MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Memacu Adrenalin



Cuaca sangat panas siang hari. Matahari seakan sedang marah hingga memancarkan emosi yang membuat siapapun terasa terbakar. Semua orang pasti akan berlindung dan memilih berada di dalam ruangan untuk berteduh dari amarah sang surya.


Namun tidak dengan seorang pemuda. Dia menaiki skateboard-nya dan meluncur di atap gedung sekolah yang pastinya sinar matahari memancar langsung ke kulitnya.


Lion meluncurkan skateboard-nya di atap sekolah saat jam istirahat. Dia menikmati kesendiriannya saat ini, hingga akhirnya dia menghentikan aksinya dan duduk di tembok pembatas pinggiran gedung dan melihat ke bawah. Saat ini dia berada di lantai lima atap gedung sekolahnya.


Ini memang bukan pertama kalinya dirinya berada disana. Saat istirahat Lion sering berada di tempat itu hanya untuk melihat kondisi para murid yang sedang beraktivitas di waktu istirahatnya. Dan dia sangat menikmatinya.


"Sekarang aku benar-benar sendirian tanpa Megan." Gumam Lion setelah itu membuat balon dari permen karet yang ada di mulutnya. "Ini sangat membosankan."


Lion berpikir sebaiknya apa yang dia lakukan saat ini. Akhir-akhir ini dia merasa bosan dengan segala kegiatan yang sudah pernah dia lakukan. Dia ingin melakukan sesuatu yang menantang untuk memacu adrenalinnya. Sudah beberapa minggu dia merasa tidak bersemangat dan ditambah dengan hilangnya Megan kemarin sabtu.


Pemuda itu menoleh ke skateboard-nya, lalu mengambilnya. Dia pun segera berdiri di tembok pembatas yang tingginya sekitar 120 cm itu.


Semua murid yang berada di bawah langsung melihat ke atas pada Lion saat dia berdiri di pinggiran gedung yang sangat tinggi. Bahkan beberapa yang melihatpun berlari memanggil teman-temannya yang berada di dalam kelas dan ada yang melapor pada guru.


Ketiga Musketeers, Melody, Anna dan Niko segera melihat Lion yang berdiri di atap gedung dengan membawa skateboard-nya.


"Anak itu benar-benar sudah gila." Geram Aramis berlari untuk menghentikan Lion yang terlihat seperti ingin melompat.


Aramis berlari dengan diikuti Anna menuju atap gedung untuk menghentikan Lion. Beberapa guru juga berlari di belakangnya.


Semua yang melihat sudah sangat takut jika saja Lion terjatuh. Bahkan para guru dan murid-murid lainnya berteriak agar Lion segera turun.


"Apa kehilangan motornya membuat dia sefrustasi itu?" Ucap Athos pada Prothos yang berdiri di dekatnya.


"Anak itu memang aneh." Jawab Prothos.


Lion melihat Melody berdiri di dekat Niko untuk sesaat.


"Meganku sudah pergi." Gumam Lion.


Lalu Lion meletakkan skateboard-nya di bawah satu kakinya. Padahal lebar tembok pembatas yang dipijaknya tidak lebih dari 40 cm. Dan dia meluncur dengan skateboard-nya itu sepanjang tembok pembatas.


Niko menoleh pada Melody yang serius menatap Lion dengan ekspresi yang tidak bisa di deskripsikan olehnya.


"Dia tidak berniat melompat, Lion hanya mau bersenang-senang." Ucap Niko.


Namun Melody tidak menanggapinya, bahkan gadis itu tak berkedip sedikitpun saat melihat Lion yang jauh di atas sana.


Ketika Lion hampir sampai di ujung pembatas, dia memutar skateboard-nya dengan kakinya untuk berbalik namun karena lebar pembatas sangat kecil kakinya tergelincir.


Semua orang yang melihatnya berteriak namun Melody hanya menutup mulutnya saja dengan air mata yang tanpa sadar menetes. Niko melihatnya.


Untung saja Lion membanting dirinya ke arah atap gedung sehingga dia hanya terjatuh ke dalam atap gedung. Secepatnya dia langsung beranjak bangun dan melihat skateboard-nya terjatuh ke tanah dan hancur berkeping-keping.


Saat yang bersamaan Aramis dan Anna serta beberapa guru sampai di atap gedung.


"Skateboardku!!" Seru Lion melihat skateboard-nya tergeletak tak berbentuk utuh lagi di tanah. "Sekarang pun kau meninggalkanku."


...***...


Lion berada di ruang OSIS bersama Anna setelah pihak sekolah menyerahkan kasus Lion pada komite OSIS. Karena keributan yang ditimbulkan Lion dengan aksinya di atap gedung sekolah, Lion harus menerima sanksi.


Anna menatap Lion dengan sangat heran. Saat ini hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Anna sangat tidak habis pikir dengan aksi nekat Lion tadi. Dia memang anak yang aneh, tapi yang dilakukannya tadi sangat berbahaya, bisa saja dia jatuh dan meninggal di tempat.


Lion hanya diam menatap Anna yang masih terlihat memandanginya dengan sangat marah.


