MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Hadiah Pertama



Athos memasuki sebuah toko perhiasan saat akan menjemput Tasya di rumahnya. Dia menggunakan kaos putih polos yang dilapisi blazer hitam bergaris putih dan celana bahan hitam. Di tangan kanannya terikat jam tangan pemberian dari kekasihnya.


"Bisa kami bantu?" sapa seorang pramuniaga wanita pada Athos.


"Aku ingin memberikan hadiah untuk pacarku. Mungkin sebuah kalung." ujar Athos dengan pandangan ke etalase yang menampilkan banyak kalung-kalung cantik. "Bisa carikan yang bentuknya cantik?"


Pramuniaga tersebut mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin cantik terlihat seperti bunga matahari.


"Ini berlian asli. Bentuknya sangat cantik dan cocok untuk anak muda seperti anda. Pacar anda pasti akan sangat suka."


"Ini bagus."


"Anda sangat tampan, pasti pacar anda sangat cantik. Ini sangat sesuai. Jika anda memberikan ini padanya, dia pasti akan bahagia dan berpikir beruntung mempunyai anda sebagai pacarnya."


"Berapa harganya?" tatap Athos.


"Liontinnya saja, 20 juta, dengan kalung menjadi 37 juta."


Athos terdiam sesaat, dia menimbang-nimbang sebelum mengambil keputusan. Dia sangat ingin memberikan sesuatu untuk kekasihnya agar Tasya bahagia. Dibandingkan jam tangan pemberian Tasya harga kalung tersebut tak ada apa-apanya namun keadaan keuangannya berbeda jauh dengan kekasihnya tersebut.


Tak berapa lama Athos kembali ke mobil dan melihat tas yang dimana berisi hadiah yang akan dia berikan pada Tasya.


Dia mengambil kotak merah dan melihat kalung yang baru saja dia beli dengan menghabiskan tabungannya.


"Tabunganku langsung tak bersisa." gumam Athos. "Ayah pasti akan membunuhku kalau tahu aku membelinya."


Athos membuang napas dari mulutnya. Dia merasa tidak menyesal membelinya, semua demi membuat kekasihnya senang.


...***...


Melody bersama dengan Lion membuat tugas kesenian mereka di meja makan sekitar pukul enam sore. Mereka mendapatkan tugas untuk membuat miniatur rumah dari bahan apapun, seperti kardus ataupun stik es krim.


Lion memakan es krim sejak tadi karena dari pada harus membeli stik es krim saja, dia lebih memilih untuk membeli es krim sekalian.


"Kau sudah menghabiskan segitu banyak es krim, Lion. Nanti kau sakit." seru ayah yang sibuk memasak untuk makan malam di dapur.


"Aku anak muda yang kuat, ayah." jawab Lion sambil tangan kirinya membantu Melody yang berusaha merekatkan kardusnya, dan tangan kanannya memegang es krim.


Melody kesal dan meletakan kardusnya dengan kasar karena sulit untuknya mengerjakan prakarya itu.


"Kenapa?" tanya Lion menatap Melody. "Kau memang tidak sabaran, Melon."


Lion langsung mengambil kardus dari Melody dan mencoba merekatkannya.


"Kenapa tugas seperti ini harus dikerjakan perorangan? Seharusnya ini tugas kelompok." gumam Lion dengan mulut penuh es krim yang di habiskannya karena dia langsung mengambil alih yang dilakukan Melody. "Habis ini bantu aku mengerjakan yang punyaku ya!!"


Drrtt drrrt drrrt


Handphone Lion bergetar di atas meja.


"Hhmm." jawab Lion. "Ya baiklah, aku ke sana sekarang." tutup Lion memasukan handphone-nya ke saku celananya.


"Kau mau kemana?" tanya Melody.


"Temanku butuh bantuan." jawab Lion beranjak dari duduknya. "Paman aku pergi dulu ya." pamit Lion pada ayah Melody.


"Kau tidak ikut makan dulu, Lion?"


"Temanku akan mentraktirku." jawab Lion pada ayah sambil memakai jaketnya.


"Kau ini." gumam Melody.


"Kau tenang saja Melon, nanti aku yang kerjakan semuanya." ujar Lion setelah itu berjalan pergi.


"Kemana kau?" tanya Aramis pada Lion yang membuka pintu hendak keluar. Aramis baru saja turun dari tangga.


"Cari udara segar." jawab Lion yang langsung keluar rumah.


"Si bodoh itu masih saja kesana sini sesuka hatinya." gerutu Aramis melihat sahabatnya pergi. "Ayah, aku lapar. Makan malamnya sudah jadi belum?"


