padaku saat kau merindukan ibumu. Aku pasti akan menghiburmu."