
Setiap jam lima pagi Prothos selalu bangun untuk lari pagi. Namun hari ini dia tidak berniat lari pagi melainkan pergi ke tempat lain. Pakaiannya memang pakaian yang biasa Dia kenakan saat lari pagi, tetapi dia membawa beberapa bukunya ke dalam tas dan pakaian ganti. Dia pergi dengan menaiki taksi di ujung jalan.
Waktu menunjukan setengah enam pagi ketika dia sampai di depan apartemen Widia tinggal.
"Maaf Pak, bolehkah aku meminjam handphone-mu untuk menelepon? Aku akan mengganti biaya tagihannya." ujar Prothos.
Supir taksi memberikan handphone-nya.
Prothos menekan nomer telepon Widia yang sudah dia hapalkan semalam.
"Halo, siapa pagi-pagi sekali menelepon?" suara Widia terdengar masih tidur.
"Bu guru, aku ada di bawah apartemen-mu, kemarin kau menawarkan padaku kalau aku membutuhkan bantuanmu untuk belajar. Sekarang aku membutuhkannya." ucap Prothos.
Widia terkejut dan langsung beranjak dari tempat tidurnya. Dengan segera dia mencuci wajahnya dan memakai hoodie seperti biasanya. Namun dia keluar apartemen dengan diam-diam agar kedua sahabatnya tidak mengetahuinya.
Setelah berganti pakaian Prothos turun dari taksi yang dia tumpangi. Dia berdiri menunggu Widia.
"Apanya yang tulus kalau begini? Dia datang pagi-pagi sekali, mengganggu tidurku... padahal aku baru bisa tidur jam tiga tadi." gumam Widia saat keluar dari gedung apartemen-nya.
"Bu guru..." panggil Prothos melambaikan tangannya dan tersenyum.
"Astaga, masih pagi begini wajahnya sudah secerah itu."
"Apa yang kau katakan?" tanya Prothos mendekati gurunya.
"Kenapa kau datang sepagi ini?" Widia balik bertanya. "Padahal aku hanya basa-basi kemarin." gerutu Widia tak di dengar Prothos. "Ada apa dengan bibirmu?"
"Tidak apa-apa." jawab Prothos mengelak. "Bu guru, kebetulan ujian hari esok adalah biologi, kau bisa ajari aku kan?"
"Apa harus sekarang?"
Prothos mengangguk dengan senyum.
"Baiklah, ayo kita masuk..." ucap Prothos berjalan.
"Tunggu dulu!!" seru Widia menarik lengan baju Prothos. "Kita sambil sarapan saja."
"Padahal aku ingin lihat isi apartemenmu." kata Prothos.
Widia mengajak Prothos ke restoran cepat saji yang buka 24 jam. Dan mereka duduk berdua memesan sarapan.
"Sebaiknya obati dulu bibirmu." ujar Widia. "Kau sarapan dulu saja, aku akan beli obat di apotek ujung jalan."
Sebelum Prothos melarangnya, Widia sudah lebih dulu berlari keluar.
Ketika Widia kembali, Prothos bukannya sarapan atau pun belajar dia malah tertidur dengan kepala yang di taruhmya di atas tasnya di meja.
Widia tidak berniat membangunkannya dan mulai mengolesi luka di bibir Prothos.
Tiba-tiba Prothos membuka matanya, dan mata mereka saling bertatapan dekat.
"Kau bisa bangunkan aku, bu guru." ucap Prothos mengangkat kepalanya. "Tidak perlu mengobatiku!!"
"Aku tidak bisa membiarkan seseorang yang aku kenal terluka tanpa diobati." jawab Widia duduk di hadapan Prothos.
Prothos tertegun mendengar ucapan Widia.
"Ayo kita mulai belajar." ucap Widia membuka buku Prothos.
Namun Prothos kembali merebahkan kepalanya.
"Kau dengar tidak? Ayo mulai belajarnya!!"
"Bu guru bisa membacakan semua itu untukku, aku akan mendengar dan mengingatnya. Aku suka metode belajar seperti itu." jawab Prothos menutup matanya.
"Baiklah."
...***...
Anna masuk ke kamar Lion setelah menghubungi Lion untuk menanyakan dimana keberadaan Aramis. Waktu menunjukan pukul tujuh pagi.
"Sejak malam dia tidak tidur dan bermain game hingga jam empat tadi. Sekarang dia malah tidur di sini." ujar Lion pada Anna. "Dia menendangku hingga aku jatuh dan dia ambil alih tempat tidurku, tolong singkirkan manusia ini!"
"Baiklah." jawab Anna.
Anna mencoba mengangkat Aramis di punggungnya akan tetapi Aramis lebih dulu terbangun dan membuat mereka berdua terjatuh.
"Astaga, kenapa kau selalu ada di mana-mana?" keluh Aramis berdiri.
