
Çafé sudah selesai di renovasi dan sudah dibuka kembali hari ini.
Melody tidak lagi menjaga meja kasir di café, panggung kecil yang di buat sudah jadi dalam dua hari sehingga untuk hari ini dia akan mengisi hiburan di café dengan bakatnya, bermain gitar dan bernyanyi.
Dia bernyanyi di atas panggung dengan didengarkan pengunjung yang sebagian besar adalah wanita. Melody tidak peduli apakah mereka senang dengan penampilannya atau tidak namun yang dia ketahui adalah ketika dia bernyanyi ada beberapa wanita yang berbisik-bisik bertanya mengenai siapa dirinya. Itu tidak memusingkan kepalanya karena saat ini benaknya sedang di penuhi dengan pertanyaan siapa wanita yang di sukai Lion.
Beberapa pengunjung memberi tepuk tangan untuk Melody setelah dia menyelesaikan tiga lagu yang dibawakannya.
Melody turun dari panggung dan meletakan gitarnya untuk beristirahat. Dia berjalan menuju meja kasir dimana Chino menjaganya.
"Kau benar-benar keren Melo." puji Chino.
"Kau belum pulang? Bukankah jam kerjamu sudah habis?" tanya Melody.
"Hari ini tidak ada khursus jadi dari pada pergi bermain lebih baik aku menghabiskan waktu disini." jawan Chino. "Hari ini Lion tidak datang ya? Sebenarnya dia itu bekerja disini atau hanya membantu saja? Kadang muncul dan kadang menghilang."
Melody tersenyum mendengarnya.
"Chino, selain Sandra apa ada wanita lain yang mendekati Lion?" tanya Melody mencoba mencari tahu mengenai siapa wanita yang di sukai Lion, wanita yang membuat Sandra di tolak olehnya.
"Aku tidak tahu pasti karena bisa saja pengunjung lain ada yang tertarik pada Lion juga dan mereka sering bertemu tanpa kami ketahui, tapi yang paling terlihat jelas hanya Sandra karena dia selalu mencari Lion setiap datang ke sini." jawab Chino. "Tapi kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Tidak, tidak ada apa-apa." ujar Melody tersenyum mencoba menyembunyikan kebohongannya.
Berarti ada dua kemungkinan, yang pertama bisa saja wanita itu bukan pengunjung di café ini, yang kedua dia adalah pengunjung café tetapi mereka berhubungan tanpa siapapun ketahui. Tapi kemungkinan kedua tidak mungkin karena Lion belum tahu perasaan wanita itu terhadapnya. Kalau begitu bisa saja pengunjung café yang hanya selalu di perhatikan oleh Lion. Tidak! jika seperti itu maka dia akan lebih sering ke tempat ini. Itu berarti wanita itu adalah salah satu siswi di sekolah. Pasti begitu, karena itu Lion terlihat khawatir ketika tahu Sandra datang ke sekolah.
Melody terus berpikir dalam benaknya.
"Oh iya, aku dengar Oto sakit, dia sakit apa?" tanya Chino membuyarkan lamunan Melody.
"Karena kehujanan kemarin." jawab Melody.
"Apa dia anak kecil? Kenapa tidak berteduh saat hujan?" gumam Chino. "Ato, ada apa? Aku perhatikan kau terus melihat handphone? Tumben sekali, padahal selama ini aku hampir tidak pernah melihatmu membawa handphone ke mana-mana."
"Ah, tidak." jawab Athos yang baru saja mengantar pesanan namun matanya terus melihat ke arah pintu masuk dan handphone yang di genggamnya.
"Kau juga terus melihat pintu masuk, ada apa?" tanya Chino lagi. "Kau menunggu seseorang?"
"Tidak tidak."
"Aku tahu." ucap Chino mendekati Athos yang berdiri di pintu dapur. "Pasti kau menunggu Tasya 'kan?" bisik Chino.
"Aku tidak menunggunya!!" sangkal Athos setelah itu masuk ke dapur.
Di dapur, Athos masih memandang layar handphone-nya. Dia membuka menu pesan singkat dan membuka pesan Tasya. Pesan terakhir gadis itu kemarin pagi pukul delapan, dan tidak ada lagi pesan darinya.
"Apa dia benar-benar marah padaku?" gumam Athos.
...***...
