
Lion masuk ke sebuah coffee shop, dengan kedua tangan di saku celananya dan mengunyah permen karet, dia melihat sekitar, mencari seseorang yang ingin dia temui. Seorang pria yang sudah dia kenal namun belum berteman dengannya.
"Maaf ya, aku telat. Tadi harus menjenguk Anna dulu di rumah sakit." ujar Lion duduk di hadapan seseorang yang memakai topi hitam.
"Aku juga baru sampai sepuluh menit yang lalu. Bagaimana keadaan Anna?" tanya orang itu yang ternyata adalah David.
"Sepertinya tidak ada yang serius." jawab Lion memanggil pramusaji dengan tangannya lalu memesan minumannya.
"Apa sebaiknya aku menjenguknya?" tanya David.
"Ayolah kawan, aku tidak perlu menjawabnya kan?"
"Jadi apa tujuanmu ingin bertemu denganku? Sepertinya ada hal yang mau kau bicarakan." ucap David.
"Apa harus ada alasan khusus bertemu denganmu?" tatap Lion. "Aku hanya ingin berteman denganmu, apa tidak boleh?"
David tertawa skeptis.
"Ya, aku memang dengar banyak hal tentangmu. Kau mudah bergaul dengan siapa saja dan memiliki banyak teman dimana pun, dan dari berbagai kalangan. Tapi, kau adalah sahabat dari rivalku."
"Kau ini bicara apa? Rival? Maksudmu Ars?" tatap Lion. "Kau terlalu menganggapnya serius. Ayo kita berteman."
"Apa untungnya berteman denganmu?"
Lion merubah posisinya dan menatap David serius.
"Aku bisa membantumu mendapatkan apa yang tidak kau dapatkan." ucap Lion. "Sebagai gantinya, lindungi aku."
...***...
Aramis menyuapi Anna makan karena tangan kanan Anna sedang tidak bisa banyak bergerak. Hubungan mereka memang semakin dekat setelah kejadian di kamar Anna, saat Aramis menahan Anna agar tidak pergi bersama David. Namun tak ada satupun dari mereka yang berani mengatakan yang sejujurnya tentang perasaan mereka ke satu sama lain.
"Aku tidak suka makanan rumah sakit." keluh Anna menolak suapan Aramis lagi. Baru dua suap tetapi Anna sama sekali tidak napsu menghabiskan makanannya.
"Jangan banyak mengeluh. Kau harus banyak makan agar cepat sembuh." jawab Aramis menyodorkan sesendok nasi beserta lauknya.
Anna menolaknya dengan menahannya dengan tangan kirinya.
"Seharusnya mereka tidak memberikan makanan hambar padaku. Aku hanya luka ringan dan tidak harus menjaga makanku."
Aramis menjadi kesal dan meletakan makanannya ke meja.
"Ars, belikan aku pizza." pinta Anna merayu dengan senyum. "Aku akan langsung sembuh setelah memakannya."
Aramis hanya diam saja menatap Anna. Dia sedang tidak ingin berdebat karena masih mengkhawatirkan kondisi Anna, namun dia juga tidak mau menuruti permintaan Anna.
"Iya, baiklah nanti aku habiskan makanannya." ujar Anna yang mengerti dengan sikap Aramis.
Drrrrtt!! Drrrrtt!!
Handphone Aramis bergetar, dia segera menjawabnya.
"Tidak ayah, aku tidak akan pergi kesana." jawab Aramis di ujung telepon dan tidak lama menutup teleponnya.
"Ayahmu? Dia menyuruhmu kemana?" tanya Anna. "Oh iya, aku ingat, semalam kau bilang ingin ke galeri lukisan siang ini 'kan? Pergilah, maaf ya aku tidak bisa menemanimu."
"Aku tidak pergi." jawab Aramis.
"Kenapa tidak?" tanya Anna heran.
"Kau masih bertanya kenapa? Aku ingin mengajakmu kesana, tapi lihat sekarang."
"Kau bisa pergi tanpaku."
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi." ucap Aramis menatap lekat Anna.
Anna tertegun mendengar jawaban Aramis. Dia merasa senang namun dia tidak ingin Aramis tahu akan hal itu.
"Aku akan menemanimu siang dan malam." tambah Aramis masih menatap Anna yang terhipnotis dengan kata-katanya.
Aramis mendekati wajahnya ke wajah Anna dan hendak mencium Anna.
Tiba-tiba Anna mendengar langkah seseorang datang dan bersamaan dengan tirai yang dibuka, Anna memukul wajah Aramis dengan tangan kirinya sebelum bibir mereka bersentuhan.
"Jangan berteriak di rumah sakit! Kau mengganggu pasien lainnya." seru paman Ronald yang datang. "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku rasa sudah lebih baik, walau jahitan ini kadang masih terasa perih." jawab Anna menunjuk dahinya yang berbalut perban.
