
Aramis berlari masuk ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari Melody mengenai kondisi Anna. Dia sangat khawatir pada gadis itu sampai-sampai pemuda itu meninggalkan gedung tua dimana dia sedang melukis disana dengan tangan dan wajah yang penuh cat warna.
Saat memasuki rumah sakit dia berpapasan dengan Niko yang berjalan hendak keluar. Aramis melihatnya, dia belum tahu apa yang terjadi sehingga dia tidak memedulikannya dan berlari begitu saja melewati Niko.
"Dia sangat khawatir sekali." Ucap Niko yang melihat Aramis berlari tidak memedulikannya.
Aramis masuk ke ruang IGD dimana Anna berada. Ketika membuka tirai Anna melihat kehadirannya, dan tertawa karena melihat wajah Aramis terdapat cat warna. Ronald berada disana sedang memeriksa kondisi Anna.
"Ada apa denganmu, Ars? Kau kacau sekali." Ujar Anna masih terkekeh dengan posisi duduk di atas ranjang rumah sakit.
Aramis membuang napas lega melihat Anna tertawa. Dia merasa kalau gadis yang dicintainya itu baik-baik saja. Dia mendekati Anna dan tidak memedulikan keberadaan pamannya, Aramis menarik Anna ke pelukannya.
"Paman, kenapa kau diam saja melihat dia memelukku?" Tatap Anna, kepalanya masih berada di dada Aramis yang mendekap memeluknya.
"Ars, biarkan Anna istirahat dulu." Seru Ronald. Nada bicaranya datar, tidak seperti biasanya.
Aramis melepaskan Anna dan menyuruh Anna berbaring tanpa kata. Dia membantu gadis itu berbaring dengan sangat lembut. Rasa lega yang dirasakannya setelah melihat Anna baik-baik saja membuatnya menjadi lemas sekarang.
"Istirahatlah tiga puluh menit, habis itu kau bisa pulang." Ucap Ronald setelah itu pergi.
Aramis menatap Anna. Dia tidak tahu sama sekali dengan apa yang terjadi, karena saat Melody meneleponnya, dia hanya mendengar Anna jatuh pingsan setelah itu langsung berlari tanpa mendengarkan perkataan Melody selanjutnya. Semua itu karena rasa khawatirnya pada Anna.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau pingsan? Kau pingsan dimana? Siapa yang membawamu ke sini? Dan bagaimana keadaanmu? Kau sudah baik-baik saja?" Tatap Aramis.
"Pertanyaanmu banyak sekali, mana yang harus aku jawab lebih dulu?"
"Jawab saja!!" Seru Aramis dengan tatapan kesal. "Kau membuatku khawatir setengah mati."
Aramis mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan membuang napas lega sekali lagi.
"Kau tahu, orang yang waktu itu berkelahi denganmu saat aku datang membantumu, dia dan teman-temannya membawaku ke suatu tempat." Jawab Anna. "Ini semua salahmu, Ars. Mereka benar-benar mengincarku karena perbuatanmu. Kau memang keterlaluan."
"Ryan? Berani sekali dia melakukannya." Geram Aramis. "Apa yang dia lakukan padamu? Aku akan membunuhnya segera. Apa dia menyentuhmu?"
"Untungnya seseorang datang menolongku tepat waktu." Ujar Anna. "Aku sangat bersyukur saat dia datang, tadinya aku pikir sesuatu yang buruk akan terjadi padaku. Karena Ryan dan teman-temannya terlihat sangat senang setelah berhasil membawaku ke tempat itu."
"Siapa yang menolongmu? Aku harus berterimakasih padanya. Kalau perlu aku akan memeluknya untuk berterimakasih padanya."
"Ya, kau harus melakukannya, karena semua yang terjadi padaku adalah salahmu."
"Siapa dia?"
"Niko." jawab Anna.
Aramis langsung merubah ekspresinya dengan tampang tidak percaya. Dia mulai berpikir pantas saja saat di lobby rumah sakit tadi, dia melihat Niko berjalan keluar.
"Kau benar-benar harus berterimakasih dengan memeluknya, Ars."
***
Aramis masuk ke kamar Lion setelah kembali dari rumah sakit. Lion sedang bermain game PC dengan headset di telinganya. Dia berbicara dengan headset itu dengan teman sepermainan di game yang sedang dia mainkan. Tidak memedulikan sahabatnya yang baru saja masuk ke kamarnya.
Aramis duduk di atas tempat tidur dan bersandar ke tembok dimana Lion sedang duduk memunggunginya. Dia tidak berkata apapun karena Lion sedang asyik bermain game sambil mengobrol dengan seseorang di game tersebut, dan sesekali meracau kesal.
