
Pintu yang tidak terkunci terbuka secara tiba-tiba membuat situasi dingin antara Aramis dan Anna pecah.
"Anna..." panggil Paman Ronald yang muncul dari pintu masuk.
"Apa kau paman Ronald?" tanya Anna.
Paman Ronald mengangguk, dan Anna langsung berlari memeluknya. Anna menangis dalam pelukan paman Ronald. Aramis yang menyaksikannya tampak bingung karena tidak mengerti apa yang terjadi.
Paman Ronald dan Anna berbicara berdua sedangkan Aramis menunggu di teras karena paman Ronald memintanya.
"Aku sangat senang bisa bertemu paman lagi." ujar Anna yang duduk di samping kanan paman Ronald, di lantai. "Sebelum ibuku meninggal dia bercerita semuanya tentang apa yang terjadi. Dia ingin meminta maaf padamu, itu yang dikatakannya."
"Tidak perlu. Aku sudah melupakan semuanya." jawab paman Ronald. "Tolong ceritakan apa yang terjadi, dan kenapa ibumu meninggal?" tatap paman Ronald.
"Tiga tahun yang lalu ibu dan ayah bercerai karena si brengsek itu selingkuh." ucap Anna kesal karena mengingatnya. "Tapi aku malah bersyukur mereka bercerai. Saat masih bersama si brengsek itu, dia selalu memukuli ibu dan terus saja menyangkut pautkan semua hal pada paman. Bahkan entah kenapa dia selalu marah ketika melihatku."
Paman Ronald tidak merespon dan masih mendengarkan cerita Anna.
"Tadinya aku berpikir kalau aku ini bukanlah anaknya, tapi ibu selalu berkata kalau dia adalah ayahku." lanjut Anna. "Padahal aku lebih senang kalau ternyata kau adalah ayahku, paman." tambah Anna dengan suara gemetar.
Paman Ronald merangkul gadis itu untuk menenangkannya.
"Enam bulan lalu si brengsek itu mendatangi rumah kami di saat aku sedang sekolah. Dia memukuli ibu sampai tak sadarkan diri hingga ibu mengalami patah tulang belakang dan gegar otak." Ujar Anna menghapus air matanya. "Hingga akhirnya sebulan yang lalu ibu meninggal."
"Manusia biadab! Beritahu dimana manusia itu? Akan ku habisi dia!!"
Anna menahan paman Ronald yang hendak berdiri karena kesal.
"Paman tidak perlu mengotori tangan paman." seru Anna memegang lengan kanan paman Ronald dengan kedua tangannya. "Saat ini dia sudah mendekam di penjara, dan aku berharap dia akan membusuk disana."
Paman Ronald menoleh pada Anna dan menyandarkan kepala gadis itu ke bahunya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjagamu mulai sekarang." ucap paman Ronald. "Anggap saja aku ayahmu mulai sekarang."
Anna tidak menjawab dan hanya menangis sedih.
Di luar, Aramis bisa mendengarkan perbincangan mereka, namun dia hanya diam saja dan mencoba untuk bersikap biasa.
Aramis beranjak dan membuka pintu, membuat Anna menghapus air matanya karena tidak ingin Aramis melihatnya.
"Sudah hampir malam, sebaiknya kita lanjutkan bersih-bersihnya." ujar Aramis.
Paman Ronald dan Anna beranjak berdiri.
"Baiklah aku akan pergi untuk mandi dan beristirahat dulu." ucap Paman Ronald. "Anna, mulai sekarang panjangkan rambutmu ya." pinta paman Ronald mengusap kepala Anna.
Anna hanya mengangguk, menjawabnya.
"Ars, temani dan bantu dia ya." Paman Ronald menepuk pundak Aramis dan setelah itu berjalan keluar.
"Aku akan mengepel lantai 2."
"Apa kau mendengarnya?" tanya Anna menghentikan langkah Aramis.
Aramis mengangguk tidak melihat Anna.
Tiba-tiba Anna kembali menangis dan kali ini sangat kencang karena gadis itu tidak bisa menahannya lagi.
Aramis mendekatinya dan menariknya dalam pelukannya, sambil mengusap-usap punggung gadis sebatang kara itu.
...***...
Pukul sebelas malam Prothos hendak keluar untuk mencari udara segar karena saat ini Aramis menjajah tempat tidur miliknya, setelah Aramis meminjamkan tempat tidurnya untuk Anna.
Saat ini Anna masih belum mempunyai tempat tidur karena itu Aramis memintanya tidur di kamarnya. Sedangkan dirinya menumpang tidur di kamar Prothos.
Ketika Prothos hendak membuka pintu untuk keluar tiba-tiba dia mendengar ayahnya sedang berbincang dengan paman Ronald. Langkahnya terhenti untuk mendengarkan apa yang mereka bincangkan.
"Seharusnya aku mencarinya dulu, agar ini tidak terjadi." ujar Paman dengan suara parau. "Aku masih belum bisa menerimanya. Laura wanita yang malang. Andai saja dulu aku yang menikah dengannya dia pasti akan bahagia selalu."
