
Athos turun dari taksi setelah sampai di depan sebuah rumah mewah yang pagarnya tinggi menjulang.
Beberapa kali dia memastikan kalau rumah tersebut sesuai dengan alamat yang diberikan Prothos padanya. Dia tidak mengira kalau Tasya tinggal di rumah semewah ini.
TIIIINNNN...TIIIINNNN...
Athos terkejut saat sebuah mobil sedan hitam membunyikan klakson, karena dia menghalangi mobil tersebut. Dia pun langsung menyingkir dan pintu gerbang terbuka.
Mobil tersebut langsung memasuki halaman rumah mewah itu, namun ketika belum terlalu jauh mobil itu berhenti.
Turunlah gadis yang ingin Athos temui dari mobil tersebut.
"Ato?" ucap Tasya lalu berjalan mendekati Athos.
"Ta... Tasya... tolong maafkan aku..." tanpa basa basi Athos mengatakan maksud tujuannya datang.
"Ayo kita bicara di dalam!!" seru Tasya sambil menyeret kekasihnya tersebut mengikutinya.
Athos hanya duduk dengan tegang di sofa besar yang berada di ruang tamu rumah Tasya. Sedangkan Tasya sedang mengganti pakaian sekolahnya. Padahal dia berencana meminta maaf dan setelah itu pergi ke café, dan tidak berniat untuk masuk ataupun duduk.
Setelah seorang asisten rumah tangga memberikannya minum, Tasya datang.
"Baiklah, aku memaafkanmu." senyum Tasya duduk menempel di samping Athos.
"Apa?" tanya Athos terkejut.
Dia tidak mengira kalau Tasya akan langsung memaafkannya, jika seperti itu seharusnya Tasya menjawabnya tadi dan tidak meminta Athos masuk ke rumahnya segala. Itu yang ada di pikiran Athos sekarang.
"Tapi ada syaratnya." ujar Tasya menjauh. "Sabtu ini aku ingin kita kencan."
"Kencan?" tatap Athos. "Tapi minggu depan sudah ujian."
Tasya menyunkan bibirnya dan wajahnya ditekuk.
"Baiklah." jawab Athos membuat Tasya kembali senang.
"Aku sangat mencintaimu." Tasya mengecup pipi Athos.
Seketika Athos beranjak berdiri untuk menjauh dari Tasya.
"Aku harus ke café sekarang." ujar Athos salah tingkah.
"Aku ikut." kata Tasya juga berdiri. "Ayo kita ke café bersama, tapi aku akan masuk setelah kau masuk nanti."
"Tidak usah. Kau baru pulang sekolah pasti lelah. Sebaiknya istirahat saja di rumah."
"Bukannya kau juga baru pulang sekolah?" gumam Tasya kesal.
"Baiklah, aku pergi ya. Jangan lupa makan dan langsung istirahat." Ucap Athos dengan ekspresi kaku, setelah itu berjalan ke pintu.
"Wah, ternyata pacarku perhatian juga." ucap Tasya sumringah bahagia.
Dengan jari tangannya Tasya membuat bentuk hati untuk Athos yang berjalan memunggunginya dan tidak melihat ke arahnya.
...***...
Aramis mencoret-coret sebuah buku miliknya di dalam ruang ganti ketika café akan tutup, sedangkan kedua kembarannya sedang sibuk membersihkan café bersama Sandy.
"Kak Ars sedang apa?" tanya Melody yang masuk.
Aramis segera menutup bukunya dan memasukkannya kembali ke tas sekolahnya.
'Kak Ars menyembunyikan sesuatu ya?" selidik Melody.
"Apa? Apa yang harus disembunyikan?" kata Aramis bangkit berdiri. "Aku akan keluar sebentar, kalian pulang duluan saja." lanjut Aramis sambil berjalan keluar.
"Kak Ars mau kemana? Nanti Ayah akan marah kalau kau tidak pulang bersama kami!!" seru Melody tak dihiraukan Aramis.
Aramis berhenti di sebuah jembatan layang. Dia segera duduk di sisi jembatan tersebut walau banyak kendaraan lalu lalang. Dia kembali mengambil bukunya dan menggoreskan pensil di atasnya.
...***...
Keesokannya harinya, ketika jam istirahat tiba Aramis berjalan keluar kelas hendak ke kantin, namun tiba-tiba seorang murid perempuan menabraknya sangat keras dan membuat Aramis terjatuh.
Aramis tampak kesal karena merasa gadis tersebut sengaja menabraknya dengan keras. Aramis sangat kuat dia tidak mudah tumbang hanya karena seseorang menabraknya. Tapi seorang gadis dengan sengaja menabraknya hingga dia terjatuh sekarang.
"Heh, kenapa kau sengaja..."
Semua murid memperhatikan mereka karena hampir tidak ada murid lain yang berani mencari masalah pada Aramis, apalagi seorang perempuan.
Aramis yang masih terduduk setelah jatuh wajahnya berubah setelah melihat gadis yang tersenyum sambil menunjukan jarinya ke arahnya. Aramis mengenal gadis tersebut.