"Sudah aku bilang kan, kau tidak percaya. Tidak usah berterima kasih traktir saja aku." Ujar Lion pada teman bermainnya. "Oke, aku akan log out, besok kita bermain lagi."
Setelah melepas headset-nya, Lion menoleh pada Aramis. Tumben sekali sahabatnya itu diam saja, biasanya dia akan mengganggunya setiap kali dia datang disaat dirinya sedang bermain game.
"Kenapa diam saja? Kau sakit perut?" Tatap Lion.
"Semua orang langsung memberitahuku. Bahkan Ryan langsung meminta maaf padaku. Aku juga sudah minta maaf atas namanya pada Anna." Jawab Lion.
"Kau tahu kalau Niko yang menolongnya?"
Lion mengangguk menjawab pertanyaan Aramis yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan berterimakasih mewakilimu besok."
"Beritahu aku dimana alamat rumahnya, aku sendiri yang akan berterimakasih padanya." Ucap Aramis.
Dia harus menepati omongannya tadi pada Anna. Ditambah dia benar-benar sangat bersyukur karena Anna ditolong olehnya sebelum Ryan melakukan hal yang tidak-tidak pada gadis yang sangat dicintainya itu.
"Kau serius?" Lion tampak skeptis menatap Aramis.
...***...
Aramis berdiri di tengah ruangan di dalam rumah Niko ketika jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia menunggu seorang asisten rumah tangga yang sedang memberitahu Niko tentang kehadirannya ke rumah itu.
"Apa-apaan ini, Ars? Kau mengganggu tidur nyenyakku, apa kau tahu?" Ujar Niko. Pemuda itu berjalan mengarungi tangga dan berdiri di hadapan Aramis yang menatapnya tajam. "Kau menatapku seperti itu, apa tujuanmu sebenarnya? Aku pikir kau akan berterimakasih padaku atas apa yang aku lakukan pada Bonnie-mu itu."
Aramis masih terdiam. Dia mencoba menahan rasa gengsinya agar dirinya bisa berterimakasih pada musuh bebuyutannya itu. Dia menutup matanya sesaat lalu maju mendekat pada Niko dan memeluknya.
"Dengan sangat tulus aku berterimakasih padamu." Ucap Aramis.
Niko terlihat terkejut pada apa yang dilakukan Aramis padanya. Dia tertawa skeptis setelah Aramis menjauh kembali darinya. Dirinya sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilakukan musuhnya tersebut barusan. Itu semua di luar dugaannya.
"Tampaknya dia memang gadis spesial untukmu." Kata Niko masih tidak percaya. "Aku menolongnya bukan karenamu, kau tahu itu?"
"Apapun alasannya aku tetap akan berterimakasih padamu." Jawab Aramis. "Aku datang hanya ingin mengatakan hal itu. Untuk hal-hal yang tidak ada kaitannya akan berjalan seperti sebelumnya. Tidak akan ada yang berubah diantara kita."
"Ternyata kau masih sama saja." Ujar Niko menatap sinis pada Aramis. "Baiklah, aku tidak masalah dengan itu. Bagaimanapun kita tetap akan menjadi saudara setelah aku menikahi adikmu."
"Kita lihat saja nanti." Seru Aramis sambil berjalan mundur dan berbalik menuju pintu keluar.
Lion sudah menunggunya di luar rumah Niko dengan merekam momen yang menurutnya harus diabadikan itu.
"Kenapa kau merekamnya?" Aramis kesal ketika melihat Lion sedang membawa handphone-nya dengan posisi merekam.
"Ini akan menjadi berita besar." Jawab Lion tersenyum. "Kau pulanglah, aku masih akan disini, besok aku tidak sekolah karena diskors, jadi aku ingin mengganggunya malam ini."
***
Aramis baru saja sampai dan memarkirkan mobilnya ke garasi rumah ketika Athos keluar menghampirinya dengan berpakaian rapi.
"Kau mau kemana?" Tanya Aramis saat keluar mobil dan tidak mematikan mesinnya karena Athos akan menggunakannya. "Ini sudah sangat malam." Aramis tampak bingung karena saat ini sudah hampir jam satu malam.
"Aku ada urusan sebentar." jawab Athos sambil masuk ke mobil.
"Ingin aku temani?" Tanya Aramis. Dia tahu kembarannya itu akan kemana, dan sepertinya pergi sendiri bukanlah hal yang bagus untuk Athos.
"Tidak perlu, aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya ingin memastikan sesuatu saja." Athos tersenyum sarkastis.
Setelah itu Athos menutup mobil dan keluar dari rumah. Aramis berjalan memasuki sambil memikirkan apa yang kemungkinan akan dilakukan kembarannya tersebut.
"Semoga saja dia benar-benar bisa menjaga emosinya nanti." Ucap Aramis.
...@cacing_al.aska...