"Anna, aku tidak bermaksud membuat keributan. Aku hanya ingin melakukannya biar adrenalinku terpacu, akhir-akhir ini aku tidak bersemangat ditambah Meganku hilang, itu membuatku sangat sedih." Ucap Lion. "Aku sama sekali tidak berniat untuk terjun bebas ke bawah."


"Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau selalu tidak pernah jujur?" Tatap Anna.


"Tapi kau tidak pernah jujur pada dirimu sendiri." Ujar Anna tajam. "Katakan saja kalau kau sedang sedih karena—"


"Ini tidak serumit itu, Anna, aku hanya sedih karena Meganku hilang." Potong Lion mulai terlihat kesal. "Sudah, berikan saja sanksi yang harus aku jalani sekarang. Aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan orang keras kepala sepertimu juga."


Anna mengambil selembar kertas dan meletakannya ke hadapan Lion. Sebuah surat pernyataan kalau Lion tidak akan mengulanginya lagi.


"Kau sudah pernah terkena suspensi sebelumnya, tapi kau beruntung karena aku ketua OSIS-nya." Ucap Anna.


Lion tertawa mendengarnya.


"Tandatangani saja surat pernyataan itu kalau kau tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi."


"Kau yang terbaik, Anna. Kau tidak seperti Ato yang langsung memberiku suspensi. Ya, walaupun aku sebenarnya lebih berharap diskors." Jawab Lion sambil menandatangani surat pernyataannya.


"Lion." Panggil Anna. "Dia hanya bisa kembali jika kau sendiri yang mendapatkannya lagi."


"Apa yang kau katakan."


"Megan." Jawab Anna menatap Lion yang melirik padanya. "Aku membicarakan motormu."


...***...


Prothos berdiri di hadapan Widia di dalam kamar apartemen kekasihnya itu. Setelah pulang sekolah dirinya langsung menunggu Widia untuk menjelaskan semua yang terjadi saat jam istirahat.


Sepanjang sisa jam pelajaran dirinya terus berpikir apa yang akan dia katakan pada Widia, tidak mungkin jika dia mengatakan yang sebenarnya pada kekasihnya itu. Widia pasti akan sangat marah jika tahu dirinya berciuman dengan wanita lain, bahkan bukan sekedar ciuman biasa.


"Kau tidak perlu menjelaskan apapun, aku percaya padamu." Ucap Widia.


Widia merasa kalau saat ini Prothos sedang kebingungan untuk apa yang akan dia katakan pada dirinya, kekasihnya itu terus diam dan belum memulai pembicaraannya.


"Maafkan aku." Ujar Prothos.


Prothos semakin merasa bersalah dengan ucapan Widia. Dirinya semakin merasa sudah mengkhianati kepercayaan kekasihnya itu, orang yang sangat dicintainya. Namun dirinya tidak bisa berkata apapun saat ini. Sangatlah tidak mungkin jika dia menceritakan tentang pengkhianatannya itu.


Widia menatap Prothos dengan sangat sedih. Ada hal yang mengganggu pikirannya belakangan ini. Dia mempertimbangkan apakah akan mengatakannya kepada kekasihnya atau tidak.


"Apakah sebenarnya kita melakukan kesalahan?" Akhirnya Widia mengatakannya. Suaranya bergetar karena menahan tangisnya. "Apa seharusnya hubungan ini tidak pernah terjadi?"


"Apa maksudmu?" Tatap Prothos, dahinya berkerut karena bingung dengan maksud kekasihnya.


"Apa seharusnya kita tidak menjalin hubungan ini?"


"Tidak! Jangan berkata seperti itu! Tidak ada yang salah dengan hubungan ini. Aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku, jangan berkata seperti itu!!" Jawab Prothos menatap gadis yang dicintainya berdiri di hadapannya.


"Perbedaan usia kita—"


"DIAM!!" Teriak Prothos membuat Widia terhentak kaget. "Aku bilang jangan berkata seperti itu!!"


Widia menatap bagaimana saat ini Prothos terlihat marah dengan pelupuk mata yang tergenang air mata. Itu membuat dirinya tak mampu menahan air matanya sendiri.


"Ini sangat menyakitkan untukku. Walau aku percaya padamu, tapi rasanya sangat menyakitkan saat melihatmu bersama wanita lain." Ujar Widia sambil menghapus air matanya. "Aku berpikir seharusnya ini semua tidak terjadi padamu. Seharusnya kau membantunya lebih dulu dan tidak membantuku hingga hubungan ini terjalin. Aku berpikir kau lebih cocok dengannya."


"HENTIKAN UCAPANMU, WIDI!!" Bentak Prothos sangat kesal. "Kau sangat membuatku marah, aku tidak pernah menyesal membantu atau pun berpacaran denganmu. Tapi kenapa kau menyesalinya?"


Prothos menatap marah Widia dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Dia kecewa dengan perkataan kekasihnya itu. Dengan penuh emosi Prothos berjalan keluar dari apartemen Widia dengan hati yang hancur.


...@cacing_al.aska...