MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Tunangan



Sepanjang film diputar, Tasya terus merangkul lengan kanan Athos dengan mesra. Wanita itu sesekali menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya, dan menyuapinya popcorn.


Athos berharap agar film cepat berakhir karena dia tidak nyaman dengan keberadaannya yang hanya mematung tanpa gerakan lain yang berarti.


...***...


Aramis yang bersama dengan Anna sedang berada di toko furnitur, untuk melihat beberapa keperluan seperti sofa, lemari dan tempat tidur.


"Sepertinya ranjang ini nyaman juga." ucap Aramis yang mencoba sebuah ranjang dengan berbaring di atasnya.


Anna melompat dan ikut berbaring di samping kanan Aramis.


"Tapi ukurannya terlalu besar untukmu, beli yang ukuran kecil saja." tatap Aramis pada Anna yang ada di sampingnya.


"Aku akan beli yang ukuran ini. Siapa tahu akan ada yang menginap denganku, kan?" Anna menoleh pada Aramis, yang menatapnya. "Heh, maksudku Melody bukan kau!!" seru Anna membalikan tubuhnya menjadi posisi telungkup. "Ya, kalau kau ingin menginap juga tidak masalah."


"Oke, ranjang ini saja." seru Aramis langsung bangun. "Apa hari ini bisa di antar juga?" tanya Aramis pada penjaga toko yang dari tadi melayani mereka.


"Bisa, semua akan dikirimkan hari ini juga." jawab si penjaga toko.


Akhirnya membeli perabotan selesai, Aramis dan Anna keluar dari toko tersebut hendak ke restoran untuk makan, namun siapa sangka Aramis melihat salah satu kembarannya berjalan bersama seorang wanita.


"Oto..." panggil Aramis pada Oto.


Prothos kebingungan menatap Widia, dan Widia segera berdiri di belakang Prothos.


"Kenapa kau disini?" tanya Aramis pada Prothos setelah mendekatinya. "Pakaian apa ini? Kau mau ke pesta?"


"Ya ampun, kau benar-benar seperti bintang film, Oto." komen Anna.


"Aku akan ke pernikahan seseorang." jawab Prothos.


Aramis memperhatikan Widia yang di belakang Prothos.


"Pernikahan siapa?" tanya Aramis. "Dia pacar barumu?" bisik Aramis pada Prothos.


Prothos hanya tersenyum.


Anna dari tadi memperhatikan Widia dan merasa ada yang aneh dengan wanita yang dilihatnya itu


"Aku akan ke pesta pernikahan saudaranya. Kemungkinan akan pulang malam tapi akan aku usahakan tidak lebih dari jam sembilan." jawab Prothos.


"Ayah akan membunuhmu kalau kau tidak ada saat dia pulang." ucap Aramis.


"Tenang saja." ujar Prothos. "Aku pergi ya." pamit Prothos sambil menarik Widia.


...***...


Prothos dan Widia masuk ke mobil dengan terburu-buru.


"Untung saja si bodoh itu tidak sadar." ucap Prothos. "Kau memang tampak berbeda, bu guru." senyum Prothos menatap Widia yang duduk di sampingnya.


Widia menarik tatapannya dari Prothos yang selalu membuatnya tersipu malu.


"Sebelumnya aku berterimakasih dulu untuk rasa kepedulianmu padaku. Saat gajian nanti aku akan membayar pakaian dan biaya salon tadi."


"Tidak perlu." jawab Prothos. "Aku tulus membantumu, bu guru." senyum Prothos. "Baiklah, ayo kita berangkat."


"Jalannya jangan terlalu kencang!"


"Jangan takut, aku jago mengemudikan apapun." seru Prothos tancap gas.


...***...


Paman Ronald yang berada di rumah sakit mendapatkan pesan dari tagihan kartu kredit yang digunakan Prothos.


"Dia menghabiskan sebanyak ini untuk pakaian dan salon? Anak itu benar-benar keterlaluan!!" gumam paman Ronald kesal.


...***...


Anna yang sedang makan bersama Aramis masih memikirkan gadis yang bersama Prothos tadi, dia merasa kalau wajah gadis itu tidak asing, namun dia tidak bisa mengingat dimana dia pernah melihatnya.


"Ada apa?" tanya Aramis yang melihat Anna berpikir.


"Wanita yang bersama Prothos, sepertinya wajahnya tidak asing." jawab Anna. "Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi aku tidak ingat di mana."


"Sudah makan saja!!" seru Aramis.


...***...


Film yang ditonton Athos dan Tasya akhirnya selesai. Itu membuat Athos merasa lega. Dia meregangkan tubuhnya saat berada di toilet, karena sepanjang film dia merasa tegang.


"Maaf membuatmu menunggu." ucap Athos pada Tasya sekembalinya dia dari toilet.


Tasya langsung merangkul lengan kiri Athos.


"Tidak masalah. Sekarang ayo kita keliling dulu." senyum Tasya.


"Tasya..." panggil seorang Pria berjalan menghampiri.


Tasya melepas rangkulannya pada Athos saat melihat kehadiran pria tersebut, hal itu membuat Athos merasa ada yang aneh.


"Siapa dia?" tanya Pria itu menatap Athos dengan tatapan tajam. "Ayo ikut aku!!"


"Lepaskan, Dion!!" seru Tasya menarik lengannya yang dipegang pria bernama Dion tersebut.


"Aku bilang ikut, ayo!!"


Athos langsung menarik Tasya sebelum Dion menarik kekasihnya lagi.


Beberapa orang memperhatikan kegaduhan yang mereka buat.


