MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Melody Cinta



Melody membuka mata karena mendengar suara berisik. Kepalanya terasa sangat sakit mendengar suara berisik itu.


Senyum ayah menyambutnya dengan belaian lembut. Seluruh anggota keluarga berkumpul di kamarnya, itu membuat Melody menjadi terharu. Tangan kanannya terasa nyeri karena jarum infus terpasang. Dia melihat paman Ronald sedang mengutak-utik cairan infus.


"Bagaimana keadaanmu, cucuku yang manis?" tanya kakek yang duduk di sisi tempat tidur memegang kening Melody. "Kau baik-baik saja kan?"


Tiba-tiba terdengar lagi suara berisik seperti suara palu yang memukul paku.


"Hentikan bodoh!!" seru Aramis.


"Kau bilang aku harus memperbaikinya sebelum malam?!"


Melody mencoba bangun untuk melihat apa yang terjadi, ternyata Lion sedang mengganti jendela yang kacanya dia pecahkan tadi.


"Tapi kau membuatnya jadi bangun!!" geram Aramis menyabet Lion dengan kaos miliknya. Aramis tidak memakai baju karena merasa panas berada di ruangan yang penuh dengan orang. "Panas sekali disini."


"Sebaiknya kalian semua keluar!!" seru paman Ronald.


"Ato, ayo siapkan makanan. Melo istirahat saja disini." ucap ayah tersenyum. "Oto, jaga adikmu!!" seru ayah setelah itu berjalan keluar bersama yang lainnya.


"Apa yang kau lakukan?!" seru Aramis pada Lion yang hendak keluar juga.


"Paman Ron bilang, sebaiknya kita keluar kan?" ujar Lion.


"Kau cari mati ya?! Selesaikan dulu jendelanya!!" kata Aramis. "Aku akan tetap disini hingga kau menyelesaikannya!!"


"Dasar monster tidak tahu terima kasih." gumam Lion kembali memperbaiki jendela.


"Diam dan selesaikan saja kekacauan yang kau buat!!" seru Aramis.


"Melon, aku benar-benar mengantuk sekarang. Bagaimana kalau aku selesaikan besok saja??" tanya Lion. "Aku merusak jendela ini karena..."


"Tidak ada yang menyuruhmu memecahkan kaca jendela." jawab Melody sambil berbaring menyembunyikan senyumnya. "Aku tidak ingin mati digigit nyamuk malam ini."


"Ya ampun, kalian berdua semakin menyebalkan!!" gumam Lion. "Oto, tolong bantu aku! Kau kan yang paling mahir dalam hal ini."


"Melo, apa kakak boleh membantunya?" tanya Prothos pada Melody.


"Kak Oto temani aku tidur dan berbaring saja disini." Melody memegang tangan Prothos dan menyuruhnya berbaring di samping kirinya. "Malam ini aku ingin tidur dengan kakak." tambah Melody sambil memeluk lengan Prothos.


"Apa yang kau lihat!!" seru Aramis pada Lion.


"Keluarga ini benar-benar jahat!!" gerutu Lion dengan kesal.


...***...


Malam tiba dengan cepat. Melody merasa tidak mengantuk setelah lama tidur. Dia hanya diam menatap langit-langit kamar yang sudah sangat gelap karena tidak ada cahaya. Prothos yang tidur di sebelahnya sudah tertidur pulas.


Tepat pukul dua belas malam ayah masuk ke dalam kamarnya seperti biasa untuk memastikan dia sudah tidur atau belum.


"Kenapa belum tidur?" tanya ayah pada putri kesayangannya.


"Setelah tidur tadi sekarang aku tidak mengantuk." jawab Melody. "Ayah, maafkan aku ya sudah membuat ayah dan yang lainnya khawatir. Melody menggenggam tangan ayah. Aku janji tidak akan mengurung diri di kamar lagi."


"Janji jangan melakukannya lagi!!"


Melody mengangguk.


"Pasti ayah lelah kan? Sebaiknya ayah tidur sekarang."


"Ayah akan menemanimu sampai kau tertidur." senyum ayah.


"Tidak usah, ada kak Oto disini, jadi ayah tidur saja."


"Baiklah kalau begitu." Sekali lagi ayah tersenyum.


Melody duduk dan memeluk ayah.


"Aku sayang ayah, sangat sayang hingga rasanya ingin menikah saja dengan ayah. Aku akan mencari pria seperti ayah untuk menikah dengannya."


Ayah tertawa kecil mendengar perkataan putrinya.


"Ayah juga sayang Melody". balas ayah. "Ayah keluar sekarang, tidur yang nyenyak ya."


Setelah berkata demikian ayah segera keluar meninggalkan kamar Melody.


Melody kembali melihat langit-langit kamar. Dia teringat dengan ucapan Lion tadi. Mulai sekarang Lion tidak keberatan jika di panggil oleh dirinya, itu membuat kelegaan bagi hati Melody.


Pasti aku sudah mengatakannya kalau tidak pingsan tadi. kata Melody dalam hati.


