
Prothos menatap Melody yang mulai menangis karena ketakutan. Saat ini posisi mobil Prothos sudah terkepung oleh Bara dan pasukannya. Bara tersenyum mengejek dari luar dan memberi isyarat agar Prothos keluar dari mobil. Prothos sama sekali tidak takut namun keberadaan Melody membuatnya gusar, dia tidak ingin melibatkan adiknya itu dalam masalah seperti ini.
"Melo, dengarkan kakak. Ambil handphone-mu dan rekam semuanya. Dan jangan keluar dari mobil. Kau mengerti?" tanya Prothos mengusap kepala adiknya yang gemetar. "Ato dan Ars sudah dalam perjalanan juga. Aku akan mengulur waktu sampai mereka berdua datang."
"Tapi mereka banyak sekali, kak. Kalian bertiga tidak akan bisa melawan mereka." jawab Melody menatap Prothos yang tampak masih tenang. "Bagaimana kalau kita melapor polisi saja? Aku telepon polisi sekarang."
"Tidak Melo, ini hanya pertarungan biasa. Mereka hanya ingin bersenang-senang dengan kakakmu ini." senyum Prothos sambil melepas sabuk pengamannya. "Kakak akan meladeni mereka."
"Jangan keluar, kak!!" seru Melody menangis.
"Ingat, apapun yang terjadi jangan keluar dari mobil. Kunci mobilnya. Mengerti?"
Melody mengangguk walau terpaksa.
Prothos keluar dari mobil dan menghampiri Bara dengan tenang. Tak ada sedikit pun gurat ketakutan di wajahnya. Malah dia tersenyum pada Bara sehingga membuat musuhnya itu semakin kesal. Ayahnya selalu mengajarkan untuk tidak takut pada apapun.
...***...
Lion yang meluncur dengan motornya menghubungi seseorang dengan earphones yang terpasang di telinganya. Dia sangat mengkhawatirkan Melody saat ini. Dia tidak ingin gadis itu berada di situasi seperti itu apalagi hingga sampai terluka.
"Aku baru saja mengirim lokasi padamu. Datanglah ke sana dan bantulah teman-temanku. Posisiku masih terlalu jauh dari lokasi itu."
"Teman-teman?" tanya David. "Apa Musketeers?"
"Ayolah kawan. Kau harus tahu rumus pertemanan. Temannya temanmu adalah temanmu juga."
David tertawa mendengarnya, dan setelah itu menutup teleponnya.
"SIALAN KAU, MARIO!!" geram Lion sangat marah sambil menarik gas motornya, meluncur bagai roket.
...***...
Prothos berjalan keluar dari mobil dan menghampiri kerumunan orang yang jumlahnya hampir tiga puluh orang, dan Bara berdiri di paling depan bersama seorang pria lainnya.
"Akhirnya pemeran utama kita yang sangat tampan keluar juga." ejek Bara dengan sombongnya. "Lihatlah dia Mario, Si Tampan dari Musketeers." tambah Bara berbicara dengan pria yang ada di sampingnya.
"Astaga, kau benar kembarannya Ars?" tanya Mario mencondongkan badannya seolah memperhatikan Prothos yang berdiri di jarak lima meter darinya. "Kabar yang ku dengar ternyata tidak salah, kau jauh lebih tampan dari Ars. Aku tidak yakin kalau kalian kembar."
Prothos merentangkan tangannya dan tertawa.
"Apa ini Bara? Kau meminta bantuan orang hanya untuk menemuiku seorang diri?" tanya Prothos dengan senyum skeptis. "Kau benar-benar seorang pengecut."
"Diamlah!!" seru Bara kesal. "Aku akan menghabisimu."
Prothos tertawa mendengar ucapan Bara. Dan Bara semakin geram melihat tingkah Prothos yang masih terlihat santai.
"DIAM KAU!! PRIA BERWAJAH WANITA SEPERTIMU BISA APA?" teriak Bara geram.
"Kalau kau berani, majulah sendiri kita lihat siapa yang lebih kuat." tantang Prothos.
Tiba-tiba pria yang bernama Mario tertawa.
"Benar Bara, hadapi dia sendiri kau pasti bisa mengalahkan si cantik ini." ujar Mario pada Bara.
Bara terlihat bingung.
"Mau kau yang maju atau aku?" tanya Prothos melirik Bara dengan tatapan merendahkan.
Mendengarnya Bara langsung maju ke arah Prothos.
...***...
Lion menghubungi Aramis dalam perjalanannya.
"Ars, Mario yang membocorkan tentang Oto pada Bara, dia mengkhianatiku. Saat ini si berengsek itu bersama Bara." ujar Lion. "Dia mempengaruhi semuanya."
"Aku tidak heran si berengsek Mario itu berkhianat padamu, aku sudah sering memperingatkanmu." jawab Aramis. "Dimana posisimu?"
"Sekitar dua puluh menit lagi aku tiba." jawab Lion. "Kau tidak perlu khawatir, aku akan datang. Melon pasti ketakutan saat ini, jangan sampai dia terluka. Jika sesuatu terjadi pada Melon aku tidak akan memaafkan Mario."
Tidak berapa lama Aramis menghentikan mobilnya dan melihat lima orang pria menutup jalan. Mereka adalah komplotan Mario.
