MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Undangan Pernikahan



Athos berada di kamar Prothos untuk meminjam pakaian kembarannya untuk dia kenakan kencan bersama Tasya.


Ternyata kecupan tadi hanya sebuah pancingan Athos agar Prothos mengikutinya ke atas, supaya dia bisa meminjam pakaian kembarannya tersebut tanpa harus bilang di depan Tasya.


"Aku bingung mana yang sebaiknya aku pakai." ucap Athos membuka-buka pakaian Prothos di lemarinya.


"Pakai saja pakaian apapun, Tasya pasti tidak masalah." ujar Prothos yang berbaring santai di tempat tidur. "Bahkan dia akan lebih senang jika kau tidak pakai baju. Kau dengar kan apa katanya tadi? Astaga, dia benar-benar frontal."


"Saat ada Tasya, sebaiknya kau antar Melo ke kamar!" seru Athos, masih memilih baju. "Oto, kau tahu kan ini kencan pertama ku? Beritahu apa yang biasanya kau lakukan?"


"Aku selalu mencium pacarku di setiap ada kesempatan." ujar Prothos tersenyum. "Tidak, pasti Tasya yang akan menciummu lebih dulu nanti. Tapi sebaiknya kau juga lakukan lebih dulu."


"Tidak. Aku tidak akan melakukannya."


"Kau ini!!" seru kesal Prothos. "Kadang aku berharap wajah kita mirip, biar sesekali aku bisa menggantikanmu kencan dengan Tasya."


"Kau ingin kubunuh?!"


"Oto, ayo jalan!!" seru Aramis membuka pintu. "Anna, sudah tidak sabar ingin membeli semuanya."


"Aku belum ganti baju."


"Sudah tidak ada waktu!!" ujar Aramis.


"Baiklah, sesekali aku keluar seperti ini saja." kata Prothos yang memakai kaos oblong biru dan celana pendek denim. "Athos, pakailah baju berwarna yang sesuai dengan Tasya." pesan Prothos setelah itu keluar.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?" gumam Athos.


...***...


Setelah mengganti pakaian Athos dan Tasya keluar rumah untuk pergi kencan.


"Maaf ya, malah kau yang datang ke rumah." ujar Athos pada Tasya saat di luar rumah.


"Tidak masalah. Aku sendiri yang mau. Aku ingin sering datang ke rumah ini." jawab Tasya merangkul lengan kanan Athos.


"Kita pergi dengan taksi saja ya?"


"Tidak, kita naik mobilku saja." ucap Tasya mengambil handphone di tasnya. "Tunggu sebentar aku panggil supirku dulu ya, dia ada di ujung jalan."


Athos merasa tak enak pada Tasya. Namun dia mencoba bersikap biasa saja.


Di perjalanan Tasya terus menempel padanya, sedangkan sesekali supir Tasya melirik cermin yang ada di tengah depan mobil. Athos jadi tidak nyaman.


...***...


Aramis menghentikan mobilnya setelah sampai di seberang rumah sakit tempat paman Ronald bekerja. Prothos langsung keluar dari mobil untuk mengantar dokumen paman Ronald. Sedangkan Aramis akan pergi ke mall bersama Anna.


Setelah Prothos turun, tanpa diminta Anna pindah ke tempat duduk depan samping Aramis. Anna melempar sepatunya terlebih dahulu dan langsung pindah lewat dalam mobil.


"Kau kan bisa keluar dulu." keluh Aramis.


"Jalankan saja mobilnya, kau tidak perlu khawatir." jawab Anna tersenyum memperlihatkan giginya yang rata.


Aramis hanya bisa geleng-geleng sambil menginjak gas.


Seturunnya dari mobil, Prothos hendak menyebrang untuk ke rumah sakit, namun di tempatnya dia turun tidak ada zebra cross.


"Si bodoh itu kenapa menurunkan aku disini?" keluh Prothos kesal.


Prothos melihat jembatan penyeberangan tidak jauh. Dia segera mundur ke trotoar, namun langkahnya terhenti ketika pandangannya tertuju pada restoran cepat saji di samping dia berjalan.


Prothos melihat seorang Wanita duduk sendiri dengan seember ayam goreng dan cola dihadapannya, dan sesuatu yang di pegangnya berbentuk undangan.


"Dia masih saja menangisi pria itu." ucap Prothos melihat wanita yang menggunakan hoodie di dalam restoran. "Sepertinya aku harus menceramahinya lagi."


Prothos berjalan masuk ke restoran tersebut dan langsung duduk di hadapan wanita yang sedang menangis tersebut.


"Sudah berapa kali aku bilang, berhenti menangisi pria yang sudah menyakitimu, bu guru!!" seru Prothos duduk santai.


Melihat Prothos, Widia menidurkan kepalanya di atas tangannya yang terlipat di meja dan menangis.


Prothos melihat sebuah undangan yang ada di atas meja dan langsung mengambilnya.


"Apa pria ini orangnya?" tanya Prothos.


Widia mengangkat kepalanya dan mengambil undangan tersebut.


