
Lion masuk kembali ke coffee shop dimana Mona bekerja. Dengan santai Lion duduk di tempat biasanya dia duduk kemarin-kemarin tanpa memedulikan ocehan Mona yang kesal melihatnya.
Dalam benaknya masih memikirkan apa yang terjadi dengan Melody dan Niko. Sekuat apapun dia tidak ingin mengingatnya pikirannya masih terus dipenuhi oleh hal itu.
"Hari ini kau harus memesan dan membayar full, Lion." seru Mona dari dalam meja kasir.
"Tidak masalah. Aku sedang senang hari ini. Aku juga akan membeli lebih dari satu gelas." senyum Lion. "Buatkan aku susu yang kemarin tiga gelas bersamaan, Mona. Aku juga akan membayar kekurangan uangku kemarin."
...***...
Melody bersama Niko berada di sebuah restoran steak yang waktu itu mereka kunjungi saat Melody masih merasa takut pada Niko.
Ketika steak yang mereka pesan tiba, Niko mengambil steak milik Melody untuk dipotong-potong menjadi bagian yang kecil olehnya. Sama seperti waktu itu, dia pun melakukannya juga untuk Melody.
"Silakan dimakan, tuan putri." ucap Niko memberikan steak Melody yang sudah dipotongkan olehnya.
Melody merasa kalau Niko bersikap baik padanya. Semakin sering bersamanya, Melody jadi merasa anggapannya berubah sedikit demi sedikit. Yang awalnya dia merasa Niko adalah pria arogan, saat ini anggapan itu sudah terkikis karena sikapnya yang baik.
"Ada apa? Ingin aku suapi sekalian?" tanya Niko pada Melody yang tidak langsung melahap steak yang ada di depannya.
Melody langsung tersadar dan segera memakan makanannya.
"Sebelumnya aku punya permintaan padamu." ucap Niko. "Aku akan mengatakannya padamu tetapi berjanjilah kau tidak akan bertanya mengenai apapun yang tidak aku katakan."
"Baiklah." jawab Melody setelah sempat berpikir sejenak.
"Dua tahun yang lalu saat aku berlibur di negara ini, karena sesuatu tanganku terbakar parah hingga derajat empat, walau aku beruntung karena hanya tangan kiri ini yang terbakar tapi hidupku berubah semua. Aku memutuskan untuk tinggal disini kembali. Selama hampir dua tahun aku tidak fokus sekolah karena mengobati tanganku ini. Bahkan sampai saat ini aku masih berusaha mengobatinya." ujar Niko dengan tatapan yang tidak biasanya.
Melody mendapat jawaban kenapa Niko tidak naik kelas selama dua tahun. Bukan karena dia bodoh tapi karena dia harus mengobati luka di tangan kirinya.
"Tapi aku tidak masalah jika tidak naik kelas berkali-kali. Ada satu yang paling membuatku merasa luka ini merenggut semuanya dariku." lanjut Niko.
Niko berhenti sesaat, dia menggigit ujung bibir kirinya sangat keras, hingga Melody merasa takut jika yang dilakukannya akan membuat bibirnya terluka. Bibir Niko tampak sangat kering saat ini, Melody berpikir Niko lupa mengolesinya dengan pelembab bibir seperti kebiasaannya.
"Kejadian itu terjadi seminggu sebelum aku kembali ke Rusia untuk mengikuti seleksi kompetisi renang internasional. Bahkan sebagai seorang atlet renang aku harus berhenti renang selamanya karena luka bakar ini membuat syaraf dan otot lenganku rusak."
Melody sangat terkejut mendengar perkataan Niko. Tanpa sadar airmatanya pun mengalir ke luar saat mendengar cerita Niko. Melody tidak bisa membayangkan bagaimana Niko harus merelakan impiannya sebagai seorang atlet renang karena luka bakar itu. Dia pasti sangat menderita karena harus menelan pil pahit itu di dalam hidupnya.
Melody menghapus air matanya dengan cepat karena tidak ingin Niko berpikir kalau dirinya mengasihaninya. Hal itu takut membuat Niko tersinggung.
"Jadi ketika aku bilang aku tidak bisa renang, itu bukan dalam arti yang sesungguhnya."
Niko menggigit ujung bibir kirinya lagi, dan kali ini lebih keras dari sebelumnya hingga Melody melihat darah mulai keluar dari bibir Niko yang terluka.
Melody mengambil tisu yang ada di meja dan mencondongkan dirinya lalu menghapus darah yang hendak menetes ke dagu Niko
"Ternyata kau benar vampir." ucap Melody seraya mengusap darah Niko.
Niko tertegun melihat tindakan Melody padanya.
...***...
Jam lima sore Melody tiba di rumah. Niko mengantarnya dan setelahnya pemuda itu langsung pergi. Melody masuk ke dalam rumah dimana ketiga kakak dan ayahnya menatap kehadirannya.
Ayah dan Athos sedang akan memulai memasak makan malam, sedangkan Prothos dan Aramis duduk berjajar membelakangi pintu masuk.
"Kau sudah pulang, Melo?" tanya ayah melihat kehadiran putri kesayangannya. "Malam ini kau mau makan apa?"
"Aku sudah makan, aku tidak ikut makan dengan kalian." jawab Melody.
Ayah melepas apron yang baru saja dia kenakan.
