
Athos sedang bersiap-siap akan pergi untuk melihat-lihat mobil yang akan dibelinya. Waktu menunjukan pukul sembilan pagi. Ayah datang mengetuk pintu kamarnya.
"Masuk saja." seru Athos masih merapikan pakaian yang baru dikenakannya.
"Bulan ini kau menghabiskan banyak uang, apa tidak masalah?" tanya ayah menatap putra tertuanya.
"Kau datang mau komplain atau bertanya, ayah?" Athos balik bertanya sambil merapikan rambutnya dan bercermin.
"Tergantung jawabanmu."
Athos menoleh pada ayahnya, dan berjalan mendekatinya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan menghasilkan banyak uang mulai sekarang." jawab Athos. "Dan tolong ayah, jangan melarangku menghentikan apa yang sudah aku mulai. Aku tidak akan mendengarkanmu."
Setelah berkata demikian Athos keluar kamar meninggalkan ayahnya.
"Sepertinya aku terlalu keras mendidik mereka bertiga hingga mereka satupun tak mau dengar ucapanku." gumam ayah kesal.
Athos menuruni tangga dan ayah di belakangnya. Athos mengambil jus di kulkas lalu menuangkan ke gelas, sedangkan ayah duduk di ruang tamu.
"Kau tidak kemana-mana?" tanya Athos pada Prothos yang sejak pagi duduk di meja makan, sedang belajar.
"Aku rasa begitu." jawab Prothos yang sedang membaca buku dengan kacamata dari Widia. "Kau akan pergi dengan Tasya?"
"Tidak, aku akan pergi sendiri." jawab Athos meminum jusnya sambil berdiri.
"Apa perlu aku antar?" tanya ayah menyimak pembicaraan anak-anaknya.
"Astaga... aku bukan anak kecil lagi yang kemana-mana harus bersama orang tua." jawab Athos melihat ayahnya. "Oto, kau tahu siapa saja teman Tasya?"
"Ada apa?"
"Tasya bersikap aneh, sepertinya dia menghindariku."
"Benarkah?" tanya ayah. "Akhirnya gadis itu benar-benar mencampakan anak sombong dan keras kepala sepertimu."
"Ayah, bercerminlah, kau kira sifat itu turun dari mana?" tatap Athos kesal pada ocehan ayahnya. "Tolong carikan aku nomer teman Tasya yang satu sekolah dengannya. Kalau perlu satu kelas."
"Kalian harus tetap merahasiakan hubungan kalian, Ato. Kalau kau menelepon teman Tasya, mereka akan curiga." ujar Prothos.
"Aku tahu, karena itu aku memintamu. Carikan nomernya, dan kau hubungi, tanya padanya apakah dia ke sekolah atau tidak." seru Athos. "Baiklah, aku pergi. Segera hubungi aku."
Athos mengambil kunci mobil dan setelah itu berjalan keluar.
Prothos menghampiri ayahnya di ruang tamu.
"Ayah, aku pinjam handphone-mu." ucap Prothos langsung mengambil handphone ayahnya di atas meja lalu kembali ke tempatnya.
Ayah menatap Prothos tidak percaya.
"Kau menyusahkan dirimu dan orang lain, tahu tidak? Beli lah handphone baru!!"
Prothos mengabaikan perkataan ayahnya dan membuka laptop miliknya untuk mencari database member langganan café.
"Setiap aku di rumah kalian selalu mengabaikan perkataanku. Kau dengar tidak?"
"Ayah, kau ini bukan wanita, jangan cerewet seperti seorang wanita." jawab Aramis yang baru masuk ke rumah. "Ocehanmu sampai terdengar dari luar. Ini masih pagi." lanjut Aramis sambil naik ke lantai dua.
"Kalian ini ya!!" kesal ayah menahan emosi pada anak-anaknya.
...***...
Athos sampai di lokasi dimana cabang café akan di buka setelah kembali dari showroom mobil. Café tersebut masih tahap renovasi dan dekorasi. Athos berdiri memperhatikan setiap sudut ruangan.
"Habis ini kami berencana bertemu." ucap Lion yang mendekati Athos dan berdiri di sampingnya. "Aku rasa kau tidak perlu khawatir, dia sama sekali bukan sainganmu."
"Aku sama sekali tidak pernah menganggapnya saingan, bagiku dia tidak lebih dari seekor lalat yang mengganggu." jawab Athos dengan dingin.
Handphone Athos berdering.
"Temannya bilang, Tasya tidak masuk ke sekolah sejak rabu kemarin." ucap Prothos di ujung telepon. "Bahkan Tasya tidak menerima kunjungan teman-temannya yang ingin menjenguknya."
"Lion, kunci motormu." ucap Athos.
