MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Hubungan Manis



Ujian semester sudah berjalan dari senin hingga kamis. Sisa satu hari lagi yaitu besok, hari jumat.


Prothos berjalan ke ruang klub basket setelah ujian selesai. Dia masuk ke dalam ruangan favoritnya tersebut untuk menunggu para saudaranya yang belum terlihat di parkiran.


Ketika Prothos akan keluar, tiba-tiba Widia berjalan di depan ruang klub basket. Prothos langsung menarik masuk gurunya tersebut.


"Kau ini!!" seru Widia kesal pada Prothos yang tersenyum.


Prothos memberikan isyarat dengan jarinya agar tidak berisik.


Widia menurut karena tidak ingin siapapun melihat mereka berduaan di sana.


"Berani sekali kau menarikku!!"


"Maafkan aku bu guru, tanganku tiba-tiba bergerak sendiri." ucap Prothos.


"Itu kan kacamataku!!" seru Widia melihat Prothos memakai kacamata miliknya. "Dari awal ujian kau selalu memakainya."


"Banyak yang bilang aku makin tampan dengan kacamata ini."


"Jangan terlalu percaya apa kata orang!!"


"Kalau menurut bu guru, bagaimana?" tatap Prothos lekat.


Widia mengalihkan tatapannya.


"Aku tidak suka pria tampan." jawab Widia.


"Jadi bu guru tidak menyukaiku?" ucap Prothos. "Ini ku kembalikan."


"Bukan begitu, mungkin aku trauma karena takut seseorang merebut pacarku kalau dia tampan." jawab Widia. "Untukmu saja, sebagai ucapan terimakasihku." senyum Widia.


Prothos tertegun melihat senyum Widia, bisa dibilang ini kali pertamanya gurunya tersebut tersenyum untuknya, di tambah kata-katanya tadi sangat di luar dugaan.


"Aku akan keluar sekarang!!" ujar Widia berjalan.


Prothos menarik Widia ke pelukannya, dan membuat gadis itu terkejut.


"Maafkan aku bu guru, tolong sebentar saja seperti ini." pinta Prothos.


...***...


Anna yang keluar kelas mendapatkan pesan dari seorang pria untuk menemuinya di belakang gedung sekolah. Tanpa bertanya ataupun curiga Anna berjalan ke belakang gedung sekolah.


Aramis melihat Anna pergi ke belakang gedung sekolah, dia segera mengikutinya.


Di sana sudah menunggu David, yang mengirimkan pesan pada Anna.


"Maaf ya aku memanggilmu kesini." ujar David. "Kenalkan aku David, ketua klub karate, kelas sebelas satu."


Anna menyambut tangan David dan bersalaman.


"Apa kau ingin mengajakku masuk ke klub karate? Tapi maaf ya, aku tidak tertarik." ucap Anna. "Sejak tahun kemarin aku sudah sabuk hitam, dan aku merasa puas."


"Tidak, bukan itu." sanggah David. "Apa aku boleh bertanya?"


Anna mengangguk.


"Aramis, apa kau berpacaran dengannya?" tanya David.


"Apa kami terlihat seperti berpacaran?"


David mengangguk tipis.


"Kami malah dikira pasangan gay." ucap Anna tertawa. "Tidak, kami tidak berpacaran."


"Lalu, apa saat ini kau sudah punya pacar?"


"Tidak."


David tersenyum mendengar jawabannya.


"Kalau begitu, apa boleh aku menghubungimu lebih sering?" tanya David.


"Aku rasa tidak masalah." jawab Anna. "Siapapun bebas menghubungiku."


David tertawa bahagia.


"Baiklah, kalau begitu nanti malam aku akan menghubungimu."


Setelah berkata demikian David meninggalkan Anna yang kebingungan.


"Jadi tujuannya memanggilku apa?" tanya Anna pada dirinya sendiri. "Aneh."


Aramis yang mencoba mencuri dengar tidak bisa mendengar apapun karena posisinya yang terlalu jauh.


...***...


Aramis duduk di tempat tidurnya saat malam tiba, dia masih penasaran apa yang di katakan David pada Anna. Dengan penuh pertimbangan Aramis menelepon Anna.


"Ada apa meneleponku?" tanya Anna yang juga berbaring di tempat tidurnya. "Aku sudah mengantuk."


"Tadi kau bicara apa dengan David?" ucap Aramis langsung ke tujuannya.


"Apa yang dikatakannya?" Aramis mengulang pertanyaannya.


"Apa ya? Kata-katanya aneh, dia menanyakan apa aku dan kau berpacaran atau tidak." ucap Anna menjelaskan.


"Apa yang kau jawab?"


