MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Sebuket Bunga Mawar



Selama beberapa hari Prothos mencoba berbicara pada Widia di sekolah namun kekasihnya itu selalu menghindarinya. Prothos masih belum berbuat apapun untuk memperbaiki hubungannya saat ini, dalam beberapa hari ini dia mencoba fokus belajar karena di kelasnya setiap hari diadakan ujian harian.


Sepulang sekolah di hari jumat, Prothos duduk di meja belajarnya, dia memikirkan apakah akan menelepon Widia menggunakan handphone pemberian Wilda atau tidak. Namun dia tidak ingin menggunakan handphone itu sedikitpun bahkan untuk menghubungi siapapun.


Hanya Wilda yang sering mengiriminya pesan dengan hal-hal yang berisi ajakan untuk menemuinya di apartemen-nya. Sekalipun Prothos tak pernah membalasnya.


"Kak Oto." Panggil Melody masuk ke kamar kakaknya dengan sebuah bungkusan di tangannya. "Aku baru membeli banyak sekali marshmallow, aku tahu kau juga suka. Ini untukmu."


Melody meletakan bungkusan yang dibawanya ke meja. Dia memperhatikan Prothos yang memegang handphone pemberian Wilda, dia berpikir kenapa kakaknya masih memegangnya padahal katanya dia akan mengembalikannya.


"Kakak tidak jadi mengembalikan handphone itu?" Tanya Melody heran. "Sebenarnya kakak dan Wilda itu—"


"Melo, boleh pinjam handphone-mu?" Tanya Prothos memotong perkataan Melody.


"Untuk apa?"


"Kakak ingin menelepon pacar kakak." Jawab Prothos.


Melody memberikan handphone-nya pada Prothos, dan Prothos segera keluar dari kamarnya untuk menelepon. Sedangkan Melody duduk di kursi di dalam kamar Prothos. Dia memikirkan sebenarnya apa yang terjadi? Wilda bukan pacar kakaknya lalu siapa? Dia memperhatikan topi yang ada di atas meja belajar Prothos sambil memikirkan semuanya untuk mencari jawaban yang sangat ingin dia ketahui itu.


Di luar Prothos menelepon Widia menggunakan handphone Melody. Prothos merasa harus berbuat sesuatu untuk memperbaiki hubungannya.


"Halo." Jawab Widia di ujung telepon.


"Widi, aku minta maaf." Ucap Prothos. "Aku jadi ikut marah karena rasa ragumu. Kau mau maafkan aku?"


"Aku yang seharusnya minta maaf padamu, aku yang terlalu berpikir berlebihan." Jawab Widia.


"Tidak, aku mengerti kecemasanmu, kau tidak salah." Ujar Prothos. "Kau dimana? Aku akan ke tempatmu. Apa boleh?"


"Aku menunggumu." Jawab Widia.


Prothos kembali masuk ke kamarnya setelah menelepon Widia, dia sangat tergesa-gesa karena ingin segera menemui kekasihnya itu.


"Kau masih disini?" Ucap Prothos mengembalikan handphone milik Melody. Setelah itu mengambil dompetnya di atas meja.


"Kakak mau kemana?" Tanya Melody melihat kakaknya yang akan pergi.


Prothos tidak menjawab dan hanya tersenyum pada Melody dan bergegas keluar kamarnya.


Sepeninggalan Prothos, Melody kembali berpikir lagi. Dia tahu kalau kakaknya pasti ingin menemui kekasihnya sekarang. Dia kembali mencoba memikirkan semuanya. Kejadian kemarin saat dia melihat kakaknya Prothos seperti ingin berbicara dengan wali kelasnya, dan sebelumnya wali kelasnya itu ingin menanyakan keadaan kakaknya. Dia teringat perkataan Lion, wali kelasnya itu juga ikut menjenguknya saat Lion sakit. Melody kembali memperhatikan topi milik Prothos dan mencoba membacanya walau hanya huruf W dan A yang terlihat jelas.