"Siapa kau?" tanya Athos pada Dion yang terlihat marah karena Athos menarik Tasya.


"Seharusnya aku yang tanya seperti itu." seru Dion tersulut emosi.


"Dion, pergilah!!"


"Lepaskan aku!!" seru Tasya.


Athos terdiam mendengar ucapan Dion. Dia terkejut karena ternyata Tasya sudah mempunyai seorang tunangan.


"Ayo ikut!! Jangan membantah!!" seru Dion menarik Tasya mengikutinya dengan kasar.


"Sakit!! Lepaskan tanganku!!" pinta Tasya mencoba melepaskan tangannya.


Tiba-tiba Athos memegang tangan Dion yang menarik Tasya.


"Lepaskan tangannya!! Memang kenapa kalau kau tunangannya?" tatap Athos menantang Dion. "Dia pacarku, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya!!"


Dion melepaskan Tasya dengan tertawa sarkastis.


"Jangan berlagak sok keren kau!!" ujar Dion berkacak pinggang. "Baiklah, kita lihat saja seberapa lama kau bertahan dengan tunanganku."


Setelah berkata demikian, Dion pergi meninggalkannya.


"Dia selalu seperti itu, dasar pengecut!!" gumam Tasya saat tunangannya pergi.


"Apa dia benar tunanganmu?" tanya Athos.


"Aku ingin menceritakannya padamu di waktu yang tepat. Kami sejak kecil dijodohkan, tapi aku tidak menyukainya sama sekali karena dia selalu kasar padaku." jawab Tasya. "Seharusnya aku menduga ini, supirku pasti melapor padanya. Maafkan aku, Ato."


Athos menggenggam tangan kekasihnya dengan perasaan bercampur aduk. Dia merasa seharusnya dia tahu kalau gadis yang datang dari kalangan atas pasti sudah dijodohkan dengan rekan bisnis keluarganya.


"Ato, kau tidak marah kan?" tanya Tasya.


"Ayo, kita pulang." gandeng Athos. "Kita naik taksi saja."


"Ato..." panggil Aramis yang mendekati kembarannya tersebut, disusul Anna.


"Kalian mau pulang?" tanya Athos.


"Iya, kami sudah selesai membeli semuanya." jawab Aramis. "Pulanglah bersama kami."


"Baiklah, tadinya kami ingin naik taksi." ucap Athos.


"Tasya, kita bertemu lagi." rangkul Anna pada Tasya dan langsung berjalan di depan kedua saudara kembar tersebut. "Bagaimana kencannya?"


"Sepanjang film Ato tegang, padahal aku berharap dia menciumku." bisik Tasya menjawab Anna.


"Ckckckck... dia memang pria kaku!!" gumam Anna.


"Tadi aku bertemu Oto, dia bersama pacar barunya akan pergi ke pesta pernikahan." ujar Aramis.


"Benarkah? Aku kira dia belum punya pacar lagi." kata Athos. "Dia juga tidak bilang kalau hari ini akan pergi."


...***...


Waktu menunjukan pukul empat sore ketika ayah pulang. Melody menyambut ayahnya dengan gembira.


"Dimana yang lainnya?" tanya ayah duduk di sofa ruang tamu.


"Kakek tidur di kamar, sejak semalam kakek kurang sehat. Paman Ronald bekerja." jawab Melody sambil memberikan segelas air dingin untuk ayahnya.


"Ketiga kakakmu?"


"Kak Ato pergi bersama kak Tasya, kak Oto sejak siang mengantar dokumen paman tapi sampai sekarang belum pulang, dan kak Ars menemani kak Anna membeli perabotan rumah."


"Bukannya belajar mereka malah bermain." keluh ayah.


"Ayah istirahat dulu saja. Ayah terlihat lelah." ujar Melody.


"Panggil aku kalau mereka pulang." seru ayah sambil bangkit berdiri dan berjalan pergi.


...***...


"Ini benar rumahmu, Tasya?" tanya Anna yang ternganga melihat rumah besar saat Athos menghentikan mobilnya.


"Kapan-kapan mainlah ke rumah ku, ya." ucap Tasya tersenyum.


Athos membuka pintu mobil untuk Tasya, dan Tasya segera keluar.


"Aku minta maaf untuk yang..."


"Jangan minta maaf, untuk kesalahan orang lain." seru Athos.


Tasya tersenyum mendengarnya.


"Baiklah, karena selama seminggu ujian semester, aku tidak akan menghubungimu agar kau bisa fokus belajar." ujar Tasya tersenyum.


"Tidak! Hubungi aku kapan saja, dan kau bisa menemuiku setiap saat. Sekarang, aku tidak bisa konsentrasi kalau kau tidak memberi kabar."


Tasya mencium pipi Athos setelah mendengar perkataan kekasihnya tersebut.


"Waahh, wanita itu benar-benar agresif." ucap Anna yang menonton di dalam mobil.


"Kenapa bukan bibirnya?" gumam Aramis melihat dari spion.


"Apa? Kau bilang apa?"


Aramis diam tidak menjawab Anna.


Athos masuk kembali ke dalam mobil setelah Tasya masuk ke dalam rumahnya.


Tiba-tiba handphone-nya berbunyi, dengan segera dia menjawab telepon dari Melody.


"Kak Ato dimana? Cepatlah pulang, ayah sudah pulang, tolong bilang ke kak Oto dan kak Ars juga."


"Ada apa?" tanya Aramis pada Athos setelah Athos menutup telepon.


"Cepat jalankan mobilnya! Melody bilang, ayah sudah pulang." jawab Athos.


"Apa?" kejut Aramis sambil tancap gas.