"Tentu saja tidak." jawab Anna. "Terus dia tanya lagi apa aku punya pacar? Setelah aku jawab tidak, katanya dia ingin menghubungiku lebih sering."


"Hanya itu?"


"Ya, sepertinya hanya itu." ucap Anna bingung. "Tadi dia telepon beberapa kali tapi tidak aku angkat karena aku sedang buang air besar di kamar mandi."


"Bodoh!!"


"Apa aku salah? Apa aku harus balik meneleponnya?" tanya Anna.


"Tidak usah!!"


"Heh, tapi kenapa kau ingin tahu urusanku?" ujar Anna dengan posisi duduk. "Ayo katakan, kenapa kau ingin tahu urusanku?"


"Tidak apa-apa!!" seru Aramis setelah itu menutup teleponnya.


Aramis merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan membuang napas.


"Dasar wanita bodoh!!"


...***...


Di kamar, Melody menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan, karena dia merasa tidak enak jika terus menerus hubungannya seperti ini dengan Lion.


"Aku akan melakukan sesuatu besok." ucap Melody.


Melody mengambil gitarnya dan memetiknya, memainkannya dengan lembut.


Dari kamarnya, Lion bisa mendengar suara gitar Melody dan itu membuat Lion tersenyum sambil merebahkan badannya di tempat tidurnya.


...***...


Athos menghubungi Tasya menggunakan video call karena sudah empat hari ini mereka tidak bertemu dan hanya berkomunikasi melalui telepon, dan chat.


"Bagaimana ujianmu hari ini?" tanya Athos. "Kau bisa menjawab semuanya?"


"Tentunya. Semua berkatmu." ucap Tasya senang. "Aku tidak sabar hari sabtu, aku sangat merindukanmu."


"Café akan mulai di buka kembali sabtu, datanglah ke sana."


"Di café aku tidak bisa menyentuhmu." keluh Tasya. "Aku sangat merindukanmu, Ato."


"Libur semester sebentar lagi kan? Datanglah setiap pagi ke rumah." ujar Athos tersenyum. "Sebentar lagi akan ada pemilihan ketua osis baru, kemungkinan saat pagi aku akan ke sekolah di saat libur, tapi kau bisa datang pagi atau sebelum kami ke café."


"Itu pasti." jawab Tasya tersenyum. "Aku akan membangunkanmu tiap pagi nanti."


"Aku selalu bangun jam lima pagi. Jam berapa kau akan datang?"


"Jam lima? Ya ampun, kau rajin sekali... kalau libur aku selalu bangun di atas jam tujuh bahkan aku jarang sarapan." ujar Tasya. "Aku jadi tidak bisa melihatmu yang sedang tertidur."


"Baiklah, sesekali saat kau datang, aku akan berpura-pura tidur." senyum Athos menggoda kekasihnya.


"Aku sangat mencintaimu, Ato." senyum Tasya memberikan lambang hati dengan jarinya.


Athos hanya tersenyum menanggapinya.


"Arghh... melihat bibirmu yang tersenyum aku jadi ingin menciummu." goda Tasya.


...***...


Prothos yang sudah mematikan lampu kamarnya masih belum bisa terlelap. Kata-kata yang diucapkan gurunya, Widia, masih terngiang dalam benaknya.


Kata-kata saat Widia memakaikan kacamata padanya, saat mengolesinya obat dan kata-kata di hari ini di ruang klub basket.


Dan saat dirinya memeluk gurunya tersebut. Dia masih tidak mengerti kenapa dia melakukan hal itu. Apa yang dilakukannya tersebut juga di luar dugaannya.


Perasaannya bercampur aduk sekarang.


Aku yakin bu guru akan menghindariku mulai sekarang.


...***...


Sedangkan Widia sedang sibuk memeriksa hasil ujian anak muridnya. Namun kejadian tadi di ruang klub basket memasuki benaknya kembali.


Prothos memeluknya dan mereka tetap di posisi itu untuk waktu yang cukup lama.


"Kenapa anak itu memelukku? Apa dia mau mempermainkan aku?" ucap Widia menjadi kesal. " Ya ampun, kenapa tadi aku diam saja seperti menikmatinya? Widia kau bodoh sekali!! Jangan biarkan muridmu mengerjaimu lagi sekarang!!"


Widia menepuk-nepuk wajahnya.


"Aku harus menjauh dari anak itu mulai sekarang!!" ujar Widia. "Ya, sepertinya karena aku terlalu santai dia jadi merasa bisa mengerjaiku seperti tadi. Satu-satunya cara adalah aku akan menjauh darinya." tambah Widia.


Dia kembali mencoba fokus mengerjakan pekerjaanya, walau sulit.