
Perkataan Melody membuat Lion tidak jadi pergi. Melody sangat bersyukur karena dia berhasil menghentikan langkahnya.
"Kau memang keterlaluan bodoh!! Mereka semua sampai kabur dari sekolah hanya untuk menghentikanmu." ujar Aramis pada Lion.
"Sepertinya aku memang egois." ucap Lion menempelkan wajah bagian kanannya ke jendela, bersandar. "Benar apa kata Melon." lanjut Lion melamun.
Aramis tertawa mendengarnya dan memperhatikan tingkah Lion dari spion.
"Mereka semua pasti akan membenciku." gumam Lion.
"Diamlah, jangan berisik!!" seru Melody ketus.
Aramis menghentikan mobilnya di pom bensin untuk buang air. Dia segera pergi ke toilet meninggalkan Melody bersama Lion di dalam Mobil.
Awalnya mereka berdua hanya diam saja dan hanya terdengar suara mesin mobil yang samar karena bercampur dengan suara radio yang sedang menyiarkan sebuah lagu.
Lion memejamkan matanya bersandar ke tempat duduknya. Dia merasa sangat lelah dan tenaganya hilang saat ini. Walau tidak jadi pergi, sesungguhnya perasaan bersalah masih ada di dalam dirinya. Hal itu membuatnya merasa begitu lelah.
"Kemarin Monik melihatmu di coffee shop bersama seorang wanita." Melody mulai berbicara, dia hanya memandang ke depan tanpa melihat Lion yang berada di kursi belakang. "Lalu kami pergi ke sana, dan aku bertemu Mona."
Lion tak menjawab dan tak merubah posisinya.
"Dia meminta maaf padaku karena perbuatan Mario. Lalu dia meminta agar aku menghiburmu." lanjut Melody tanpa memedulikan apakah Lion mendengarnya atau tidak karena Lion tidak merespon. "Semua yang terjadi bukan salahmu, kau tidak perlu menghukum dirimu untuk hal yang bukan salahmu."
Melody terdiam sesaat. Dia meremas kedua telapak tangannya karena menimbang kalimat yang akan dia katakan lagi.
"Saat mendengar kau berbicara di telepon tadi, kau membuatku takut." ucap Melody.
Lion membuka matanya. Dari tempatnya duduk dia bisa melihat Melody meremas kedua telapak tangannya.
"Jangan berkata sedingin itu lagi padaku." ucap Melody.
Melody tak berniat berkata apapun lagi setelah itu. Lion juga tak menanggapi perkataannya. Selama beberapa menit mereka kembali diam.
"Aku akan beli minuman." ujar Lion setelah itu membuka pintu. "Kemana si bodoh Ars? Lama sekali." gumam Lion sambil keluar mobil.
Melody membuang napasnya dan menyandarkan kepalanya. Dia benar-benar merasa lega saat ini.
Tiba-tiba seseorang mengetuk kaca jendela pintu mobilnya. Melody menoleh dan melihat salah satu teman Lion, Niko memanggilnya. Di jarak mobilnya parkir tak jauh ada beberapa motor dan sebuah mobil terparkir, di mana teman-teman Lion baru datang.
Melody keluar dari mobil segera. Dia merasa bingung kenapa teman Lion memanggilnya. Sesaat dia memperhatikan teman Lion yang penampilannya aneh di matanya. Memakai mantel panjang di bawah sinar matahari yang terik di hari ini dengan kulit yang pucat, dan tangan kirinya dimasukan ke dalam saku mantelnya.
"Dia sedang beli minuman." ujar Melody menunjuk ke sebuah minimarket yang jaraknya lumayan jauh.
Melody melihat teman-teman Lion yang berjumlah sekitar lima belas orang berdiri di belakang Niko dengan jarak sepuluh meter, memperhatikannya. Beberapa memakai seragam sekolah yang berbeda-beda dan beberapa tidak seperti Niko yang juga tidak memakai seragam.
"Kami semua terkejut saat ada kabar Lion akan pergi. Untung saja aku masih berada di sini." terang Niko berdiri di jarak dua meter dari Melody.
Melody mendengarkan suara pemuda itu yang terdengar parau dan terkesan serak, membuatnya semakin mirip seperti vampir yang misterius dengan tatapan yang tajam melihat padanya. Berbeda dengan Lion yang memiliki tipe suara baritone.
"Kami semua berterimakasih karena kata-katamu menghentikannya pergi." tambah Niko.
Niko menatap Melody menunggu respon gadis itu. Namun pemuda itu tidak tahu sifat Melody, gadis itu hanya diam saja tak berniat bicara apapun padanya. Niko menjadi sedikit tertawa melihat Melody.
Melody merasa sudah tidak ada yang ingin dikatakan Niko, dia langsung berbalik membuka pintu mobil.
"Tunggu dulu!!" seru Niko terkejut Melody hendak masuk kembali ke mobil tanpa menanggapi perkataannya.
Lion yang keluar dari minimarket melihat Niko berbicara dengan Melody, namun dia hanya memperhatikan sambil membuka bungkus sosis yang dia beli.