"Apa jangan-jangan?"


Melody membuka daftar telepon di handphone-nya dan melihat nama Widia di daftar terakhir panggilan teleponnya. Karena Prothos tergesa-gesa dia lupa untuk menghapusnya sebelum mengembalikan handphone-nya pada Melody.


...***...


Widia membuka pintu kamarnya setelah seseorang menekan bel. Setelah Prothos menelepon dia menjadi tidak sabar menanti kedatangannya. Dengan segera gadis itu membuka pintu apartemennya.


"Maaf bu, apa aku mengganggu?" Tanya Wilda yang ternyata adalah seseorang yang menekan bel. "Ada yang ingin aku tanyakan mengenai tugas darimu. Apa boleh aku masuk?"


"Masuklah." jawab Widia. Sebenarnya dia merasa kalau tidak ingin muridnya itu masuk karena sebentar lagi kekasihnya akan datang. Tetapi menolaknya tidak sangat baik sebagai wali kelas gadis itu, dan dia berpikir kalau Wilda tidak akan lama berada di sana.


Wilda membuka buku catatannya di atas meja bulat. Widia memperhatikan gadis itu secara seksama. Dari pada mendengarkan pertanyaan yang diajukan Wilda, Widia malah teralihkan pikirannya mengenai gadis yang ada dihadapannya saat ini. Semua rumor yang berkembang di sekolahnya mengatakan kalau Wilda adalah kekasih pacarnya, dan dia merasa sedikit terganggu akan hal itu. Sejujurnya dirinya sangat cemburu karena tidak bisa menunjukan dirinya lah kekasih sebenarnya dari pria yang sangat populer itu.


"Ada apa bu?" Tatap Wilda melihat Widia terus saja memandanginya. "Bu guru tidak mendengar perkataanku ya?"


Wilda menutup bukunya dan duduk tegak menatap Widia, wali kelasnya.


"Bu, aku sangat iri padamu." Ucap gadis itu dengan nada suara yang terdengar polos. "Walau semua orang menganggap aku adalah pacar kak Oto, tapi bu guru lah pacarnya yang sebenarnya."


Widia tidak menjawab, dia tidak ingin mengatakan apapun pada muridnya itu. Dengan perasaan tidak enak Widia hanya diam menatap Wilda yang menurutnya adalah gadis polos yang iri padanya karena memiliki kekasih seperti Prothos.


"Aku sangat menyukainya setelah dia membantuku, selain wajahnya yang sangat tampan, dia adalah pria yang sangat baik. Betapa beruntungnya bu guru memilikinya."


Widia sangat setuju dengan perkataan Wilda. Prothos memang pria yang sangat baik, selain wajahnya yang sangat tampan, sikapnya juga hangat selama ini padanya. Walau usianya lebih muda darinya, Prothos lebih bersikap dewasa dalam segala hal pada hubungan mereka. Widia menjadi merasa kalau dirinya memang sangat beruntung memilikinya menjadi kekasihnya.


"Bu, apa kau rela jika aku minta kau menyerahkannya padaku?" Tanya Wilda. "Aku ingin menjadi pacarnya yang sebenarnya, dan aku rasa bu guru cukup mengerti dengan hal itu. Aku tahu bu guru adalah orang yang baik."


"Apa maksudmu?" Widia terkejut mendengar ucapan Wilda dengan tatapan polosnya. Dia meminta hal yang mustahil padanya dengan begitu mudahnya. Widia merasa kalau dia sangat polos hingga meminta hal itu padanya.