"Semua sudah terjadi, tidak ada yang bisa diubah. Tindakan Laura dulu sangat salah padamu, ini bukan salahmu! Kau tidak ada sangkutpautnya dengan semua yang terjadi pada Laura." hibur ayah pada adiknya yang sedang bersedih.
"Seharusnya dulu aku saja yang bertanggungjawab atas kehamilan Laura..."
"Jangan katakan seperti itu!! Kau tidak melakukan apa-apa padanya, dia bukan anakmu. Laura selingkuh darimu dan tidur dengan Hendrik, kau juga tahu itu!!" sahut ayah. "Saat tahu kalau Laura selingkuh darimu dan berbuat sejauh itu kau juga membencinya dulu 'kan?"
"Sepertinya itu semua salahku, aku terlalu fokus belajar jadi jarang menemuinya dulu, padahal rumahnya ada di depan rumah kita. Seharusnya aku lebih sering bersama dengannya dan tidak sibuk belajar."
"Kau ini sudah tidak muda lagi, jangan mengatakan hal-hal yang sudah terjadi. Berpikirlah selayaknya usiamu sekarang. Semua itu masa lalumu, kau tidak perlu menyesalinya."
"Tapi gadis itu jadi sebatang kara karena perbuatan ayahnya sendiri." ujar paman Ronald. "Seharusnya ketika mereka pindah sepuluh tahun lalu aku mencari mereka."
"Sudah hentikan!! Itu semua urusan rumah tangga mereka dulu, kau orang luar yang memang seharusnya tidak ikut campur." seru ayah.
"Bagaimana pun aku tetap harus bertanggungjawab dengan semua yang terjadi." ucap paman Ronald.
Prothos membuka pintu dengan kesal membuat ayah dan Paman Ronald melihatnya yang keluar.
"Paman ini bukan anak kecil. Jangan menyesal karena masa lalu!!" seru Prothos. "Pantas saja tidak menikah sampai sekarang." gumam Prothos berjalan keluar.
"Kau mau kemana?" tanya ayah namun tidak dihiraukan Prothos.
Prothos terus berjalan dengan kesal setelah mendengar kata-kata pamannya.
"Dia bertahan tidak menikah hanya karena wanita yang sudah selingkuh darinya. Apa-apaan itu?!" gerutu Prothos tidak mengerti. "Paman dan bu guru sama saja."
Tiba-tiba muncul paman Ronald menaiki mobil berjalan di samping Prothos.
"Oto, naiklah!!" seru paman Ronald.
Dengan kesal Prothos naik ke mobil.
"Jadi kau tidak menikah karena ibunya Anna?" tanya Prothos dengan kesal. "Apa-apaan kau ini? Dasar pria bodoh!!"
Paman Ronald menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kau mendengar semuanya ya?"
"Iya, aku mendengar cerita bodohmu itu!!" seru Prothos. "Kau benar-benar menyedihkan paman. Sangat menyedihkan!! Pantas saja orang bodoh seperti kalian ini diselingkuhi."
"Iya aku memang bodoh." aku paman Ronald. "Wanita adalah makhluk rumit. Mereka bisa mencintai seseorang namun melukainya sekaligus."
"Tidak! Kau salah! Seseorang yang mencintaimu tidak akan melukaimu." sanggah Prothos makin kesal. "Apa yang dilakukan wanita bernama Laura padamu adalah keegoisan cinta bukan cinta yang sebenarnya. Cinta yang sebenarnya tidak akan mengekangmu dan memberi kebebasan tanpa harus mengikat karena dengan adanya cinta yang tulus hubungan tersebut sudah terikat. Kau paham tidak?"
Paman Ronald hanya diam saja.
"Hari ini aku harus menasehati dua orang bodoh." keluh Prothos masih kesal. "Seperti halnya kasusku, aku tidak suka dengan keegoisan para mantanku yang seenaknya mengatur dan mengekangku, itu tandanya mereka bukan mencintaiku melainkan hanya ingin memilikiku." lanjut Prothos. "Jika kau beranggapan yang terjadi di masa lalu adalah salahmu, kau salah besar paman. Itu semua kesalahan mantanmu yang berkhianat hanya karena kau tidak memberikan waktu lebih untuknya."
Paman Ronald memukul kepala Prothos, dan Prothos meringis kesakitan.
"Kenapa aku harus mendengarkan ocehan bocah ingusan sepertimu?" ucap paman Ronald.
"Karena tidak semua orang dewasa berpikir dewasa masalah cinta!" jawab Prothos. "Paman, sudah lupakan Laura, kau harus mencari wanita yang benar-benar mencintaimu tanpa harus mengikat atau mengekangmu. Dan yang terpenting tidak selingkuh."
"Entahlah, aku sudah lelah." ucap paman Ronald menyandarkan tubuhnya. "Lalu bagaimana denganmu? Kau sudah dapat pacar lagi?"
"Aku sudah tidak tertarik main pacar-pacaran." jawab Prothos. "Aku akan mencari wanita yang membuatku tergila-gila padanya, seperti kata paman kemarin. Ya walaupun harus menolak banyak sekali pernyataan cinta padaku, dan membuat banyak wanita menangis." senyum Prothos.
"Jangan sok keren kau!!" seru paman Ronald mendorong kepala Prothos dari belakang.