"Dengarlah, salah satu teman Lion yang berkhianat. Orang itu bersama Bara saat ini. Jadi kita harus berhati-hati, dia mempengaruhi yang lainnya untuk membantu Bara." ujar Aramis pada Athos. "Anna, kau tinggal di mobil saja."
"Tidak! Aku akan ikut!! Melo ada disana. Aku akan mengeluarkannya dari sana." jawab Anna.
Mereka bertiga turun dari mobil, namun kelima orang yang menutup jalan dengan motornya. Menghampiri mereka dan langsung menyerang Aramis dan Athos.
Mereka bukan tandingan kedua kembar itu dalam sekejap kelima orang itu roboh. Namun tiba-tiba dia orang lainnya yang bersembunyi muncul saat Athos, Aramis dan Anna berjalan masuk ke jalan yang ditutup.
Ketika Aramis menoleh, lebih dulu David datang merubuhkan kedua orang itu.
Aramis menatap kehadiran David.
"Apa kau tahu rumus pertemanan?" tanya David menjawab pertanyaan yang terlihat dari tatapan Aramis. "Temannya temanmu adalah temanmu juga."
Aramis sedikit tertawa mendengarnya dan langsung tahu siapa yang bilang begitu pada David.
"Baiklah, lihatlah sekarang, kakak kelasmu yang baik hati ini akan mengajarkanmu pertarungan jalanan." seru Aramis berlari bersama yang lainnya.
...***...
Prothos menghajar Bara sedemikian rupa, hingga Bara sulit berdiri sedangkan dirinya masih belum terlihat lelah. Bagaimanapun Prothos juga menguasai karate walau tidak sehebat Athos apalagi Aramis. Dia berhenti ditengah jalan saat mempelajarinya karena merasa tidak membutuhkannya. Dia selalu menganggap berkelahi adalah jalan terakhir untuk menyelesaikan masalah. Namun tubuhnya yang terolah dengan sempurna karena hasil dari olahraga lainnya dan hidup teratur membuatnya dapat mengalahkan Bara dengan mudah.
"Ya ampun Bara, kau kalah dari dia? Aku dengar si cantik ini yang paling lemah dari kedua kembarannya." ujar Mario tersenyum.
"Ya, itu benar." jawab Prothos. "Di banding mereka berdua aku tidak ada apa-apanya. Lalu apa kau juga mau berduel denganku?" tatap Prothos dengan senyum.
Mario terlihat marah namun dari pandangannya dia tidak berani maju sendirian.
"Habisi dia!!" seru Mario memberi aba-aba pada komplotannya yang berjumlah lima orang untuk menyerang Prothos.
Awalnya Prothos mampu menghadapi serangan kelima orang tersebut namun Mario kembali menyuruh lima orang lagi menyerang Prothos juga. Hingga akhirnya Prothos tumbang tidak mampu menghadapi mereka semua sendirian.
Di dalam mobil Melody hanya bisa menangis melihat kakaknya dipukuli.
"Kau tangguh juga rupanya."
Mario tertawa senang melihat Prothos tumbang.
"Apa kau tahu, Prothos? Sebenarnya aku sudah lama menunggu hal ini." ucap Mario pada Prothos yang dalam posisi duduk. "Kau ingat wanita bernama Clara?"
"Entahlah, aku sudah lupa." jawab Prothos dengan entengnya.
"Sialan kau!!" seru Mario kesal. "Setelah kau merebutnya dariku, kau memutuskannya begitu saja dalam waktu satu bulan, dan membuatnya terpuruk hingga hampir membuatnya bunuh diri."
"Ah, aku ingat." jawab Prothos. "Wanita di duabtahun lalu. Kau salah, aku tidak pernah memacarinya, hanya dia saja yang mengejar-ngejarku. Dan tentang bunuh diri itu, semua itu skenario palsu yang dibuat olehnya agar aku mau menerimanya. Ternyata kau tertipu dengan aktingnya."
"DIAM KAU!!" teriak Mario. "Kita lihat saja apakah akan ada wanita yang tergila-gila denganmu lagi setelah ini?"
Tiba-tiba Mario mengeluarkan pisau dari balik punggungnya. Semua terkejut termasuk Bara yang berdiri di samping Mario.
"Bara, ambil pisau ini!!" ucap Mario.
Tapi Bara enggan mengikuti perintahnya karena dia mengerti peraturan dalam berkelahi sesama pelajar yaitu tidak boleh menggunakan senjata, apa lagi senjata tajam. Itu akan berakibat fatal dan bisa dikriminalisasikan.
"BARA AMBIL PISAU INI!!" teriak Mario kesal.
Mau tidak mau Bara mengambil pisau tersebut. Mario lalu menyuruh dua orang memegangi tangan Prothos.
"Rusak wajahnya biar tak ada lagi yang bisa dia sombongkan!!" seru Mario pada Bara.
Melody yang berada di dalam mobil melihat pisau yang di bawa Bara. Bara juga berjalan mendekati Prothos yang tak berdaya karena dua orang memeganginya. Melody tahu sesuatu yang buruk akan terjadi pada kakaknya, tapi dia tidak ingin itu terjadi.
Melody menangis tetapi dia memberanikan diri turun dari mobil dan berlari ketika Bara tepat menjulurkan pisaunya ke wajah Prothos. Melody menghalau pisau sebelum pisau tersebut menyentuh wajah Prothos.
Melody pun terkena pisau yang dihalau oleh tubuhnya.
...----------------...
MELODYl
Visual Model :
Jo Soo-min