Gadis itu menjulurkan tangannya dan menarik Aramis berdiri. Gadis itu terlihat seperti seorang pria dengan rambut yang sangat pendek. Hingga awalnya Aramis mengira kalau dia adalah seorang pria.
"Ternyata kau masih selemah dulu ya. Apa kau masih sering menangis sampai matamu sekecil ini?" gadis itu memperagakan dengan jari yang ditaruhnya di kedua matanya.
Aramis langsung menarik gadis tersebut dan menutup mulutnya dengan tangannya karena tidak ingin murid lain mendengar apa yang diucapkan gadis itu. Lalu menariknya ke belakang gedung sekolah.
"Wah, ternyata sekarang kau tumbuh tinggi ya." seru gadis itu setelah Aramis melepaskannya.
Gadis itu mengukur tinggi tubuhnya dengan berdiri dekat dihadapan Aramis.
"Dulu kau lebih pendek dariku, tapi sekarang tinggiku tidak lebih dari telingamu. Ini tidak adil. Kenapa pria harus lebih tinggi dari wanita? Padahal aku berharap kau masih sependek dulu biar aku bisa mengganggumu terus. Biar aku bisa mengerjaimu terus."
Aramis hanya diam sambil mendengarkan ocehan gadis yang pernah dia kenal dulu. Gadis yang selalu mengganggu dengan mengerjainya hingga membuatnya sering menangis saat kecil dulu.
"Pasti kau berharap tidak bertemu denganku lagi kan?" tawa gadis itu. "Kenapa kau diam saja?"
Gadis itu mendorong kepala Aramis dengan telunjuknya yang didorongkannya ke dahi Aramis.
"Jangan bilang kau ketakutan karena aku datang lagi..."
Tiba-tiba Aramis memeluk gadis itu dengan erat. Mendekap hingga membuat gadis itu merasa kesakitan.
"Heh, lepaskan aku. Apa yang kau lakukan?!"
Aramis tidak memedulikannya dan masih mendekap gadis berambut pendek tersebut dengan kencang.
"AKU BILANG LEPASKAN AKU! SEBELUM KAU MENANGGUNG AKIBATNYA!!"
Beberapa murid mendengar teriakan gadis itu sehingga mereka datang dan melihat apa yang terjadi.
"Kalau bisa coba lepaskan." bisik Aramis tersenyum sarkas.
"Oke, baiklah."
Tanpa diduga Aramis, gadis itu menyundul dagunya sehingga Aramis kesakitan dan melepaskan dekapannya.
"Jadi ini alasannya kenapa aku lebih pendek darimu, agar aku bisa melakukan tadi."
Disekeliling mereka semakin banyak murid yang datang untuk menyaksikan apa yang terjadi.
Aramis yang masih sibuk dengan rasa sakit di dagunya dikejutkan kembali dengan kaki gadis tersebut yang melayang hendak menendangnya, namun Aramis sempat menghadang dengan tangan kirinya. Dengan kesal Aramis menarik kerah baju gadis tersebut dan hendak meninjunya namun dia berhenti dan melepaskan gadis tersebut.
Namun siapa yang duga, gadis itu belum puas, dia kembali meninju perut Aramis dan membanting Aramis ke tanah.
Semua murid yang menonton bersorak senang.
Tiba-tiba datang seorang guru pria dan Athos menghentikan mereka.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya pak guru. "Bubar, bubar!!"
"Tidak ada apa-apa pak." jawab gadis tersebut. "Kami hanya bercanda, bukan begitu Ars?" rangkulnya pada Aramis.
"Ya, kami hanya saling menyapa." Jawab Ars tertawa.
"Anna? Benar kau Anna?" tanya Athos.
"Iya aku Anna, dibaca dari belakang pun tetap Anna." jawab gadis tersebut. "Eh, jangan bilang kau si pintar Ato?" lanjutnya berjalan mendekat Athos.
Athos mengangguk dengan senyum.
"Sudah bubar semuanya!!" seru pak guru setelah itu meninggalkan tempat itu diikuti para murid yang bubar.
"Sudah hampir sepuluh tahun ya kau pergi." ujar Athos. "Tapi kenapa kau di sekolah ini?"
"Orang yang pindah ke depan rumah kami itu kau 'kan?!" seru Aramis masih mengusap perutnya. "Saat pulang tengah malam aku melihat depan rumah kita lampunya menyala, padahal tadinya rumah itu kosong sudah lama."
"Ya, semalam aku kembali ke rumah itu, dan ini hari pertama aku pindah sekolah juga." jawab gadis bernama Anna. "Ibuku meninggal sebulan lalu makanya aku pikir lebih baik kembali ke rumah lama kami."
"Kenapa kau tidak tinggal dengan ayahmu? Dia masih hidup kan?"
"Si brengsek itu mana mungkin aku tinggal dengannya, saat ini dia di penjara." ujar Anna menjawab pertanyaan Athos. "Kalian tenang saja, ternyata ibuku meninggalkan uang asuransi yang nilainya sangat besar, jadi aku bisa hidup sendiri dengan uang itu." senyum Anna.