"Ini memang terdengar sulit, tapi aku berpikir jika saja dulu atau sebelum kalian berpacaran, kak Oto membantuku lebih dulu pasti yang terjadi sekarang akan berbeda. Kami pasti sudah berpacaran." Jawab Wilda dengan gestur yang menunjukkan kalau dirinya tidak yakin mengatakan hal tersebut pada gurunya. "Aku memohon padamu bu. Aku rasa kak Oto juga merasakan hal yang kurang nyaman dengan perbedaan usia kalian, karena itu ketika aku memintanya menciumku dia melakukannya tanpa menolak. Bahkan kami berciuman lebih dari sekali dan aku rasa dia menyukainya ketika kami berciuman. Untung saja aku selalu berhasil menghentikannya sebelum melakukan hal yang lebih jauh dari sekedar berciuman."


Widia terhentak mendengar ucapan Wilda. Air matanya mengalir dengan deras membasahi wajahnya. Dalam waktu yang bersamaan Prothos datang dengan langsung membuka pintu apartemen. Dia membawa sebuket bunga mawar yang hendak diberikannya pada kekasihnya, Widia.


Prothos tertegun ketika melihat Wilda berada di hadapan Widia dengan kondisi Widia sedang menangis. Dia menjadi tahu kalau saat ini Widia sudah mengetahui mengenai perbuatannya dengan Wilda.


"Maaf bu, sebaiknya aku pulang sekarang." Ucap Wilda membawa bukunya setelah itu berlari keluar melewati Prothos.


Widia beranjak dari duduknya ketika Prothos menghampirinya, dan langsung menampar kekasihnya itu. Tangisan Widia menjadi sangat keras ketika Prothos menatapnya.


"Dia gadis yang polos, dia tidak akan berbohong." Ucap Widia.


"Aku memang salah karena menuruti semua perkataannya, dan aku juga terbawa arus permainannya. Tapi percayalah, dia bukan gadis sepolos yang kau lihat." Ujar Prothos mencoba meyakinkan Widia.


"Lalu kau mau bilang, kalau kau menciumnya karena dia menggodamu? Dia mungkin melakukannya karena dia menyukaimu, tapi jika Kau tidak menyukainya kenapa kau mau melakukannya? Bahkan lebih dari sekali katanya."


"Kalau aku bilang karena dia mengancamku apa kau akan percaya?"


"Dia gadis polos, dia tidak akan mengancammu."


Prothos sudah menebak jika Widia akan berkata seperti itu. Widia adalah gadis naif yang tidak mau berprasangka buruk pada siapapun, apalagi pada seorang gadis yang selalu terlihat polos seperti Wilda yang merupakan muridnya.


"Apa jangan-jangan semua ini adalah perbuatanmu?"


"Apa maksudmu?"


"Sebenarnya sejak awal gadis itu tidak mengancammu, itu semua hanya akal-akalanmu saja agar aku percaya hingga membiarkanmu mendekatinya?" Widia terlihat sangat marah sekarang. "Katakan, sebenarnya kau sudah bosan denganku 'kan? Atau sejak awal aku hanya selingan?"


"Ucapanmu sudah keterlaluan, Widi." Jawab Prothos. "Aku sangat mencintaimu tidak mungkin aku melakukan itu."


"Tapi kau menciumnya!!" Seru Widia. "Sudahlah, sepertinya benar, hubungan kita seharusnya tidak pernah terjadi. Perbedaan usia seharusnya membuat kita tidak menjalin hubungan ini. Pergilah, kita sudahi saja semua sampai disini, sekarang kau bisa bersama dengannya atau dengan wanita mana pun. Aku sudah lelah dengan semua ini."


Prothos menjatuhkan buket bunga mawar yang dibawanya dan melangkah pergi.


Sepeninggalan Prothos, Widia terperenyak di lantai. Dia menangis dengan memeluk kedua kakinya. Dia memandang buket bunga mawar yang dibawa Prothos untuknya, namun belum sempat diberikan padanya bunga itu sudah berada di lantai dengan beberapa bunga yang patah.


Dia harus menerima segalanya sekarang. Sejak awal keputusannya menjalin hubungan dengan Prothos adalah kesalahan. Seberapa besar rasa cintanya tidak bisa mengalahkan rasa ragunya lagi saat ini.


...@cacing_al.aska...