Lion memberikan kunci motornya dan Athos menukarnya dengan kunci mobilnya. Dia langsung berlari keluar.
"Hah, sepertinya semakin seru." ujar Lion.
...***...
Pintu rumah Tasya terbuka setelah asisten rumah tangga yang bernama Keke membukakan pintu untuk Athos.
"Maaf, nona Tasya tidak ingin menemui siapapun." ucap Keke pada Athos.
Athos menerobos masuk ke dalam tidak mempedulikan perkataan Keke.
"TASYA!!" teriak Athos memanggil kekasihnya dengan suara keras.
"Pergilah!! Nona Tasya tidak mau menemui siapapun."
"Bilang padanya, aku tidak akan pergi sebelum menemuinya." ujar Athos dingin.
Tidak berapa lama Tasya turun dari tangga dengan memakai kacamata hitam, berjalan mendekati Athos.
"Ato, kau ke sini? Bukannya sudah ku bilang, hari ini aku tidak..."
Athos berjalan mendekati Tasya dan membuka kacamata hitam yang digunakan Tasya, membuat Tasya langsung terdiam.
Sebuah lebam biru di sudut mata kiri Tasya. lebam tersebut yang ditutupi Tasya dengan menggunakan kacamata hitam.
"Kemarin aku terjatuh dan tidak sengaja terbentur sudut meja. Ini sudah tidak apa-apa, sebentar lagi akan hilang. Aku tidak ingin kau melihatnya karena ini sangat memalukan dan aku jadi terlihat jelek sekali. Tapi kau tidak perlu khawatir, rasanya sudah tidak sakit." ujar Tasya bingung karena Athos hanya menatapnya. "Ini benar-benar terbentur sudut meja. Benar kan Keke?"
Tasya melihat ke Keke yang berdiri di sana memperhatikan mereka. Keke diam saja tidak berani menjawab untuk ikut campur.
"Ikutlah denganku!! Aku akan mematahkan lengannya agar dia tidak bisa lagi menyakitimu." seru Athos menarik lengan Tasya mengikutinya.
Athos dan Tasya menaiki motor Lion. Di tengah perjalanan Athos menghubungi seseorang.
"Kau masih bersama dia? Baiklah, sepuluh menit lagi aku sampai." ujar Athos sambil menggunakan handphone-nya.
Tasya hanya diam memeluk kekasihnya itu dari belakang.
Athos bersama dengan Tasya memasuki suatu tempat, dan berjalan memasuki tempat itu. Tempat bermain bowling, yang tidak terlalu ramai oleh pengunjung.
Hanya ada beberapa pria bersama wanita yang bermain. Athos dan Tasya menuju kumpulan mereka. Lalu tanpa basa basi Athos langsung menendang Dion yang sedang berdiri dari belakang lalu meninju wajahnya sebanyak dua kali hingga pria itu tersungkur.
"Apa-apaan kau ini?"
Athos menarik kerah baju Dion yang tersungkur dan menatapnya penuh amarah dan kebencian.
Teman-teman Dion tak ada yang berani memisahkan mereka dan hanya menonton saja.
Athos menarik Dion bangun dan memukulnya berkali-kali lagi tanpa ampun. Dion tak mampu membalas dan pasrah dengan amarah Athos. Athos menarik lengan kanan Dion yang hanya tersungkur dan hendak menghantamnya dengan kakinya.
"Ato, sudah cukup!!" seru Tasya menarik Athos. "Ayo kita pergi."
Tidak berapa lama keamanan tempat itu datang dan menghalau Athos.
"Aku akan benar-benar kehilangan kendali dan mematahkan tanganmu kalau berani menyakiti pacarku lagi!!"
Athos menahan amarahnya dan melihat ke sekeliling. Dia menghampiri seseorang wanita yang merekam kejadian itu dengan handphone miliknya. Athos langsung merampasnya dan menghapus video tersebut. Lalu menggandeng tangan Tasya dan berjalan pergi.
Lion berada di tempat itu dan berdiri jauh dari kumpulan Dion. Dia menghubungi Athos yang hendak menaiki motornya.
"Kau tidak perlu khawatir, sisanya akan aku urus. Dia tidak akan menuntutmu karena tidak ada bukti, sebelum kau datang CCTV sudah aku matikan." ucap Lion pada Athos di telepon.
Lion menutup teleponnya.
"Anak tertua Three Musketeers sangat menakutkan. Bahkan dia bisa memprediksi ini terjadi dan memintaku bergabung ke kelompok para pecundang itu." ujar Lion dengan tawa. "Ya, tapi harus selalu ada rencana cadangan."
Lion membuka handphone-nya dan memutar video rekaman kejadian tadi.