Waktu menunjukan pukul delapan malam.
Paman Ronald memasang infus pada Prothos di kamarnya karena demamnya belum juga turun, dan Prothos tidak napsu makan sehingga membuatnya semakin lemah.
"Setidaknya makanlah sedikit dan minum obat." seru Paman Ronald mengutak-utik selang infus. "Kau harus istirahat lagi besok."
"Napsu hidupku sudah hilang." ujar Prothos.
"Ya, sama saja dengan yang kemarin-kemarin." jawab Prothos. "Kenapa mereka semua menganggapku barang yang ingin mereka pamerkan?" lanjut Prothos kesal.
"Kalau tidak ingin begitu maka kau rusak saja wajahmu." seru paman Ronald. "Semua orang pasti ingin memperlihatkan sesuatu yang menurut mereka bagus pada orang lain. Contohnya semua orang akan bangga ketika memakai jam tangan mahal, karena mereka tahu itu berharga."
Prothos tertawa sarkas.
"Aku lebih suka dengan orang yang lebih menghargai kegunaan jam tangan tersebut dibanding memamerkan seberapa mahal harganya pada orang lain." timpal Prothos. "Ketika orang itu menghargai kegunaannya maka dia akan menjaganya seorang diri, tapi jika dia memamerkannya maka orang lain pasti akan berusaha mencurinya."
"Hampir semua orang tidak berpikir sepertimu." ujar paman Ronald lagi. "Saranku, berhentilah berpacaran dengan wanita yang di awal tergila-gila dengan wajahmu, bahkan kalau bisa berpacaranlah dengan seseorang yang membuatmu tergila-gila padanya."
Sekali lagi Prothos tertawa sarkas.
"Dimana aku bisa menemukannya?" tanya Prothos skeptis. "Semua wanita yang aku pacari selama ini semuanya seperti anak kecil, sedikit-sedikit menelepon atau mengirim pesan, sedikit-sedikit minta bertemu, dan mereka selalu mencari perhatianku."
"Astaga." Paman Ronald menarik napas. "Kau memang tidak seperti anak SMA pada umumnya." ucapnya lagi sambil berjalan menuju pintu.
"Seharusnya aku tidak bicara dengan pria jomblo yang tidak menikah setua kau!! Kau mana mengerti." ejek Prothos.
"Cocoknya kau pacaran dengan nenek-nenek!!"
Ketika paman Ronald hendak membuka pintu, tiba -tiba pintu terbuka dengan kasar, secara reflek paman Ronald langsung menyingkir.
Muncul ayah dari balik pintu dengan wajah marah.
"SUDAH SERING AKU BILANG, BERHENTI BERMAIN KARENA SEBENTAR LAGI UJIAN, LIHAT SEKARANG? KAU TIDAK IKUT TRY OUT 'KAN?"
Prothos hanya melihat ayah yang berteriak marah padanya.
"Aku tidak akan memberimu sepeser pun uang selama sebulan!!" seru ayah. "KAU DENGAR?!"
"Tenanglah, kak." ucap paman Ronald mencoba membuat ayah tidak marah.
"JAWAB AKU?!"
Namun Prothos tetap diam tak menjawab.
"AKU BILANG, JAWAB AKU!!"
"Ayo kita keluar, kak." ujar paman Ronald mendorong ayah keluar dan menutup pintu.
"Kau jangan membelanya, Ron!!" ayah kesal dengan paman Ronald. "Kau selalu membela anak itu!! Kerjaan anak itu hanya bersenang-senang dan selalu sesuka hatinya."
"Biarkan dia istirahat dulu." ucap paman Ronald. "Ayo, sebaiknya kau juga istirahat dulu."
Di dalam kamar Prothos mendengarkan kata-kata ayahnya dengan raut wajah sedih.
Tiba-tiba handphone yang berada di sisinya bergetar, Kiara meneleponnya namun dia mematikan panggilan tersebut. Sekali lagi Kiara meneleponnya, dengan ragu Prothos menekan tombol jawab.
"Oto, aku mohon maafkan aku. Aku dengar kau sakit, bagaimana keadaanmu?" tanya Kiara.
Tanpa kata Prothos mematikan teleponnya.
"ARRRGGGHHH!!" teriak Prothos sambil melempar handphone-nya ke tembok hingga hancur.