MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Pertandingan Golf



Athos menuruni tangga setelah bersiap-siap untuk pergi menemui Tasya dan ibunya untuk bermain golf. Waktu menunjukan pukul sembilan pagi, dimana hanya ada ayah, Melody dan Lion di meja makan.


"Ayah, hari ini kau antar Melo kursus." seru Athos sambil meminum segelas susu. "Aku akan pergi ke pertemuan keluarga."


"Keluarga siapa yang akan kau temui?" tanya ayah bingung melihat tingkah anak tertuanya.


"Keluargaku kelak." senyum sombong Athos pada ayahnya.


Melody menahan tawanya mendengar candaan kakaknya yang kaku pada ayahnya.


"Lion, kau bisa antar Melo?" tanya ayah.


Lion menggeleng.


"Aku akan pergi dengan Lion." seru Athos. "Jangan melempar tanggungjawabmu pada orang lain!!"


Lion mengangguk.


"Lalu apa Lion keluargamu? Kenapa kau pergi dengannya padahal kau bilang kau akan pergi ke pertemuan keluargamu kelak?!"


Lion menggeleng.


"Ya, aku rasa dia akan jadi keluargaku." jawab Athos.


Lion mengangguk, namun tersadar dengan ucapan Athos barusan dan membuatnya tersedak dengan makanan yang memenuhi mulutnya.


Melody hanya memperhatikannya dan tidak mengerti maksud perkataan Athos tadi.


"Kurangi marah-marahmu ayah, dan minta maaflah pada Ars, bagaimanapun kau keterlaluan karena tidak mempercayai anakmu sendiri." seru Athos langsung berjalan keluar.


"Ayah, aku pergi dulu. Maaf ya, piringnya tidak aku cuci." ujar Lion setelah minum dan langsung berlari keluar menyusul Athos.


"Ayah, mereka mau kemana?" tanya Melody.


"Mana ayah tahu, ditanyapun kakakmu yang sombong itu tidak akan menjawabnya."


...***...


Prothos menemui Anna di rumahnya untuk membicarakan mengenai teror foto yang di dapatkan Widia.


"Aku kira Ars ada disini." ujar Prothos saat Anna membukakan pintu rumahnya.


"Sepertinya dia masih tidur, pesanku juga belum dibalasnya." jawab Anna sambil duduk di sofa. "Ada apa kau menemuiku?"


"Widia mendapatkan pesan berisi foto kami saat berdua dari nomer tak dikenal." ujar Prothos berdiri menghadap Anna. "Jika saja orang itu membocorkan ke sekolah, kemungkinan terburuk apa yang akan terjadi?"


"Aku rasa kalian berdua akan langsung diusir dari sekolah." jawab Anna. "Tapi jika salah satu dari kalian menuduh pihak satunya menyukai atau yang memaksa, maka hanya salah satu yang dikeluarkan."


"Bagaimana maksudnya?"


"Misalkan saja kau bilang ke sekolah kalau bu guru yang mengejar atau memaksamu menjalin hubungan itu maka bu guru yang akan dikeluarkan, begitu pun sebaliknya." jawab Anna.


"Lalu bagaimana jika aku yang mengaku kalau aku yang mengejar dan memaksa bu guru? Apa aku yang akan dikeluarkan?"


"Itu hal yang berbeda. Pihak sekolah pasti akan menanyakannya juga ke bu guru dan aku yakin bu guru tidak akan membiarkan kau dikeluarkan dari sekolah."ujar Anna menjelaskan. "Menuduh dan mengakui dua hal yang berbeda. Jika salah satu kalian mengaku bersalah itu malah akan membuat kalian berdua dikeluarkan bersama karena dengan kata lain, kalian mengakui adanya hubungan itu."


Prothos mengusap wajahnya karena kesal dan bingung.


"Mengenai pesan itu, apa ada kemungkinan si pelaku akan melaporkan ke sekolah?" tanya Anna. "Atau dia hanya iseng dan menakut-nakuti kalian saja?"


"Aku tidak tahu karena itu aku tanya hal tadi padamu, karena jujur saja aku tidak tahu bagaimana cara mencari pelakunya."


"Padahal sekitar tigat bulan lagi kau lulus." ucap Anna. "Apa ada orang yang kau curigai?"


"Ya, tapi ini hanya sebatas kecurigaanku saja."


"Siapa?"


"Lion."


"Apa?" tanya Anna terkejut. "Itu tidak mungkin Oto. Lion tidak mungkin melakukannya. Kenapa kau bisa mencurigainya?"


"Aku rasa dia tahu tentang hubunganku dengan Widia. Saat di Villa ketika kita mengobrol tentang Widia tidak lama dia masuk ke kamar, dan saat itu kamar juga tidak tertutup, pasti dia mencuri dengar."


"Aku yakin bukan dia. Jangan menuduhnya, Oto."


"Kenapa? Kenapa kau yakin bukan dia? Apa ada kaitannya dengan alasan kau memeluknya kemarin?"


