MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Ciuman Maut



Prothos masih tidak habis pikir dengan sikap Wilda yang tiba-tiba datang ke rumahnya. Dia sama sekali tidak pernah mengira gadis itu akan berani datang ke rumahnya.


Tiba-tiba saja turun hujan yang sangat deras ketika Prothos sampai di depan gedung apartemen Wilda.


"Turunlah." Ucap Prothos dingin pada Wilda.


"Masuklah dulu ke tempatku, kak." Jawab Wilda. "Hujannya sangat deras, akan sangat sulit jika menyetir dengan pandangan terbatas."


"Tidak perlu." Ujar Prothos sambil melepas kacamata yang sejak pagi dipakainya. "Aku akan menunggu hujannya, baru akan jalan pulang."


"Lebih baik menunggunya di dalam. Kau sudah bilang akan menuruti perkataanku."


"Aku tidak pernah bilang begitu padamu." ujar Prothos kesal.


"Maaf sepertinya aku salah ingat kalau begitu." Ucap Wilda. "Tapi kau bisa kan menurutiku kali ini?"


Wilda menatap Prothos sehingga Prothos tahu maksud Wilda, gadis itu ingin agar Prothos menurutinya kalau tidak dia pasti akan langsung melakukan sesuatu pada hubungan Prothos dan Widia.


Akhirnya Prothos menuruti Wilda dan masuk ke apartemen gadis berkacamata itu. Wilda membuatkan susu hangat untuk Prothos dan mereka duduk di sofa dengan posisi yang sama dengan saat Prothos datang kemarin.


"Wanita cantik tadi apa pacar mantan ketua OSIS, kak?" Tanya Wilda sambil melepas kacamatanya.


"Hhmm."


"Dia sangat cantik. Pantas saja mantan ketua OSIS mati-matian ingin merebutnya dari tunangannya." Ujar Wilda. "Lalu ketua OSIS sekarang terlihat sangat dekat dengan Aramis, apa mereka juga pacaran?"


"Wilda, jangan bertanya seolah-olah kita pacaran sungguhan." Jawab Prothos melirik kesal pada Wilda. "Sebaiknya aku pergi sekarang."


Prothos bangkit berdiri tapi tiba-tiba Wilda memeluknya. Gadis itu mendekap Prothos sangat kuat. Prothos menjadi semakin kesal pada tingkah gadis itu.


"Lepaskan aku!" Seru Prothos mencoba mendorong Wilda.


"Sebenarnya kau malu kan, aku tahu sejak awal kau ingin mampir ke sini, tapi kau ingin agar aku yang memintanya."


"Apa yang kau katakan? Cepat lepaskan aku!"


Wilda tidak mendengarkan, gadis itu semakin erat memeluk Prothos.


"Aku sangat menyukaimu, aku juga yakin sebenarnya kau menyukaiku." ucap Wilda menengadah menatap Prothos.


Tanpa diduga Wilda langsung mencium Prothos. Gadis polos itu mencium Prothos walau Prothos mendorong pundaknya, dia tetap tidak mau melepaskannya dengan melingkarkan kedua tangannya ke leher Prothos.


Akhirnya Prothos mengerahkan tenaganya membuat Wilda menjauh darinya. Dia sudah tidak peduli lagi jika yang dilakukannya sedikit kasar pada gadis itu.


"Maaf kak, aku sudah berusaha untuk tidak melakukannya, tapi melihatmu tanpa sadar aku melakukannya." Ucap Wilda dengan menundukkan kepalanya. "Tapi aku senang menciummu. Apa boleh aku melakukannya sekali lagi?"


.


Prothos benar-benar tak habis pikir dengan Wilda. Dari luar gadis itu tampak sangat polos dengan menundukan kepala setiap kali berbicara dan suaranya kadang pun terdengar gemetar, tetapi apa yang dikatakan dan dilakukannya sangat tidak sejalan dengan semua itu.


"Aku janji tidak akan melakukannya lagi setelah itu. Aku juga akan melakukan semua yang kau bilang apapun itu." Ujar Wilda menatap Prothos. "Bahkan aku akan berhenti melakukan semua ini padamu dan bu guru."


Prothos mempertimbangkan perkataan Wilda. Namun pikirannya hanya ingin agar hubungannya dengan Widia berjalan dengan lancar.


Prothos langsung mencium bibir Wilda. Namun ketika dia hendak melepaskannya Wilda menahan wajahnya dan memeganginya. Bahkan ciuman gadis itu terasa berbeda. Dia menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Prothos dan beraksi sangat hebat. Membuat Prothos terkejut sekaligus menikmatinya, bahkan tanpa sadar Prothos membalas lidah Wilda yang meliuk-liuk di mulutnya. Pemuda itu sudah sangat menikmati ciuman gadis polos tersebut. Hingga tak sadar mereka terjatuh di sofa dengan posisi Wilda berada di atas Prothos.