"Kak Oto," ujar Melody pada Oto yang tertidur. "Sepertinya aku... menyukai Lion." aku Melody sambil menutup matanya.


Melody mengatakannya karena tahu Prothos sudah tertidur dan tidak mendengarnya. Namun tanpa disadari oleh Melody, Prothos membuka matanya dan mendengar perkataan Melody.


...***...


Sepulang dari rapat OSIS, Anna sudah tidak kuat lagi menahan sakit di kepalanya. Dia bergegas ke dapur dan meminum obatnya. Namun ketika dia mengambil gelas, gerakan tangannya meleset dan malah menyenggol gelas tersebut dari atas lemari dapur hingga terjatuh dan pecah ke lantai. Saat yang bersamaan tiba-tiba lampu dapurnya redup padahal hari sudah sangat gelap karena sudah menunjukan pukul delapan malam.


Anna merasa sangat kesal dengan semua yang terjadi. Akan tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia menahan napasnya dan mencoba fokus, lalu mengambil lagi gelas lainnya, dan segera meminum obatnya.


Drrttt drrttt


Anna langsung mengambil handphone yang dia letakan di atas meja dapur saat nama Lion muncul di layar, meneleponnya.


"Ada apa?" tanya Anna.


"Dimana Ars? Apa dia bersamamu?" Lion balik bertanya. "Padahal aku sudah bilang agar dia ke rumahku untuk bermain game. Tapi handphone-nya tidak bisa dihubungi. Arrghh sejak kau ada dia jadi menjauh dariku."


"Astaga, kalian memang pasangan gay ternyata." ujar Anna bercanda.


Lion meresponnya dengan gelak tawa.


"Lion, kau bisa membantuku?" tanya Anna.


Lion masuk ke rumah Anna dengan sebuah bohlam lampu yang dibawanya setelah Anna membuka pintu rumahnya.


"Kenapa kau tidak bilang Ars? Dia akan langsung datang kalau kau memanggilnya." ujar Lion berjalan masuk. "Lampu dapurnya?"


Anna mengangguk sehingga Lion langsung berjalan ke dapur.


"Aku tidak mau memanggilnya, dia tidak akan pulang sebelum aku menendangnya keluar." jawab Anna duduk di sofa karena sakit kepalanya belum juga kunjung membaik. "Hati-hati, di sana ada pecahan gelas. Aku belum sempat membersihkanny karena gelap."


"Kau ceroboh sekali." gumam Lion.


Lion memperhatikan ke lantai melihat pecahan gelas yang di bilang Anna. Setelah itu menggeser kursi untuk mengganti lampunya.


"Tinggi badan kita hanya selisih lima senti, kau pasti bisa melakukannya tanpa bantuanku." ucap Lion selesai mengganti bohlamnya.


Anna tak merespon, dia hanya menutup matanya sambil bersandar ke sofa.


Setelah lampu menyala, Lion membersihkan pecahan gelas yang berserakan. Ketika dia bangkit berdiri pandangannya berhenti pada sebuah tumpukan obat yang berada di sebelah gelas yang masih terisi setengah air putih.


Tak butuh lama untuk Lion mengetahui obat-obatan tersebut untuk apa. Lion langsung membawanya mendekati Anna dan melihat Anna yang menutup mata dengan bersandar di sofa. Wajahnya sangat pucat.


Anna membuka mata karena merasa Lion berdiri menatapnya. Dia melihat obat-obatan miliknya ada di tangan Lion.


"Itu hanya obat untuk penyakit maag-ku." ucap Anna. "Setelah menjadi ketua OSIS kadang aku sering lupa makan."


Lion tertawa kesal karena perkataan bohong Anna.


"Kau tahu Anna, keuntungan dari mempunyai banyak teman apa?" tatap Lion. "Kau akan bisa melakukan apa yang temanmu lakukan, dan kau pun jadi memiliki banyak pengetahuan tentang yang mereka ketahui."


Anna terdiam karena tahu Lion mengetahui tentang obat-obatan tersebut.


"Apa Ars tahu?" tanya Lion lagi.


"Jangan memberitahunya, aku mohon padamu." pinta Anna menatap lekat Lion. "Aku akan sembuh karena itu jangan memberitahunya."


"Tidak, aku tidak bisa berjanji untuk tidak memberitahunya." jawab Lion.


"Aku mohon. Aku tidak ingin dia mengkhawatirkan aku." ucap Anna. "Dia pernah menangis ketika aku jatuh dari tangga karena itu kalau dia sampai tahu, dia pasti akan-"


"Dengar Anna!! Ketika seseorang mendengar kabar buruk mengenai orang yang dicintainya, dia pasti akan menangis. Tapi itu lebih baik dari pada semuanya terlambat."


Anna terdiam sesaat mendengar ucapan Lion.


"Aku mohon." pinta Anna lagi.


Lion terlihat semakin kesal namun dia tidak bisa berbuat apapun.


"Aku tidak ingin berjanji." jawab Lion setelah itu pergi keluar.