Prothos terdiam sesaat memikirkan perkataan Anna. Namun sikap waspada Prothos lebih menguasainya. Dia tidak pernah mempercayai seseorang seratus persen, hal itu juga berlaku pada Lion meski Lion selama ini banyak membantu keluarganya.


"Sepertinya aku salah bicara denganmu. Entah kenapa aku sangat mencurigai Lion. Aku tahu dibalik sikap bodohnya diam-diam dia melakukan sesuatu di belakang kami dan dia sangat bersenang-senang karena menikmatinya."


Aramis membuka pintu rumah Anna. Wajahnya tampak kesal mendengar perkataan Prothos barusan.


"Kenapa kau menuduh sahabatku seperti itu?" tatap Aramis pada Prothos. "Katakan padaku, masalah apa yang membuatmu sampai mencurigai Lion seburuk itu?" Aramis menarik baju Prothos.


Anna bangkit berdiri melerai kedua kembaran itu.


"Sudahlah Ars, lepaskan dia!!" seru Anna sambil menarik Aramis hingga dia melepaskan Prothos. "Kau tidak tahu apa yang kami bicarakan."


"Tapi dia mengatakan hal buruk tentang Lion dengan mudahnya." ujar Aramis pada Anna. "Aku kecewa padamu, Oto."


"Seharusnya aku yang berkata begitu, bodoh!! Bahkan kau lebih mempercayai orang lain dari kembaranmu sendiri." ucap Prothos setelah itu keluar dari rumah Anna.


"Apa yang kalian bicarakan sampai dia berkata seburuk itu tentang Lion, Anna?" tanya Aramis.


"Sudahlah. Oto hanya sedang bingung dengan masalahnya, kau jangan memperburuk keadaan." seru Anna.


...***...


Athos bersama Tasya dan Ibu Tasya berada di lapangan golf. Dion juga berada disana dengan dua orang sewaannya untuk menjaga dirinya kalau-kalau Athos memukulnya.


"Kau pernah bermain golf, Ato?" tanya ibu Tasya.


"Jujur saja, semalam aku baru berlatih bermain golf, tante." jawab Athos yang berdiri di samping Tasya yang berada di antara dirinya dan ibunya.


"Benarkah?" tanya ibu Tasya lagi. "Jangan-jangan kau bilang begitu karena merendah."


"Tidak mama, Ato memang belum pernah memainkannya apalagi dalam sebuah pertandingan." ujar Tasya.


"Dion, sepertinya kali ini kau lebih unggul darinya." ucap Ibu Tasya pada Dion yang berdiri di samping kirinya.


Dion tersenyum sombong.


"Baiklah, kalau begitu bagaimana jika kita bertanding foursomes?" tanya ibu Tasya. "Bagaimana Tasya? Kau dengan siapa?" ibu Tasya menoleh ke putrinya.


"Tentu saja dengan Ato." jawab Tasya merangkul lengan kiri Athos dan tersenyum menatap Athos.


"Baiklah, apa boleh buat Dion, sepertinya kita yang akan menang." ujar ibu Tasya.


Permainan pun dimulai dengan 18 hole.


"Kau bilang kau baru berlatih semalam, Ato? Aku tidak percaya." ujar Ibu Tasya saat Athos mendapatkan Birdie dalam par 3.


Dari kejauhan Lion memperhatikan pertandingan itu dengan menggunakan teropong.


"Dia benar-benar menguasainya dalam semalam." ucap Lion.


"Aku yakin itu hanya kebetulan." jawab Athos tersenyum pada ibu Tasya.


"Bagaimana Dion, apa kau yakin itu kebetulan?" tanya ibu Tasya.


"Ya, sepertinya memang kebetulan." jawab Dion sinis. "Akan aku tunjukan mana yang tidak."


Benar saja, ternyata Dion sangat mahir bermain golf. Dia lebih unggul dari Athos. Namun Athos sama sekali tidak menyerah, dia yakin bisa membalikan keadaan.


"Bagaimana Ato? Kau sudah menyerah?" tanya Ibu Tasya saat berjalan mendekati bola.


"Kemenangan dalam permainan golf akan ditentukan oleh pemain yang memukul bola dengan jumlah paling sedikit, aku rasa saat ini nilai kedua tim tidak berbeda jauh." jawab Athos. "Masih terlalu cepat untuk menyerah, bukan begitu Tasya?"


"Kau benar sekali, Ato." ucap Tasya tersenyum. "Kita pasti menang."


Saat memasuki par 5, Athos memukul dari jarak 500 meter lebih. Dengan gerakan pukulan yang mantap, Athos membuat bolanya melambung jauh menuju lubang, dimana seseorang yang memantau posisi bola sudah berada disana.


"Sepertinya permainan akan berakhir." ucap Athos setelah memukul bolanya, membuat Ibu Tasya dan Dion melihat padanya.


Athos merentangkan kedua tangannya.


"DOUBLE EAGLE , ALBATROSS." teriak penjaga yang berada di dekat lubang.


Athos tersenyum.