
Melody hanya diam saja dengan sebuah ketegangan. Bukan hanya karena saat ini dia duduk di atas seekor kuda saja namun juga karena Niko duduk di belakangnya dengan sangat dekat, bahkan dia bisa mendengar napas Niko. Ditambah posisi Niko yang memegang tali kekang seperti memeluknya dari belakang.
"Kau ingin berjalan-jalan ke pekarangan sana?" Suara parau Niko yang berbicara pelan pada Melody terdengar seperti sebuah bisikan di telinga gadis itu.
Melody mengangguk tipis menjawabnya.
Dengan segera Niko memacu kudanya untuk keluar pagar dan berjalan ke pekarangan di mana Lion memacu kudanya berjalan-jalan disana. Melihatnya, Lion segera mengarah kembali dan berniat untuk menyudahi sesi berkudanya.
"Kau mau kemana?" Tanya Niko.
"Tiba-tiba perutku sakit." Jawab Lion menjauh.
"Padahal aku baru mau menantangmu." Seru Niko dengan tawa.
Lion tak memedulikannya dan terus berjalan menjauh. Dia sedang ingin sendirian saat ini.
Melody terkejut ketika Niko tiba-tiba turun dari kuda. Niko tersenyum melihat kepanikannya, dan itu membuat Melody malu.
"Aku akan jalan saja biar kau bisa menikmati menunggangi kudanya sendiri." Ucap Niko masih memegang tali kekangnya dan berjalan menuntun kudanya. "Kau terus saja tegang tadi."
"Jangan tinggalkan aku ya." Ujar Melody takut Niko akan berlari meninggalkannya di atas kuda.
"Tidak akan pernah." Jawab Niko.
Melody menjadi sedikit malu karena jawaban Niko. Niko menjawab seolah-olah permintaan Melody adalah agar Niko selalu bersama dengannya.
"Bagaimana apa kau sudah menyukaiku sekarang?" Niko menengadah melihat Melody.
"Aku rasa belum." Jawab Melody datar tanpa menatap Niko. Jawabannya membuat Niko tertawa kecil. "Sudah aku bilang, untuk membuatku menyukaimu sebagai teman saja akan sangat sulit."
"Benarkah? Apa dua tahun tidak akan cukup?" Tanya Niko lagi. "Lalu setelah berapa lama akhirnya kau bisa menyukai Lion?"
Melody terkejut dengan pertanyaan Niko, ditambah Niko menatapnya lekat dengan menghentikan langkahnya.
"Maksudku sebagai teman. Kau dan Lion berteman kan?"
"Tidak! Kami tidak pernah berteman." Jawab Melody dengan nada bicara gugup. "Aku hanya memanfaatkannya saja."
Niko tertawa kembali mendengar jawaban Melody.
"Kalau begitu, apa karena itu kalian tidak lagi sedekat dulu? Sekarang kau mau memanfaatkan aku kan?"
"Benar, aku memanfaatkanmu."
Niko tiba-tiba menarik Melody turun dari kuda, dan menatap Melody dengan sangat lekat.
"Ya, kau bisa memanfaatkan aku sesuka hatimu." Ucap Niko.
Niko mencondongkan tubuhnya untuk mendekatkan wajahnya pada Melody, hendak mencium gadis itu. Namun Melody segera menutupi bibirnya dengan kedua tangannya. Niko langsung menegakan posturnya kembali dengan senyum tidak percaya setelah Melody menolak ciumannya.
"Bahkan cara kau menolaknya membuatku semakin menyukaimu, Melody." Ujar Niko menatap Melody yang masih menutupi bibirnya dengan tangan. "Baiklah, aku akan membuatmu mencintaiku dulu biar kau sendiri yang memintaku untuk menciummu."
Niko langsung menaiki kuda, dia menjulurkan tangannya untuk membantu Melody naik juga.
"Naiklah." Seru Niko dan Melody menyambutnya, Niko langsung menarik Melody naik ke atas kuda duduk di belakangnya.
Lion yang berada di kejauhan memperhatikan Melody dan Niko. Lion masih berada di atas kudanya dan belum pergi dari sana. Dia lihat bagaimana Niko mencoba mencium Melody. Dia tidak berekspresi apapun hanya memperhatikan saja. Namun jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa lega karena Melody menolak Niko menciumnya.
...***...
Athos bersama Tasya berada di cabang café karena hari ini cabang café yang kelima resmi dibuka. Tasya hanya duduk sendiri di mejanya sedangkan Athos sibuk mengurusi semuanya di café. Tak ada Musketeers lainnya yang membantunya karena Prothos masih mengurung diri di kamar sedangkan Aramis masih menyelesaikan lukisannya.
Namun tak berapa lama Melody hadir bersama Niko sehabis mereka kembali dari berkuda. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, dan suasana café sangat ramai.
"Melody, kau datang." Senyum sapa Tasya.
Melody membalas senyumnya.
"Kakakmu masih sibuk." Jawab Tasya.