Wilda masih saja mencium Prothos dan membuat Prothos tidak mampu berpikir logis lagi. Prothos memasrahkan dirinya karena sudah sangat tidak bisa menahan gairahnya dengan sentuhan-sentuhan wanita itu yang mulai meraba bagian bawahnya sambil terus menciumnya.


Wilda membuka kemeja sekaligus lapisan terakhir yang menutupi kedua tonjolan yang ukurannya cukup besar untuk wanita polos sepertinya. Lalu menarik kedua tangan Prothos agar pemuda itu segera memainkannya. Prothos hanya bisa menuruti karena sesungguhnya dirinya juga sudah sangat ingin merasakannya.


"Maaf, sepertinya aku keterlaluan." Ucap Wilda.


Prothos mencoba menyadarkan dirinya, setelah itu bangun dan duduk. Lalu mengusap-usap wajahnya seperti kebiasaannya.


"Maafkan aku, kak." Ucap Wilda sekali lagi. "Kau baik-baik saja? Kau tidak akan marah kan?"


Prothos bangkit berdiri dari duduknya dan dia masih tidak bisa fokus sekarang. Dia terbawa suasana hingga melakukan sejauh itu dengan Wilda, namun gadis itu berhenti secara tiba-tiba ketika Prothos sudah mulai menikmatinya.


"Aku benar-benar kelewatan saat menciummu. Aku terlalu senang hingga tak sadar melakukannya sejauh itu. Kau terlihat bingung, kau baik-baik saja kan?"


Prothos mengangguk walau dirinya masih terlihat seperti orang linglung. Prothos sangat menikmatinya tadi sehingga saat Wilda menghentikannya secara mendadak, itu membuatnya merasakan kebingungan karena rasa kecewa yang seharusnya tidak dia rasakan.


"Apa mau aku buatkan minuman lagi, kak?" Tanya Wilda menatap lekat Prothos. "Tunggu sebentar, biar aku ambilkan air putih untukmu."


Wilda menuju meja dapur dan kembali dengan segelas air putih. Prothos langsung meminum habis setelah Wilda memberikan kepadanya.


"Aku akan pergi." Ucap Prothos setelah itu berjalan ke luar apartemen Wilda.


Dengan sangat cepat Prothos langsung menuju tempat parkir mobilnya dan masuk ke dalam mobil dengan perasaan kesal.


Tiba-tiba masuk pesan dari Wilda ke handphone pemberiannya.


Tolong lupakan ciuman tadi, kak.


"Gadis itu benar-benar mempermainkan aku!!" Seru Prothos sambil memukul setir mobil beberapa kali.


...***...


Lion berada di kamarnya saat sore menjelang malam. Dia baru saja mandi dengan rambut yang basah. Dia duduk di sisi tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya dengan menggunakan handuk kecil berwarna putih.


Pemuda itu masih merasa sedih dengan perasaan kehilangannya. Dia menatap kosong satu arah dengan handuk menutupi kepalanya.


"Lion, apa itu benar?" Tanya Aramis yang tiba-tiba masuk ke kamar Lion.


Lion menoleh pada Aramis yang berada di ambang pintu dengan tatapan sedikit kesal pada sahabatnya itu.


"Motormu dicuri? Kau sudah melaporkannya?" Tanya Aramis.


"Kepada siapa aku harus melaporkannya? Kalau kau saja tidak bisa mencegahnya agar orang itu tidak mengambilnya." Tatap Lion kesal.


"Kau bicara apa? Kenapa kau menyalahkan aku?" Tanya Aramis heran.


Lion merebahkan badannya ke tempat tidur dan menutupi wajahnya dengan handuk. Dia tidak ingin sahabatnya itu melihat wajahnya yang sedang berduka.


Aramis duduk di kursi meja belajar menghadap Lion yang berada di tempat tidur dengan kaki di lantai.


"Kenapa bisa sampai hilang? Kau lupa mencabut kuncinya?" Tanya Aramis lagi.


"Itu bukan salahku, Ars. Itu semua salahmu, kau mengerti?" Ujar Lion masih dengan wajah yang tertutup handuk. "Kata Mona seharusnya aku tidak membiarkan seseorang mengambilnya dariku kalau aku sangat mencintainya. Tapi aku bisa berbuat apa? Aku sudah membiarkan semua itu terjadi."


"Sepertinya kau benar-benar gila hanya karena kehilangan motormu."


"Hanya katamu? Bagiku dia segalanya!!" Lion duduk menatap kesal Aramis. "Keluarlah!! Hanya dengan melihatmu saja membuatku teringat pada Meganku. Aku sangat merindukannya sekarang!!"


...@cacing_al.aska...