"Pergilah!! Jangan hiraukan ibu guru!!" seru Widia.


Prothos tersenyum skeptis.


"Wanita menyedihkan." ejek Prothos sarkas. "Apa kau akan terus menangisi pria jahat itu? Sedangkan dia bahagia hari ini?"


Widia mengangguk.


"Kebahagiaanku sudah hancur setelah dia memberikan undangan ini." ucap Widia.


Prothos bertepuk tangan membuat pramusaji di restoran tersebut melihatnya. Di restoran tersebur tidak ada pengunjung lain.


"SELAMAT BU GURU, KAU MEMENANGKAN KATEGORI ORANG PALING MENYEDIHKAN DI DUNIA." teriak Prothos.


Widia menghapus air matanya dan melotot pada Prothos karena malu jadi bahan tatapan pramusaji di restoran tersebut.


"Ada apa? Kenapa berhenti? Kau malu?" tanya Prothos. "Kenapa kau tidak malu pada dirimu sendiri dengan apa yang kau lakukan sekarang?"


"Bocah seperti mu tidak akan mengerti masalahku!!"


Sekali lagi Prothos tertawa skeptis.


"Biarku tebak. Pacarmu ini menikah dengan sahabatmu kan?"


"Da... dari mana kau tahu?"


"Kau menangis disini sendiri seperti orang bodoh. Semua mudah ditebak untuk masalahmu." jawab Prothos. "Tunggu aku sepuluh menit, nanti aku kembali."


Secepatnya Prothos berjalan keluar restoran menuju rumah sakit untuk memberikan dokumen pada paman Ronald.


"Kenapa lama sekali? Kau tidak punya handphone, aku jadi tidak bisa menghubungimu." keluh paman Ronald menerima dokumen yang diberikan Prothos.


"Aku minta maaf paman, dijalan ada kendala sedikit tadi." jawab Prothos.


"Padahal aku menyuruh Ato. Saat aku telepon, dia bilang kau yang mengantar." kata paman Ronald. "Tapi, apa-apaan bajumu, tumben sekali kau berpakaian seperti ini."


"Paman, berikan kunci mobilmu!!" seru Prothos dan paman Ronald memberikan. 'Dompetmu?" lanjut Prothos dan juga diberikannya.


"Tapi untuk apa?"


"Aku pinjam mobil dan kartu kreditmu ya." ucap Prothos setelah mengambil kartu kredit di dalam dompet dan mengembalikan dompetnya. "Aku akan membayarnya setelah ayah memberikan aku uang lagi. Aku janji."


Setelah berkata demikian Prothos pergi.


Prothos turun dari mobil di depan restoran di mana Widia sedang membenamkan wajahnya ke meja.


"Bu guru, benar-benar menyedihkan." gumam Prothos. "Sepertinya aku harus ikut campur agar dia tidak seperti paman Ronald nanti."


Tiba-tiba seorang pria menghadang langkah Prothos.


"Kau sangat tampan, bagaimana kalau kau ikut casting di Production House kami? ini kartu namaku." ujar pria berumur sekitar empat puluhan menyodorkan kartu namanya. "Kau pasti bisa jadi artis terkenal dengan cepat."


"Maaf, aku tidak tertarik." jawab Prothos.


Widia keluar restoran membawa seember ayam dan colanya lalu berjalan pergi.


"Coba dulu saja. Kalau tidak kau bisa menyimpan kartu namaku."


"Baiklah." jawab Prothos mengambil kartu nama tersebut dan berlari menghampiri Widia.


Widia berjalan dengan lunglai karena tak bertenaga. Sejak kemarin dia belum makan apapun.


"Bu guru..." panggil Prothos menarik lengan Widia membuat apa yang dibawanya jatuh.


Dengan tatapan kosong, Widia memunguti ayam goreng yang berserakan di jalan.


"Ayo ikut aku!!" seru Prothos setelah membantu memunguti ayam gorengnya.


Prothos menarik Widia dan memasukannya ke dalam mobil yang dia pinjam dari paman Ronald, dan memakaikannya sabuk pengaman.


"Kita mau kemana?" tanya Widia tak bersemangat.


"Ke pernikahan itu!!" jawab Prothos menjalankan mobil.


"Apa yang kau katakan? Hentikan mobilnya!!"


Prothos menghentikan mobilnya. Widia membuka kunci pintu secara manual namun Prothos menguncinya lagi.


Widia menatap Prothos.


"Dengarkan aku, bu guru." pinta Prothos. "Aku tidak bisa membiarkan guruku hidup menyedihkan selamanya. Aku akan membantumu keluar dari masalahmu. Tapi itu tidak akan berhasil kalau kau tidak ingin melakukannya." tatap Prothos kesal.


Widia tertegun mendengar perkataan Prothos yang menatapnya.


"Apa kau mau melakukannya?" tanya Prothos.


Widia mengambil napas dan menelan air liurnya sebelum mengangguk.


"Kenapa semua orang dewasa di sekitarku bodoh?!" gumam Prothos menjalankan mobilnya kembali.