"Aku kesana dulu ya kak." Ujar Melody langsung berjalan ke tempat dimana sebuah gitar berada dan memainkannya untuk menghibur pengunjung di café.
"Niko, ayo temani aku." Pinta Tasya dengan senyum.
"Dengan senang hati." Jawab Niko langsung duduk di hadapan Tasya.
"Dari mana kalian?"
"Kami habis berkuda, aku mengajaknya karena dia belum pernah berkuda."
"Aku juga belum pernah. Kenapa tidak mengajakku juga?"
Niko tertawa mendengar ucapan Tasya.
"Pacarmu tidak akan mengampuniku." Jawab Niko.
Melody mulai bernyanyi dengan memainkan gitarnya untuk menghibur para pengunjung. Niko memperhatikannya dengan sangat serius, dan Tasya melihat tatapan Niko yang memancarkan rasa cintanya yang besar pada gadis itu.
"Melody memiliki suara yang sangat bagus. Aku mengerti kenapa dia jarang bicara. Dia menyimpan suara emasnya untuk bernyanyi." Ucap Tasya. "Ato bisa bernyanyi tidak ya? Aku belum pernah menanyakannya."
"Ngomong-ngomong bukannya kau akan menikah dalam waktu dekat ini? Kenapa kau masih bersama pacarmu?"
"Aku hanya akan menikah dengan Ato, kau mengerti?" Tasya memicingkan matanya menatap kesal Niko. "Dan kau benar-benar serius tentang niatmu ingin menikahi Melody?"
Niko tersenyum untuk menjawabnya.
"Kenapa Melody setuju?"
Niko sempat terdiam dengan pertanyaan Tasya. Dia tidak pernah memikirkan sebelumnya karena saat Melody bilang setuju hal itu membuatnya sangat senang sehingga dia tidak pernah sedikitpun memikirkan hal tersebut. Dan sekarang dia baru memikirkannya. Niko jadi merasa penasaran karena tidak mungkin Melody setuju karena gadis itu menyukainya. Dengan gamblang Melody bilang kalau dia belum menyukai Niko, bahkan sebagai temanpun belum.
"Karena aku tampan dan kaya." Jawab Niko dengan jawaban yang hanya terlintas dibenaknya.
"Padahal sebelumnya aku berpikir kalau dia akan menikah dengan Lion kelak." Gumam Tasya. "Ya walau pun mereka berdua selalu tidak akur, tapi sebelum kau datang sepertinya hubungan mereka lebih dekat dari sebelumnya. Tapi ternyata dugaanku salah."
"Kenapa kau berkata seperti itu?" Tatap Niko.
"Mereka berkencan tepat sebelum kau datang." Jawab Tasya. "Tapi entahlah, mungkin aku yang salah mengira karena sebelumnya mereka berdua memang sering pergi bersama, tapi baru kali itu mereka berdua pergi jalan-jalan bersama. Kalau sebelumnya paling Lion hanya mengantar jemput Melody, atau membantunya karena diminta oleh keluarganya."
Niko terkejut mendengar ucapan Tasya. Dia belum pernah mendengar mengenai kencan itu. Sehingga dia belum pernah menanyakannya pada Melody ataupun Lion.
"Tasya," Panggil Athos menghampiri. Athos menatap Niko tajam. "Kenapa kau duduk disini bersamanya?"
"Ato, aku yang memintanya agar dia menemaniku." Ujar Tasya takut jika Athos marah pada Niko.
Niko bangkit berdiri dari duduknya. Dia tahu kalau Athos terganggu dengan kehadirannya.
"Maafkan aku Tasya, sepertinya pacarmu tidak suka aku menemanimu." Ucap Niko. "Kalau begitu aku akan pulang sekarang."
Niko menoleh pada Melody yang menatapnya dan tersenyum pada Melody yang sedang bernyanyi dan melambaikan tangan kanannya pada Melody, setelah itu berjalan pergi.
"Ato, kau itu kenapa? Kenapa kau masih bersikap tidak baik dengannya?" Tanya Tasya beranjak berdiri dan mendekati Athos yang masih berkacak pinggang dengan wajah kesal. "Kau harus mulai menyukainya, Melody sudah setuju untuk menikah dengannya. Dia juga bukan pria yang jahat, malah aku merasa dia sangat baik, dia sangat mencintai Melody."
Athos menurunkan tangannya dan menatap Tasya. Perkataan Tasya memang tidak salah, bahkan kekasihnya itu benar.
"Kau harus baik padanya mulai sekarang, Melody akan semakin sedih jika kau masih bersikap seperti itu pada Niko." Tasya memegang lengan Athos.
Athos mulai memikirkan perkataan Tasya, dan dia pun akhirnya merasa kalau sebaiknya dia mulai untuk menyukai Niko, dia tidak ingin adiknya semakin membenci dirinya karena selama ini Athos menunjukan rasa bermusuhan pada Niko.
"Ya, aku rasa kau sangat benar." Jawab Athos melunak.
...@cacing_al.aska...