"Melo, rapikan meja makannya." ujar ayah tak memedulikan pertanyaan Aramis.


"Cepat rapikan mejanya, Melo!! Aku lapar." seru Aramis pada Melody.


Melody kesal melihat Aramis yang duduk di hadapannya. Mau tak mau dia merapikan tugas prakaryanya yang ada di atas meja makan dan meletakannya begitu saja ke meja ruang tamu.


"Kau kenapa Melo?" tanya Aramis yang melihat Melody bergumam.


"Berisik." ketus Melody menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.


"Melo, kenapa ayah?"


"Sepertinya dia stres karena tidak bisa mengerjakan tugas keseniannya." jawab ayah.


Di dalam kamar Melody semakin kesal kalau ingat Lion. Dia merasa Lion selalu pergi bermain bersama teman-temannya. Setiap saat setiap temannya menelepon, dia akan segera pergi begitu saja.


"Dia melupakan tugasnya hanya karena temannya. Dasar bodoh!" ucap Melody yang duduk di sisi tempat tidur.


...***...


Athos dan Tasya masuk ke sebuah restoran yang sangat mewah. Pramusaji yang berpakaian rapi langsung menyambut sepasang kekasih tersebut dengan ramah dan mengantar mereka ke meja yang sudah di pesan Tasya sebelumnya.


Di atas meja sudah tersusun piring, gelas, sendok garpu dan serbet. Juga ada bunga yang menghiasi meja sehingga meja itu terlihat hidup dan cantik. Ada beberapa lilin yang dihidupkan membuat kesan romantis.


Athos menatap Tasya yang duduk di hadapannya. Seperti biasanya Tasya selalu tampil cantik dengan pakaian elegant yang membuatnya semakin tampak memesona.


Tasya memakai pakaian putih dan riasan wajah natural. Wajah cantik alaminya semakin memancarkan kecantikannya setiap kali dia tersenyum melihat Athos yang memandangnya terus.


"Kenapa melihatku terus?" tanya Tasya pada Athos yang tidak mengedipkan matanya.


Athos langsung mengedipkan mata dan tersadar dari dirinya yang terpesona pada Tasya. Athos hanya tersenyum kaku pada Tasya.


Makanan dihidangkan dan mereka berdua makan dengan hampir tak berbicara. Mereka hanya saling tatap dan tersenyum karena bingung harus mengobrol apa.


"Ato." panggil Tasya karena tidak tahan ingin mengungkapkan apa yang ada di kepalanya. "Aku ingin menciummu."


Athos tertawa kecil mendengar ucapan Tasya.


Hingga mereka selesai memakan makanannya. Athos mengeluarkan kotak merah yang ada di kantongnya dan meletakannya di hadapan Tasya.


"Apa ini?" tanya Tasya terkejut. "Apa ini untukku?"


Athos hanya mengedipkan matanya dengan senyum.


Tasya segera membuka dan melihat isinya. Gadis itu tersenyum pada Athos dengan kebahagiaan yang terpancar dari wajah cantiknya. Dia mengeluarkan kalung berlian dan mengusapnya senang.


"Kau tidak harus memberiku ini." ujar Tasya menatap Athos dengan penuh cinta. "Ini cantik sekali."


"Akan lebih cantik jika kau yang memakainya." ucap Athos langsung mendekati Tasya.


Athos memakaikan kalung pemberiannya pada Tasya. Dia senang melihat kekasihnya bahagia dengan pemberiannya.


"Ini hadiah pertamaku untukmu." bisik Athos pada Tasya. "Setelah ini aku akan memberikan banyak hadiah untukmu."


Setelah berkata demikian Athos kembali ke tempat duduknya.


"Kau tahu aku sangat bahagia hari ini. Kau manis sekali Ato." ujar Tasya. "Aku beruntung sekali memiliki pacar sepertimu. Aku benar-benar bahagia."


"Aku juga bahagia kalau kau bahagia, Tasya." ucap Athos tersenyum manis melihat Tasya tampak bahagia.


"Aku jadi semakin ingin menciummu saat ini." gumam Tasya.


Athos langsung bangkit berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke arah Tasya. Dari tempatnya berdiri, Athos mencium Tasya yang berada di seberang meja dengannya.


Dia tidak memedulikan dimana mereka berada saat ini. Pemuda itu hanya ingin memberikan apa yang sangat ingin kekasihnya inginkan saat ini. Sebuah kebahagian terpancar dari mereka berdua.


...----------------...


ATHOS DAN TASYA




Visual Model :


Kim Young-Dae


Kim Hyun-Soo