"Melo, duduklah dulu." seru ayah menatap Melody. "Ato, kau juga duduk!"
Melody dan Athos mengikuti perintah ayah mereka dan duduk berjajar di hadapan Prothos dan Aramis. Setelah itu ayah duduk di meja tunggal di antara Melody dan Prothos yang saling berhadapan.
"Selama ini aku hanya bertanya tentang rencana pendidikan atau hal akademis lainnya pada kalian bertiga. Bahkan ayah jarang bertanya padamu Melo." tatap ayah pada Melody. "Aku rasa kali ini aku akan bertanya masalah lainnya pada kalian bertiga."
"Masalah apa?" tanya Athos.
"Bagaimana hubunganmu dengan Tasya?" tanya ayah menatap anak tertuanya. "Apa aku harus khawatir dengan hubungan kalian?"
"Tidak, semua akan baik-baik saja." jawab Athos.
"Bagaimana denganmu, Oto?" kali ini ayah menatap Prothos. "Apa kau serius dengan pacarmu yang sekarang?"
"Ya, aku yakin kali ini aku akan serius. Walau jalanku masih panjang tapi aku sangat serius dengannya." jawab Prothos sambil mengangguk-angguk.
"Bagaimana denganmu, Ars?"
"Kau sudah mendengar rencanaku setahun lagi. Tidak ada yang harus aku jelaskan padamu lagi." jawab Aramis.
Ayah menatap pada Melody, anak bungsunya yang merupakan harta paling berharga keluarga itu.
"Bagaimana hubunganmu dengan Niko?" tatap ayah pada Melody.
"Kami hanya berteman." jawab Melody singkat.
Ayah mengambil napas dalam-dalam sebelum berbicara lagi.
"Aku tidak pernah sebelumnya bercerita ini pada kalian semua. Tapi aku rasa aku harus bercerita agar kalian bisa mengambil kesimpulan sendiri dari ceritaku ini dengan ibu kalian." ujar ayah. "Kalian tahu, aku dan ibu kalian bisa dibilang teman bukan atau musuh juga bukan. Kami selalu bertengkar setiap bertemu. Sampai akhirnya kami menikah tapi hanya tiga tahun kami berdua menghabiskan hidup bersama hingga akhirnya ibu kalian meninggal karena penyakitnya."
Melody mengepalkan tangannya karena merasa ibunya yang meninggal saat melahirkannya adalah kesalahannya.
"Melo, ibumu lebih sayang padamu sehingga dia memilih untuk melahirkanmu. itu bukan salahmu." tatap ayah pada Melody sambil memegang tangan anaknya yang terkepal di pangkuannya.
Melody mengangkat kepalanya melihat ayahnya yang tersenyum.
"Setelah kepergian ibu kalian, aku sering merasa menyesal karena dulu ketika kami masih bersama kami sering bertengkar hanya karena hal kecil. Bahkan seharusnya dulu saat kami masih sekolah kami tidak bertengkar dan lebih memilih menghabiskan waktu kami bersama-sama. Sesuatu akan terasa begitu berharga ketika kita kehilangannya. Tapi semua sudah terjadi, penyesalan hanya ada di akhir dari setiap kesalahan. Seberapa aku berusaha merubahnya, tapi lagi-lagi ada hal yang tidak bisa kita lawan."
Ayah menelan salivanya dengan mata berkaca-kaca menatap satu per satu anaknya.
"Ingatlah untuk kalian semua, teruslah berusaha lakukan yang terbaik untuk hubungan kalian, jika sesuatu hal buruk terjadi itu bukan salah kalian dan berpikir kalian melakukan kesalahan atau kurang berusaha. Yakinlah kalau kalian sudah melakukan semua yang terbaik untuk itu. Namun semua kembali lagi pada kenyataan, karena satu-satunya hal yang tidak bisa kita ubah adalah takdir."
Keempat anaknya menyimak dengan sangat serius tak ada satupun dari mereka memotong atau mengomentari perkataan ayahnya saat ini.
"Tapi simpan hal ini dalam hati kalian. Selalu ada pelangi setelah hujan." lanjut ayah. "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar pada apapun, karena masa depan akan ada dan harapanmu tidak akan hilang."
...To be continued......
...****************...
Terimakasih untuk reader setia yang membaca kisah Melody bersama ketiga kakak kembarnya.
Kisah akan berlanjut di sekuel atau season kedua ya. Yang pasti akan author usahakan hingga tamat.
YUK FOLLOW AUTHOR BIAR GA KETINGGALAN SEASON KEDUANYA.
Jangan bosen-bosen baca karya author yang lain ya, dan mohon dukungannya.
Mohon maaf kalau tulisan author membuat para reader kurang berkesan atau tidak sesuai dengan harapan.
Tunggu kabar selanjutnya kapan sekuel atau season kedua akan rilis.
Jangan lupa dukung terus ya.
Like, komen, favorite, gift dan vote.
Jangan pelit-pelit ya biar semangat terus update-nya.
Kritik dan saran boleh dilontarkan sebebas mungkin dengan bahasa yang baik ya.
Mohon maaf kalo cerita kurang menarik dan kata-katanya berantakan.
Terimakasih untuk yang masih setia membaca novel karyaku.
IG : natzsimo.author
Silahkan di follow dan DM ya biar di follback.