
Athos dan Tasya memasuki sebuah butik mewah. Berbagai macam gaun pengantin berada di setiap sudut dengan manekin yang memakainya. Dua orang karyawan butik tersebut langsung menghampiri mereka.
"Apa kau nona Natasya Janitra?" Tanya salah seorang karyawan yang menghampiri mereka.
Tasya tersenyum menjawabnya.
"Ibu anda sudah memesan beberapa gaun pengantin, silakan ikut kami untuk mencobanya."
"Ato, tunggu sebentar ya." Ucap Tasya memegang lengan Athos yang berdiri di sampingnya.
"Apa anda calon pengantin pria-nya?" Tanya karyawan tadi pada Athos.
"Bukan." Jawab Athos. "Setidaknya bukan dalam waktu dekat ini."
Kedua karyawan itu bingung mendengar jawaban Athos, sedangkan Tasya tersenyum sambil merangkul lengan Athos. Hal itu membuat kedua karyawan itu semakin heran.
"Baiklah, aku mencoba gaun-gaunnya dulu ya, Ato." Ujar Tasya setelah itu pergi bersama kedua karyawan butik itu.
Tasya memakai sebuah gaun pengantin putih yang bawah bagian belakangnya panjang dan terseret. Dan kepalanya memakai veil atau tudung kepala. Dia tampak anggun memakainya.
"Anda sangat cantik sekali memakainya." Ucap salah satu karyawan.
"Aku tidak suka, carikan aku gaun yang biasa saja." Jawab Tasya membuat kedua karyawan butik yang bersamanya bingung. "Aku tidak akan benar-benar menikah, jadi gaun ini terlalu bagus untuk acara pernikahan yang akan batal itu."
Mereka berdua langsung saling tatap mendengar ucapan Tasya. Apa yang dikatakan Tasya membuat mereka sangat bingung.
"Yang di luar itu pacarku, aku akan menikah dengannya dan bukan dengan tunanganku. Aku yakin dia akan berbuat sesuatu agar pernikahannya batal."
Salah satu dari karyawan yang usianya tidak jauh dari Tasya melihat keluar tirai ruang fitting, melihat pada Athos yang sedang duduk di sofa sambil menelepon Sandy, sibuk dengan urusan café.
"Jangan bilang kalau dia salah satu dari Musketeers yang sempat viral videonya? Kau wanita itu, wanita yang sudah punya tunangan itu?"
"Ya benar, itu aku, dia pacarku." Jawab Tasya senang seseorang mengenali mereka. Dalam sekejap mereka langsung akrab.
"Pantas saja aku seperti tidak asing melihat kalian." Ujarnya lagi. "Aku mendukung kalian, kalian harus menentukan hidup kalian sendiri. Kau beruntung sekali mendapatkannya, aku iri padamu."
Tasya tersipu malu sekaligus senang mendengar perkataan karyawan itu.
"Apa yang akan dilakukannya pada pernikahan itu?"
Tasya menggeleng tidak tahu. Walau tidak tahu tapi dirinya sangat yakin jika Athos akan berbuat sesuatu agar dia tidak menikah.
"Tapi aku yakin pernikahan itu akan batal." Ucap Tasya.
"Baiklah, biarkan pacarmu melihatmu memakai gaun ini lalu kita cari gaun lainnya untuk pernikahan yang akan batal itu." Seru karyawan yang lebih berumur.
Mereka langsung membuka tirai ruangan tersebut, dan Athos yang baru saja menutup teleponnya melihat Tasya dibalutan gaun pengantin yang membuatnya terlihat sangat cantik elegan.
"Bagaimana menurutmu? Pacarmu jadi semakin cantik kan?" Tanya karyawan yang lebih muda pada Athos.
"Tidak, gaun itu yang menjadi terlihat lebih cantik karena dipakai olehnya." Jawab Athos sambil berjalan mendekati Tasya. "Kau akan memakai ini?"
"Bagaimana kalau kau mencoba salah satu jas atau tuksedo pengantin, dan berfoto bersama, kebetulan kami sedang mencari model untuk butik ini." Ujar karyawan senior. "Kau memiliki tubuh yang bagus dan tampan, kau cocok untuk menjadi model pria, pasti kalian sangat terlihat serasi."
"Baiklah, ayo Ato cepat ganti pakaianmu." Sambar Tasya tak memberikan Athos waktu berpikir dan menjawab.
Setelah dipilihkan oleh kedua karyawan butik tersebut, akhirnya Athos mengenakan tuksedo putih agar terlihat sesuai dengan gaun pengantin yang dipakai Tasya.
"Kalian berdua benar-benar serasi." Komentar karyawan junior yang terlihat gemas pada pasangan itu. "Aku iri sekali."