"Nanti setelah makan malam, akan dilakukan prosedur rontgen di kepalamu, dan sekalian menunggu hasilnya besok pagi kau bisa pulang. Aku rasa tidak ada luka serius lainnya." ujar paman Ronald.
...***...
Prothos masuk ke ruang ganti di café setelah tiba disana. Wisnu sedang beristirahat disana.
"Kemarin kau tiba-tiba pergi, apa terjadi sesuatu?" tanya Wisnu pada Prothos yang berganti pakaian.
"Tidak, aku hanya ingin pergi untuk menemui seseorang." jawab Prothos. "Ngomong-ngomong apa yang terjadi dengan kakakmu? Kemarin aku tidak sengaja mendengar percakapan saat menelepon seseorang."
"Aku rasa aku tidak akan menceritakannya padamu. Dia itu gurumu kan? Nanti kalau dia tahu, dia pasti membunuhku." jawab Wisnu sambil bangkit berdiri dan keluar ruangan.
"Ya, dia guruku." gumam Prothos.
...***...
Diam-diam Tasya masuk ke dapur di café saat pengunjung tidak terlalu ramai, dan sudah pergantian shift. Dia ingin menemui Athos untuk membicarakan sesuatu dengannya. Di sana hanya ada Athos dan Sandy.
"Ato, besok kakak temanku bertunangan. Kau bisa menemaniku kan?" tanya Tasya menatap Athos yang sedang sibuk memotong kubis.
"Tidak masalah." jawab Athos. "Sebaiknya kau keluar dulu Tasya."
"Acaranya jam tujuh malam."
"Iya aku mengerti. Nanti kita bicarakan lagi ya." jawab Athos tersenyum agar Tasya segera keluar dari dapur.
"Tapi masalahnya, temanku juga pengunjung tetap di café." ujar Tasya memanyunkan bibirnya karena tahu Athos akan langsung menolaknya.
"Ingatlah Tasya, Ato tidak boleh punya pacar oleh para pemujanya di café, dan di peraturan juga dilarang." seru Sandy membantu Athos menjawab Tasya.
"Masa aku harus pergi sendirian." gumam Tasya. "Ayolah Ato, akan sangat memalukan jika aku pergi sendirian ke acara pertunangan seseorang."
"Bagaimana jika denganku, Tasya?" ajak Prothos yang tiba-tiba muncul. "Kau tahu kan, para wanita di café tidak pernah mempermasalahkan aku mau berpacaran dengan siapa saja, apalagi ini hanya menemanimu ke pesta itu."
"Pergilah dengan Oto, Tasya." ujar Athos.
Tasya sebenarnya kesal karena tidak bisa pergi dengan Athos. Tapi mau tidak mau dia menerima kalau harus pergi bersama Prothos.
"Sebelumnya temani aku dulu ke dokter dan salon kecantikan ya, Oto?" ucap Tasya mengambil nilai positifnya karena Prothos pasti akan mau pergi bersamanya ke tempat itu, dan ikut perawatan juga.
"Baiklah, sudah lama juga aku tidak merawat kulitku. Lihat, ini sudah sangat kasar." jawab Prothos memegang kedua pipinya.
Athos dan Sandy hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Prothos.
"Kalian berdua juga sebaiknya menjaga kulit kalian!! Setiap hari kalian kena panasnya kompor, kalian akan tua sebelum waktunya!!" seru Prothos pada Athos dan Sandy.
Tasya mengangguk-angguk setuju.
"Ayo keluar Tasya, berada di tempat panas ini membuat wajah tampanku akan rusak." ujar Prothos sambil berjalan keluar.
Sebelum keluar Tasya memberikan bentuk hati dengan jarinya kepada Athos.
Athos tersipu malu karena ada Sandy disana.
"Aku rasa sebaiknya tidak masalah jika menghilangkan peraturan itu, Ato." ucap Sandy menoleh pada Athos. "Ayahmu sudah menyerahkan café sepenuhnya padamu kan? Dan lagi, jika kau bersungguh-sungguh dengan Tasya, seharusnya kau tidak perlu memikirkan hal lainnya."
Athos mendengarkan perkataan Sandy sambil mengupas wortel.
"Bagaimana dengan perijinannya? Apa perlu aku yang kerjakan?" tanya Athos menatap Sandy serius.
"Lion sedang mengurusnya, tapi dia bilang harus menyerahkan sample-nya agar diteliti lebih dulu." jawab Sandy. "Aku masih mengusahakannya agar bisa selesai secepatnya, aku berusaha agar produk ini benar-benar bagus."
"Apa perlu kita minta bantuan Wisnu?" tanya Athos.
"Ya, mungkin semakin banyak yang membantu semua semakin cepat selesai." jawab Sandy.