"Pulang dan belajar, ayahmu mencarimu!!" jawab Anna setelah itu keluar kamar Lion.
"Kenapa kau memanggil si cerewet itu?" tanya Aramis pada Lion.
...***...
Setelah makan siang, ayah dan paman Ronald duduk di ruang tamu berdua, membahas Prothos yang belum juga pulang sejak subuh pergi tanpa mereka ketahui.
"Kau tenang saja, kak, dia memang tidak sepintar Ato, tapi dia anak yang bertanggung jawab. Kau percayalah padaku." ucap paman Ronald. "Kau juga tidak perlu memarahinya lagi, serahkan Oto padaku."
"Kau jangan memanjakannya, Ron."
"Aku bukan memanjakannya. Dibanding para kembarannya, dia lebih sensitif, dengan sikap kasar atau kekerasan tidak akan membuat perubahan padanya."
Tiba-tiba bel berbunyi, paman Ronald membuka pintu.
"Selamat siang paman, aku datang untuk belajar bersama Athos." ucap Tasya.
"Masuklah." ujar paman Ronald.
Tasya masuk dan melihat ayah sedang duduk. Gadis itu menghampirinya dan memberikan buah-buahan yang dia bawa.
"Ayah, makanlah buah-buahan ini."
"Nanti aku akan makan." jawab ayah. "Athos di kamarnya, pergilah ke sana!!"
"Baiklah, ayah." senyum Tasya setelah itu menaiki tangga menuju kamar Athos.
Tidak berapa lama Prothos muncul dari luar. Ayah dan paman Ronald menatapnya yang langsung duduk di sofa satunya di dekat ayah. Sedangkan paman Ronald masih tetap berdiri.
"Aku minta maaf, ayah." ucap Prothos. "Aku pergi pagi-pagi sekali tanpa memberitahumu, tapi percayalah aku pergi untuk belajar." lanjut Prothos.
Ayah diam hanya menatapnya tajam.
"Ayah tidak perlu mengkhawatirkan aku, walau aku suka keluar rumah aku akan tetap belajar." ujar Prothos meyakinkan ayahnya. "Aku janji, aku akan tetap berada di peringkat tiga puluh besar, dan lulus dengan nilai yang cukup baik."
Setelah berkata demikian, Prothos berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
...***...
"Selamat siang, pacarku yang tampan." ucap Tasya masuk ke kamar Athos yang pintunya terbuka.
"Kenapa tidak mengabariku kalau kau kesini?" tanya Athos menoleh. "Duduklah disini..."
Athos mempersilahkan Tasya duduk di kursi yang dia tempati sebelumnya, dan berjalan keluar mengambil kursi di dalam kamar Prothos.
"Mau di bawa kemana kursiku?" tiba-tiba Prothos muncul.
"Aku pinjam sebentar ya." pinta Athos dan langsung membawanya masuk ke kamarnya.
Prothos melongok ke kamar Athos dan melihat Tasya ada di dalam. Dia tertawa tidak percaya dengan yang dilihatnya.
"Halo, Oto..." senyum Tasya.
"Bagaimana bisa mereka mengijinkan gadis mesum ini masuk ke kamar Athos?" gumam Prothos. "Kalian berdua jangan macam-macam ya!!" tegur Prothos.
"Tidak, kami akan belajar bersama." jawab Tasya tersenyum.
"Belajar apanya?" ucap Prothos. "Jangan tutup pintunya!!" seru Prothos saat masuk ke kamarnya.
"Sudah jangan hiraukan dia." ujar Athos duduk di sebelah kiri Tasya dengan kursi yang dia pinjam dari Prothos.
"Aku janji tidak akan macam-macam, aku ingin kita belajar." ucap Tasya meyakinkan Athos.
"Iya aku tahu." senyum Athos. "Baiklah, ayo mulai."
Selama satu jam Athos dan Tasya belajar bersama. Athos lebih banyak mengajari Tasya menjawab soal-soal matematika.
"Kau pintar sekali, Ato." kata Tasya. "Aku yakin di sekolahmu banyak sekali wanita yang mengejarmu."
"Mereka hanya berani mengirimkan ini yang di letakannya di meja atau ruangan osis."
Athos membuka laci meja belajarnya dan mengeluarkan tumpukan surat yang jumlahnya banyak namun masih terlipat rapi.
"Banyak sekali." ujar Tasya kagum. "Ini masih tersegel, kau belum membacanya satupun?"
Athos mengangguk.
"Boleh aku bawa? Aku ingin membacanya."
"Tidak, nanti kau akan cemburu."
"Tidak akan, aku tidak akan cemburu pada wanita-wanita pengecut ini." jawab Tasya. "Pria kaku sepertimu hanya akan takluk padaku." senyum Tasya bangga.