"Kau sangat sangat sangat tampan Ato, aku jadi merasa ini pernikahan kita." Ucap Tasya.
Athos hanya bisa memegang tangan Tasya mendengar ucapan kekasihnya itu.
Tidak berapa lama mereka berdua pun difoto oleh seorang fotografer di butik tersebut. Tasya sangat senang dan terlihat antusias sekali. Dia terus saja menempel pada Athos dan yang mengarahkan gaya Athos. Sedangkan Athos hanya menurutinya saja dengan menahan rasa canggungnya karena ini pertama kali untuk dirinya difoto seperti itu.
"Ahh, ini lucu sekali." Ucap Tasya saat melihat hasilnya di kamera. "Akhirnya aku tidak perlu mengedit wajah Oto lagi seperti waktu itu." Lanjut Tasya membuat Athos tertawa.
"Saat kalian menikah, kalian harus mengundang kami." Ucap karyawan senior.
Athos menoleh pada Tasya dan langsung berpikir apa yang dikatakan kekasihnya itu pada mereka sehingga mereka berkata seperti itu. Tetapi Tasya hanya tersenyum melihat tatapannya, lalu mengangguk menjawab perkataan karyawan tadi.
Tiba-tiba pintu ruangan dimana mereka berada terbuka dan muncul Dion dari balik pintu. Wajah Dion langsung berubah tidak senang saat melihat Athos bersama Tasya karena mereka memakai pakaian pengantin.
Tasya yang melihat kehadiran Dion sedikit takut namun keberadaan Athos disana membuatnya berani jika berhadapan dengan Dion. Keadaan langsung hening seketika. Kedua karyawan butik memperhatikan mereka.
"Sedang apa kau disini bersama calon pengantinku?" Seru Dion kesal walau masih terlihat takut pada Athos karena saat ini dia sendirian.
Athos berjalan mendekati Dion yang mundur sedikit karena takut jika saja Athos memukulnya. Namun Athos hanya mencengkram baju Dion agar mendekat dengannya dan menatap matanya. Wajah mereka saling menatap dekat.
"Kau bilang calon pengantinmu?" Tatap Athos tajam. "Dengarkan aku, ketika aku berada disana kau tidak akan menikah dengan Tasya. Aku akan memastikan itu!!"
Setelah itu Athos melepaskan Dion. Dengan kesal Dion langsung pergi dari tempat itu karena takut jika saja Athos memukulinya lagi.
...***...
Widia memeluk kedua kakinya dan duduk di atas tempat tidurnya. Dia memikirkan semua perkataan Wilda tadi siang. Namun kenyataan yang dia dengar mengenai Prothos dan Wilda yang tidur bersama membuatnya sangat bersedih. Prothos mengkhianatinya sama seperti mantannya mengkhianatinya dulu. Widia menjadi sangat terluka sekarang. Namun rasa cintanya pada Prothos masih begitu besar, dia tidak bisa langsung membenci pemuda itu.
Widia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia sama sekali tidak mengira kalau gadis yang terlihat polos itu mengancamnya dengan tegas. Padahal sebelumnya dia merasa kalau semuanya masih bisa diperbaiki seiring berjalannya waktu, karena Prothos sendiri pun masih tidak terima dengan keputusan Widia yang ingin berpisah darinya.
Tiba-tiba pintu apartemennya terbuka dan muncul Prothos dari balik pintu. Widia segera turun dari tempat tidur dan menghampirinya. Prothos langsung memeluk Widia.
"Aku mohon padamu, maafkan aku. Aku sudah tidak kuat lagi merasakan ini. Aku memang sudah mengkhianatimu, tapi semua itu karena dia menjebakku, Widi." Pinta Prothos dipelukan Widia. "Dia hanya berpura-pura polos, bahkan dia memintaku ke apartemennya saat aku tidak sadarkan diri karena mabuk waktu itu, dan tanpa sadar kami melakukannya. Dia membuatku berpikir kalau saat itu adalah dirimu."
Widia melepas pelukannya, air matanya sudah membanjiri wajahnya. Dia menatap Prothos yang benar-benar terlihat kacau saat ini. Tampilan maskulin yang biasa diperlihatkan dari dirinya saat ini tertutup dengan air mata penyesalan dalam dukanya. Widia tidak tega melihatnya, dia bukan lagi Prothos yang dia tahu selama ini.
'Tidak, sejak awal dirinya memang seperti ini, wajah tampan dan sikap dewasanya menutupi sifat sensitif dan mudah rapuh di dalam dirinya.' Batin Widia.
"Aku akan memikirkan semuanya sekali lagi. Berilah aku waktu." Hanya kalimat itu yang bisa dikatakan oleh Widia pada pemuda itu.
...@cacing_al.aska...