"Ini nomer handphone-ku, kalau butuh bantuan kau bisa menghubungiku." Ujar Niko menuliskan nomernya ke sepotong kertas dan memberikannya pada Melody.
Sebenarnya Melody enggan menerimanya namun Niko menyodorkannya lagi padanya. Melody pun menerimanya.
"Melo, masuk mobil!!" seru Aramis yang datang.
Melody menuruti perintah kakaknya itu dan segera masuk ke mobil, tempatnya duduk tadi.
Aramis menatap tajam Niko. Niko mundur dua langkah melihat kedatangan Aramis. Pada dasarnya mereka berdua adalah musuh bebuyutan, bukan teman.
Niko langsung menghampiri Lion yang mengobrol dengan teman-temannya yang lain. Sedangkan Aramis masuk ke mobil dengan kesal.
"Kenapa kau keluar dari mobil?" tanya Aramis galak pada adiknya. "Saat tidak ada siapapun tetap di dalam mobil!! Kau mengerti?!" tatap Aramis pada Melody.
Melody menjadi kesal melihat Aramis. Dia segera turun dan berpindah tempat ke kursi belakang.
Melody memperhatikan Lion yang bercengkrama bersama para teman-temannya. Dia terlihat sangat senang dengan tertawa dan memperagakan apa yang dikatakannya. Semua temannya pun terlihat membalas ucapan demi ucapannya. Melihatnya Melody tersenyum tipis karena tingkah bodoh Lion saat bercerita.
Tidak berapa lama Lion kembali ke mobil. Sebelum masuk dia mengintip ke kursi belakang dan melihat Melody disana.
"Bodoh." ucap Melody saat wajah Lion sangat dekat ke jendela pintu mobil di sampingnya.
Lion pun segera masuk ke kursi depan, samping Aramis dan di depan Melody. Lion memberikan sebotol minuman pada Aramis dan Aramis meminumnya sebelum menjalankan mobil.
"Kau mau minum, Melon?" tatap Lion menoleh pada Melody. "Kalau sosis?" Lion menyodorkan sebatang sosis pada Melody dengan senyum. "Ya sudah kalau tidak mau."
Lion berbalik sambil membuka bungkus sosis dan melahapnya karena Melody hanya melihatnya dengan tatapan aneh.
"Kenapa kau meninggalkan Melo sendirian?" tanya Aramis sambil menyetir.
"Apa?"
"Berani sekali bocah tengik itu-."
"Diamlah, kak!!" seru Melody kesal mendengar ocehan kakaknya.
"Maafkan aku, Ars." ucap Lion. "Mereka temanku tidak akan ada apa-apa."
"Kau ini, jangan terlalu percaya pada teman-temanmu itu, terutama si tengik itu!!" ujar Aramis sesekali melihat ke Lion. "Buat aku emosi melihatnya."
"Niko teman baikku, dia juga temanmu. Aku percaya padanya." kata Lion.
Aramis tertawa sarkas mendengarnya.
Melody tidak suka mendengar jawaban Lion. Bagaimanapun perkataan kakaknya Aramis ada benarnya juga. Dia pun tidak terlalu suka pada teman Lion yang bernama Niko karena merasa kalau Niko terlihat menakutkan karena penampilan dan kulit pucatnya, di tambah tubuhnya yang tinggi setinggi ketiga kakaknya.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama karena macet, akhirnya mereka sampai di depan rumah sekitar jam empat sore.
"Lion, tolong parkirkan mobilnya, sepertinya aku salah makan." seru Aramis langsung berlari keluar mobil dan masuk rumah.
Lion hendak turun dari mobil namun pandangannya melihat sepotong kertas yang berada di bawah kakinya.
Melody membuka pintu mobil dan keluar, hendak masuk ke rumah.
"Melon." panggil Lion.
Melody berhenti dan berbalik saat akan masuk ke halaman rumahnya. Melody menatap Lion dengan tanya, kenapa dia memanggilnya. Lion mendekati Melody dan menyodorkan sepotong kertas yang dia temukan tadi.
"Niko memberikan ini padamu 'kan?" ucap Lion. "Terjatuh dan ada di bawah kakiku tadi."
"Buang saja." jawab Melody langsung jalan.
"Kau ini!!" seru Lion.
Lion berjalan cepat mengikuti Melody dan langsung menarik Melody agar berhenti. Lalu memegang tangan Melody dan memberikan kertas dari Niko ke dalam telapak tangan gadis itu.
"Kalau kau tidak mau seharusnya kau menolaknya saat dia memberikannya. Jadi jangan bersikap tidak menghargainya sekarang." ujar Lion menatap Melody serius.
"Aku tidak membutuhkannya." tatap Melody tajam.
Lion diam menatap Melody. Tangannya masih menggenggam tangan Melody agar gadis itu mau menerima kertas yang diberikannya.
"Dia memberikannya dan bilang kalau aku butuh bantuan, dia memintaku menghubunginya." kata Melody dingin. "Aku tidak akan menghubunginya karena aku tidak akan membutuhkan bantuannya."
Melody menarik tangannya dari Lion dan langsung berjalan masuk. Kertas tersebut terjatuh ke bawah.
Lion memungutnya sambil menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan sikap Melody.